APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hitungan Mundur Di Atas Kepala

Hitungan Mundur Di Atas Kepala

Sejak kecil, kemampuanku melihat angka kematian di atas kepala orang terdekat membuatku dicap sebagai pembawa petaka. Setelah kakek, ayah, dan ibu tewas tragis dalam sehari sesuai ramalanku, ketiga kakak laki-lakiku menaruh dendam mendalam padaku. Sebaliknya, adik perempuan kami yang kelahirannya merenggut nyawa ibu justru dipuja sebagai pembawa keberuntungan. Kini, tepat di usia kedelapan belas, cermin memperlihatkan hitungan mundur kematianku sendiri. Usai membeli kotak abu dan menyiapkan jamuan terakhir untuk kakak-kakakku yang tak kunjung datang, aku hanya bisa menunggu ajal menjemput dalam keheningan yang dingin.
Bab
Bagikan

Bab 4

Seketika, tubuhku langsung membeku, lagi-lagi Selina.

Aku sudah bisa menebak siapa yang meneleponnya, pasti Stephen.

Wajar saja, sejak kecil aku dianggap sebagai pembawa sial. Jika bukan karena diriku, mana mungkin keluargaku meninggal satu per satu?

Mengingat ancaman Samuel, tubuhku gemetaran tak terkendali.

Dulu, saat ibu baru saja meninggal, aku pernah diantar pulang oleh seorang dokter wanita yang baik hati.

Tiga hari penuh, aku dikunci di gudang kecil rumah oleh Samuel. Tak ada yang memberiku makan dan minum.

Pengalaman itu menjadi trauma masa kecil yang sulit kulupakan hingga saat ini.

Pada hari ketiga, saat aku merasa hidupku akan segera berakhir, kakak pertamaku, Sherwin tiba-tiba muncul seperti malaikat penyelamat.

Dia melepasku keluar.

Meskipun setelah itu, dia tak pernah benar-benar peduli padaku, setidaknya dia adalah orang yang paling baik padaku di rumah ini.

Aku yakin kabar tentang permintaanku tadi pagi sudah sampai ke telinganya.

Melihatku hanya diam, Samuel mengira diriku ketakutan. Dia pun mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berkata dengan suara yang santai, tapi mengancam,

"Kamu tahu dengan kemampuanku, mudah sekali untuk menghilangkan seseorang."

Mendengar kata-katanya, tubuhku gemetaran. Sementara dia pergi masuk ke gedung kampus tanpa melihatku lagi.

Dengan langkah terhuyung, aku melanjutkan perjalanan ke tempat tujuanku semula. Tapi, kepalaku terlalu kosong untuk berpikir.

Aku tiba di studio foto. Petugas resepsionis di sana melihatku dengan tatapan penuh simpati setelah aku memberitahunya bahwa aku datang untuk memotret foto pemakaman.

Dia mengucapkan beberapa kata lembut untuk menghiburku.

Semua rasa sakit dan kesedihan yang kutahan selama ini tiba-tiba meledak begitu saja.

Manusia memang mudah kehilangan kendali hanya karena satu kata perhatian dari orang asing, seperti yang kualami sekarang.

Air mataku membasahi bahunya, tetapi dia juga tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menepuk punggungku dengan lembut.

Meski tidak saling kenal, kehangatannya memberiku kekuatan yang luar biasa.

Setelah keluar dari studio foto, aku duduk di pinggir jalan. Aku memeluk kotak abu dan foto pemakaman yang telah kupersiapkan untuk diriku sendiri, sambil melamun menatap kejauhan.

Aku memutuskan untuk pergi ke kantor Sherwin. Karena belum pernah pergi ke sana, aku membutuhkan waktu lama untuk menemukannya, tapi aku malah dihentikan oleh resepsionis.

Mereka mengatakan bahwa aku tidak bisa masuk tanpa janji dan bosnya sedang rapat sehingga tidak bisa menerima telepon.

Aku tidak menyerah dan menelepon nomor yang sudah kuhapal di luar kepala berkali-kali, tapi tak ada yang menjawab.

Lalu, aku mencarinya melalui media sosial.

Hari ini adalah hari terakhirku. Aku hanya ingin Sherwin menemaniku, meski hanya sebentar.

Aku mengirimkan pesan yang sudah kususun dengan hati-hati, lalu menunggu dengan cemas.

Dua jam berlalu tanpa ada balasan.

Waktuku tidak banyak lagi. Aku tidak ingin mati di luar, jadi aku pun kembali ke rumah.

Semua pelayan sedang pergi berbelanja.

Rumah besar itu terasa sunyi, sepi dan kosong.

Aku mulai memasak, berharap mereka pulang tepat waktu.

Tidak ada pesan yang masuk di ponselku. Pesan yang kukirim pun tidak dibalas.

Aku duduk di kursi, menatap pantulan cermin yang memperlihatkan hitungan mundur di atas kepalaku.

Sisa tiga jam terakhir ...

Aku ingin mereka menemaniku di saat-saat terakhir ini. Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka saat diriku benar-benar meninggal.

Mungkinkah mereka senang?

Tidak ada seorang pun yang peduli dengan hidup matiku di dunia ini.

Orang-orang terdekatku bahkan membenciku, muak dengan keberadaanku.

Aku memasak hidangan satu meja penuh. Tanganku beberapa kali terkena percikan minyak panas. Rasanya sakit, tapi tidak bisa menutupi rasa tidak nyaman yang perlahan tumbuh di hatiku.

Aku sadar ada sesuatu yang salah dengan tubuhku. Tubuhku bergetar hebat, begitu juga dengan perasaanku yang memuncak tanpa kendali.

Waktu tersisa dua jam lagi. Aku duduk di kursi, menatap pintu dengan penuh harapan.

Dengan tangan gemetar, aku menelepon Sherwin.

"Kak Sherwin."

Teleponnya tersambung, tapi dia tidak berkata apa-apa.

Suaraku mulai gemetar, "Bisakah kalian ... menemaniku makan malam?"

"Aku ... sudah mau mati."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisikan dari hutan: Pendeta wanita terakhir
8.4
Mira hanya ingin hidup tenang sebagai penyembuh, tetapi penculikan ibu angkatnya memaksanya kembali ke dunia sihir. Di sana, ia bertemu Eluin, Dewa bebas terakhir yang mengungkap bahwa Mira adalah pendeta wanita pamungkas. Kini, nasib hutan suci ada di tangannya. Mira harus menghadapi Temenis, sang Dewa Kematian yang mengancam dunia. Mampukah ia mengatasi keraguan demi menyelamatkan ibunya sekaligus mencegah kehancuran total?
Sampul Novel Dicintai Raja Siluman Ular
9.4
Demi cinta dan harta, Alana nekat menikahi Cakra meski tanpa restu. Namun, pernikahan impian itu berubah jadi teror mengerikan. Alana kerap menemukan ular liar raksasa di ranjangnya akibat kegemaran aneh sang suami. Tak hanya itu, ia terus dihantui mimpi erotis bersama sosok asing yang tak dikenal. Saat mencoba menyelidikinya, Alana menemukan fakta kelam tentang hilangnya mantan istri Cakra secara misterius. Kecurigaan pun membuncah, siapa sebenarnya sosok suaminya itu?
Sampul Novel Feng Na Na
9.4
Terbangun dengan pakaian kuno, aku merasakan nyeri hebat akibat guncangan di dalam kotak kayu. Padahal, memori terakhirku adalah mati mengenaskan akibat pengkhianatan tunanganku sendiri. Rasa sakit ini menegaskan bahwa aku tidak bermimpi. Ketika mencoba bangkit, aku terkejut mendapati diriku berada di dalam sebuah peti mati. Bagaimana mungkin aku bisa kembali bernapas setelah pembunuhan itu? Misteri apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hidupku sekarang?
Sampul Novel Jiwa Yang Tertukar
8.1
Hubungan Rose, ekspatriat Jerman di Bogor, dan Herdi merenggang akibat Ningsih. Keanehan muncul saat jiwa mereka mendadak tertukar. Setelah diusir dari apartemen karena panik, keduanya terpaksa beradaptasi. Herdi memakai pesona fisik Rose demi bisnis walau sering digoda, sedangkan Rose harus menghadapi kenyataan menjadi pria lemah yang mudah ditindas. Di tengah krisis identitas, mereka berjuang bertahan hidup dalam tubuh yang salah.
Sampul Novel Living with Mr. Arrogant
9.2
Insiden tabrakan tangga mengubah total hidup Zinnia Shafira. Jiwanya misterius tertukar dengan Reyner Eka Sukmajaya, atasannya yang dingin dan angkuh. Meski sempat pulih, fenomena aneh ini terus berulang. Demi melindungi reputasi, Reyner memaksa Zinnia tinggal serumah lewat pernikahan kontrak. Di tengah situasi rumit ini, perasaan cinta perlahan tumbuh di antara mereka, walau berbagai luka juga turut mengiringi perjalanan hubungan tersebut.
Sampul Novel Menjadi Ibu Bukanlah Hal Mudah
9.2
Kehadiran sistem misterius 'Kamu Hebat, Kamu Maju' menantang siapa saja untuk membuktikan diri lebih baik dari orang lain demi imbalan besar. Di bawah aturan ini, seorang ibu dikhianati oleh ibu kandung, suami, dan putranya sendiri. Mereka menyeretnya ke pengadilan sistem demi merebut posisinya dan mengincar bonus puluhan miliar. Jika kalah, ia akan musnah dan menjadi budak mereka selamanya. Namun, alih-alih hancur, sang protagonis justru berhasil membalikkan keadaan dan meraup keuntungan hingga 60 miliar.