APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel His Darling Debtor

His Darling Debtor

Clara harus menanggung akibat dari tindakan ayahnya yang melarikan diri dengan uang milik Tuan Blackwell. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa mengorbankan kebebasannya dan bersedia menjadi wanita simpanan sang miliarder. Namun, kesepakatan dingin ini justru menyeret Clara ke dalam badai emosi yang rumit serta misteri masa lalu yang mulai terungkap. Hubungan yang penuh ketegangan ini pun menjadi ujian berat bagi ikatan sejati mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Clara memperhatikan sekeliling dan terkejut melihat Tuan Blackwell berbaring di sampingnya. Keinginannya untuk tak membiarkan rasa kantuk menguasai kini berubah menjadi penyesalan. Rasa kesal menyelinap, kelengahannya sudah membawa mereka berdua ke ranjang yang sama.

Saat Clara hendak turun dari ranjang, tiba-tiba tangannya dicekal oleh Tuan Blackwell yang terbangun oleh gerakannya. Meskipun Clara berusaha melepaskan diri, pemberontakannya tak berarti apa-apa bagi Tuan Blackwell yang memegang erat tangannya.

Tuan Blackwell melempar pandangan singkat pada jam digital di nakas sampingnya, lalu berkata, "Jam tujuh pagi, dan masih terlalu dini untukmu melanjutkan permainan kekuasaan."

"Apa yang kau bicarakan? Lepaskan tanganku!" geram Clara.

Tuan Blackwell menyeringai, mengejek, "Kau kira bisa lari ke mana? Apa ingin melompat dari gedung ini lagi? Kematianmu takkan berpengaruh pada hidupku."

Dengan mata berapi-api, Clara menantang, "Aku tahu bahwa kau memiliki kekuasaan dan bisa melakukan apa saja, tapi ada satu hal yang takkan pernah kau kuasai, yaitu diriku. Lebih baik mati ketimbang berurusan dengan orang licik sepertimu!"

Melalui kata-kata tajam itu, Clara sudah membawa suasana ketegangan yang mendalam di antara mereka. Tuan Blackwell tak pernah menikmati waktu bangun di pagi hari dengan cara menjengkelkan begini.

"Air kolam tak mampu menjernihkan pikiranmu rupanya," sergah Tuan Blackwell dengan dingin.

Suasana ketegangan semakin kental, sorot mata yang saling bertentangan itu kembali menyapa. Tuan Blackwell bangkit, lalu menarik Clara hingga tubuh mereka saling bertubrukan. Cengkeraman kekuasaan semakin dirasakan oleh Clara saat Tuan Blackwell tak membiarkannya lepas dari kedekatan yang memaksa itu.

Tuan Blackwell membawa jemarinya menyentuh kancing kemeja Clara, mencoba melepaskannya. Sebelum peristiwa tersebut berlangsung, Clara lebih dulu melayangkan tangannya, hendak menampar pria kurang ajar yang berniat menyentuh tubuhnya. Namun, tamparan itu tak berhasil karena Tuan Blackwell dengan sigap menahan tangan Clara. Matanya melirik sejenak ke tangan yang berada dekat di pipinya, lalu dia mengulas senyuman jail.

Tuan Blackwell mengendus telapak tangan itu dan menciumnya dengan tiba-tiba, aksi yang memicu rasa jijik dalam diri Clara. Sentuhan Tuan Blackwell melebihi batasan fisik, psikologinya seperti dipermainkan. Clara bisa merasakan ikatan yang mengancam jika dia tak segera melarikan diri dari impitan keintiman.

"Kau terpancing hanya dengan ciuman kecil di tanganmu, tubuhmu terasa hangat." Tuan Blackwell tersenyum dengan pandangan merayu, kemudian membawa ciumannya dengan lembut meluncur ke lengan dalam Clara.

Tuan Blackwell menikmati perannya sebagai seorang predator, merasakan kepuasan saat memperkuat dominasinya. Di sisi lain, Clara tak memunculkan reaksi karena pandangannya perlahan meredup. Tuan Blackwell merasakan tubuh Clara memberat, seketika menghentikan langkah merayunya.

Dahi Tuan Blackwell mengerut saat pandangannya mengamati Clara yang terkulai di pelukannya. "Nona Whitmore," panggilnya, tapi Clara tak memberi respons, cukup untuk membuat keraguan merayap di pikirannya. "Kau tak pura-pura pingsan untuk menghindari takdirmu, bukan?"

Tuan Blackwell menghela napas panjang dan berkata kembali, "Richard, putrimu selain keras kepala, ternyata juga sangat merepotkan."

Tuan Blackwell membaringkan Clara, lalu langkah yang menyiratkan kekhawatiran serta suara berbincang di telepon memenuhi kamar tersebut. Dokter Ezra Monroe akan segera datang ke penthouse dan memeriksa kondisi Clara.

***

Dengan helaan napas terakhir yang masih bergema di ruangan, Dr. Monroe mengakhiri pemeriksaannya. Dia menyimpan stetoskop, lalu berjalan keluar ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata. Tuan Blackwell yang mengawasi jalannya pemeriksaan pun menyusul kepergian sang dokter.

Dr. Monroe tak ingin mengganggu pasiennya, memilih untuk bicara di luar. Dia menunggu Tuan Blackwell dengan penuh kesabaran, saat teman baiknya itu sudah berdiri di depannya, baru dia mau buka suara.

"Kau membuatku bergegas kemari hanya untuk kondisi pasien yang terkena demam. Aku akan meresepkan obat untuknya agar suhu tubuhnya turun. Pastikan wanitamu tak dehidrasi dan biarkan dia istirahat yang cukup," ucap Dr. Monroe dengan penuh dedikasi.

Tuan Blackwell mengangguk. "Aku memahaminya," jawabnya, suaranya masih terdengar tak tenang.

Di tengah keheningan yang mengisi ruangan, Dr. Monroe memilih untuk membuka percakapan lain, "Apa Nona Whitmore pingsan di tengah-tengah bercinta sampai kau merasa gelisah begitu?"

"Tak sepenuhnya benar dan juga tak sepenuhnya salah. Aku memang berniat bercinta dengannya, sebelum dia akhirnya pingsan," ungkap Tuan Blackwell, campuran antara pengakuan dan ironi.

Dr. Monroe berusaha menahan tawa, tapi dia kesulitan sehingga akhirnya meledak.

"Apanya yang lucu?" Tuan Blackwell tampak tak setuju dengan reaksi itu.

Dr. Monroe masih mencoba menahan tawa, mengusap ekor mata yang basah. Dengan senyum jenaka, dia berkomentar ringan, "Tak kusangka ada wanita yang terserang demam saat berhadapan denganmu."

Tuan Blackwell berdecak, kedua tangannya berpegang pada pinggang dengan ekspresi berat. "Ini karena kejadian semalam, dia berpikir untuk meloncat dari gedung ini karena tak ingin menjadi gundikku. Aku berusaha menjernihkan pikirannya dengan melemparkannya ke kolam renang."

Dr. Monroe menyimak dengan serius, merenung sejenak sebelum berkata, "Melempar seorang wanita ke kolam renang bukan sikap yang baik, Dae. Tapi aku menyetujuinya jika kau melakukan itu untuk menghentikan percobaan bunuh diri. Kau tahu, di rumah sakit pun disediakan obat penenang seperti antipsikotik untuk mengurangi gejala perlawanan atau kegelisahan."

Ekspresi wajah Dr. Monroe berubah menjadi keheranan saat menambahkan, "Tapi ... kau ingin menjadikannya gundikmu?"

Tuan Blackwell beralih duduk di sofa, menyulut sebatang rokok dengan gerakan terampil. Dia memangku kaki dan bersandar, matanya memandangi meja kopi seperti mencari jawaban di permukaan kayu itu.

"Ayahnya mencuri dariku, tak tahu sampai saat ini bersembunyi di mana. Aku membawanya untuk membayar utang ayahnya."

Dr. Monroe merasa pembicaraan mereka akan panjang dan serius, jadi dia ikut pula duduk. "Kekejamanmu sungguh mendarah daging," ucapnya, sangat memahami karakter temannya.

Tuan Blackwell mengembuskan asap rokoknya. "Aku memiliki alasan."

"Tetap saja kejam," desis Dr. Monroe. "Ngomong-ngomong, kau tak memikirkan tingkat frustrasi seseorang saat berada dalam posisi tanpa harapan? Wanita itu bisa saja menjadi dampak bagimu, aku rasa menawannya di penthouse-mu bukanlah langkah yang bagus."

"Kau mengkhawatirkanku?"

"Ada tiga poin kenapa aku berkata begitu padamu. Pertama, karena kau adalah pasienku yang selalu datang di saat tak terduga. Kedua, karena kekayaanmu adalah fondasi bagi rumah sakit tempat di mana aku bekerja. Dan yang ketiga, karena aku tak ingin kehilangan pekerjaanku jika rumah sakit berhenti beroperasi. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri."

"Kedengarannya tak seperti itu."

Dr. Monroe menghela napas, merasakan beban moral di kedua bahunya. Dengan terpaksa, dia berkata, "Baiklah, aku mengkhawatirkanmu. Apa kau puas?" ucapnya enggan.

Tuan Blackwell menyeringai akan kejujuran Dr. Monroe. Dia mematikan api rokoknya dan dengan tenang meletakkan kedua tangan di paha. "Dia takkan berani melakukannya."

"Seperti kataku tadi, seseorang yang berada dalam posisi tanpa harapan bisa melakukan apa saja untuk keluar dari masalahnya. Kau harus memperhatikan hal itu, Dae," kata Dr. Monroe memberikan nasihat. "Aku tak ingin kehilangan teman sepertimu."

Pandangan mata Tuan Blackwell tak sengaja menemukan Clara yang berdiri dalam keraguan di anak tangga. "Dia memilih kematian daripada menjadi gundikku, itu sudah cukup membuktikan kelemahan dan ketidakmampuannya," gumamnya, kemudian dengan langkah mantap melintasi ruangan menuju posisi Clara.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Devil Beside You
8.1
Sergio Blanco, pembunuh bayaran berdarah dingin, kehilangan arah saat ditugaskan menghabisi nyawa putri seorang miliarder. Hazel Afford, sang target dengan mata indah, berhasil meluluhkan hatinya. Namun, begitu Hazel menyadari jati diri Sergio yang sebenarnya, rasa cinta itu berubah menjadi muak. Hazel bertekad melarikan diri, tetapi ia malah terjerat dalam lingkaran gairah yang penuh risiko. Akankah Sergio menyelesaikan misinya atau memilih tunduk pada cinta?
Sampul Novel Istri Kedua
7.9
Indira begitu bersemangat memulai pekerjaan barunya sebagai sekretaris pengganti di sebuah perusahaan raksasa. Namun, situasi menjadi canggung ketika ia tidak sengaja memergoki sang bos, Edbert, sedang bermesraan dengan istrinya, Merry. Tak disangka, Merry tidak marah dan malah meminta Indira untuk menikah dengan Edbert. Usulan poligami ini tentu membuat Edbert terkejut setengah mati. Akankah Indira bersedia menerima tawaran gila tersebut dan menjadi istri kedua?
Sampul Novel Lovers
8.9
Pertemuan tak sengaja di kelab malam saat malam tahun baru memicu ketertarikan Ryan Bagaskara pada Kanaya Putri Soemardi, meski pakaiannya sempat terkotori oleh gadis itu. Namun, jalan cinta mereka sangat terjal. Ayah Kanaya telah merencanakan perjodohan putrinya dengan Gilang Witjaksono, seorang putra pejabat yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Ryan. Kini, Ryan harus menghadapi dilema rumit dan berjuang keras demi mendapatkan restu serta memenangkan hati Kanaya.
Sampul Novel Miliarder Misterius dan Pengantin Penggantinya
8.6
Demi membiayai pengobatan pelayan tercinta, Julita terpaksa menggantikan saudara angkatnya untuk menikah dengan Erwin, pria yang dicap tidak berguna. Erwin sendiri setuju menikahi Julita hanya demi memenuhi wasiat ibunya. Namun, di balik penindasan yang dialami Julita, Erwin ternyata menyimpan rahasia besar tentang kemiripan dirinya dengan miliarder terkaya di kota. Akankah pernikahan penuh kebohongan identitas ini bertahan, atau justru berujung pada bencana?
Sampul Novel My Crazy Man
8.2
Azura, supermodel populer yang dingin, didera trauma mendalam akibat kegagalan asmara masa lalunya. Ketenangan hidupnya terusik sejak kehadiran Devano Mackzie. Jauh dari citra CEO berwibawa, Devano adalah pria menyebalkan yang konyol dan sangat cerewet. Kegigihan serta sifat banyak bicaranya benar-benar menguji kesabaran Azura. Mampukah keteguhan sikap acuh sang model akhirnya luluh oleh kegilaan cinta yang ditunjukkan pria tersebut?
Sampul Novel Nikmatnya Cinta Suci
9.7
Kehidupan mapan pengusaha muda bernama Rubi seketika runtuh saat memergoki Candy, sang istri, berselingkuh dengan orang kepercayaannya, Jeff. Usai menjebloskan keduanya ke penjara, Rubi mengasingkan diri ke desa demi mencari kedamaian. Di sana, ia jatuh cinta pada Dara, seorang janda sederhana. Sayang, cinta mereka terganjal restu orang tua Rubi yang mempermasalahkan status sosial Dara. Sementara itu, bahaya mengintai dari balik jeruji besi saat Candy dan Jeff menyusun rencana balas dendam keji.