APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel HILDA PERAWAN TUA

HILDA PERAWAN TUA

Karier Hilda melesat berkat kecerdasannya, tetapi kehidupan asmaranya hancur total karena ulah sang ibu. Akibat sikap ibunya yang materialistis dan terlalu pemilih, Hilda kini dicap sebagai perawan tua. Penderitaannya kian bertambah karena sang ibu selalu pilih kasih dan lebih memprioritaskan adiknya yang mengidap penyakit jantung bawaan. Di tengah ketidakadilan dan badai konflik keluarga yang mengancam hidupnya, mampukah Hilda meraih kebahagiaan sejati?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pertanyaan Pak Edi membuatku tersadar dari lamunanku. Cepat aku mematikan telpon dari Emak.

(Ya sudah, Mak, nanti kita bicarakan di rumah saja) aku menyimpan kembali gawaiku ke dalam tas ku.

"Eh, enggak apa-apa Pak, saya baik-baik saja." Tersenyum ke arah Pak Edi walau hati sudah tak menentu.

Beberapa saat kami terdiam, asyik dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya Pak Edi membuka percakapan.

"Bagaimana tentang pertanyaan saya tadi, Bu Hilda? Maukah Ibu menjadi isteri saya?"

"Ehem, nanti saya pikirkan ya, Pak."

Aku mengambil segelas jus mangga dan menyedot isinya hingga ludes.

"Berapa lama saya harus menunggu jawaban dari Ibu?" Pak Edi mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jari tangannya, tak sabar menunggu jawaban yang akan terlontar dari mulutku.

"Saya tidak tahu pasti, Pak. Saya harus berpikir matang-matang karena ini tentang hidup saya."

Pak Edi mencebik ke arahku. "Usia Bu Hilda sudah matang, jangan terlalu..."

"Saya tahu, Pak." Aku tersenyum ke arahnya, segera berdiri dan mengambil tas di atas meja. Hatiku teringat Emak dan Risa yang sedang menungguku di rumah.

Aku menolak untuk di antarkan Pak Edi sampai ke rumah, bukan apa-apa, namun aku kuatir Emak semakin berharap agar Pak Edi menjadi menantunya.

Sesampainya di rumah, kulihat Risa dan Arka suaminya sedang duduk bersantai di ruang tengah. Saat melihatku datang, mereka segera berdiri dan menyalamiku.

"Maaf, Mbak Hilda, aku dan suamiku mau numpang sementara di rumah Emak. Suamiku sudah di PHK dari perusahaannya, jadi aku tak tahu harus kemana lagi selain pulang ke rumah ini," ujar Risa dengan raut muka sedih.

"Enggak apa-apa, Risa, rumah Emak kan rumahmu juga, lagipula aku senang kalian tinggal di sini, biar aku bisa dekat sama keponakanku. Oya, dimana Dafa?" Aku menautkan kedua alisnya, baru teringat pada anak lucu itu.

"Ia baru saja tertidur, Mbak, mungkin kecapaian," jawab Arka.

"Ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu ya, sudah bau keringet." Aku tertawa kecil, lalu berjalan dan masuk ke kamar.

"Hilda! Siapkan makan untuk adikmu ya, mereka belum makan dari tadi," suara Emak terdengar lirih, namun mampu membangunkan ku yang baru saja tertidur beberapa menit. Aku membuka mata, menggeliat untuk melenturkan otot-otot ku. Kepalaku sedikit pusing karena belum cukup beristirahat setelah tadi mengajar dan menemani Pak Edi makan siang.

"Iya, Mak." Aku bangkit dari ranjang dan menuju dapur. Semenjak Risa menikah, Emak tak pernah lagi menyuruh Risa melakukan pekerjaan dapur, semua pekerjaan dapur selalu aku yang melakukannya, aku tak tahu apa alasannya, mungkin saja Emak merasa canggung karena Risa sudah menikah, atau mungkin Emak tak enak dengan suami Risa. Entahlah, aku hanya menebak-nebak. Aku harap, aku selalu sehat dan bisa menuruti semua kemauan Emak agar beliau merasa senang.

Setelah beberapa saat berkecimpung dengan alat-alat masak di dapur, akhirnya aku bisa menghidangkan berbagai macam makanan di meja.

Arka segera menyendok nasi dan lauk ke atas piringnya, sementara Risa sibuk menyuapi Dafa yang berlarian kesana kemari.

Cacing di perutku menjerit-jerit minta di isi, namun aku teringat Emak, aku belum menyuapi Emak. Baiklah, aku akan menyuapi Emak dulu. Tangan kanan dan kaki Emak terkena stroke, jadi beliau susah untuk makan sendiri.

Kudorong kursi roda Emak ke dekat meja makan dan aku mulai menyuapinya. Beruntung, Emak tak pernah protes dengan semua rasa masakan ku.

Setelah selesai menyuapi Emak, gantian aku yang makan. Setelah makan aku segera membersihkan meja makan dan kuangkat piring-piring kotor ke dapur untuk segera dicuci.

"Maaf, ya, Mbak, aku enggak bisa bantu cuci piring, Dafa agak rewel." Ujar Risa sambil mengambil satu buah gelas pelastik di dapur untuk minum Dafa.

"Enggak apa-apa, Risa, aku bisa sendiri kok." Jawabku sambil tersenyum.

"Oya, Mbak, boleh aku minta sedikit uang buat Dafa? Aku sudah tak punya uang, tapi Dafa minta jajan." Risa menunduk sedih.

Aku menghentikan sejenak aktivitasku yang sedang mencuci piring.

"Ya sudah, nanti aku kirim ke rekeningmu."

"Makasih, Mbak." Risa berjalan menghampiri Dafa dengan senang.

Jam sembilan malam, kami sekeluarga berkumpul di depan televisi sambil sesekali tertawa karena mendengar ocehan Dafa yang tak jelas. Anak berumur dua setengah tahun itu memang sangat lucu, dan ah, seandainya saja aku sudah berkeluarga, mungkin aku pun akan di karuniai anak selucu itu. Namun sayangnya, aku masih juga belum di pertemukan dengan jodohku. Kembali rasa sakit itu mengiris perih dalam hatiku, apalagi jika melihat keluarga kecil Risa yang selalu terlihat bahagia.

"Hilda, bagaimana makan siangmu tadi dengan Pak Edi?" Tanya Emak membuyarkan lamunanku.

"Biasa-biasa aja, Mak, enggak ada yang istimewa." Jawabku sambil mencubit pipi Dafa gemas.

"Kamu sudah menerima lamarannya?"

"Dia sudah punya isteri, Mak." Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, seakan sudah beberapa hari tak merasakan segarnya udara.

"Lah, kalau ia mampu kenapa tidak? Ia itu dosen, pendidikannya tinggi, karirnya bagus dan uangnya banyak, menurut Emak, kamu pantas berdampingan dengannya," celutuk Emak yang membuatku semakin sesak.

"Iya, Mbak, terima saja, ingat lho, perempuan itu semakin tua semakin susah laku, Mbak, apa lagi Mbak ini seorang dosen, laki-laki yang ingin mendekati Mbak pasti takut sama perempuan yang mempunyai karir tinggi. Maksudnya, takut ia tersaingi gitu lho Mbak, laki-laki kan selalu ingin di hargai, mereka mengutamakan harga dirinya, jadi menurutku, kalau Mbak menikah dengan Pak Edi, setelah berumah tangga nanti, takkan ada yang merasa tersaingi karena kalian sama-sama dosen dan berpendidikan tinggi." cetus Risa panjang lebar.

Kini hatiku semakin cemas mendengar ucapannya. Hatiku risau, tak tahu harus melakukan apa. Usiaku sudah sangat mapan, dan mungkin sebentar lagi aku akan menopouse. Ya, aku harus segera menikah. Tapi, aku tak mau menyakiti hati perempuan lain.

"Aku seorang perempuan, aku tak mau menyakiti hati perempuan lain." Aku berujar cepat, menatap Emak dan Risa secara bergantian.

Seandainya aku ada di posisi isterinya Pak Edi, mungkin aku pun tak akan terima jika suaminya menikah lagi. Perempuan mana yang rela di madu? Kurasa tak ada.

"Emak tahu, Hilda, tapi kamu itu sudah berumur, sudah sepantasnya kamu punya anak, maka terima saja lamaran Pak Edi sebelum kamu menyesal," Emak berkata lembut, namun bagiku itu sangat menusuk hatiku.

"Aku akan meminta petunjuk darinya, Mak, bukankan hanya Allah yang tahu segalanya tentang jodohku?" Aku berdiri meninggalkan Emak dan Risa. Sementara Arka dari tadi hanya duduk mendengarkan obrolan kami.

Tak terasa air mataku menetes dari kudua belah pipiku, aku tak tahan dengan semua ini, ingin rasanya aku bersimpuh di hadapan Tuhan saat ini juga untuk mengeluarkan sesak di dada.

Jam dua malam aku terbangun dari tidur yang baru saja mengantarku pada sebuah mimpi. Bergegas aku mengambil wudhu, menghadap pada sang maha segalanya, mengadukan segala keluh kesahku dan memohon agar jodohku di dekatkan.

Setelah shalat malam, hatiku sedikit tenang, ku rebahkan tubuhku di atas ranjang dan beberapa saat kemudian aku telah tertidur pulas.

Dalam kegundahan hatiku, kulihat matahari itu terbit begitu terang di ufuk timur. Cahayanya membuat mataku menjadi silau. Matahari itu menyinari hampir seluruh bagian bumi. Di antara terangnya cahaya matahari, semburat wajah tampan menyembul dari situ, menghampiriku yang sedang dilanda gulana. Tenggorokkanku tiba-tiba tercekat, sesak, dan aku terbangun dengan tetesan keringat yang membasahi dahiku. Ya Tuhan, rupanya aku bermimpi.

Aku terduduk di pinggir ranjang, kulihat jam dinding yang menunjukkan angka setengah empat, ternyata masih pagi. Aku tercenung sendiri, berusaha menafsirkan mimpi yang datang dalam sekejap waktu tersebut. Kata orang tua, bila seorang perempuan bermimpi melihat matahari berarti jodohnya sudah dekat, apalagi di dalam mimpi tersebut kulihat wajah seorang lelaki tampan walaupun tak begitu jelas.

"Ya Allah, apakah mimpi itu mempunyai arti? Atau itu hanyalah bunga tidur saja karena aku terlalu memikirkan tentang jodoh?" Aku bergumam sendiri. Sejenak aku menenangkan pikiranku, lalu berniat untuk tidur lagi karena hari masih sangat pagi.

***

"Bu Hilda, apakah Ibu sudah mempunyai jawaban tentang pertanyaanku waktu itu?" Pak Edi menghampiriku di kantor pagi ini.

"Bapak sudah mempunyai isteri."

"Itu bukan alasan yang tepat, Bu, seandainya saya berpoligami, saya bisa cukup adil membagi waktu untuk kedua isteri saya," Pak Edi kekeh dengan niatnya untuk menikahiku.

"Saya tahu, Pak, tapi sebagai sesama perempuan, saya tidak mau menyakiti perasaan perempuan mana pun."

"Bu Hilda jangan khawatir, isteri saya pasti setuju dengan keputusan saya untuk menikah lagi." Pak Edi menatapku penuh keyakinan.

Aku terperanjat kaget. Semudah itukah? Rasanya tak mungkin ada perempuan yang rela di madu sekalipun suaminya kaya raya dan mapan.

"Kalau Ibu tak percaya, baiklah, nanti akan saya pertemukan Ibu dengan isteri saya."

Aku menggeleng-gelengkan kepala, terkejut dengan apa yang tengah aku hadapi sekarang. Sepintas, aku teringat mimpiku semalam, apa ini sebuah jawaban dari sang maha pemegang takdir?

"Kapan Bapak akan mempertemukan saya dengan isteri Bapak?" Cetusku, ingin segera tahu apakah pria di sampingku ini pandai berbohong atau tidak.

"Kapan Bu Hilda punya waktu? Saya akan pertemukan kalian berdua," jawab Pak Edi enteng.

Aku terbengong-bengong masih tak percaya dengan jawaban Pak Edi barusan.

Beberapa saat kemudian, terlihat Rafael masuk ke kantor membawa kertas-kertas ujian dan di taruhnya di atas meja kerja seorang dosen. Ia menoleh padaku dan Pak Edi sambil tersenyum, lalu ia tergesa berjalan ke luar kantor.

Tiba-tiba gawaiku bergetar, tertera nama seorang mahasiswaku di sana. Ku tekan tombol bergambar telpon itu dengan hati yang tak menentu.

(Rafael? Kenapa?)

(Bu, bolehkah saya ke rumah Ibu nanti sore?)

(Memangnya ada perlu apa?)

(Ada yang ingin saya bicarakan dengan Ibu

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Before After: Marriage
7.8
Crystal Winter Oberoi selalu bingung dengan sikap dingin dan kasar Austin, kakak laki-lakinya. Padahal, kekejaman Austin hanyalah topeng untuk meredam rasa cinta terlarang yang kian tumbuh. Austin bahkan nekat bertunangan demi mengubur perasaannya, tetapi cinta itu tetap bersemi kuat. Kini, kakak beradik tersebut terjebak dalam pusaran dosa dan dilema batin yang rumit, mengancam hubungan darah serta komitmen yang telah mereka bangun.
Sampul Novel Draco&Luna
7.9
Kehidupan malang Luna sebagai anak yatim piatu memuncak saat bibinya yang kejam menjualnya ke pasar gelap. Di tempat pelelangan, nasib mempertemukannya dengan Draco Riordan, sosok misterius penuh dendam yang membelinya. Pertemuan dua dunia berbeda ini menyatukan kepolosan Luna dengan masa lalu kelam Draco. Akankah ketulusan Luna sanggup mencairkan hati Draco yang beku, ataukah rahasia besar serta takdir yang rumit justru akan memisahkan mereka selamanya?
Sampul Novel Gadis Pecandu di Rumah Sakit
9.8
Saat berbaring di ranjang pasien untuk memeriksa gangguan gairah parah yang dideritanya, seorang wanita harus menghadapi tindakan tidak senonoh dari sosok yang ia kira adalah dokter medis. Alih-alih diperiksa secara profesional, ia justru dipermainkan secara fisik hingga tak berdaya. Ketika ia menoleh ke belakang demi menghentikan perbuatan itu, ia terkejut mendapati bahwa pria itu sebenarnya adalah dosennya sendiri, yang kemudian langsung merangsek maju dengan sangat kasar.
Sampul Novel My Savior Is My Ex
9.5
Anitta Gladisa terdesak tanpa arah saat berupaya kabur dari sang ayah. Di tengah situasi genting ini, pertolongan hanya bisa ia dapatkan dari Keanno Arkantara. Masalahnya, Keanno merupakan mantan pacar yang dulu pernah ia sakiti. Kini, demi bertahan hidup, Anitta harus membuang harga dirinya dan memohon belas kasih sang mantan. Apakah Keanno akan luluh dan menolongnya, atau justru mengabaikan Anitta yang sedang menderita?
Sampul Novel PLAYBOY PENSIUN!
7.9
Michael Giorgino Orlando, pria sukses yang jenuh dengan pernikahannya, mengejar cinta Sydney, arsitek mal miliknya. Namun, Sydney terus menolak. Sikap dingin Michael membuat sang istri, Greeta, terabaikan hingga ajal menjemput. Dihantui penyesalan mendalam, Michael kini harus memenuhi wasiat terakhir mendiang istrinya untuk menikahi Sydney. Sayangnya, Sydney yang masih trauma dengan komitmen enggan membuka hatinya kembali untuk Michael.
Sampul Novel Rekan Kerjaku Selingkuhan Suamiku
9.2
Sebuah penolakan sederhana berujung pada tragedi berdarah. Ketika aku menolak menggantikan shift malam Paula, rekan kerjaku itu nekat membolos hingga dipecat. Dendam membara membuatnya tega mendorongku yang sedang hamil tua dari tangga hingga aku dan bayiku tewas. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terbangun kembali di hari Paula meminta bantuan shift tersebut. Kini aku menyadari kebenaran fatal: malam itu, Paula membolos demi menemui suamiku secara rahasia.