
Hilang Selamanya Dari Hatiku
Bab 2
Di hadapanku, piring makan sudah menumpuk seperti gunung kecil, tapi aku malah terpaku menatap pergelangan tangannya yang terlihat dari balik lengan baju.
Itu ikat rambut siapa?
Tiba-tiba, rasa mual menggerogoti perutku membuat selera makanku hilang.
Seorang pria yang rela mengupas udang untukmu belum tentu mencintaimu.
Seorang pria yang selalu ingat hari peringatan pernikahan selama sepuluh tahun pun belum tentu mencintaimu.
Seorang pria yang tidak pernah melepas cincin nikahnya bahkan saat mandi pun belum tentu mencintaimu.
Aku harus berterima kasih pada Dennis. Semua ini adalah pelajaran darinya.
…
Dua sahabat masa kecil yang tumbuh bersama, bahkan sepadan secara status.
Namun, semua itu menggambarkan Dennis dan Risma, kakakku.
Bahkan saat aku masih belum mengerti apa-apa soal perasaan, aku sudah tahu kalau keluargaku dan keluarga Dennis berencana menjodohkan mereka.
Aku pernah melihat wajah kakakku merona malu saat berkencan dengannya.
Aku juga pernah melihat Dennis yang terkenal arogan, menjadi begitu kalem di depan kakakku.
Jika tidak, bagaimana mungkin aku yang masih lugu, diam-diam menyimpan koleksi piringan hitam yang sengaja kukumpulkan untuk Dennis?
Dalam hubungan segitiga ini, aku hanyalah bayangan kakakku.
Cinta mereka sudah mekar, mana mungkin ada lagi ruang untukku.
Tragedi terjadi saat kakak berusia dua puluh tahun.
Kakakku yang selalu anggun dan pendiam, kabur dari acara pertunangan dan meninggal dalam kecelakaan pesawat.
Bersamaan dengan itu, isi buku hariannya terungkap.
Krisis dan aib keluargaku yang selama ini tertutup rapat kini tak lagi bisa disembunyikan.
Ternyata, sikap malu-malunya juga bisa dipalsukan. Kakakku terpaksa menjadi alat tawar-menawar yang dipertaruhkan orang tuaku.
Di balik perjodohan itu bukan berdasarkan cinta yang sempurna, melainkan ambisi dan kepentingan orang tuaku.
Satu-satunya kesempatan kakak memilih untuk dirinya sendiri, malah berakhir kehilangan nyawa.
Aku pun menjadi tumpuan harapan terakhir keluargaku untuk buru-buru bertunangan dan menikah.
Tujuannya adalah untuk menyelamatkan reputasi keluarga dan mencegah kebangkrutan keluargaku.
Sepanjang proses itu, aku bahkan tidak sempat membedakan apakah yang kurasakan lebih banyak sedih atau bahagia.
Meskipun hanya sebagai pengganti, aku tetap menikah dengan pria yang kucintai sejak masa remajaku.
Namun, saat kami bertukar cincin, hanya aku yang merasakan jantung berdebar.
Bahkan saat momen mencium pengantin wanita, Dennis hanya menyentuh bibirku sekilas dan meninggalkan satu kalimat yang masih membekas sampai sekarang.
“Kalau nggak mau, kenapa harus memaksakan diri?”
Saat itu, kami sepakat untuk menjalani pernikahan ini demi kepentingan masing-masing.
Namun, dalam sepuluh tahun pernikahan, rupanya aku yang salah.
Dia memang melakukan semuanya untukku, tapi tetap saja tidak pernah mencintaiku.
…
Saat pesta berakhir, hari sudah tengah malam.
Entah karena mabuk atau memang pusing, aku pun tertidur pulas di mobil.
Samar-samar, aku mendengar Dennis menelepon dengan pengeras suara dan menggoda pacarnya yang baru.
Rayuannya terus berulang-ulang.
Dia tak bosan mengucapkannya, tapi aku sudah muak mendengarnya.
Di sela obrolannya, aku merasa dia sempat menyentuh keningku.
Tiba-tiba, dia mengerem mobil mendadak dan mengumpat,
“Sial, kenapa nggak bilang kalau kamu demam?”
Teleponnya langsung dimatikan. Dia tampak panik, mengambil jaket untuk menyelimutiku.
Samar-samar, aku mendengar dia memanggil nama panggilanku, “Nana.”
Mungkin berhalusinasi karena demam tinggi, aku pun mengangkat sudut bibirku dan tersenyum getir.
Dennis selalu memanggilku dengan nama lengkap, seolah takut kalau kurang satu kata saja, aku bakal merasa kalau dirikulah yang ingin dia nikahi awalnya.
Orang yang sedang sakit mungkin lebih lemah, tapi juga lebih sadar.
Tiba-tiba, aku merasa sangat capek, capek menghadapinya, capek dengan perasaan yang tak pernah dibalas.
Mobil kembali melaju, kecepatannya membuatku sulit membedakan antara kencang dan lambat.
Dia seolah tak berhenti-henti menerima telepon, “Sebentar lagi, dok. Akan baik-baik saja.”
Atau mungkin aku hanya berhalusinasi.
Sampai akhirnya mobil berhenti lagi.
Aku susah payah mengangkat kepala, melihat dia buru-buru melepas sabun pengaman dan melompat turun.
Lalu berlari ke arah sosok kurus di depan pintu rumah sakit.
Rani dipeluk erat-erat olehnya.
Kata-kata yang sebelumnya terdengar tidak jelas itu akhirnya punya arti yang utuh.
“Tunggu aku, jangan gegabah, aku sampai sebentar lagi. Semuanya akan baik-baik saja, sayang.”
Setiap kata itu diucapkan untuknya.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku mendengar Rani menangis sedih.
Aku juga mendengar Dennis menghiburnya dengan lembut.
“Mana mungkin aku membiarkan kamu menyakiti diri sendiri?”
“Sudah sudah, kita nggak putus. Soal anak, kita bicarakan lagi baik-baik.”
Pikiran yang penuh rasa sakit menyeret keluar kenangan yang selama ini kusimpan di lubuk hati terdalam.
Setengah tahun setelah menikah, sebenarnya kami juga pernah punya anak.
Waktu itu, di satu sisi aku hidup penuh kehati-hatian di keluarga Dennis dan di sisi lain juga sibuk bolak-balik mengurusi keluargaku.
Sayangnya, belum sempat aku menyadarinya, janin itu sudah tidak berkembang lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





