APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hijaunya Rumput Tetangga

Hijaunya Rumput Tetangga

Fian selalu menjadi suami yang setia dan sempurna, tetapi rumah tangganya mendadak hancur ketika Anti, sang istri, menuntut perceraian. Anti merasa bosan dengan sikap Fian yang dinilai kurang romantis walau sangat baik hati. Keinginan Anti untuk berpisah kian bulat setelah ia berjumpa lagi dengan mantan pacarnya yang berkarakter sangat berbeda dari Fian. Kini, pernikahan mereka pun terancam kandas akibat kehadiran sosok dari masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Sayang, mas pulang agak malam ya. Biasa, meeting akhir bulan. Mas harus kerja keras, supaya anak-anak kita terjamin masa depannya," ucap Bandi seraya merapikan kerah kemeja.

"Pulang jam berapa?" Dira bertanya lembut.

"Yaa, secepatnya selesai. Nanti mas telepon. "

"Hampir tiap hari mas pulang malam. Apa gak ada yang bisa gantiin tugasnya?" Lagi suaranya sangat lembut, tak menyiratkan apapun.

"Bos percaya sama mas. Ini peluang bagus, Sayang. Makin banyak kepercayaan didapat dan mas bisa kerja dengan baik, makin besar peluang mas naik jabatan."

"Tapi, rasanya berlebihan kalau mas pulang malam hampir tiap hari." Kali ini suara Dira sedikit gamang.

"Sayang, tumben kamu komplain? Sudah jangan dipikirin, biar mas yang kerja keras, kamu santai di rumah. Atau mau liburan ke mana?"

Ya, selalu seperti ini. Dira menyudahi pembicaraan dengan jawaban yang mirip dari waktu ke waktu.

Dira menghentikan kegiatan menyapukan make-up ke wajah cantiknya. Rutinitas tiap pagi ketika mengantarkan suaminya berangkat kerja, walau hanya sampai depan pintu.

Bandi Sahertian sosok perfeksionis. Dira harus selalu tampil sempurna, rapi dari ujung kaki hingga rambut. Walau hanya di rumah saja. Begitupun keadaan rumah, selalu rapi. Jangan harap menemukan barang-barang tak terpakai, masih tersimpan di lemari. Bandi akan segera membuangnya, sekalipun masih bagus.

Kadang hal itu membuat Dira lelah, tapi tak pernah diutarakannya. Disimpannya semua beban di hati terdalam, berusaha menikmati hidup dengan syukur. Banyak orang di luar sana menginginkan kehidupan seperti dirinya, mengapa ia harus mengeluh?

Ditatapnya sang suami yang terlihat gagah di usia menjelang kepala empat. Dira tersenyum, berdiri lalu memeluk Bandi.

"Mas, jangan terlalu banyak ambil kerjaan. Nanti lelah."

"Lelahnya mas akan hilang, asal liat kamu tersenyum, Sayang." Bandi mengecup keningnya, seraya mengeratkan pelukannya.

Lelaki itu memang pintar merangkai kata, bukan hanya kata tapi sikapnya yang membuat hati meleleh, beda dengan cerita teman-temannya, tentang suami mereka yang cuek bebek. Hal itu membuat Bandi kerap menjadi perbincangan di kalangan teman-teman Dira. Mengingat itu, Dira tak bisa menyembunyikan rasa bangga. Sosok sempurna Bandi di mata teman-temannya menjadi penghibur hatinya yang kerap merasa jenuh.

"Jangan lupa, ajak anak-anak jalan ntar sore, beliin mainan yang mereka suka." Keduanya berjalan bersisian ke luar kamar.

Dira mengiakan ucapan suaminya.

Seketika Dira teringat, tas kerja Bandi ketinggalan di kamar. Dira kembali sementara Bandi menuju ruang tamu dan mengenakan sepatunya.

Menenteng tas kerja berwarna hitam, Dira merogoh isinya untuk memeriksa kelengkapannya. Barangkali Bandi lupa membawa dompet, batinnya.

Kening Dira mengernyit, saat tangan memegang sesuatu berbahan lembut. Penasaran, Dira menarik barang itu ke luar, ia melongo. Bandi pasti ingin memberi kejutan semalam, tapi lupa diberikannya, batin Dira. Bibirnya tersenyum sumringah. Lelaki itu, selalu saja punya cara untuk menyenangkan hatinya. Bagaimana bisa ia mengeluh, bila ia memiliki suami yang didambakan banyak wanita di luar sana.

"Mas, ini …." Dira tersenyum malu, saat telah berada di dekat suaminya. Di tangannya, ia memegang satu set lingerie berwarna hitam masih terbungkus plastik transparan.

Entah salah lihat atau perasaannya saja, Dira melihat manik lelaki itu gelagapan. Sesaat timbul perasaan gamang di hati Dira. Apakah benda itu memang untuknya? Dira mengabaikan rasa penasaran ketika Bandi menunjukkan sikap manisnya.

"Aah, sayang. Semalam lupa mau kasi kejutan buat kamu. Ya udah simpan sana, buat nanti," cetusnya tertawa renyah, lalu menarik tangan Dira dan menangkupkan ke pinggangnya.

"Mas berangkat, Ya." Sebuah kecupan didaratkan di kening sang istri. Langkahnya terlihat agak terburu, Dira berusaha mengabaikan rasa gundah yang tiba-tiba mendera.

Bukan sekali dua kali ia bertengkar dengan Bandi perihal curiga yang tak beralasan akan kehadiran wanita lain, tetapi semua kecurigaan Dira dimentahkan oleh sikap manis Bandi. Dengan pelukan, ciuman dan hadiah, Bandi berhasil mengembalikan bahagia Dira.

Dira istri yang bahagia. Benarkah? Bila saja rumahnya tak berhadapan dengan rumah Anti, mungkin ia tak perlu membandingkan hidupnya dengan pasangan lain.

Dira menatap rumah minimalis tepat di depan rumahnya. Tinggal berhadapan dengan rumah Anti, membuat Dira tak bisa menutup mata begitu saja. Aktivitas suami istri itu sehari-hari terpampang jelas di depannya.

Rutinitas pagi, ketika Fian akan berangkat ke kantor, menjadi pemandangan yang menarik untuk dilihat.

Fian dan Anti berbicara seperlunya, mengucapkan salam, lalu Fian berangkat. Anti tetap pada kegiatan menyapu halaman atau menjemur pakaian. Ibu dua anak yang terlihat cantik dengan penampilan sederhana itu, mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sendiri. Tiada pembantu, seperti halnya di rumah Dira. Dua orang bibi membantu pekerjaan rumah tangga dan mengurus kedua anaknya.

"Kasian kamu capek, Sayang. Biar bibi aja yang kerjain, kamu bantu sebisanya saja," ujar Bandi seringkali. Lelaki itu memang sangat perhatian. Bahkan cenderung berlebihan.

Berbeda dengan Fian, ia kerap terlihat membantu Anti mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Mereka jarang bersikap mesra, tapi Dira bisa melihat dengan jelas betapa sayangnya Fian pada Anti. Sementara Anti, ia adalah wanita yang tidak banyak bicara. Sulit untuk mengetahui apakah ia sedang senang atau sedih.

Sering ia berandai-andai, seandainya Bandi bersikap lebih santai, mungkin batinnya tak selelah ini. Seandainya ia tak harus selalu tampil sempurna, mungkin hidupnya lebih nikmat. Berperan sebagai istri sempurna, menampilkan setiap aktivitas atau pemberian sang suami di medsos atau sekedar story WA, hanya untuk menunjukkan betapa sempurna hidup pernikahannyanya, kadang membosankan.

Tiada yang tahu, hatinya lelah.

Entah, melihat kebersamaan Anti dan Fian yang sederhana, membuatnya iri. Dengan daster lusuh pun, Anti tetap terlihat cantik dan Fian tampak tak pernah protes. Sedangkan Fian sendiri, ia lelaki tampan yang tak pernah berupaya menunjukkan ketampanannya.

Berbeda jauh dengan Bandi. Uban tumbuh sehelai saja, seperti ayam kegencet ban sepeda. Panik, padahal cuma uban.

Sementara Fian, kadang mengenakan sepatu warna orange, celana hitam, kemeja biru, dasi merah. Nggak pusing padu padan, tapi tetap aja dia terlihat tampan. Di lain hari, dengan santainya Fian mengenakan sandal lain sebelah, berjalan menuju warung. Jangan harap itu terjadi pada Bandi. Ia mengenakan pakaian harus matching dari bawah sampai atas. Sekedar jalan ke rumah pak RT saja, seperti mau kondangan.

Pernah Dira membeli tas yang modelnya ketinggalan jaman, menurut Bandi. Terpaksa Dira memberikan tas itu ke adiknya, padahal ia suka modelnya. Huum ... hidup ini memang aneh. Dengan semua kesempurnaan yang dimilikinya, ruang kosong di hatinya semakin hari semakin lebar.

Anti, betapa beruntungnya kamu punya suami seperti Fian, batin Dira nelangsa.

[Mas udah sampai di kantor ya, Sayang. I love u.] Bandi mengirim pesan satu jam kemudian. Lelaki itu selalu mengirimkan kabar bila telah tiba di kantor, agar Dira tak perlu mengkhawatirkannya.

Setelahnya, tanpa rasa bersalah Bandi juga mengirimkan pesan pada seseorang yang lain.

[Jangan lupa sarapan. Miss u.]

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bosku Kenikmatanku
9.4
Dino berambisi memikat Ci Jeny lewat rayuan yang begitu membara. Di atas sofa, ketegangan memuncak kala sentuhan Dino pada tubuh bagian atas bosnya memicu desah kepasrahan. Sempat ragu dan malu, Ci Jeny akhirnya hanyut dalam gelora asmara, bahkan menantang Dino merealisasikan khayalan mereka. Keduanya pun melepas busana, mengungkap hasrat liar yang saling berbalas. Terpana oleh keindahan fisik sang atasan, Dino langsung bergerak intim demi menuntaskan gairah tersembunyi mereka.
Sampul Novel Cinta Untuk Farisa
8.1
Farisa memutuskan pergi ke kota demi memenuhi pesan terakhir sang ibu untuk melacak keberadaan ayahnya. Dalam perjalanannya, ia diselamatkan oleh seorang lelaki yang tulus membantunya. Namun, saat sang ayah berhasil ditemukan, Farisa mendapati kenyataan pahit bahwa posisinya telah diambil alih oleh sosok lain yang mengaku sebagai anak kandung. Di tengah situasi rumit ini, Farisa dihadapkan pada pilihan sulit: merelakan semuanya atau berjuang merebut kembali hak serta pengakuan yang menjadi miliknya.
Sampul Novel Ghost Writer
8.3
Kehidupan asmara perkotaan berpadu dengan intrik dunia kepenulisan bayangan. Cassandra, seorang penulis jenius, terus dimanfaatkan oleh Ayu, klien setianya yang miskin bakat. Namun, sahabat Cassandra yang bekerja sebagai editor melihat keistimewaan tersebut. Sang editor kini berupaya keras meyakinkan Cassandra untuk keluar dari bayang-bayang Ayu dan berani bersinar dengan namanya sendiri demi meraih kesuksesan yang sesungguhnya.
Sampul Novel Kepentok cinta om cupu
8.4
Akibat kalah taruhan, Zoya Raveena terpaksa menembak Danu Atmadja. Ia tidak tahu bahwa pria berpenampilan kuno itu sebenarnya pewaris takhta bisnis yang sangat tampan. Saat benih cinta yang tulus mulai tumbuh di antara keduanya, bayang-bayang masa lalu mendadak hadir dan mengancam kebersamaan mereka. Kini, Zoya dan Danu harus bersatu demi mempertahankan hubungan yang baru terjalin dari rintangan besar yang siap menghancurkan segalanya.
Sampul Novel PEMUAS IBU TEMANKU
9.3
Dalam kisah romansa modern ini, seorang pria terjebak pada peran tidak biasa yang ia anggap sebagai misi mulia sekaligus penuh kenikmatan. Tanpa niat untuk mundur atau berhenti, ia terus melangkah dalam hubungan yang sarat gairah. Narasi dewasa ini mengeksplorasi batas keinginan terdalam saat sang pria berjuang tanpa henti demi memuaskan ibu dari temannya sendiri.
Sampul Novel Proses kedewasaan
9.1
Cerita pendek romantis modern khusus pembaca 18 tahun ke atas ini mengupas kedewasaan dalam hubungan pria dan wanita. Kisahnya menyoroti dinamika intim di balik pintu tertutup secara jujur dan berani. Berfokus pada proses pendewasaan serta hasrat mendalam, alurnya menyajikan interaksi penuh gairah bagi audiens dewasa yang mencari narasi sensual.