APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hayu

Hayu

Hayu mengira asal-usul keluarga tak lagi penting di zaman modern. Namun, anggapan itu runtuh saat ia berhadapan dengan Nyonya Adibrata. Statusnya yang hanya sekretaris biasa membuat hubungannya dengan Bisma, sang pewaris tunggal Adibrata Group, terancam kandas. Demi memperjuangkan cinta mereka, Hayu kini harus menghadapi interogasi ketat dari ibu kekasihnya itu. Sanggupkah hubungan mereka bertahan di tengah jurang perbedaan status sosial yang begitu nyata?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Jadi, apa pekerjaan kamu?"

"Saya sekretaris di Hardana Grup, Bu."

"Jangan panggil saya, Bu. Panggil saya, Nyonya Adibrata."

"Mi!" seru Bisma anak semata wayangnya.

"Jangan ikut campur, Bisma!"

Malam ini, Bisma memperkenalkan Hayu dengan keluarganya, keluarga Adibrata. Hayu, yang dulu tidak tahu bahwa Bisma termasuk keluarga ningrat, sekarang mulai mengerti. Kenapa selama mereka menjalin hubungan, Bisma tidak pernah membawa Hayu menemui keluarganya. Jarak antara mereka terlalu jauh. Status sosial mereka sungguh berbeda.

Hayu mulai sadar ke mana arah pembicaraan orang tua Bisma. Dia berusaha menguatkan hatinya demi lelaki yang dicintainya itu. Dia harus memasang wajah semanis mungkin, meskipun dia tahu, hatinya akan semakin sakit mendengar kalimat demi kalimat yang akan dilontarkan Nyonya Adibrata.

Bisma terdiam menerima teguran dari maminya. Nyonya Ayu Adibrata memandangi Hayu dari atas sampai ke bawah.

"Orang tua kamu bekerja di mana?"

"Saya hanya punya Ibu saja, Ayah saya sudah meninggal semenjak saya SMA."

"Lalu ibumu, dia bekerja sebagai apa?" cecar nyonya Adibrata, tentu saja dengan sikapnya yang angkuh dan dingin. Tatapan matanya bahkan mampu menggetarkan bumi seisinya.

"Ibu saya hanya penjual kue-kue rumahan." Hayu semakin tidak enak dengan pertanyaan kali ini. Apalagi sudah membawa-bawa orang tuanya, Hayu ingin pergi dari rumah Bisma secepat mungkin. Tapi dia masih menjunjung tinggi sopan santunnya, dia tidak mau mempermalukan orang tuanya, karena sikapnya itu.

"Hanya itu? Kalian tinggal di mana?" tanya Nyonya Adibrata lagi, sembari mendorong punggungnya bersandar di sofa, tak lupa menyilangkan kakinya. Menampakkan kesan meremehkan terhadap Hayu.

"Kami tinggal di Perumahan Melati."

Bisma yang kasihan dengan Hayu, berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka. Untungnya papa Bisma, Jaya Adibrata tidak ada di rumah. Seandainya ada, hati Hayu bisa saja ambyar, seperti nasi kucing yang hilang staplesnya.

"Mi, bukankah kita akan makan malam, Bisma sudah lapar, Mi. Sampai kapan Mami mewawancarai Hayu? Ini bukan lamaran pekerjaan, Mi. Ini tentang makan malam keluarga. Mami mau, melihat Bisma kelaparan dan akhirnya pingsan di sini?"

Nyonya Adibrata mendengus sebal, namun tak urung, dia bangkit dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu menuju meja makan. Bisma membimbing Hayu mengekori maminya di belakang, mereka duduk dan mulai menikmati makan malam.

Hayu sudah tidak merasakan rasa lapar sejak kedatangannya kemari, nafsu makannya menghilang. Nyonya Ayu Adibrata yang melihatnya seketika berdeham.

"Ehem, apa makanan yang kami sajikan kurang enak? Tidak menggugah seleramu? Sehingga kamu enggan memakan makanan yang mahal ini? Atau jangan-jangan, orang tuamu tidak pernah memasak menu-menu ini di rumah?"

"Mami! Cukup! Mami jangan keterlaluan dengan Hayu!" Bisma mulai berani menjawab maminya, dia merasa sakit hati mendengar perkataan maminya. Bisma tak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Hayu saat ini, pasti lebih sakit dari yang Bisma rasakan.

"Jadi karena kekasihmu ini, kamu berani membentak Mami?"

Hayu yang merasa tidak enak, melihat mereka bertengkar karena dirinya, mulai membuka suara.

"Saya memang tidak terbiasa makan makanan seperti ini, Nyonya. Karena ibu saya hanya menyediakan makanan yang sederhana, sehat dan murah, namun mengandung banyak gizi tinggi. Jadi saya mohon maaf, kalau saya terlihat tidak tertarik untuk memakan hidangan ini, saya merasa tidak terbiasa."

Sebagai seorang sekretaris, sejujurnya dia tahu segala makanan enak, apalagi ketika menemani bosnya makan siang dengan klien, atau sekedar membelikan bosnya makan siang. Namun mendengar perkataan nyonya Ayu, membuat Hayu berpura-pura tidak tahu menahu soal makanan yang tersaji di hadapannya.

Susah payah Hayu menguatkan hatinya agar tidak sedih dan meneteskan air mata. Dia terima kalau dia di remehkan, tapi dia tak terima, jika sudah menyangkut orang tuanya. Orang tuanya yang tidak tahu menahu tentang kesalahannya.

"Bagus, kalau begitu, sekarang makanlah, ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali, nikmati semua makanan yang tersaji di sini, dan kamu Bisma, cepatlah makan. Bukankah kamu bilang, kamu lapar. Kamu juga tahu aturan kita ketika sedang makan, bukan? Tidak ada percakapan apa pun di meja makan!"

Bisma terdiam, selama ini dia tidak pernah melanggar aturan yang sudah ditetapkan di rumah. Peraturan makan dengan mode silent, begitu Bisma menyebutnya. Seperti makan dengan robot, tidak ada interaksi dan suasana yang hangat seperti di keluarga Hayu. Di mana mereka makan dengan saling melempar candaan atau sekedar membahas hal yang tidak penting.

Bisma dibesarkan dengan segala aturan-aturan yang kadang membuat Bisma muak, jika dia protes dengan maminya, maka, dia akan di ingatkan bahwa dia termasuk keluarga ningrat yang wajib menaati aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh mereka. Tidak boleh satu pun yang boleh dilanggarnya.

Mereka makan dengan diam. Selesai makan, nyonya Ayu Adibrata melangkah menuju ruang keluarga, mengabaikan anak dan juga kekasihnya yang tak dianggap olehnya.

"Aku mau pulang, biar aku pulang sendiri, tak perlu kamu mengantarku."

"Tidak, aku akan mengantarmu, aku yang menjemput dan mengajak kamu ke sini, aku harus bertanggung jawab. Lagi pula aku yang meminta ijin pada Ibu," ucap Bisma menolak permintaan Hayu.

Hayu melangkah mendekati Nyonya Ayu, "Maaf, Nyonya, sudah malam, saya harus pulang, terima kasih atas makan malamnya," pamit Hayu mengulurkan tangannya pada nyonya Ayu, sayangnya dia malah bersikap, seolah-olah tak melihat tangan Hayu yang terjulur padanya.

Hati Hayu sakit, seperti di tusuk ribuan jarum. Bisma ingin memeluknya, tapi dia takut, maminya akan semakin murka dengan kelakuannya. Bisma sungguh bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

Hayu menarik tangannya yang terulur dan mengepalkannya di sisi tubuhnya.

"Saya permisi, Nyonya." Nyonya Ayu menanggapi dengan anggukan, melihat putranya yang mengekori Hayu, segera dia menghardiknya.

"Mau ke mana kamu!"

"Mi, Bisma mau mengantarkan Hayu pulang, tadi Bisma yang menjemputnya, Mi. Bukankah Mami yang selalu bilang dan mengajarkan Bisma untuk bertanggung jawab?"

"Antarkan dia sampai di gerbang, kamu bisa mencarikan taksi untuknya!"

"Tapi, Mi."

"Sudahlah, aku bisa pulang sendiri, tidak usah mengantarku, aku akan mencari taksi sendiri." Hayu mencegah Bisma mengantarkannya, dia tidak mau semakin ada pertengkaran antara ibu dan anak.

"Tapi, Hayu. Aku tidak mungkin membiarkan kamu pulang sendiri, apa kata Ibu nanti."

"Aku akan menjelaskan pada Ibu, bahwa kamu sedang tidak bisa mengantarku, aku yakin Ibu akan mengerti, ku mohon. Biarkan aku pulang sendiri. Iam fine, Bisma."

Bisma mengalah, dia menatap punggung kekasihnya sampai menghilang di balik gerbang rumahnya.

Hayu berjalan keluar dari rumah yang pantas di sebut neraka itu. Air mata yang dia tahan sejak tadi, akhirnya menetes juga. Semakin lama semakin deras, ingin rasanya dia berteriak untuk melegakan semua beban yang ada di hatinya, namun itu tidak mungkin dilakukannya. Dia sedang berada di jalan raya yang ramai, bisa-bisa nanti dia viral gara-gara teriakan-teriakannya, atau malah orang-orang menyangka dia sudah gila. Gila karena mami Bisma.

"Apa salahku, apa salah, aku dilahirkan dari keluarga yang biasa saja? Apa aku salah, karena menjadi anak yatim? Apa salah, kalau ibuku hanya penjual kue?" gumamnya terisak.

"Kenapa takdir begitu kejam padaku?"

"Kenapa menyalahkan takdir? Bukankah takdir itu, tetangga kamu yang bekerja sebagai sopir saya?"

"Bapak?"

-bersambung-

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hari Pamermu, Hari Kematianku
8.9
Demi menyelamatkan diri dari kemiskinan dan kejaran musuh saat Andre bangkrut, tokoh utama memilih memutuskan hubungan dan berpaling ke pria kaya lain. Meski Andre memohon dan menyatakan tidak bisa hidup tanpanya, penolakan kejam dengan siraman wiski akhirnya mengusir pria itu pergi. Enam tahun berlalu, Andre kembali ke Jalan Wandara sebagai taipan keuangan sukses Kota Yorin. Berniat memamerkan tunangan barunya sebagai pembalasan dendam, Andre justru harus menghadapi kenyataan pahit bahwa wanita yang dicarinya telah meninggal dunia tepat di hari kepulangannya.
Sampul Novel KAMU SINI DONG DEKETAN
8.3
Kepergian Wulan ke luar negeri demi pengobatan membuat hubungan asmaranya dengan Darwis, sang wartawan, menjadi rumit. Darwis akhirnya menikahi Marlenna yang tengah mengandung anak Marcel. Di sisi lain, sempat tumbuh rasa cinta antara Darwis dan Arini sebelum maut memisahkan mereka. Konflik memuncak saat Wulan sembuh dan Aldi kembali setelah kecelakaan. Di tengah ujian kesetiaan dan masa lalu, kehadiran bayi bernama Arini menjadi pemersatu pernikahan Darwis dan Marlenna.
Sampul Novel Kehilangan Kendali Atas Kegilaanku
8.5
Di bawah kegelapan malam, sebuah tindakan nekat di kursi taman menjadi awal dari obsesi yang tak terkendali. Menyadari kehadiran sosok pria berotot setinggi dua meter yang mengamatinya, wanita ini justru sengaja memuaskan hasratnya sendiri di tempat terbuka. Alih-alih takut, tatapan intens itu memicu sensasi menantang yang melumpuhkan akal sehatnya. Kegilaan impulsif ini berubah menjadi candu yang membakar, membuatnya kian haus akan gairah yang terlarang dan mustahil untuk dihentikan.
Sampul Novel Married The Wolf Queen
8.4
Akibat menentang perjodohan dari sang ayah, Ratu Jenny dikutuk menjadi seekor serigala putih dan dibuang dari kerajaannya. Terasing di dunia manusia tanpa wujud aslinya, ia bertemu dengan seorang pria asing. Pria tersebut menjadi tumpuan harapan Jenny untuk membebaskan diri dari sihir jahat itu. Mampukah Jenny mematahkan kutukan tersebut dan merebut kembali takdirnya sebagai ratu? Ikuti kisah perjuangannya di sini.
Sampul Novel Menikah dengan Cinta Pertama
8.0
Saat menghadiri reuni bersama James, pertanyaan tentang pernikahan mengungkap keretakan hubungan delapan tahun kami. Di hadapan teman-teman, James mengaku belum memikirkannya, sementara aku dengan tegas menyebutkan tanggal sebelas sebagai hari pernikahanku. Sikapku membuat James marah karena selama ini dia selalu menunda komitmen demi menyembunyikan perselingkuhannya dengan wanita yang lebih muda. Namun, kemarahannya sia-sia karena pria yang akan kunikahi nanti bukanlah dirinya.
Sampul Novel Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku
9.7
Sebagai guru BK di sekolah swasta elit, Yerin Anindya terbiasa menghadapi murid bermasalah seperti Bastian Miles Jarvis. Namun, ia tidak pernah menduga bahwa tugasnya ini akan mempertemukannya dengan Arseno Jonathan Jarvis. Kakak Bastian sekaligus Presdir Skyline Corporation yang arogan tersebut tiba-tiba mencium Yerin di hadapan seluruh keluarga Jarvis dan mengklaimnya sebagai calon istri. Kini, Yerin terjebak dalam situasi rumit yang akan mengubah total kehidupan tenangnya.