APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel HASRAT PENUH LUKA

HASRAT PENUH LUKA

Di bawah guyuran hujan lebat, Dominic mengejar wanita yang sangat mirip dengan Stella. Sambil berlutut, ia bersujud memohon maaf atas kesalahan fatalnya di masa lalu. Namun, kepedihan yang dirasakan Stella sejak tiga tahun lalu telah mengubah hatinya menjadi beku dan kelam. Dengan penuh ketegasan dan sikap dingin, Stella menyatakan penyesalan Dominic sia-sia. Baginya, hanya kematian pria itulah satu-satunya penebus penderitaan panjang yang ia rasakan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dominic sudah tiba di perusahaan milik keluarganya. Seperti biasa kehadirannya selalu membuat keheningan yang berkepanjangan di satu ruangan, seakan tak boleh ada yang membuat suara sedikit pun atau dia akan menyinggung Tuan Muda Anderson yang selalu dielu-elukan oleh siapa pun yang melihatnya.

Siapa yang tak kenal nama Dominic di kota Green Ford. Dia adalah laki-laki yang menjadi impian setiap wanita di sana.

Bahkan setelah Dominic menikah dengan Stella pun, masih banyak wanita yang tergila-gila pada laki-laki itu, dan tak segan menyebar teror demi mendapatkan perhatian Dominic dengan sengaja.

Walau setelahnya, mereka harus menggigit jari mereka sendiri karena Dominic mengacuhkannya.

Putera sulung dari keluarga Anderson bukan satu-satunya yang paling menawan, adiknya Jared Anderson pun tak kalah menawannya, kedua putera mahkota Anderson, adalah laki-laki yang selalu menjadi bagian mimpi-mimpi para wanita.

Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Dominic.

“Masuk!”

Sesosok yang sudah lama dikenalnya melemparkan senyum yang cukup menawan. Laki-laki yang baru saja masuk ke dalam ruangan Dominic adalah Daniel—sekretaris pribadi Jason.

“Tuan Muda Dominic, Anda diundang makan malam di Keluarga Wilson nanti malam jam delapan, apakah Anda akan datang menerima undangan dari mereka?” tanya Daniel.

Dominic terdiam sejenak kemudian menatap wajah Daniel.

Keluarga Wilson berhubungan baik dengan Keluarga Anderson dari masa ke masa. Tuan Besar dari Keluarga Anderson sangat menyenangkan, lebih memberi kesan hangat pada siapa pun yang pernah bertemu dengannya, berbeda dengan Dominic yang memiliki sifat yang jauh dari kata hangat, dan tak pernah mau beramah tamah jika dianggapnya tak perlu.

“Ada acara apa mereka mengundangku?”

“Merayakan ulang tahun mendiang Nona Kedua Wilson, apakah Anda mau datang?”

Dominic menarik napas, dadanya seketika terasa berat dan sesak. Tiga tahun, ya, tiga tahun sudah berlalu. Tak pernah ada yang tahu ke mana nona kedua dari keluarga itu menghilang. Polisi sendiri telah menutup kasusnya dan menganggap nona kedua keluarga itu telah tewas tanpa jejak. Bahkan sampai hari ini dia tak pernah tahu siapa yang melakukan hal keji serapi itu pada Stefani Wilson.

Dominic tertawa mengejek kemudian melemparkan kata-kata yang cukup kasar, “Orang mati merayakan ulang tahun?”

‘Orang mati? Tapi perasaanmu tak pernah mati, Tuan Muda Davis.’

‘Berpura-pura acuh dan dingin di depanku sama sekali tak berpengaruh apa pun. Kau tak pernah bersikap baik pada Nyonya Muda, semua karena gadis yang dikabarkan telah tewas tanpa jejak itu, kan?’

Rasanya Daniel ingin menertawakan kalimat Dominic barusan, tapi dia tak berani. Dia masih mencintai diri dan nyawanya.

“Jadi apa perlu kutolak undangan mereka?”

Dominic mengangkat tangannya. “Tidak perlu, aku akan datang.”

‘Benar saja, kau masih mencintainya.’

Daniel geli mendengar kepura-puraan dalam nada bicara Dominic barusan.

“Jam delapan?” ulang Dominic.

“Benar jam delapan. Saat Anda telah menyelesaikan semua pekerjaan Anda, aku akan mengantar Anda langsung ke Wilson Manor, ok?”

Dominic mengangguk, kemudian kembali menatap beberapa lembar dokumen yang ada di depannya. Tangannya terangkat di udara, kemudian membuat beberapa gerakan, meminta Daniel keluar dari ruangannya.

Jika saja kejadian tiga tahun lalu tak pernah terjadi, kisah cintanya tak akan pernah berakhir pada gadis yang salah.

Stella adalah kesalahan terbesar yang pernah dibuatnya. Kenapa dia harus menyetujui keluarganya untuk menikahi Stella?

Dia tak pernah mencintai Stella, sama sekali. Bahkan 0,001% pun tak pernah ada di hatinya.

Stefani yang manis, manja, lembut, dan selalu penuh cinta ketika berbicara dengannya, disertai tingkahnya yang menggemaskan, adalah satu-satunya gadis yang selalu berada di pikirannya.

Mengapa terlalu bodoh.

Dia tak bisa membantah.

Tak bisa menolak.

Saat dia menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Hanya ada satu kata yang bisa dipikirkannya.

Perceraian!

Di kediaman pribadi Dominic. Stella mengeluarkan semua pakaian yang dibelinya sendiri dan memasukkannya ke dalam koper. Beberapa pakaian yang pernah dibelikan Dominic, tak disentuhnya sama sekali.

Satu set perhiasan mahal yang pernah dibelikan Dominic sebagai hadiah pernikahan mereka diletakannya di dalam kamar. Stella mendengus kasar, dadanya terasa sakit.

Baru tiga tahun, terasa singkat.

Seperti biasa, dia tak bisa menolak permintaan Dominic. Apa pun yang diinginkan laki-laki yang tak pernah mencintainya selalu diturutinya.

Kate berada di ambang pintu, melihat gadis itu berdiri seraya menatap ke arah koper yang telah berdiri rapi di samping tempat tidur. Hati kecilnya ingin menahan Stella, tapi dia tak bisa berbuat apa pun, dia hanya seorang kepala pelayan di sana.

“Nyonya Muda,” panggil Kate. Berusaha tersenyum, gurat kegusaran tercetak jelas pada wajah Stella, meski dia berusaha memberikan senyumnya.

“Ada apa, Bibi Kate?”

“Anda mau pergi?”

Stella mengangguk pelan, kemudian menunduk dalam, digigitnya bibir bawah, gadis itu selalu seperti itu ketika dia merasa bingung.

“Anda tak ingin berusaha lebih lagi, untuk mendapatkan hati Tuan Muda?”

“Buat apa aku mendapatkan kembali? Sejak awal aku tak pernah memiliki hati itu. Tolong sampaikan, lusa aku akan segera mengurus perceraian. Dia akan segera mendapatkan kebebasannya.”

“Nyonya—“

“Semoga di kehidupan selanjutnya, aku tak perlu lagi bertemu dengannya atau memiliki perasaan untuknya. Sudah cukup di satu kehidupan,” ucap Stella tak membiarkan Kate menyelesaikan kalimatnya.

Perlahan Stella menarik koper miliknya, berjalan menjauhi Kate dan keluar dari kamar, lalu menuruni anak tangga.

Setelahnya suara langkah kaki tak lagi terdengar digantikan suara pintu yang ditutup cukup kencang.

Dia sudah pergi.

Telepon genggam Stella berbunyi, sebuah nama di layar ponselnya membuatnya tersenyum tipis sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.

“Ruby? Ada apa?”

Ruby dan Dylan, adalah sahabat satu-satunya yang dimiliki Stella. Saat dia sekolah dulu, tak banyak teman yang dimilikinya. Mereka menjauhinya, karena saat itu tak ada yang dianggap mereka menarik dalam diri Stella.

“Stella, bagaimana keadaanmu? Aku dan Dylan sudah lama tak bertemu denganmu, apa kau ada waktu hari ini?”

“Ya, kalian mau bertemu di mana. Tapi aku harus mencari tempat tinggal baru terlebih dahulu, setelah itu baru bisa menemui kalian, bagaimana?”

Mencari tempat tinggal baru?

Kalimat Stella barusan membuat Ruby terdiam untuk sesaat.

Setahunya, Stella sudah hidup bahagia bersama Dominic. Bukankah keduanya telah menikah, dan Stella dibawa oleh laki-laki itu tinggal bersamanya tiga tahun yang lalu. Lalu kenapa sekarang Stella perlu mencari tempat tinggal baru?

Apa yang terjadi di antara kedua pasangan suami isteri itu?

Ruby ingin bertanya lebih banyak, tapi dia menahannya. Tampaknya tak etis untuk menanyakan sesuatu yang mungkin sangat pribadi bagi Stella, melalui telepon.

Biar saja, dia akan menanyakannya begitu ketiganya bertemu secara langsung. Pasti Stella akan banyak bercerita padanya, dia yakin akan hal itu. Sahabatnya tak pernah menyembunyikan apa pun darinya.

“Hm, sepertinya kau ingin bercerita banyak nantinya?” ujar Ruby.

“Mungkin, aku akan mengabari kau dan Dylan. Saat ini aku sedang berada di taksi, menuju Town Square untuk mencari apartemen murah untuk sementara. Aku akan memberitahumu dan Dylan lokasi baruku. Sampai ketemu nanti, Ruby,” jawab Stella, lalu mengakhiri pembicaraan keduanya dengan cepat.

Beberapa jam kemudian Dominic telah kembali ke rumah besar miliknya yang berada di pusat kota, di mana selama tiga tahun Stella tinggal bersamanya dengan perasaan sakit yang selalu ditahannya.

Bagaimana bisa, Dominic tak mampu melupakan seseorang yang telah mati bertahun-tahun dan tetap mengingatnya seakan gadis itu masih hidup, dan mengganggu kehidupan rumah tangga mereka.

Bagi Dominic, Stefani adalah cinta pertamanya. Seandainya saja saat itu Stefani tak pernah menghilang secara tiba-tiba, tak mungkin dia akan melakukan kesalahan dengan menikahi Stella, yang jelas-jelas tak pernah dicintainya sama sekali.

Sampai hari ini pun, Dominic masih menyuruh orang untuk mencari di mana mayat Stefani, meski tiga tahun telah berlalu, tak ada informasi yang jelas yang didapatkannya. Tapi tak sedikit pun dia merasa putus asa.

“Bibi Kate!” panggil Dominic pada wanita tua yang telah bekerja pada keluarganya selama puluhan tahun itu.

Tergesa Kate keluar dari arah belakang, kedua tangannya diusapkan ke arah celemek, rupanya dia baru saja menyiapkan masakan untuk para karyawan lain yang ada di rumah besar itu.

“Ada apa Tuan Muda?”

“Aku tak mendengar suara perempuan itu, biasanya dia yang membukakan pintu dan begitu gembira menyambutku di sana, tapi ke mana dia?” tanya Dominic yang merasa aneh karena Stella tak menyambutnya di depan pintu masuk sepeti biasanya.

“Nyo-Nyonya Muda ....”

“Ada apa dengan Nyonya Muda?”

“D-Dia sudah pergi, Tuan Muda. Beberapa jam yang lalu, Nyonya Muda pergi dengan membawa sebuah koper besar,” jawab Kate. Ekspresi wajahnya begitu takut melihat Dominic menatapnya dengan tajam, wajahnya seakan diselimuti oleh awan gelap, membuat wajah tampan Dominic terlihat sangat menakutkan.

“Siapa yang menyuruhnya untuk pergi, Bibi Kate?” tanya Dominic sembari mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kate. Suara itu memang terdengar tenang, tapi terasa seperti sebuah belati yang siap menusuk kapan saja.

“Se-sepertinya Nyonya Muda yang memutuskan sendiri untuk pergi, Tuan.”

“Jadi begitu? Apa dia mengatakan ke mana dia akan pergi?”

Kate menggeleng.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Perjalanan bisnis Anya mendadak kacau karena kendala teknis yang memaksanya tinggal selama tiga minggu. Masalah kian pelik saat keponakan rekan bisnisnya melamar secara tiba-tiba, bahkan mengancam nyawa Anya setelah penolakan tersebut. Di tengah bahaya, Dastan yang merupakan mantan teman sekelasnya hadir menyelamatkan. Namun, Anya mulai mencurigai motif asli Dastan. Apakah ini ketulusan masa lalu atau ada niat lain? Anya harus menyelesaikan semua sebelum waktunya habis.
Sampul Novel Cinta Palsu, Dendam Sejati Telah Dimulai
9.6
Vano, tunanganku, tega mendorongku ke kolam hingga nyaris tenggelam demi bermesraan dengan selingkuhannya, Melodi. Setelah aku selamat, ia malah berbohong bahwa aku terpeleset demi nama baiknya. Diliputi kemarahan mendalam, aku memutuskan pura-pura amnesia untuk menghancurkannya. Aku mengaku sebagai kekasih musuh bebuyutannya, Bahar Adijaya. Melihat kepanikan di wajah pucat Vano, aku tahu rencana balas dendamku yang mematikan kini resmi dimulai.
Sampul Novel Dibenci Keluarga Mertua
8.1
Bertahun-tahun Ayu bertahan dari perlakuan buruk ibu mertua dan adik iparnya. Namun, batas sabarnya habis ketika perselingkuhan Wahyu, sang suami, terbongkar. Di tengah penyesalan Wahyu yang membisu, ibunya justru menuntut perceraian agar Wahyu bisa bersama Vina. Lelah dihina sebagai perempuan kampungan dan dikhianati, Ayu memutuskan pergi. Dengan kemarahan mendalam, ia bersumpah hidup keluarga yang telah menyakitinya tidak akan pernah bahagia lagi.
Sampul Novel Fatal
9.2
Esther harus membayar mahal kesalahan fatal di masa lalunya yang telah merenggut nyawa seseorang. Demi menebus dosa besar tersebut, ia terpaksa menjalani pernikahan penuh penderitaan bersama Felix. Sebagai kakak dari korban yang tewas, Felix diselimuti amarah dan bertekad menggunakan ikatan pernikahan ini sebagai alat balas dendam. Esther pun hanya bisa pasrah menerima segala siksaan dari suaminya di bawah bayang-bayang penyesalan mendalam.
Sampul Novel Terjerat Hasrat Cinta Atasanku
9.2
Dalam dunia kerja modern, kisah cinta membara antara seorang bos dan karyawannya harus berhadapan dengan rintangan yang sangat besar. Ketertarikan yang begitu kuat di antara mereka terhalang oleh sebuah batas kokoh layaknya Tembok China yang mustahil diruntuhkan. Hubungan asmara kantor ini pun dipenuhi pergolakan hebat. Mampukah mereka memperjuangkan perasaan dan menembus dinding penghalang tersebut, atau justru harus menyerah pada keadaan?
Sampul Novel Tiga Puluh Hari Sebelum Bercerai
9.2
Arga ingin menikahi lagi mantan tunangannya yang dahulu pergi tanpa kabar. Naima, istrinya saat ini, mengizinkan hal tersebut dengan syarat mereka harus menjalani masa tiga puluh hari sebelum sah bercerai. Namun, di tengah proses itu, Arga justru menemukan berbagai fakta tidak terduga yang selama ini tersembunyi. Rahasia demi rahasia Naima yang mulai terbongkar membuatnya bimbang. Akankah Arga tetap memilih bercerai dan menikah lagi setelah mengetahui kebenaran itu?