APKDock Logo
Sampul Novel Hasrat Liar Darah Muda

Hasrat Liar Darah Muda

8.1 / 10.0
Firhan Ardana, pemuda berusia 24 tahun, memulai magang di kampung halamannya. Momen reuni SMP yang ia hadiri justru menyeretnya ke dalam konflik asmara yang membingungkan. Firhan kini terjebak di antara tiga wanita: Puspita yang penuh teka-teki, Meilani yang berani, dan Azaliya sang primadona sekolah yang memikat. Di tengah gelora masa mudanya, ia harus berjuang menghadapi pergulatan batin demi memilih antara cinta sejati atau sekadar nafsu belaka.

Hasrat Liar Darah Muda Bab 1

Tiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!

Suara klakson panjang itu seperti alarm kiamat. Gendang telingaku terasa seperti digetok palu godam, memaksa otakku-yang sedang melayang entah ke mana-kembali menjejak realitas. Panik, aku menoleh ke belakang. Barisan kendaraan berderet seperti parade semut, tapi yang ini penuh kemarahan. Raungan klakson mereka menyuarakan satu pesan yang sama: "Gerak, woy!"

Dan sialnya, biang keroknya adalah aku. Atau lebih tepatnya, motor sport hitam mengilap 150cc-ku, yang berdiri gagah tak bergerak di barisan paling depan lampu merah. Lampu hijau sudah lama menyala, tapi aku malah ngelamun. Dengan terburu-buru, aku memutar gas, melesat seperti pembalap kelas dunia yang telat briefing.

Rasa malu? Ada, jelas. Tapi rasa bersalah lebih besar. Orang-orang di belakang pasti sudah mendampratku dalam hati, bahkan mungkin ada yang mendoakan ban motorku kempes.

"Maaf, maaf!" gumamku pelan, tentu saja mereka tak mungkin mendengar.

Namaku Firhan Ardana, 24 tahun, calon anak magang di sebuah perusahaan ternama di kota ini. Kata "calon" itu penting, karena aku masih dalam masa percobaan tiga bulan. Kalau masa percobaan ini gagal, tamat sudah riwayatku. Bayangkan, harus balik lagi ke kampung dengan status pengangguran. Malu setengah mati.

Soal penampilan, aku cowok standar Indonesia: tinggi 170 cm, berat badan normal. Kalau tampang? Itu relatif. Ada yang bilang mukaku ganteng, ada yang bilang manis, dan ada juga yang bilang sangar. Entah kenapa, aku curiga mereka yang bilang "sangar" itu ngincer rokokku waktu SMA. Tapi intinya, aku bukan levelnya artis sinetron, apalagi Brad Pitt.

Hari ini, aku sedang dalam perjalanan menuju acara reuni SMP. Lokasinya di gedung mewah di pusat kota. Sebenarnya, reuni ini acara tahunan. Tapi baru kali ini aku punya cukup keberanian untuk datang. Mungkin karena sekarang aku sudah jadi Firhan yang berbeda. Dulu, di masa SMP, aku anak cupu yang sering nggak dianggap. Untungnya, zamanku belum ada istilah "cyberbullying," jadi paling parah aku cuma dijutekin di kantin.

Reuni ini, bagiku, adalah seperti gladi resik hidup baru di kota ini. Setelah bertahun-tahun jadi anak rantau karena ikut ibuku pindah, akhirnya aku kembali. Kota ini tempat semua kenangan masa kecil tersimpan, termasuk... dia.

"Aku merindukanmu..." gumamku lirih, kata-kata itu seperti tercecer dari sudut hatiku yang penuh debu.

Aku melirik jam tangan. Telat 30 menit. Gawat. Acara ini memang bukan wisuda, tapi siapa sih yang mau masuk gedung sambil diliatin semua orang? Tarikan gas motorku semakin dalam, melesat membelah lautan kendaraan yang entah kenapa terasa lebih ganas hari ini.

Dari jauh, seorang pengendara ojek online tiba-tiba menyalip dengan kecepatan rudal, membuatku refleks mengerem. "Bangke!" Hampir saja aku cium trotoar.

Zakarta-atau apa pun nama kota ini-memang masuk daftar lima besar kota termacet di dunia. Dunia, bro! Bayangkan hidup di tempat di mana setiap hari kamu harus berjibaku dengan kendaraan seperti ini. Ditambah jalan berlubang dan lampu lalu lintas yang kayaknya cuma pajangan. Lucunya, tiap tahun kita bayar pajak kendaraan, tapi hasilnya? Nihil. Kadang, aku membayangkan ada semacam "monster aspal" yang setiap malam memakan jalan-jalan kita.

Gedung itu, mercusuar nostalgia yang menjulang ke angkasa, sudah memanggil-manggil dari kejauhan. Tinggal satu sandungan bernama lampu merah lagi, dan gerbang dimensi waktu yang membawaku kembali ke masa lalu itu akan terbuka lebar. Tapi tunggu... ada yang aneh.

Di tiang lampu merah itu, bukan lagi angka digital membosankan yang menghitung mundur. Melainkan sebuah layar digital raksasa yang seakan mencuri perhatian semua pengendara. Di sana, sebuah lingkaran hijau berdenyut, seperti jantung alien yang sekarat, perlahan-lahan mengempis. Setiap detaknya menggerogoti ukuran lingkaran itu, dan di tengahnya, angka-angka sisa waktu berkedip-kedip. Inovasi Dinas Perhubungan, katanya. Biar pengendara nggak cuma bengong, tapi ikut merasakan sensasi bom waktu menjelang lampu merah menyala. Sebuah ide brilian, kalau saja jantungku tidak ikut berpacu lebih cepat dari biasanya.

04

Melihat pertunjukan lampu hijau yang tinggal beberapa kedipan lagi, insting pembalap jalanan dalam diriku berteriak. Empat detik? Cukup! Pedal gas kutekan lebih dalam, mengirimkan getaran kecil ke seluruh tubuh. Aroma knalpot motorku bercampur dengan aroma kopi dari warung di pinggir jalan. Semoga dewi fortuna masih berpihak padaku untuk menerobos lampu kuning yang sebentar lagi pasti muncul bagai wasit yang meniup peluit panjang.

03

Semakin dekat ke gedung tempat reuni, semakin ramai pula para 'penumpang gelap' di kepala ini. Wajah-wajah masa lalu berkelebat, beberapa samar, beberapa masih jelas terukir. Bagaimana ya rupa mereka sekarang? Apakah si Budi masih setia dengan rambut gondrongnya? Apa kabar si Ani yang dulu selalu membawa buku tebal ke mana-mana? Mampukah aku mengingat semua nama yang pernah menghiasi buku tahunan sekolah? Yang lebih menakutkan, apakah mereka masih mengingat si 'aku' yang dulu? Bisakah aku menyatu kembali dengan gerombolan masa lalu itu? Mungkinkah mereka menerima 'aku' yang sekarang? Atau jangan-jangan malah aku jadi seperti alien yang salah mendarat di pesta mereka? Argh... mending aku putar balik saja deh. Urusan adaptasi memang bukan keahlianku sejak lahir. Rasanya seperti mencoba berbahasa klingon di tengah konser dangdut. Terlalu banyak variabel, terlalu banyak potensi awkward moment.

02

"Huuuuussshhh...!" Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha mengusir kawanan pikiran negatif yang sudah siap berpesta di otakku. "Ini cuma reuni, Bambang! Bukan audisi pencarian jodoh!" Aku mencoba mengaktifkan mode 'bodo amat' level dewa. Apapun yang terjadi setelah lampu merah ini, kuterima dengan lapang dada... atau setidaknya, mencoba terlihat lapang dada. Seperti pasrah saat kalah main batu-gunting-kertas melawan bocah lima tahun.

01

Hari ini reuni dengan teman-teman sepermainan yang kini wajahnya mungkin sudah banyak bermain kerutan. Besok, tantangan baru menanti: beradaptasi dengan spesies baru di tempat magang. Dua hari berturut-turut ini akan menjadi debutku di panggung kehidupan yang baru. Semoga saja sutradaranya tidak iseng memberiku peran figuran tanpa dialog. Semoga saja semua skenario berjalan sesuai harapan. Semoga saja...

00

Lingkaran hijau itu benar-benar habis tak bersisa, seperti kuota internet di akhir bulan. Layar digital itu berganti kostum, dari hijau cerah menjadi oranye menyala, sebuah peringatan terakhir yang diabaikan oleh sebagian besar pengendara di negeri ini. Detik berikutnya, warna merah membara mendominasi layar, sebuah titah tak tertulis yang memaksa semua roda berhenti berputar. Waktu seolah melambat, seperti adegan slow motion dalam film action, saat sang jagoan berhasil menjinakkan bom di detik-detik terakhir. Atau seperti saat pelari maraton melihat garis finish yang tinggal beberapa langkah lagi. Semuanya terasa dramatis.

Tapi, namanya juga hidup, seringkali lebih mirip sinetron azab daripada film superhero. Kenyataan seringkali punya selera humor yang kejam. Kulihat posisi motorku masih beberapa meter dari garis putih sakral sebelum lampu merah. Bukan di zona aman seperti yang kubayangkan.

"Kampret..." Umpatan lirih lolos dari bibirku. Nasi sudah jadi bubur ayam... dan aku sudah lapar. Tanggung! Dengan mental preman pasar yang ogah rugi, aku semakin memelintir gas. Menerobos lampu merah yang baru saja berubah warna. Sebuah keputusan brilian, Gassss!

Di saat yang bersamaan, entah dari mana datangnya, sebuah motor matic meluncur dari arah kanan dengan kecepatan penuh, layaknya roket nyasar yang lupa tujuan. Pengendara motor itu, seorang bapak-bapak dengan jaket ojek online, terlihat kaget bukan main. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot seperti melihat hantu mantan. Dan akhirnya...

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!

Lanjut Membaca

Daftar Isi Hasrat Liar Darah Muda

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil membawa pulang patung beruang yang ia temukan di jalan tanpa tahu rahasia di baliknya. Benda mati itu sebenarnya adalah wujud lain dari seorang pria muda yang sangat kuat. Melinda terus merawatnya dengan tulus hingga ia tumbuh dewasa menjadi wanita yang menawan. Keadaan mulai berubah saat ketegangan melanda hubungan mereka yang tidak biasa ini. Akankah kisah cinta unik antara manusia biasa dan sang dewa dapat bersatu dalam kebahagiaan?
Sampul Novel DIKIRA MISKIN
8.0
Yudi dan Antika selalu direndahkan oleh kakak ipar mereka yang mengira kehidupan mereka serbaterbatas. Padahal, selama tinggal di kota, pasutri ini telah sukses besar dan mapan. Saat kebenaran tentang kemakmuran mereka akhirnya terbongkar, sikap keluarga yang semula meremehkan langsung berbalik manis demi mencari keuntungan. Akankah Yudi dan Antika sudi menerima kembali keluarga yang mendadak mendekat setelah sekian lama menghina mereka?
Sampul Novel MENGASUH TUAN MUDA
8.7
Emerald bernasib malang setelah tak sengaja memecahkan guci antik bernilai fantastis milik Edmund Bryan, miliarder tampan berkarisma. Akibat insiden itu, ia menanggung utang sebesar $500.000. Demi melunasinya, Emerald terpaksa bekerja sebagai pelayan pribadi bagi pria sombong tersebut. Di tengah kerasnya tuntutan pekerjaan dan sikap angkuh sang tuan muda, Emerald perlahan mulai menemukan berbagai rahasia terdalam yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Edmund.
Sampul Novel Psikopat itu Adik Pacarku
9.2
Sebuah keputusan fatal menghancurkan segalanya. Saat dikejar pembunuh, panggilan darurat korban diabaikan oleh kekasihnya yang mengira itu hanya lelucon. Sang pacar justru sibuk merayakan ulang tahun teman masa kecilnya hingga korban tewas dibantai dengan kejam. Penyesalan terlambat datang ketika pria yang bekerja sebagai ahli perbaikan mayat ini menerima tugas merekonstruksi jasad dengan kepala hancur. Begitu mengenali wajah kekasihnya sendiri di balik luka tersebut, ia langsung kehilangan kewarasannya.
Sampul Novel Still Love You
8.7
Bertahun-tahun menemani Feli tanpa kejelasan membuat Yudis akhirnya memilih mundur. Di saat Feli baru menyadari perasaannya dan berniat mengejar Yudis kembali, keadaan telah berubah total. Yudis kini telah dijodohkan oleh sang ibu dengan gadis pilihan bernama Sarah. Feli pun terjebak dalam dilema dan situasi yang rumit. Sanggupkah Feli merebut kembali hati pria yang pernah mengabaikannya, ataukah Yudis akan tetap melangkah maju bersama Sarah?
Sampul Novel Terjerat Nikmat Sesaat
9.3
Di tengah gemerlap asmara modern, ada satu aturan penting yang wajib ditaati: jangan jatuh cinta agar tidak terjebak dalam kerumitan. Kisah ini menyoroti pergolakan emosi yang mendalam ketika batas kenyamanan fisik dan komitmen sejati kian kabur. Saat hasrat sesaat berubah menjadi dilema batin yang pelik, mampukah akal sehat bertahan menghadapi kuatnya tarikan perasaan, atau justru takdir yang akan menentukan akhir segalanya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan