APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Harta Tahta Obsesi Gila

Harta Tahta Obsesi Gila

Paras menawan tidak menjamin kebahagiaan Arleta. Demi menghindari obsesi keji sang paman, Joshua, ia terpaksa hidup dalam kepedihan dan membangun benteng pertahanan diri yang kokoh. Trauma masa lalu membuatnya yakin bahwa cinta hanya kelemahan yang sia-sia. Kini, seorang fotografer bernama Arkana Sadewa harus berjuang ekstra keras demi meruntuhkan tembok perlindungan tersebut dan menyembuhkan luka di hati Arleta.
Bab
Bagikan

Bab 3

*Happy Reading*

"Ya, Tuhan, Mila!" Dita yang pertama berseru heboh. Saat Arletta berhasil mengangkat Karmila ke atas permukaan Air. Setelah itu, baru diikuti koor helaan napas lega dari para penonton di sana, serta ucapan syukur pada Tuhan mereka masing-masing.

'Apa-apaan mereka itu? Bukannya bantuin angkat, malah jadi penonton saja? Seenggaknya ambilin handuk, kek. Atau apa gitu. Ck, gak guna!' Arletta mendumel diam-diam.

Arletta berusaha menepikan Mila ke arah tepian kolam dengan susah payah. Tangannya yang terluka mulai dia rasakan. Saat Arletta hampir sampai, tiba-tiba dua pria yang tadi ikut menolong Mila muncul. Satu orang langsung membantu menopang tubuh Karmila. Sementara satunya lagi naik dan menunggu kedatangan Mila di darat.

Awalnya, Arletta terkejut dengan aksi mereka. Namun, saat melihat mata kedua pria itu sudah lebih bersahabat dari pada tadi. Akhirnya Arletta pun menerima bantuan mereka, dalam memberikan pertolongan pada sahabatnya.

"Milaaa ... Ya, Tuhan ... terima kasih!" Dita menyambut kedatangan Mila dengan suka cita. Langsung memeluk tubuh Mila erat sekali. Seperti menyambut anaknya yang baru saja kembali dari berperang. Bahkan, matanya sudah kembali basah dengan air mata haru.

Sementara itu, Mila yang masih lemas pun hanya pasrah saja dalam pelukan Dita sambil ikut menangis dalam diam. Beruntung Karmila termasuk orang yang suka olah raga, termasuk berenang. Hingga tidak mengalami kendala sulit saat harus menahan napas selama tadi.

Arletta membiarkan saja momen haru itu tanpa komentar apa pun. Lebih memilih ikut naik keluar dari kolam renang, tanpa bantuan siapapun.

"Sebentar, Dit. Gue cek dulu." Setelah sudah sampai daratan. Arletta pun menyerbu kembali mendekati Mila, dan menginterupsi pelukan haru model dan managernya itu.

Namun, baru saja Arletta meraih tangan si model. Gadis itu sudah berseru heboh, sambil memeluk Arletta

"Leta!! Gue takut!!" Tangis Mila pun makin pecah. Dalam pelukan sahabatnya.

"Gue kira, gue bakal mati tadi. Gue bener-bener takut banget!" racau Mila, yang hanya Arletta tanggapi dengan dengkusan pelan saja.

"Bodoh!" omel Arletta. "Lo tau gue gak akan pernah biarin hal itu, kan?" sambung gadis itu menenangkan Mila.

"Tapi gue takut banget tadi, Let," rengeknya lagi. Yang kembali membuat Arletta menghela napas panjang.

Sejujurnya, Arletta juga sempat takut tadi. Takut kehilangan lagi tepatnya. Hanya saja, Arletta tidak mungkin mengungkapkan hal itu sekarang, Kan?

"Gue gak akan biarin lo sampai kenapa-napa, Mil. Trust me!" Arletta meyakinkan Mila sekali lagi. Sambil menepuk-nepuk pelan punggung model cantik itu.

"Kalian kenapa pada diem aja, sih? Ambilin handuk, kek. Atau apa, kek? Gak ada inisiatifnya banget, sih?"

Tak lama setelahnya, suara omelan pun terdengar lantang di sekitar Arletta. Membuat beberapa orang kocar-kacir melaksanakan tugas berupa sindiran barusan.

Entah itu siapa? Tapi dari suaranya, paling salah satu dari pria yang tadi bersitegang dengannya. Namun, siapapun itu. Arletta sangat menghargai perintahnya barusan. Karena memang, saat ini dia dan Mila membutuhkan sesuatu untuk mengeringkan diri.

"Ini, Let?" Selang beberapa menit. Dita menyodorkan sebuah handuk ke hadapan Arletta. Sementara handuk lainnya, dia sematkan pada Mila.

Arletta baru saja mau meraih handuk itu. Sebelum suara Elkava, tunangan Mila menginterupsi, memanggil-manggil tunangannya. Lalu muncul bersama beberapa orang dari rumah sakit dan polisi.

Mungkin, Dita yang menelponnya tadi pas situasi kacau. Entahlah, biarkan saja. Yang jelas, sadar akan situasi yang sebentar lagi tercipta. Arletta pun segera bangkit perlahan, berbaur dengan para model sebentar. Sebelum menyingkir diam-diam tanpa di sadari orang-orang. Meninggalkan Mila yang hanya bisa menatapnya dengan sendu.

***

"Mau lo puter tuh leher sampe patah juga, lo gak bakal nemu cewek itu di sini."

Bruno, asisten photografher yang bertugas hari ini. Menyindir Arkana Sadewa, sang photografher yang dari tadi terus celingukan mencari seseorang.

Arkana yang merasa tersindir pun. Langsung melirik Bruno dengan tatapan 'maksud lo, apa?'.

"Lo nyari cewek songong, itu, kan?" tebak Bruno tepat sasaran. Namun tetap tak mendapatkan jawaban apa pun dari Arkana.

"Dia gak ada di sini. Kabur pas cowoknya si Mila itu dateng."

"Kabur?" beo Arkan tak mengerti.

"Iya, kabur," ungkap Bruno yakin.

"Kenapa?"

"Mana gue tahu!" protes Bruno kesal. "Yang jelas, tadi gue lihat tuh cewe langsung melipir, pas pengacara itu dateng." Walau begitu. Bruno tetap berbaik hati memberikan info yang dia ketahui pada atasan, sekaligus kawan seperjuangannya ini.

"Dia melipir kemana?"

Merasa tak harus menyembunyikan apapun lagi pada Bruno. Arkan pun bertanya dengan santai pada pria tambun itu.

"Gak tau. Kayanya ke arah ruang fitting baju," jawab Bruno kali ini tidak yakin. Karena memang dia sendiri hanya melihat keberadaan gadis songong, sayangnya juga pintar itu sekilas saja.

Sejujurnya, Bruno masih sangat kesal pada gadis itu. Yang seenaknya saja memecahkan salah satu properti pemotretan tanpa mau minta maaf setelahnya. Sekalipun ternyata itu dilakukan untuk mencari senjata, dalam usaha pertolongan Mila. Tapi kan, ... itu mahal harganya. Memang dia mau ganti rugi?

Kalau saja Arkana tidak bilang akan mengganti dengan uang pribadinya. Sudah pasti Bruno akan menuntut ganti rugi gadis itu, akan aksi nekadnya. Untung tuh cewek cakep. Coba kalau nggak? Asli deh, selain minta ganti rugi. Bakal Bruno ajak duel juga. Soalnya, tuh cewek bukan cuma sudah ngerusak properti saja. Tapi sekaligus membuat dia dan Arkana kelihatan bodoh di sini.

Apa-apaan itu? Masa dia dan Arkana udah bermenit-menit berusaha keras untuk menolong si model ceroboh, tapi gak dapat hasil apa-apa. Eh, tuh cewek songong cuma itungan detik aja udah dapat cara jitu menolong Mila. Menyebalkan sekali.

Argh ... pokoknya Bruno kesal luar biasa, dikalahkan bocah ingusan songong itu.

"Sialan!" maki Bruno entah pada siapa.

Sementara itu. Mendengar info dari Bruno. Tanpa membuang waktu, Dewa pun bangkit dari duduknya, dan menepuk bahu Bruno sekilas. Sebelum beranjak pergi ke arah yang tadi diberitahukan asistennya.

Meninggalkan Bruno yang hanya bisa menggeleng tak habis pikir, melihat kelakuan Si playboy cap kapak itu. Sepertinya Arkana menemukan mangsa baru.

"Kok, lo bisa kepikiran sama gaun itu sih, Let. Gue aja gak ngeh kalo ternyata, tuh gaun biang masalahnya?"

Benar saja, sesampai Arkana di deretan ruang ganti dan make up para model. Arkana langsung melihat gadis itu, bersama asisten Mila di salah satu ruangan. Sedang diobati tangannya.

"Karena gue pinter. Gak bodoh kaya, lo!" balas gadis itu percaya diri. Membuat Dita langsung mencebik kesal.

"Sialan, lo!" maki Dita tak terima.

Gadis itu pun terkekeh renyah. Menanggapi kekesalan Dita, yang mungkin terlihat lucu di matanya.

"Gue serius, Arletta. Gue benar-benar penasaran. Kenapa lo bisa tau, kalau tuh gaun ternyata biang masalahnya?"

'Jadi namanya Arletta? Sesuai banget sama rupanya. Cantik sekali,' batin Arkana masih memperhatikan mereka diam-diam.

Lalu, gadis bernama Arletta itupun terlihat memutar mata dengan malas sebentar. Sebelum menjawab dengan serius.

"Karena benda apa pun akan bertambah beratnya dua kali lipat jika di dalam Air. Dan gue cuma nambahin berat badan Mila sama tuh gaun. Terus gue kaliin dua kali lipat saja. Just that!"

Gadis pintar!

"Oh ... gitu?" gumam Dita kemudian mulai paham. "Eh, tapi, dari mana lo tahu tentang gaun itu?" Dita masih penasaran.

"Lah, lo lupa. Waktu Mila nelpon gue kan, dia ada nyebutin berat tuh gaun."

'Benar juga,' Dita membatin.

"Dan lo ingat di waktu yang tepat. Lo emang luar biasa, Let!" Dita memuji dengan tulus pada akhirnya. "Anehnya, kenapa cuma lo doang yang bisa mikir ke sana, ya? Kenapa kami yang lainnya nggak?" Dita ternyata tak sepenuhnya menyerah.

"Kan, gue udah bilang. Karena gue ini pinter. Gak kaya kalian, bodoh!"

"Ck, lo emang rese, ya? Demen banget ngatain orang!" Dita kembali mengomel sambil menoyor kepala gadis itu.

"Itu faktanya, sayang!" balas Arleta dengan santai. Sama sekali tak tersinggung dengan kelakuan kurang ajar asisten Mila itu.

Entah kenapa, malah Dewa yang baper mendengar panggilan gadis itu untuk Dita. 'Sayang' rasanya sangat merdu di telanganya, dan Arkana menginginkan Arletta juga memanggilnya seperti itu.

"Iya, iya, deh. Gue ngaku kalah," balas Dita akhirnya, sambil menutup kotak P3k di sampingnya. Karena acara obat mengobati tersebut sudah selesai.

"Abis ini jangan lupa mampir ke rumah sakit atau klinik. Luka lo dalem banget tau, Let. Harus dijahit kayaknya," lanjut Dita lagi. Menyimpan kotak pengobatan itu di atas meja rias yang ada di sana.

"Ngapain? Kan udah lo obatin tadi. Lagian--"

"Jangan bantah. Ikutin aja pokoknya. Nih, biaya pengobatannya, sama ongkos ke sana," sela Dita sambil menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah pada Arletta.

"Dari lo, apa dari El?" Arletta bertanya lagi seraya melirik uang itu. Masih belum mau menerimanya.

"Dari El, lah! Ya kali dari gue? Siapa elo sampe harus gue biayai?"

"Bangke! Ngeselin lo lama-lama, ya, Dit?" maki Arletta kesal.

"Biarin! Lo sendiri juga ngeselin, kok. Makanya gue bikin kesel balik. Wleee!" Dita terlihat meledek Arletta.

"Udah, pokoknya lakuin aja perintas Pak Bos. Awas kalau lo gak nurut! Tau sendiri kan, El kaya gimana?" Dita lalu memperingati. Membuat Arletta kembali mencebik kesal.

"Iya, gue tau!" jawabnya kemudian. Sambil memakai hodie dan kacamatanya kembali. "Kalau gitu gue balik, ya? Babay!" pamitnya, setelah mengambil lembaran uang merah yang Dita tawarkan. Kemudian beranjak pergi sambil melambai santai.

"Sialan! Mana baterai ponsel abis lagi. Terpaksa deh, nyari ojeg pangkalan. Huft ... semoga ada yang mau ngangkut penumpang basah kuyup kaya gue." Arletta mendumel sambil melewati Arkana begitu saja. Membuat si tukang photo yang bersiap tebar pesona, mengernyit bingung di tempatnya.

Demi apa? Arkana dilewati begitu saja? Diabaikan dan ....

Astaga! Apa itu tandanya kegantengan seorang Arkana Sadewa sudah luntur?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DIHAMILI SUAMIKU
8.0
Hidup Alexa Banderas hancur di hari kelulusan akibat pembunuhan orang tuanya oleh sang paman yang mengincar dokumen Taurus Corps. Di tengah duka, ia dipaksa menikah dengan Martin Snowden, pria kasar yang membencinya. Kini, Alexa harus memimpin perusahaan besar sekaligus melindungi sang suami dari kekasihnya yang licik demi mengamankan aset keluarga. Mampukah ia membalas dendam, mengelola bisnis, dan meluluhkan hati Martin yang begitu keras?
Sampul Novel Dokter Iblis Yang Tak Tertandingi
9.4
Wasiat terakhir sang guru setelah wafat membuat Zhao Erhu terkejut. Ia diutus turun gunung untuk mencari tujuh kakak seperguruan dengan misi yang tidak biasa. Demi menyelamatkan nyawa mereka dari bahaya besar yang mengancam, Erhu harus meniduri ketujuh wanita tersebut. Meski instruksi aneh ini terdengar sangat membingungkan bagi semua orang, sang guru menegaskan bahwa hubungan intim itu adalah satu-satunya jalan keluar untuk bertahan hidup.
Sampul Novel Ibu Tiri yang Buta Hati
9.1
Kiara kehilangan satu mata demi melindungi ayahnya, Ditya Danaraja, dari serangan perampok yang menewaskan ibunya. Sejak itu, sang ayah yang bipolar melindunginya secara ekstrem dari siapa pun yang mengusik Kiara. Setelah menjalani operasi pemulihan mata di luar negeri, Kiara pulang untuk menyambut pernikahan baru ayahnya. Namun, ibu tiri yang diklaim lembut justru menculik Kiara ke pabrik kosong. Menuduhnya ingin merebut suami orang dan mencuri perhiasan mendiang istri pertama, sang ibu tiri kini mengancam akan mengulitinya hidup-hidup.
Sampul Novel Ketua Geng Itu Suamiku
8.0
Ayu, siswi pintar penerima beasiswa di SMA Garuda, terpaksa menikah muda dengan Bin, ketua geng motor Garuda Steel yang penuh masalah. Kehidupan tenang Ayu seketika runtuh usai melihat langsung pertarungan mematikan suaminya. Sembari berusaha keras untuk lulus sekolah, Ayu didera kebimbangan karena kepedulian yang ditunjukkan Iky, sahabat suaminya sendiri. Kini, mereka harus bersatu melawan musuh bersama sekaligus menyelesaikan cinta segitiga yang rumit.
Sampul Novel Mahkota Pewaris yang Dikhianati
9.0
Nyaris tewas akibat pengkhianatan orang tua dan keempat kakaknya demi seorang penipu, Emilia, sang pewaris sah Keluarga Hewitt, kini bangkit tanpa rasa takut. Sebagai dokter ternama sekaligus penilai harta karun berbakat, ia membungkam semua ejekan lewat kemampuannya. Saat dikucilkan karena dibuang oleh keluarganya sendiri, klan paling terpandang di kota justru hadir melindunginya dan memperlakukan Emilia bagai permata berharga.
Sampul Novel Penderitaan yang Dipaksa Tersenyum
9.0
Hidup Liana hancur setelah Revan, suaminya, menjual dirinya kepada bos mafia Eropa yang kejam, Dominic Valente, demi melunasi utang judi. Di balik sifat dinginnya, Dominic justru terpikat oleh ketulusan Liana hingga malam kebersamaan mereka menghasilkan sebuah kehamilan. Namun, sebelum Dominic sempat menolongnya, Revan kembali menyeret Liana untuk disiksa sebagai budak. Di saat Dominic mengerahkan segalanya untuk mencari Liana, wanita itu berjuang bertahan hidup demi bayi di kandungannya.