
Hanya Karena Sebuah Rumah
Bab 2
Aku menghabiskan dua jam untuk infus di rumah sakit, tapi saat keluar, aku tidak menemukan mobil Boni di mana pun.
Aku merasa sangat tidak nyaman, hingga akhirnya terpaksa memesan taksi untuk pulang.
Padahal ponselku baru saja mati dua menit yang lalu.
Dengan kata lain, Boni sama sekali tidak datang menjemputku.
Padahal ... dia selalu perhatian padaku dulu. Sejak kapan sikap hangatnya berubah menjadi dingin seperti ini?
"Karena kamu memblokirku, jadi aku nggak bisa menghubungimu."
Boni sempat terdiam, sedikit terkejut. Wajah marahnya pun sedikit melunak.
"Aku tahu kamu pasti lapar, jadi aku bawakan bubur ayam dan telur pitan untukmu."
Aku menatap bubur itu.
Hanya ada taburan daun bawang di atasnya, tidak terlihat sedikitpun telur pitan dan potongan daging. Bubur itu lebih mirip sisa makanan orang lain.
Setengah jam sebelumnya, aku sempat melihat unggahan Sofie di instagram.
Foto itu menunjukkan Boni sedang memasak bubur di dapur, dengan tulisan,
"Siapa bilang nggak ada pria baik di dunia ini? Dia nggak hanya mengajariku menyetir mobil Mercedes dengan satu tangan, tapi juga memasak bubur untukku saat aku lapar. Hm, harum sekali~"
Aku mengaduk bubur itu dengan sendok sambi tersenyum pahit, tapi yang kurasakan hanya mual.
"Buang saja, aku nggak mau makan."
Raut wajah Boni langsung memuram. Dia menatapku tajam dan berkata,
"Kamu kenapa lagi? Aku sudah repot-repot membawakannya dan kamu malah mau buang begitu saja?"
"Kamu marah karena aku memindahkan kepemilikan rumah ke nama Sofie, 'kan? Aku tahu kamu kesal, tapi aku juga nggak melarangmu untuk tinggal di rumah itu."
"Anaknya butuh rumah untuk urusan administrasi sekolah. Dia hanya mengunggah foto untuk berterima kasih, tapi kamu malah komentar dengan sindiran seperti itu, aku bahkan belum mempermasalahkannya padamu soal itu."
Baru saja keguguran dan kaki yang kembali terluka, aku merasa sangat lelah.
Aku menjawab, "Kamu salah paham, aku hanya bingung kenapa sertifikat yang dia unggah itu tertuliskan alamat rumah kita ... "
Boni langsung memotongku dengan nada kesal,
"Salah paham? Ternyata benar yang Sofie bilang, kamu memang orang seperti ini!"
"Kamu memang suka marah nggak jelas, nggak punya toleransi dan rasa simpati. Setiap aku dekat dengan perempuan lain, kamu langsung curiga! Menurutku, masalahnya ada di dirimu!"
Dulu, aku akan mencoba membela diri, berharap dia bisa mengertiku.
Sekarang, aku hanya menatapnya dingin.
Setelah Boni selesai memarahiku dengan nada tinggi, barulah aku berkata pelan,
"Sudah selesai? Tolong matikan lampunya sebelum keluar."
Dia menatapku dengan ekspresi marah, lalu membanting pintu dan pergi, lampu masih dibiarkan menyala.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu yang dibanting dari ruang tamu.
Dulu, aku selalu sulit tidur semalaman setiap kali bertengkar dengannya dan dia pergi ke rumah Sofie.
Namun, aku tidur nyenyak sendirian malam ini.
Keesokan paginya, aku meminta rekomendasi teman untuk menghubungi seorang pengacara dan mulai berkonsultasi tentang perceraian.
Setelah membanting pintu waktu itu, Boni tidak pulang selama tiga hari.
Aku melihat fotonya lagi di unggahan seorang temannya, Christian.
Mereka sedang liburan bersama. Dalam foto itu, Sofie berdiri di samping Boni, mereka mengenakan baju pasangan. Wajah Sofie juga tampak sangat bahagia.
Aku pun memberikan tombol suka pada unggahan itu.
Boni langsung meneleponku.
"Aku akan menjemputku ke pantai nanti. Aku mau mengenalkan kamu ke teman-temanku."
Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan,
"Sejujurnya aku nggak mau mengajakmu, Tapi, anggap saja ini hadiah untukmu, karena sudah berperilaku cukup baik belakangan ini."
"Iya."
Rencana perceraian sudah berjalan, aku tidak ingin dia tahu.
Sesuai janji, Boni menjemputku. Anehnya, kali ini Sofie tidak muncul.
Begitu tiba di pantai, Christian menghampiriku dan menyapa ramah,
"Aku yang mengadakan acaranya waktu itu, maaf nggak memberitahumu sebelumnya. Aku akan minum tiga gelas sebagai permintaan maaf."
Christian mencoba menjaga harga diriku di depan orang-orang.
Aku tersenyum tipis dan menjawab,
"Aku sibuk di kantor akhir-akhir ini, jadi juga nggak ada waktu luang."
"Dengar-dengar kamu berhasil meyakinan beberapa staf terbaik untuk ekspansi ke Kota Yeras. Selamat, ya!"
Ujar Christian dengan nada memuji.
Aku menjawab dengan senyuman kecil,
"Hanya rencana, belum pasti berhasil."
Usai bicara, Boni berjalan cepat ke arahku. Dia menatapku dengan kesal dan bertanya,
"Kamu mau ke Yeras? Kenapa nggak kasih tahu aku? Aku sudah mengizinkanmu?"
Aku menoleh dan menatapnya dengan tenang.
Seketika, suasana menjadi menegang.
Saat Boni terus mengomel, Christian mencoba mencairkan suasana dengan mengajak kami untuk mulai memanggang daging.
Beberapa pria dengan cepat menyiapkan panggangan. Boni duduk di sampingku, wajahnya tampak sedikit gelisah.
"Aku sudah bicara dengan Sofie. Setelah anaknya lulus SD, kepemilikan rumah itu akan dipindahkan kembali lagi."
"Jadi, jangan marah lagi. Itu rumahku, sebenarnya aku nggak wajib menjelaskannya padamu."
"Oh."
Aku mengangguk dengan tenang.
Tak lama kemudian, sosok yang familiar muncul dari kejauhan. Senyumanku langsung memudar.
Seseorang yang tak kukenal, tetapi sepertinya dekat dengan Boni dan Christian. Dia berdiri dan melambaikan tangan dengan semangat ke arah Sofie.
"Kakak ipar! Kakak ipar! Boni di sini, cepat ke sini!"
Dalam sekejap, suasana di sekitar kami langsung hening. Semua orang seperti menarik napas panjang.
Anda Mungkin Juga Suka





