
Hanya Karena Sebuah Rumah
Bab 3
Christian menendang pemuda tadi sambil memarahinya karena tidak peka dengan situasi.
"Aku ke kamar mandi sebentar."
Aku berdiri perlahan, memilih untuk tidak marah di depan semua orang. Aku hanya ingin menjaga harga diri kami berdua.
Boni melirikku sebentar, lalu menoleh ke Sofie. Pada akhirnya, dia juga tidak mengejarku.
Saat aku kembali, semua orang sudah selesai makan dan duduk di tepi pantai.
Sofie duduk di samping Boni, posisi keduanya sangat dekat. Aku memilih tempat di sudut lain untuk duduk.
Christian mencoba mencairkan suasana.
"Baiklah, karena sudah lengkap semua, ayo waktunya main game! Kita main jujur atau tantangan!"
Putaran pertama, Boni menang sementara Sofie kalah.
Sofie memilih jujur dan Boni memberi pertanyaan yang mudah. "Apa hal yang paling membuatmu bahagia belakangan ini?"
Sofie mengedipkan mata sambil menatap Boni dengan penuh makna.
Lalu menjawab, "Aku bertemu dengan seorang pria yang luar biasa. Hanya dalam waktu sehari, aku langsung punya rumah dan mobil. Oh iya, dia juga mengajariku menyetir Mercedes dengan satu tangan."
Usai bicara, Sofie melirikku dengan ekspresi puas dan penuh ejekan.
Semua orang tahu bagaimana Sofie mendapatkan rumah dan mobil itu, tapi biasanya mereka memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
Namun, Sofie malah membahas topik ini di depan semuanya.
Suasana menjadi canggung, bahkan Christian tampak salah tingkah.
Melihat aku tetap diam tanpa reaksi, Christian berusaha mencairkan suasana lagi.
"Sudah sudah, lanjut ke putaran kedua! Nah, sekarang giliran si cantik, Sherlyn!"
Giliranku tiba dan kali ini Sofie mendapat kesempatan untuk menghukumku.
"Aku pilih jujur," kataku datar.
Sofie membawa segelas alkohol dan mendekatiku.
"Sherlyn, kita main yang lebih seru, bagaimana kalau tantangan saja?"
Aku mengerutkan kening, firasat buruk langsung muncul.
"Aku pilih jujur."
"Tantangan saja, aku nggak akan menyulitkanmu. Kata Boni kamu itu atlet renang, bagaimana kalau kamu berenang satu putaran di depan kita semua?"
Dia menatap perutku dengan pandangan penuh arti.
Dengan suara rendah, aku menjawab tegas,
"Aku lagi nggak enak badan, nggak bisa berenang."
Dengan wajah memelas, Sofie menoleh ke Boni yang langsung menunjukkan ekspresi kesal.
"Bukannya kamu jago renang, ini hal yang paling kamu kuasai, kenapa malah bilang nggak bisa?"
"Lagipula, Sofie sudah minta maaf waktu itu, sekarang juga mencoba berhubungan baik denganmu. Apa salahnya kamu berenang sebentar?"
Tanpa peduli dengan penolakanku, Boni dan Sofie memaksaku berdiri, mendorongku menuju ke tepi pantai.
Sofie bahkan melepas jaketku. Dia sengaja menegukkan segelas alkohol di tangannya dan berkata,
"Sherlyn, aku sudah meneguk habis untukmu, sekarang giliranmu."
Dia membuat suasana seolah-olah aku yang salah. Akhirnya, kesabaranku pun habis.
"Sudah kubilang, aku nggak mau berenang. Aku bahkan nggak memaksamu untuk minum, itu bukan urusanku. Dan kenapa aku nggak boleh memilih jujur?"
Sofie mulai cemberut dan berpura-pura menangis, matanya mulai berkaca-kaca. Boni menatapku dengan marah.
Tiba-tiba, dia melempar botol alkohol ke pasir dan berteriak,
"Kenapa kamu sombong sekali? Hanya berenang saja? Sofie bahkan sudah mengalah dengan minum segelas tadi, kenapa kamu masih nggak tahu diri?"
Aku menatap Boni yang tampak seperti pahlawan kesiangan, lalu menoleh ke Sofie yang mulai terisak.
Aku tertawa sinis, "Aku nggak menyuruhnya minum dan aku sudah bilang nggak mau berenang. Bukankah ini jelas pemaksaan?"
Jawabanku membuat tangisan Sofie makin keras.
Dengan wajah muram, Boni menghentakkan kakinya.
"Nggak mau renang? Baiklah, aku akan berenang bersamamu!"
Dalam tatapan kaget semua orang, tiba-tiba Boni menjambak rambutku dan memaksaku masuk ke air pantai.
Rasa dingin langsung merayap ke kulitku, membuat seluruh tubuhku menggigil. Detik berikutnya, air pantai masuk ke hidungku, membuatku batuk dan tersedak hebat.
Boni tetap tidak melepaskanku. Aku meronta dengan sekuat tenaga, mataku menjadi merah dan napasku tercekat.
Saat napasku terasa sesak, aku berusaha mendorong tubuh Boni, hingga akhirnya dia melepaskanku.
Sialnya, ombak besar datang menghantamku. Aku mencoba meraih celana Boni, tapi dia malah menendangku dengan keras.
Tubuhku terbawa arus, tenggelam dalam dinginnya air pantai.
Entah berapa lama, dengan sisa tenaga terakhir, aku berhasil berenang ke tepi pantai. Aku terengah-engah menghirup udara segar.
Dari kejauhan, aku melihat Boni merangkul Sofie dengan lembut. Tak lupa menenangkannya,
"Jangan menangis lagi, aku sudah menghukumnya."
"Dia memang pantas mendapatkannya, aku akan menghukumnya lagi nanti."
Setelah itu, Boni berjalan ke arahku. Dia menatapku dari atas sambil berkata,
"Minta maaf dengan Sofie! Lalu minum segelas alkohol untuk menghukum dirimu sendiri! Kalau nggak, kita ... "
Di bawah tatapan terkejut semua orang dan tatapan Boni yang penuh tekanan, aku memotongnya dengan mata berkaca-kaca,
"Boni, tunggu surat dari pengacaraku, kita cerai!"
Ucapan itu membuat Boni terdiam. Ekspresi tidak percayanya begitu jelas.
Dengan tubuh yang lemah, aku berjalan menjauh. Saat sampai di jalan raya, pandanganku menjadi gelap dan aku pun pingsan.
Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, samar-samar aku mendengar suara panik di sekitarku,
"Ada yang pingsan!"
"Cepat panggil ambulans! Astaga, dia berdarah! Darahnya banyak sekali!"
Anda Mungkin Juga Suka





