APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hakikat Cinta

Hakikat Cinta

Alan De Xavirio, pemuda blasteran Jawa-Italia, terpikat oleh pesona Latifah Nur Aisyah, gadis muslimah sederhana dari desa. Walau awalnya tidak mendapat respons, kegigihan Alan berhasil memikat hati Latifah. Mereka pun hanyut dalam asmara remaja yang menggebu, hingga mengabaikan perbedaan keyakinan di antara mereka. Kini, jurang perbedaan agama itu menjadi penghalang besar yang nyata. Sanggupkah mereka bertahan ketika cinta telah membutakan segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tanpa terasa keduanya pun telah memasuki halaman rumah sederhana yang begitu asri. Suasana rumah tampak lengang dan sepi. Membuat Latifah bertanya-tanya.

"Apa bapak pergi, Mas?" Pemuda itu hanya mengedikan bahunya sambil mencebikkan bibir, tanda dia pun tak paham. Keduanya pun serempak mengucap salam. Tanpa diduga dari dalam sana terdengar suara wanita menyahut salam mereka. Keduanya pun saling berpandangan dengan mulut melongo. Siapakah gerangan? Apa dia tetangga yang berkunjung? Kenapa menyahut salam dari dapur? Tumpukan tanya berkelebat di benak kakak beradik yang masih betah saling berpandangan tersebut.

Seorang wanita paruh baya keluar dengan tergopoh-gopoh sambil menggendong Saiful untuk menyambut keduanya. Senyum sumringahnya tak lepas dari bibir wanita paruh baya tersebut.

"Bude Darmi!!" Keduanya kompak menyebut nama wanita paruh baya itu bersamaan begitu orangnya muncul di ambang pintu. Tentu saja bude Darmi melongo kaget dibuatnya.

"Lha iya … kalian kira siapa?" Wajah sumringah bude Darmi berubah memberengut sambil memeluk erat Saiful yang mulai menangis dalam gendongannya.

"Maaf Bude …" ucap keduanya dengan cengiran tak berdosanya sambil menyalami tangan wanita paruh baya itu.Bude Darmi pun hanya bisa menggeleng pelan.

"Masuk! Bapak kamu baru ada keperluan di bale desa sebentar. Mungkin mengurus akta kematian ibumu. Sebentar lagi juga pulang." Kakak beradik itu hanya ber 'oh' ria.

Saiful masih menangis dan memberontak dalam gendongan bude Darmi. Tetangga baik itu tampak mulai kewalahan dengan tingkah balita dalam gendongannya itu

"Biar Ipul sama saya saja, Bude. Maaf ngerepotin …" ucap Alif sungkan. Diambil alihnya si adik ke dalam gendongannya dan berusaha menenangkannya.

"Tak usah sungkan … kayak sama siapa aja." Bude Darmi berucap sambil tersenyum malu-malu.

"Bapak pergi sama siapa, Bude?" Alif mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan adik perempuannya.

"Sendiri. Ya sudah, Bude pulang dulu lupa belum kasih ayam makan." Salam pun saling bersahutan mengiringi langkah bude Darmi keluar pekarangan rumah, meninggalkan suara tangis Saiful yang kian menjadi.

Alif menepuk pelan pipi gempal Saiful dan memanggil-manggil namanya karena balita itu masih terus menangis sambil menutup matanya dan memberontak dalam gendongan Alif.

"Ipul …." Panggilan dari Latifah membuat balita empat tahun itu seketika berhenti menangis. Ditengoknya sang kakak yang tengah tersenyum manis kepadanya. Mata bulatnya mengerjap-ngerjap begitu polosnya menatap tiap inci wajah Latifah.

"Ibuk … ibuk …." Lagi-lagi balita itu menangis sambil membentangkan tangannya minta digendong oleh Latifah.

Tawa Alif menggelegar. Sesuai dugaan, si bungsu benar-benar mengira Latifah sebagai ibunya. Mati-matian Latifah mencoba menjelaskan bahwa dirinya bukan ibunya, tapi balita itu terus menggeleng dan menyebutnya ibu sambil sesekali mengecup wajah Latifah.

"Aduh, Mas … ini gimana?" Latifah tampak kebingungan meski sesekali dia tertawa kegelian kala si bungsu menggigit kecil hidungnya.

"Pasrah sajalah, Fah … toh kalau dia sudah mulai besar nanti dia juga akan paham." Alif menyahut sekenanya sambil menyeret koper latifah ke dalam kamar gadis remaja itu yang telah lama kosong.

"Nanti barangnya kamu urus sendiri ya, Fah …. Mas mau ke tempat Allan dulu."

"Allan? Allan siapa Mas?" Dahi Latifah berkerut karena merasa asing dengan nama yang disebutkan oleh sang kakak.

Alif menatap Latifah dengan heran, kemudian baru menyadari bahwa adiknya itu memang tak mengenal adik kelas fenomenalnya tersebut.

"Ah iya … kamu belum mengenalnya. Nantilah kapan-kapan Mas kenalkan. Mas mau cari duit dulu ya, bye …." Alif pun melangkah pergi setelah mengucap salam dan mengecup pucuk kepala kedua adiknya.

"Cari duit? Allan? Apa hubungannya?" Latifah semakin bingung mencerna perkataan Alif yang masih terkesan samar-samar.

"Ibuk … mau minum susu …." Rengekkan Saiful pun mengalihkan perhatian Latifah dan mengabaikan rasa penasarannya.

Beberapa jam berlalu, Latifah masih canggung dengan keakraban yang ditunjukkan Saiful karena si bungsu itu masih saja memanggilnya ibu. Deru motor asing memasuki halaman rumah, menusuk pendengaran Latifah, disusul dengan suara salam yang begitu dirindukannya. Latifah menyahut salam sambil berlarian keluar menyambut sang ayah. Disalami dan dipeluknya sang ayah dengan sangat erat hingga lelaki itu mengaduh dengan nafas tertahan. Dicubitnya ujung hidung anak gadisnya dengan gemas membuat si anak terkekeh.

"Kok sepi? Yang lain kemana?" Pak Ma'ruf celingukan sambil melangkah masuk.

"Ipul di kamar Tifah, Pak. Kalau mas Alif tadi bilang mau ke tempat … ke tempat …." Jari Latifah mulai mengetuk-ngetuk dahinya yang mulai mengkerut.

"Aduh …. Tifah lupa namanya. Pokoknya tadi bilang mau cari duit."

Pak Ma'ruf manggut-manggut karena paham betul apa yang dimaksud putrinya hanya dengan kata 'cari duit' yang diucapkannya.

"Bapak pake motor siapa?" Latifah melongok keluar, menatap motor baru yang tampak asing.

"Owh ... Motor baru Alif. Apa dia tidak bilang kalau punya motor baru?" Latifah hanya menggeleng kecil.

"Tifah tidak pernah tanya. Ya sudah, Tifah mau temani Ipul dulu."

Belum sempat Latifah melangkah masuk kamar, Saiful keluar kamar sambil memanggil-manggil ibu dan memeluk kaki Latifah. Tentu saja pak Ma'ruf menatapnya keheranan.

"Ini …?" Ditunjuknya si bungsu yang nemplok di kaki Latifah dengan keheranan.

"Iya,Pak … dari tadi pas ketemu Tifah, Ipul terus-terusan panggil Tifah ibuk." Gadis remaja itu memberengut dengan tatapan memelas yang mengundang gelak tawa ayahnya.

"Ipul, sini …." Pak Ma'ruf menggapai tubuh mungil Saiful dan mendudukkannya di pangkuannya.

"Lihat dulu itu, coba Ipul lihat lagi! Itu mbak Tifah, Ipul … bukan ibuk." Dibukanya kerudung Latifah dan menunjukkan rambut ikalnya yang hanya dikuncir kuda.

"Tuh … bukan ibuk, kan?" Saiful menatap kembali wajah Latifah tanpa kerudung itu dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Bukan ibuk!" Saiful menunjuk Latifah sambil menatap netra ayahnya.

"Iya … ini Mbak Tifah, bukan ibuk." Latifah meraih kembali kerudung instan yang dilepas ayahnya dari tangan sang ayah yang terulur, kemudian memakainya kembali.

"Ibuk …." Lagi-lagi Saiful memanggil ibu sambil menunjuk Latifah yang telah berkerudung dan beralih ke dalam gendongannya.

Gelak tawa pak Ma'ruf kembali menggema, berbanding terbalik dengan Latifah yang memberengut tak suka meski Saiful begitu riang dalam gendongannya.

"Sepertinya kamu harus ganti model kerudung, Fah … kerudungmu yang model seperti itu memang membuatmu begitu mirip dengan ibumu." Latifah semakin memberengut. Dia paham betul bahwa ayahnya hendak mengatakan dirinya tampak lebih tua dengan model kerudungnya saat ini. Hanya saja mengatakannya dengan bahasa yang lebih halus. Gadis itu mulai menghentak-hentakkan kakinya yang semakin membuat Saiful kegirangan dalam gendongannya.

Hari itu terlewat dengan begitu cepat. Tanpa terasa malam mulai menyambut. Selepas magrib, mereka pun menikmati makan malam sederhana yang dimasak secara bergotong-royong setelah Alif kembali dari rumah Allan sambil membawa seekor nila besar.

"Alhamdulillah, semua anak-anak bapak hari ini berkumpul dalam keadaan sehat." Pak Ma'ruf mulai membuka suara sambil melihat ketiga anaknya makan kembulan dan saling menyuapi. Rasa haru menghinggapi hati lelaki yang baru saja ditinggalkan istrinya itu.

"Nduk … kamu sudah lulus Madrasah Tsanawiyah, apa kamu masih mau melanjutkan mondok, atau bagaimana?" Latifah menghentikan kegiatannya menyuapi si bungsu, lalu menatap sang ayah.

"Tifah mau lanjut ke sekolah mas Alif dulu. Boleh kan, Pak?"

Alif dan pak Ma'ruf terperanjat dan saling berpandangan mendengar pilihan Latifah. Haruskah mereka meluluskan keinginan gadis remaja ini?

Bersambung ….

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos Setan Idaman
9.0
Hidup Dita jungkir balik sejak bertemu Raga, pria misterius yang sebenarnya adalah titisan setan. Walau Raga sangat irit bicara dan dingin, ia sering memperlihatkan kebaikan yang tidak terduga pada Dita. Situasi makin menegangkan ketika sang bos mendadak menyatakan cinta secara blak-blakan. Dita yang kaget mengira itu cuma gurauan, padahal kini seluruh garis hidup dan takdirnya telah terikat erat pada sosok pria misterius tersebut.
Sampul Novel Cinta Bersemi Setelah Perceraian
8.0
Lima tahun berbakti pada Darius, Cornelia justru diceraikan saat mengandung. Ia lalu menghilang setelah nyaris tewas dibunuh di hari melahirkan. Kini, Cornelia kembali sebagai pengusaha sukses yang mandiri. Saat para rivalnya bertumbangan, kebenaran kelam masa lalu pun terbongkar. Darius yang terpikat mencoba memenangkan kembali hati sang mantan istri. Walau Darius memohon atas nama anak mereka, Cornelia tidak lagi peduli pada pria yang pernah membuangnya.
Sampul Novel Cintaku T'lah Mati
8.7
Pernikahan paksa selama lima tahun antara Karen dan Mark akhirnya menemui titik akhir saat Karen mengajukan perceraian. Tanpa menunda, Mark yang merasa terbebas langsung menyiapkan seluruh berkas. Saat proses administrasi berlangsung, Mark bahkan tega membawa kekasih idamannya demi menghina Karen yang dianggapnya bernasib malang. Di tengah pandangan mata yang mulai buram dan kesadaran yang perlahan memudar, Karen bertekad tidak akan menjalani kehidupan yang menyedihkan lagi di masa depan.
Sampul Novel DILEMA CINTA SEGITIGA
9.3
Pernikahan Marlon dan Sarah terikat oleh urusan bisnis, tanpa cinta. Diam-diam, keduanya memiliki kekasih gelap. Demi bercerai cepat, Sarah berencana menghancurkan nama baik Marlon. Namun, ia malah terbakar cemburu saat melihat suaminya bermesraan dengan Natalia. Kini, Marlon berada di posisi sulit karena istri dan selingkuhannya sama-sama menolak untuk pergi. Ia pun didera kebimbangan besar dalam menentukan pilihan hidupnya.
Sampul Novel I'am Sorry, I love You
8.6
Delapan tahun mencari cinta monyetnya, Liu akhirnya bertemu Mianhua di Universitas Tsinghua. Mianhua yang amnesia kini berstatus sebagai pacar Lay, padahal ia adalah Jia yang asli. Saat memorinya kembali berkat hipnotis, dilema besar muncul sebab Liu telah bertunangan. Di tengah upaya Lay menahannya, Mianhua memilih pergi demi kebaikan bersama. Namun, takdir mempertemukan mereka lagi di makam Chen, hingga restu sang ayah menuntun mereka ke pelaminan.
Sampul Novel Jeritan yang Tak Terdengar
8.4
Sebuah petaka menimpa Yolanda di hari ulang tahunnya sendiri. Sang ayah yang murka menuduhnya telah mendorong sepupunya yang belajar balet hingga mengalami cedera kaki. Tanpa ampun, sang ayah memukuli kaki Yolanda dengan tongkat hingga ia tak berdaya dan tidak sanggup berteriak. Demi memberi pelajaran, tubuh Yolanda yang sekarat dilempar ke dalam ruang bawah tanah yang gelap. Namun, saat pintu itu akhirnya dibuka kembali, sang ayah hanya mendapati jasad putrinya telah hancur dan membusuk.