
Gurauan yang Berakhir Tragis
Bab 3
Di tengah jalan, ponselku tiba-tiba berbunyi. Itu adalah notifikasi pesan di grup teman sekolah kami dulu.
[ Cynthia sudah mau debut, lho! Nggak disangka, ada orang dari kelas kita yang jadi seleb! Aku bangga banget! @All ]
Begitu membaca ini, hatiku pun berdebar. Semua tragedi yang menimpaku selama masih SMA kembali muncul di ingatanku.
Benar, Cynthia adalah orang yang memimpin gengnya untuk menindasku saat masih SMA. Bahkan ada sekali, dia memukulku sampai sekarat. Cynthia adalah teman masa kecil Jordan, juga wanita yang diam-diam disukai Jordan dan termasuk cinta pertama Jordan.
Aku berjongkok dengan tubuh gemetar sambil membaca pesan dari teman-teman lain yang membalas dengan sepatah kata “selamat”. Sementara itu, Jordan malah mengirim sebuah pesan selamat yang panjang.
Aku tidak pernah melihat dia bersikap seantusias ini. Setiap katanya itu dipenuhi dengan kasih sayang. Sangat jelas bahwa dia masih menaruh perasaan pada Cynthia sampai sekarang.
Aku merasa hal ini sangat konyol. Setengah jam yang lalu, dia masih marah padaku. Sekarang, dia malah mulai mengenang kenangan indah semasa sekolah dengan cinta pertamanya itu di obrolan grup. Aku tidak berhenti mengusap luka di tanganku dan merasakan rasa sakit yang sama dengan hatiku.
Tepat pada saat aku membuka obrolanku dengan Jordan dan hendak membicarakan dengan jelas tentang perceraian kami, Cynthia tiba-tiba menambah kontakku. Aku mulai merasa panik dan menjadi agak sesak napas.
Setelah menenangkan diri, aku akhirnya menyetujui permintaan Cynthia itu dengan jari gemetar.
[ Nadien, lama nggak jumpa, ya! Gimana kabarmu akhir-akhir ini? ]
Sampai sekarang, aku masih tidak tahu harus bagaimana berinteraksi dengannya. Rasa takut itu bahkan masih membekas dalam benakku. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk mengabaikan pesan itu, lalu berdiri dan lanjut berjalan ke rumah.
Namun, Cynthia malah mengirim pesan padaku lagi.
[ Sikapku terhadapmu saat masih SMA memang sangat keterlaluan. Waktu itu, aku masih muda. Maaf banget, ya. ]
[ Kamu bisa maafkan aku nggak? Aku sudah sadari kesalahanku. Hal itu sudah berlalu lama. Kamu jangan permasalahkan lagi, ya? ]
...
Cynthia mengirim belasan pesan berisi permintaan maaf. Dia bahkan mencoba untuk memanipulasiku. Seolah-olah jika aku tidak memaafkannya, itu berarti aku akan mengancamnya dengan kesalahannya itu.
Namun, hanya orang yang pernah mengalami penderitaan seperti itu yang tahu betapa menyakitkannya hal itu. Atas dasar apa dia memintaku memaafkannya dengan semudah ini sekarang?
Terlebih lagi, Jordan juga tidak berhenti mengungkit tentang insiden itu di hadapanku setiap hari. Aku sangat sulit untuk melupakannya. Pada saat ini, aku juga akhirnya paham. Jordan tidak berhenti mengungkit hal ini karena sedang menggantikan Cynthia untuk menindasku ....
Melihat dia sudah selesai mengatakan hal yang ingin diucapkannya, aku hanya membalas dengan singkat.
[ Hal yang sudah terjadi nggak akan bisa diubah lagi untuk selamanya. ]
Setelah itu, aku langsung memblokir kontaknya. Aku tentu saja tahu apa tujuannya meminta maaf padaku. Dia sudah akan debut, makanya dia baru minta maaf padaku. Dengan begitu, dia bisa menghindari risiko aku mengungkit hal ini kelak.
Sampai sekitar jam 5 dini hari, Jordan baru menyadari aku benar-benar melarikan diri dari rumah.
[ Bisa nggak kamu jangan begitu berhati sempit? ]
[ Baru ngomongin kamu dikit, kamu sudah kabur dari rumah, juga ancam aku pakai pisau! Kamu nggak takut ditertawakan orang? ]
Aku diam-diam berpikir. Berhubung Jordan begitu suka “bercanda”, aku juga akan bercanda dengan cinta pertamanya itu!
Anda Mungkin Juga Suka





