
Gurauan yang Berakhir Tragis
Bab 4
Jordan tidak berhenti meneleponku, bahkan pura-pura mengaku salah.
“Nadine, jangan marah lagi. Aku ngomong begitu cuma karena panik sesaat. Kelak, aku nggak akan ungkit lagi. Oke?”
Aku langsung mengirim tangkapan layar pengakuan cinta yang dikirimnya ke grup kepadanya tanpa mengatakan apa pun.
Jordan sontak panik dan terdiam beberapa saat. Kemudian, dia baru berseru terkejut, “Ka ... kamu masih ada di dalam grup, ya .... Maaf, aku nggak tahu. Aku cuma kasih dia selamat. Nggak ada maksud lain kok.”
Aku mengerti maksudnya. Sebab, aku pernah ditendang keluar dari grup oleh Cynthia dan dijauhi semua teman sekelas. Hanya saja, setelah tamat, ketua kelas kami menambahkan aku kembali ke grup. Jordan mungkin tidak memperhatikan hal ini.
Aku menjawab dengan dingin, “Kamu nggak usah kasih aku penjelasan. Aku nggak nyangka ternyata kamu masih berhubungan dekat sama orang yang menindasku. Pantas saja kamu selalu bela dia, bahkan berulang kali mengorek lukaku!”
Jordan menghela napas panjang dan menjawab, “Kamu berpikir kejauhan. Aku dan dia itu teman sejak kecil. Bukannya wajar kami punya hubungan yang baik? Sekarang, dia sudah sukses. Memangnya salah aku kasih dia selamat?”
“Hari ini, ada pesta selamatan anak Kakak yang genap sebulan. Nanti, aku akan menjemputmu. Kalau kamu nggak pergi, orang lainnya akan tertawakan aku,” tambah Jordan. Setelah itu, dia langsung memutuskan sambungan telepon.
Aku tidak peduli apa dia akan malu atau tidak. Apalagi, dia juga begitu tebal muka. Namun, aku seharusnya cari kesempatan untuk mendiskusikan masalah perceraian dengannya. Hal yang terpenting adalah, aku harus mengumpulkan beberapa bukti. Ini adalah kesempatan terbaikku.
Setelah menjemputku, dia tidak berhenti mengeluh sepanjang perjalanan, juga menggunakan nada menyalahkan. “Ibu sudah nggak tahan. Dia bilang kamu itu menantu yang merepotkan.”
Begitu mendengar hal itu, aku langsung tertawa. Ibu mertuaku memang berwatak lembut, tetapi dia hanya baik terhadap orang luar. Setiap kali dia dibuat kesal oleh orang lain, dia akan melampiaskan kekesalannya padaku setelah pulang. Saat ini, aku sudah sepenuhnya mengerti kenapa orang lemah selalu tertindas.
Aku mencibir, “Aku nggak peduli gimana ibumu menilaiku. Hari ini, aku datang bukan untuk maafkan kamu, melainkan untuk ajukan cerai padamu. Kesabaranku terhadap kalian sekeluarga yang nggak punya etika sudah habis.”
Jordan pun tiba-tiba menginjak pedal rem dan menghentikan mobil di samping jalan. Dia menggenggam erat kemudi mobil sambil memelototiku. “Coba katakan dengan jelas, siapa yang nggak punya etika? Bukannya kamu sendiri yang terlalu rapuh? Cuma karena sebuah candaan, kamu mau ribut selama ini denganku!”
Aku pun tertawa. “Aku serius mau cerai. Aku nggak mau lagi dengar keluhanmu. Kamu cuma berani berlagak hebat di depanku!”
Begitu mendengar ucapanku, Jordan langsung murka dan sama sekali tidak bisa bersuara. Dia hanya bisa lanjut menjalankan mobil dengan kesal.
Berdasarkan pemahamanku terhadapnya, dia tidak mungkin bisa mengubah kebiasaan buruknya ini.
Pesta yang diadakan kakaknya Jordan ini hanyalah pesta kecil-kecilan untuk keluarga tanpa ada orang luar. Begitu melihatku, ibu mertuaku buru-buru menjelek-jelekkan menantunya yang “kekanak-kanakan”.
Ibu mertuaku pada dasarnya memang pintar menyindir orang. “Kalian tahu nggak? Hari itu, Jordan cuma bercanda sama dia, tapi dia langsung permalukan Jordan di hadapan begitu banyak orang. Sekarang, dia juga kabur dari rumah. Menantuku itu benar-benar suka timbulkan masalah!”
Di bawah tatapan semua orang, aku berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau nggak suka sama aku, aku nggak keberatan untuk cerai.”
Seusai berbicara, aku langsung duduk dengan santai dan mengabaikan ibu mertuaku. Sementara itu, Jordan adalah anak yang paling “berbakti”. Dia langsung menghampiriku, lalu berbisik untuk memperingatiku, “Jangan timbulkan masalah untukku! Kalau ada apa-apa, kita bicarakan saja di rumah!”
Namun, semuanya sudah terlambat. Semua orang yang hadir mulai mendiskusikan tentang “perceraian” yang kusebutkan tadi.
Anda Mungkin Juga Suka





