APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gulai Daging Ibu

Gulai Daging Ibu

Demi menghidupi anak-anak dan suaminya yang lumpuh, Parni mengambil langkah nekat. Wanita empat puluh tahun ini terhimpit beban hidup yang berat hingga terseret ke dalam dosa yang sangat mengerikan. Tindakan ekstrem apa yang sebenarnya ia lakukan sampai membuat seluruh warga desa dicekam ketakutan luar biasa? Simak kisah kelam penuh misteri tentang pengorbanan tragis yang berujung pada teror mencekam bagi seluruh penduduk kampung.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bismillah

           Gulai Daging Ibu

#part_2

#by: R.D.Lestari.

Sulis, tetangga sebelah rumah Parni mengendus, hidungnya kembang kempis mencium bau yang amat enak dari rumah gubuk yang selama ini amat jarang sekali tercium bau masakan.

Ya, sebagai tetangga dia tau betapa susahnya Bu Parni. Ia yang sebagai ibu rumah tangga harus rela bekerja sebagai tukang gosok keliling yang hanya berpenghasilan dua puluh ribu setiap ada yang memakai jasanya. Itupun tidak setiap hari. Kadang dua sampai tiga hari ia harus gigit jari karena tak ada yang menghubungi.

Itulah yang sering di keluhkan oleh tetangganya itu. Kadang, ia sering melihat Bu Parni menangis, memikirkan nasib keempat anaknya dan suaminya yang lumpuh hingga tak mampu mencari nafkah.

Sulis tau betapa susah tetangganya itu. Dialah yang sering memberi sekedar lauk jika masak lebih dan juga beras. Sesungguhnya ia tak tega memberi nasi kemarin yang pada akhirnya ia pun memberi karena paksaan dari Bu Parni.

Seperti hari ini, ia mendapat daging dari mertuanya setengah kilo. Ia ingin membagi ke Bu Parni, tapi untuk dirinya dan keluarga pas-pasan. Alhasil, ia hanya bisa mengelus dada dan meminta maaf dalam hati.

Namun, siang ini ia mencium aroma yang sama, hatinya mulai bertanya, dari mana uang Bu Parni, hingga bisa memasak daging seperti dirinya?

"Astaghfirullah, maafkan aku, Tuhan," Sulis menepuk mulutnya sendiri. Merasa berdosa sudah berpikiran buruk pada wanita sederhana yang selalu berbuat baik padanya.

Di dera rasa penasaran yang teramat sangat, Sulis memberanikan diri untuk singgah ke rumah Bu Parni.

Sulis mengetuk pintu belakang rumah tetangganya itu. Tak ada sahutan, yang ia dengar hanya suara riang anak-anak disertai tawa ibu bapaknya. Sulis ingin beralih dan memutar tubuhnya menuju arah depan, tapi, tiba-tiba pandangannya tertuju pada karung yang ada di belakang rumah, karena terdapat merah-merah seperti darah dari kejauhan.

Dengan kaki gemetar Sulis mendekat, saat ia akan menyentuh karung, tiba-tiba ...

Kriettt!

Pintu belakang rumah bergerak, Sulis tersentak dan memandang ke arah sosok yang tengah berdiri dengan wajah tak suka.

"Ada apa, Lis?" sosok yang tak lain adalah Bu Parni itu mendekat, wajah legamnya terlihat panik saat matanya tertuju pada karung yang tadi ia bawa. Lupa membuang dan membakarnya.

"I--ini, Bu, saya lihat karungnya kok banyak bercak darah, ya?" ungkap Sulis kemudian.

Bu Parni bergeming, tapi raut wajahnya tak bisa bohong jika saat ini ia didera kecemasan yang teramat sangat.

"Oh, itu ... kakakku yang berada di desa sebelah suka berburu rusa. Rencana mulai besok aku akan menjual gulai daging rusa, untuk tambah-tambahan belanja," kilah Bu Parni.

Tentu saja wanita itu berbohong. Sedari bayi ia sudah sebatang kara. Ibunya gantung diri waktu Parni bayi karena tak kuat menanggung

hutang suaminya yang suka berjudi. Bapaknya pun meninggal saat usia Parni dua tahun akibat overdosis.

Parni kecil akhirnya dirawat neneknya yang akhirnya meninggal saat Parni berusia delapan belas tahun.

Parni dewasa sebelum waktunya. Ia harus bisa mengurus semua seorang diri termasuk dalam mencari nafkah.

Di dera kesusahan yang beruntun, Parni menjadi sosok kuat dan penuh misteri.

Dalam hatinya selalu berkata,' apa pun akan aku lakukan demi melihat anak-anakku bahagia,'

"Oh, begitu ya, Bu. Tadi saya mencium bau yang sangat harum, makanya saya ke sini. Mau tanya resep, gitu," Sulis menyunggingkan senyum. Ia tak enak hati karena ketahuan mengintip di belakang rumah Bu Parni.

Senyum seketika terbit di bibir Bu Parni. "Oh, kebetulan, saya memang mau mencicipi daging rusa yang di gulai khas resep kampung saya," Bu Parni lantas masuk dan tak lama membawa semangkuk gulai.

"Ini, dicicipi, nanti kasih saran apa yang kurang sebelum saya jual," kembali Bu Parni menyunggingkan senyum dan menyerahkan mangkuk yang berisi gulai daging pada Sulis.

"Terima kasih, Bu," ujar Sulis senang.

"Sama-sama, tapi lain kali jangan datang dari pintu belakang. Kata orang dulu ga sopan,"

Sulis yang mendengar langsung melebarkan matanya. Ucapan Bu Parni sungguh sangat membuatnya salah tingkah. Apakah Bu Parni marah padanya?

"Oh, iya, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Terima kasih sekali lagi untuk daging gulainya," dengan wajah yang sulit diartikan, Sulis pamit dan memutar tubuhnya. Ia melangkah dengan hati yang tak enak.

Bu Parni masih tetap berdiri di tempat sembari menatap langkah langkah Sulis yang tergesa.

Salah satu sudut bibirnya ditarik hingga menciptakan senyuman sinis yang membuat siapa pun akan bergidik ngeri bila melihatnya.

"Kamu jangan berani-berani ikut campur, Sulis. Biarpun selama ini kamu baik, tak menutup kemungkinan, kamu yang akan jadi bahan baku untuk gulai selanjutnya," lirihnya seraya memutar tubuh dan meraih karung yang ada bercak darah.

Ia lalu merogoh kantung dan meraih koset, memantik api dan membakar karung beserta sampah yang ada di belakang rumahnya.

"Hampir saja ketahuan, besok-besok aku harus lebih jeli," gumamnya sembari melangkah masuk ke dalam rumah.

***

Degup jantung Sulis belum mereda saat tiba di dalam rumah. Merutuki semua perbuatan yang baru saja ia lakukan.

Ia sama sekali tak menyalahkan kemarahan Bu Parni padanya. Karena memang mengakui jika ia salah. Semua itu karena ke-kepoannya.

Seharusnya ia bersyukur bila Bu Parni sekeluarga hidupnya sudah jauh lebih makmur dan bisa makan tanpa menyusahkannya, bukan malah diam-diam mengintip dan berpikiran buruk kepadanya.

Huffttt!

Sulis menghela napas dalam. Ia lalu menatap gulai yang ada di hadapannya.

Aroma yang sedap menguar hingga membuat perutnya keroncongan. Sepertinya gulai pemberian Bu Parni memang nikmat.

Sulis beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah dapur, mengambil nasi dari dalam magicom dan kembali ke ruang tengah. Ia sudah tak sabar untuk menyantap gulai yang membuatnya amat berselera.

Benar saja, satu suapan kuah masuk ke dalam mulutnya.

"Ahh... nikmatnya...,"

Itu baru kuah. Belum dagingnya. Baru kuah saja sudah membuat Sulis merem melek saking enaknya. 'Gurih, sedikit pedas, ada manisnya, pokoknya mantul,' batin Sulis.

Suapan kedua, Sulis mencampur nasi, kuah dan sepotong daging berukuran kecil, mengunyahnya perlahan.

"Emmh, tekstur dagingnya beda dengan sapi. Lebih kenyal, tapi berlemak. Ini enak. Lebih nikmat dari daging sapi," Sulis berbicara pada dirinya sendiri.

Saking nikmatnya ia seperti enggan untuk berhenti. Suapan-suapan selanjutnya ia masih menikmati tanpa banyak berkomentar. Ia mengakui bahwa masakan Bu Parni memang sangat enak. Ia yakin jika nanti berjualan, gulai Bu Parni pasti laku keras.

Hingga kuah menyusut dan daging tinggal beberapa potong, mata Sulis menangkap sesuatu yang berbeda pada bentuk daging yang membuatnya mengernyitkan dahi, heran.

Ia menyendok daging tersebut dan memperhatikan dengan seksama. Seketika tangannya gemetar dan melempar sendok berisi daging ke sembarang arah.

"Ja--jari ... ta--ngan?"

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Crazy Woman
8.3
Ria Ananta, seorang putri konglomerat, memilih menyembunyikan identitas aslinya demi menjalani hidup biasa di tengah kemewahan. Namun, kedamaiannya sirna setelah ia berpacaran dengan Christian, seorang idola populer. Penolakan keras dari keluarga kekasihnya memicu depresi berat dan membangkitkan sisi gelap dalam diri Ria. Terjebak dalam hubungan penuh kekerasan, ia kini berjuang melawan kehancuran mental serta dorongan bunuh diri di balik gelimang hartanya.
Sampul Novel DON'T PLAY GAMES WITH ME
8.7
Kehidupan Adiba dan Syden di Rusia setelah pernikahan mereka di Pakistan berubah mencekam. Adiba bersama ibu mertuanya terus dihantui teror mistis di kediaman baru, meski Syden tetap tak percaya. Puncak kemalangan tiba saat Adiba kehilangan janinnya akibat keguguran. Dipenuhi murka, wanita Pakistan ini bersumpah atas nama Allah untuk menuntut balas atas kematian anaknya. Siapa sebenarnya sosok kejam yang tega menghancurkan hidup Adiba?
Sampul Novel Jadi Korban Kelalaian Orang Tuaku
9.6
Seorang gadis diculik dan disiksa oleh musuh ayahnya yang ingin balas dendam. Saat pembunuh menghubungi sang ayah yang merupakan kapten polisi, panggilan itu diabaikan demi menemani sang adik di sebuah lomba. Korban pun tewas mengenaskan setelah lidahnya dipotong. Ketika sang ayah dan ibu yang seorang ahli forensik tiba di TKP untuk menyelidiki kasus ini, mereka mengutuk kekejaman pelaku. Tragisnya, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa jasad hancur yang sedang mereka periksa adalah putri kandung mereka sendiri.
Sampul Novel MEMBUAT AZAB
9.5
Dalam kisah misteri ini, keberhasilan seseorang justru memicu malapetaka mengerikan akibat rasa iri yang tak terkendali. Dendam dan kecemburuan mendalam atas pencapaian sesama berubah menjadi kekuatan gelap yang mengancam nyawa secara fatal. Bagaimana sebuah kesuksesan bisa mengundang teror mematikan? Bersiaplah mengungkap misteri di balik kebencian ekstrem yang melampaui batas logika manusia, di mana setiap prestasi yang diraih menjadi awal dari petaka yang mengintai.
Sampul Novel PEMBALUT SUAMIKU
9.3
Suami Laksmi yang telah lenyap tanpa kabar selama sepuluh tahun dan diduga meninggal, secara mengejutkan pulang ke rumah. Kehadirannya kembali justru memicu ketakutan dalam diri Laksmi. Ia mendapati sang suami memiliki tabiat ganjil yang mengerikan, yaitu mengoleksi dan menyembunyikan pembalut bekas secara rahasia. Kejanggalan aneh ini membuat Laksmi mulai mencurigai misteri besar di balik hilangnya sang suami selama satu dekade terakhir.
Sampul Novel The Confidential : Love And Ravange
9.3
Sejak menempati kediaman barunya, Keysia terus didera teror mengerikan dan rangkaian kematian misterius. Berbagai rahasia sengaja disembunyikan darinya, memaksa Keysia untuk memecahkan teka-teki rumit demi mengungkap kebenaran yang terkubur. Di tengah situasi yang mengancam nyawa, ia juga harus menghadapi pergulatan batin antara perasaan cinta dan hasrat menuntut dendam. Mampukah Keysia bertahan melewati perjalanan emosional yang penuh ketegangan ini?