APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Good morning Pak Dosen (Series 3)

Good morning Pak Dosen (Series 3)

Axel Leo Dinata dan Elvio Nadira membuktikan bahwa ketulusan cinta sejati mampu melampaui jurang perbedaan intelektual yang mencolok di antara mereka. Sayangnya, perjalanan asmara pasangan ini tidaklah mudah. Berbagai rintangan berat terus berdatangan untuk menguji kesetiaan satu sama lain. Kini, Axel dan Elvio harus berjuang keras menghadapi tembok penghalang besar yang mengancam keutuhan masa depan hubungan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Di saat yang bersamaan, Dira juga keluar dari kamar mandi.

"Yok, balik. Aku udah selesai," ajak Dira. Tapi, ia malah bingung melihat orang-orang berseragam lengkap yang sedang berhadapan dengan Leo.

"Ada apa?" tanya Dira bingung sambil menghampiri Leo.

"Kalian berdua sedang apa disini?!"

tanya salah satu dari mereka dengan tampang sangar.

"Kita cuman ..."

"Tunjukkan identitas kalian," pinta salah seorang dari mereka memotong ucapan Dira.

Baik Dira ataupun Leo menurut saja. Mereka menyodorkan tanda pengenal masing-masing.

"Jadi, Anda seorang dosen, dan kamu mahasiswinya?" tanya dia menunjuk Leo dan Dira bergabtian. "Begitukah?"

"Iya," jawab Leo, sedangkan Dira memilih untuk mengangguk saja.

"Ck, dasar. Kalian berdua ikut kami!" hardiknya.

"Bentar dulu, ini sebenarnya ada apa, sih. Kenapa kami berdua harus ikut?"

"Ntar aku jelasin," bisik Leo pada Dira. Ia tak ingin Dira tau kalau mereka di grebek petugas yang lagi razia, gara-gara kedapatan berada di satu kamar tanpa adanya hubungan yang sah. Bisa-bisa Dira malah teriak-teriak jejeritan ntar.

Yap, jadilah mereka berdua menjadi salah satu di antara pengunjung hotel yang pada malam itu ikut terjaring razia. Karena status mereka yang bukan muhrim, tapi berada di satu kamar.

Hingga sampai di kantor polisi, wajah bingung Dira semakin terlihat. Di tambah lagi, ia juga merasa takut kalau sudah berurusan dengan polisi.

"Kalian sedang apa di hotel itu?"

"Kita nggak ngapa-ngapain kok, Pak. Dia cuman nemenin saya buat bersihin badan, karena tadi  ketumpahan minuman," jelas Dira.

"Kalian pikir, kami akan percaya dengan alasan murahan seperti itu,"

"Terserah, mau anda percaya atau tidak. Toh, kita udah jujur," balas Leo. Leo tau, di jelaskan seperti apapun itu, petugas tak akan mungkin percaya gitu aja.

"Sekarang, silahkan hubungi wali kalian agar segera datang kesini,"

pintanya pada Leo dan Dira.

"Orang tua saya lagi di luar negri, Pak. Masa iya mereka harus pulang kampung cuman gara-gara masalah beginian doang," terang Dira. Bisa mati dia kalau orang tuanya tau, ia tertangkap di kamar hotel bersama cowok.

"Orang tua saya juga lagi di luar negri," tambah Leo.

"Apa kalian nggak punya keluarga di negara Indonesia ini? Apa kalian disini hidup hanya sebatang kara? Hello, dunia ini sudah sulit, jadi jangan di persulit lagi. Kalian masih punya anggota keluarga lain, kan,"

Dengan langkah malas, Leo beranjak dari duduknya dan pindah ke kursi tunggu. Dirapun juga mengikutinya.

"Liat kan, ini semua gara-gara kamu," dengus Dira dengan tampang kesalnya pada Leo.

"Jangan nyalahin aku,"

"Memang ini semua salah kamu,"

"Sstt ... diem,"

Leo menghubungi seseorang, tapi yang jelas bukanlah orang tuanya. Karena ia jujur, orang tuanya memang berada di luar negri.

"Nelepon siapa?" tanya Dira.

Tapi Leo tak menjawab pertanyaan Dira. Ia lebih fokus pada percakapan di telepon dengan seseorang.

"Arland, lo dimana?" tanya Leo.

"Di rumah orang tua gue. Kenapa?"

"Kebetulan. Gue sekarang lagi dalam masalah,"

"Masalah?"

"Iya. Tolong lo bilangin sama Om Alvin, buat datang ke kantor polisi. Sekarang, ya."

"Lo ngapain di kantor polisi?"

"Hhah, gue sama Dira lagi di hotel. Tiba-tiba ada razia, dan kita di tuduh berbuat yang enggak-enggak. Gue sama Dira sekarang butuh wali buat bisa bebas," jelas Leo pada sobatnya itu.

"Ya udah, ntar gue bilangin."

"Thank's."

"Jadi?" tanya Dira masih menunggu.

"Kita tunggu Om Alvin dulu," balas Leo.

"Hadeh, benar-benar hari yang sial. Ntar kalau mau ngedate, jangan pake hari minggu," keluh Dira sambil bersandar di bahu Leo.

Kira-kira 20 menitan, sobatnya Arland datang bersama istri dan juga orang tuanya, Alvin dan Kim. Leo merasa ini sangat memalukan ... seperti penjahat saja.

"Om, Tante. Maaf ya, kita ngerepotin kalian," ujar Leo merasa tak enak.

"Iya, nggak apa-apa," balas Alvin.

"Kiran!!! Gue nggak mau disini, gue mau pulang," histeris Dira sambil mewek-mewek pada Kiran, istri dari Arland yang merupakan sahabat dari Dira..

"Iya, tenang dulu," balas Kiran menenangkan Dira.

"Kalau gitu, kita temuin petugasnya dulu, ya. Biar kalian bisa cepetan bebas," terang Alvin.

Setelah sedikit perdebatan, perselisihan, negosiasi, akhirnya mereka berdua bisa bebas dan bernapas dengan Lega.

"Gue mau tanya. Kalian berdua yakin, nggak ngelakuin apa-apa di hotel?" tanya Arland sesaat setelah keluar di kantor polisi.

"Eh eh ,itu mulut bisa di kondisiin nggak. Lo kira gue cowok apaan," kesal Leo pada perkataan Arland.

"Ini semua gara-gara, Bapak," tunjuk Dira ke arah Leo masih dengan kekesalan memuncak.

Leo hanya bisa mendengus saat Dira terus menyalahkannya. Ya, ia akui semua ini memang salahnya. Tapi, bisa nggak sih, Dira tak menyalahkannya terus. Haruskah ia membuat konferensi pers, buat mengakui kalau ini semua adalah salahnya.

"Mau pulang atau enggak? Atau kamu masih betah di sini?" tanya Leo sambil membukakan mobil untuk Dira dengan tampang datarnya.

"Sampai ketemu besok, Ki," ucap Dira pamit pada Kiran.

Sambil mencak-mencak, Dira memasuki mobil Leo. Meskipun ia kesal pada Leo, tapi ia tetap cinta kok. Ia tak akan lupa perjuangannya mendapatkan Leo seperti apa.

---000---

Di saat sang mentari sudah berkelana setengah hari, Dira masih anteng berada di balik selimutnya. Bahkan asisten rumah tangganya sudah bolak balik ke kamar untuk membangunkannya. Tapi, tetap saja tak berhasil. Sepertinya, sebuah ciuman dari sang pangeran lah yang bisa membuatnya langsung melek.

"Non, ayo bangun, Non. Ini udah yang ke 99,9 kalinya Bibik bangunin ,Non. Bukannya Non Dira ada kuliah siang," terang Bibik.

Bibik kembali mencoba, siapa tau kali ini ia beruntung dan berhasil membangunkan Dira. Lumayan, bisa dapat hadiah TV LED.

"Non, bangun,"

Dira tetap tak menjawab bahkan merespon ucapan Bibik dengan sahutan kentutpun tidak. Inilah yang dinamakan mati, tapi tetap bernafas.

Saat yang bersamaan, ponsel Dira yang ada di balik bantalnya berdering. Bibik segera mengambil dan melihat nama yang terpampang di layar ponsel.

"Den Leo nelfon," gumam bibik.

Awalnya Bibik agak ragu untuk menjawab, berasa tidak sopan. Tapi, ini yang telfon adalah Leo. Amukanya lebih menakutkan daripada Dira.

"Hallo, Den Leo. Ini Bibik,"

"Diranya mana, Bik?" tanya Leo.

"Non Dira masih tidur, Den. Bibik udah bangunin dari tadi, tapi tetap saja nggak bangun-bangun,"

"Speaker-in, dan tarok ponsel di kupingnya, Bik,"

"Tapi, Den,"

"Tarok, Bik,"

Bibik pun mengaktifkan speaker, dan meletakkan ponsel dekat telinga Dira yang masih tertidur pulas.

Bibik berdoa agar majikannya tak akan mengamuk layaknya seekor macan betina yang tidurnya di ganggu.

"Dira," panggil Leo di telfon. Panggilan pertama masih lembut, tapi tak di respon oleh Dira.

"Dira! Kalau kamu nggak bangun juga, aku pastiin kamu nggak akan di wisuda tahun ini!"

Dira langsung terlonjak bangun dari tidurnya, saat telinganya mendengar sesuatu yang mengerikan. Apakah ini mimpi buruk? Tidak. Ini nyata. Seseorang seperti bicara tepat di telinganya. Sampai-sampai kupingnya berasa panas.

"Non, are you okay?" tanya Bibik.

"Aku mimpi buruk, Bik," ucapnya masih shock.

"Ketemu setan atau sejenisnya, Non?" tanya bibik ikut penasaran.

"Bukan. Tiba-tiba ada yang bicara di kupingku. Ancamannya nakutin banget. Ini aja masih terngiang-ngiang suaranya di lubang telingaku,"

"Elvio Nadira!"

"Kyaaaa!!! Itu, Bik. Dia manggil lagi," histeris Dira sambil memeluk guling. "Tapi kok mirip suaranya, Leo," heran Dira.

"I-itu memang suaranya Den Leo, Non," ujar Bibik sambil menunjuk ke arah ponsel Dira.

"Hah?" dahinya berkerut.

Bibik mengangguk. "Ada den Leo, Non," bisik Bibik kembali menunjuk ke arah layar ponsel miliknya.

"Omaigat!" gumam Dira.

"Kalau sampai kamu nggak datang, jangan harap kamu menyandang gelar sarjana tahun ini," ulang Leo dengan garang, dan langsung menutup telfon.

"Mampus!" seru Dira.

Dira langsung bangkit dari tempat tidurnya dan segera lari ngibrit menuju kamar mandi. Ternyata ancaman menakutkan itu bukan mimpi di siang bolong. Ini nyata, Beb.

"Ya ampun, punya majikan kok rada gesrek ya," gumam Bibik segera keluar dari kamar Dira.

Untung saja itu hanya gumaman si Bibik. Coba kalau bicara langsung pada Dira, bisa-bisa ia bakal langsung di drop out, atau bahkan di mutasi ke segitiga bermuda.

---000---

Setibanya di kampus, Dira langsung berlari menuju kelas. Semoga saja ia masih bisa mendahului si dosen es krim itu, masuk kelas. Kalau tidak, euh habislah ia.

Tapi, saat berjalan di salah satu lorong kampus, pandangannya malah melihat sesuatu yang benar-benar membuat hatinya patah. Bahkan, tanpa ia sadari, buku-buku yang tadinya masih ia pegang malah jatuh berserakan begitu saja di lantai.

"Aku salah jalan," gumamnya tersadar dan segera memunguti kembali buku-bukunya yang berserakan.

"Dira,"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Mantan Istri Biasa
9.2
Tiga tahun menjadi istri penurut tak membuat Laura dicintai Nikolas Riyadi. Diabaikan demi wanita lain, Laura akhirnya memilih bercerai. Keputusan sang pewaris kaya kembali melajang langsung mengguncang publik. Kini, para CEO tampan saling bersaing memperebutkan hatinya. Saat Nikolas memohon kesempatan kedua di depan umum, akankah Laura luluh atau memilih melangkah pergi meninggalkan masa lalu?
Sampul Novel Cinta Palsu, Fakta Tersembunyi
8.4
Setelah Charles membatalkan pernikahan mereka demi Chelsea di pemakaman ibunya, sang protagonis menerima lamaran tulus dari teman masa kecilnya, Sugi. Tiga tahun membina rumah tangga tanpa anak, Sugi selalu bersikap manis dan menerima keadaan. Namun, kebahagiaan itu hancur saat ia tidak sengaja mendengar percakapan Sugi dengan dokter tentang pil KB yang diam-diam diberikan kepadanya. Sugi rupanya hanya memanfaatkannya, sementara hatinya tetap milik Chelsea. Menolak menjadi korban penipuan, ia pun bertekad untuk pergi.
Sampul Novel Ditinggal Nikah Dengan Adikku
8.3
Lysandra hancur saat Vincent, sang mantan, memilih melamar adiknya, Amelia. Statusnya sebagai anak angkat membuat Lysandra kian tersisih. Di situasi sulit ini, Arthur Sterling datang menawarkan pernikahan kontrak demi bisnis dan wasiat sang kakek. Namun, rahasia asal-usul Lysandra yang disembunyikan ayahnya kini terancam terungkap. Akankah Arthur tetap bertahan mendampinginya setelah tahu bahwa sang istri bukanlah putri kandung keluarga Harrison?
Sampul Novel Merenda Cinta
8.4
Aileen, putri bungsu keluarga kaya Hadiwidjaya, bermimpi menjadi desainer interior sukses selepas kuliah di Stanford. Namun, ambisinya terbentur rencana perjodohan sang ayah dengan putra sahabatnya, Hasby Al Azizy. Sikap Hasby yang pendiam sekaligus ramah justru membuat Aileen yang manja tapi cerdas ini merasa kesal sejak awal pertemuan mereka. Akankah ia menerima takdir ini? Ikuti kisah perjuangan Hasby dalam meluluhkan hati Aileen demi meraih cinta sejati mereka.
Sampul Novel PENGANTIN DADAKAN (Menikah Dengan Chef)
8.6
Hidup Cantika berbalik seratus delapan puluh derajat akibat sebuah peristiwa tak disangka. Tanpa ada rencana atau persiapan, ia mendadak dipaksa masuk ke dalam pernikahan kilat yang sangat mengejutkan. Kenyataan baru sebagai istri yang datang tiba-tiba ini membuatnya dilingkupi rasa bingung sekaligus linglung. Kini, Cantika hanya bisa tertegun dan meratapi takdirnya yang berubah drastis dalam sekejap, terikat dalam pernikahan yang tak pernah ia bayangkan.
Sampul Novel Putra Rahasia Sang CEO dan Istri Dokternya
9.1
Alina hancur saat tahu pasien kecilnya adalah anak rahasia Bramantyo, suaminya. Puncak kepedihan terjadi di sebuah pesta kala Bramantyo tega mencelakai Alina demi membela bocah itu, hingga Alina keguguran. Di tengah duka, ia diabaikan dan nyaris tewas diserang selingkuhan suaminya. Selamat dari maut, Alina memalsukan kematian demi lepas dari luka pernikahan lima tahun mereka. Ia pun pergi ke Zurich untuk memulai hidup baru yang sepenuhnya berbeda.