APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Good morning Pak Dosen (Series 3)

Good morning Pak Dosen (Series 3)

Axel Leo Dinata dan Elvio Nadira membuktikan bahwa ketulusan cinta sejati mampu melampaui jurang perbedaan intelektual yang mencolok di antara mereka. Sayangnya, perjalanan asmara pasangan ini tidaklah mudah. Berbagai rintangan berat terus berdatangan untuk menguji kesetiaan satu sama lain. Kini, Axel dan Elvio harus berjuang keras menghadapi tembok penghalang besar yang mengancam keutuhan masa depan hubungan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Malam Minggu, adalah malam yang sangat keren bagi Dira. Karena ia bisa bertemu dan kencan dengan Leo, yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya.

Ya, mereka memang bisa di katakan bertemu setiap hari di kampus. Tapi, sikap Leo padanya akan berbeda 400 derajat jika berada di kampus. Luar binasa, bukan. Yang jelas, kalau hanya berdua dengan Dira, sikap manis Leo akan muncul. Tapi, kalau sudah ada orang ketiga, setan di dalam dirinyalah yang mendominasi.

"Sekarang kita kemana lagi?" tanya Leo saat keluar dari cafe setelah makan malam berdua dengan Dira.

"Shooping," jawab Dira langsung bersemangat.

Leo langsung menghentikan langkah kakinya saat mendengar kalimat itu.

"Kenapa?" tanya Dira. " Nggak mau nemenin?"

"Ada yang lain, nggak? Shooping itu membuang-buang waktu, membuang-buang uang ... mending kita ke toko buku aja. Baca buku, bisa nambah ilmu," jelasnya panjang memberi solusi.

Dira mendengus mendengar pernyataan Leo. Haruskah hidupnya juga ikut bergelut dengan buku seperti cowoknya ini?

"Leo," panggil Dira.

Jujur saja, Leo sedikit tersentak saat Dira menyebut namanya. Pasalnya, biasanya Dira pasti akan memanggilnya dengan embel-embel, Bapak, Pak, atau apalah itu.

"Saat ini, di waktu ini, status kamu itu adalah pacar aku. Jadi, jangan bersikap seperti seorang dosen. Ntar, di kampus nggak apalah bersikap kayak gitu."

"Tapi, Ra ..."

Dira langsung saja menarik tangan Leo untuk pergi dari sana. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja seseorang menabraknya. Gilanya lagi, segelas minuman yang ada di tangan orang tersebut malah  mengguyur kepalanya.

"Kyaaaa!!!" teriaknya histeris. Dikira ia belum mandi apa, pake diguyur segala.

"Maaf, Mbak. Saya nggak sengaja," ucap orang tersebut meminta maaf. "Tapi, Mbak juga, sih, yang salah ... jalan nggak lihat-lihat,'' tambahnya lagi dan berlalu pergi begitu saja.

Kutu kupret, ingin rasanya Dira berkata kasar saat itu juga. Awalnya dia minta maaf, tapi ujung-ujungnya malah nyalahin dirinya juga? Andai saja Leo tak ada di sampingnya, mungkin ia akan hajar tu orang habis-habisan. Sampai bayangannyapun nggak bakal balik ke badannya.

"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Leo memastikan.

"Nggak apa-apa gimana, kamu nggak liat orang udah basah kuyup gini?" tanya Dira terus mengoceh.

"Lihat," jawab Leo. "Makanya aku nanya keadaan kamu. Ada yang sakit atau gimana?" tanya Leo sambil mengelap wajah Dira yang sudah cemong terkena guyuran segelas capuccino.

Ya, Dira tahu kalau yang mendarat di kepalanya barusan adalah segelas capuccino ... ada yang menetes ke bibirnya dan itu rasa capuccino. Manis.

"Iya, hati aku sakit banget sama tu orang," geram Dira masih belum terima.

"Jadi gimana ... masih mau shooping?" tanya Leo sedikit menahan senyumnya.

"Ya enggaklah, Bapak. Nggak lihat, kekasihmu ini udah kayak gini," dengus Dira kesal. "Bentar, aku ke toilet dulu. Tunggu aja di mobil." Dira berjalan meninggalkan Leo menuju toilet cafe.

Oke, sepertinya ini memang hari sialnya. Karena apa? Si toilet ternyata lagi bermasalah. Jadilah, ia kembali ke mobil masih dengan tampang lepek, kucel dan berlepotan.

"Kok masih jelek aja?" tanya Leo saat Dira kembali dengan wajah dan ekspressi yang masih sama. "Eh, maksud aku bukan gitu ..." Ia segera meralat ucapannya. Sebenarnya ia tak ingin mengatakan itu, tapi tiba-tiba saja bibirnya malah mengucapkan itu. Jadi, apalah dayanya.

"Jangan meledek," dengus Dira langsung saja masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di bukakan Leo.

Di dalam mobil, Dira terus saja mengumpat karena tak tahan dengan rambut dan wajahnya yang lengket.

"Kenapa nggak dibersihin di toilet tadi?" tanya Leo.

"Toiletnya lagi rusak, Bapak," jawab Dira sambil menekankan kata 'Bapak' pada ucapannya.

Beberapa saat kemudian, Leo menghentikan laju mobilnya di parkiran sebuah hotel. Tentu saja Dira bingung.

''Kenapa berhenti di sini?" tanya Dira dengan kening berkerut.

Leo tak menjawab pertanyaan Dira. Justru ia malah turun dan membukakan pintu mobil buat Dira.

"Ayok," ajaknya sambil mengamit tangan Dira untuk mengikutinya.

Leo menuju ke meja receptionist, sementara Dira cuman bengong sambil celingak-celinguk kiri kanan, serta agak takut-takut. Apalagi melihat pengunjung di hotel ini, yang bisa di bilang tak tahu malu. Masa iya mereka bebas ciuman di depan umum gitu. Ya ampun, ini hotel atau neraka, sih.

"Hei ... kenapa?" tanya Leo mengagetkan Dira yang sedang menjernihkan pandangannya yang barusan terkontaminasi.

"Kita ngapain, sih, kesini?" tanya Dira sedikit berdiri mendekat pada Leo.

"Bukannya mau bersihin badan kamu?"

"Tahu nggak. Ini hotel, bukan toilet."

"Aku tahu ini hotel. Di sekitaran sini nggak ada toilet umum. Jadi, mending ke sini aja, lebih aman. Mau mandi sekalian juga bisa kan," terang Leo.

"Tapi, ini hotel apaan, sih. Orang-orang di sini pada gila semua ya. Masa iya ci ..."

Belum sempat Dira menyelesaikan perkataannya, Leo langsung menariknya pergi menuju nomer kamar yang terletak di lantai dua.

Hingga sampai di kamar yang dituju pun, Dira sudah merasa panas dingin melihat penampakan-penampakan yang membuat otaknya sedikit bergeser.

"Yakin, nih, aman?" tanya Dira penuh curiga saat sudah berada di depan pintu kamar.

"Maksud kamu, aman dari apa. Dari aku? Aku ini cowok baik-baik. Jadi, jangan berpikiran buruk padaku. Ayo masuk," ajak Leo lagi menarik Dira.

Padahal Dira memikirkan keamanan hotel ini, tapi Leo malah berpikiran lain lagi. Sudahlah, mungkin pikiran orang-orang ber'otak jenius memang begitu kali, ya. Lain yang dikatakan, lain pula yang dibahas.

Mau tidak mau, akhirnya Dira masuk juga mengikuti Leo yang sudah masuk terlebih dahulu.

"Di dalam kamar mandi ada handuk dan lain-lain. Ini, kamu pake kaos ku dulu," terang Leo sambil menyodorkan kaos oblong miliknya yang sengaja ia bawa dari mobil. "Rok kamu nggak kotor kan?"

Dira menggeleng menjawab pertanyaan Leo.

"Ya udah, sana mandi. Aku tunggu disini."

"Tapi, jangan ditinggal, ya?"

"Iya," jawab Leo. "Sana," suruhnya

Dira masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya. Sementara Leo duduk di sofa menunggunya sambil sibuk dengan ponsel.

Baru beberapa menit, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Tentu saja Leo bingung, siapa yang bertamu? Tapi, ia kembali berpikiran positif, mungkin saja pegawai hotel.

Ia berjalan hendak membuka pintu kamar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Sayang Om
8.1
Sejak kecil, Noelia yang yatim piatu hanya dibesarkan oleh Tante Novi. Hidup bocah delapan tahun ini terasa hampa sampai Wisnu dan Santi, sepasang pengantin baru, pindah ke sebelah rumahnya. Sosok Wisnu yang sangat peduli berhasil mengisi kekosongan figur ayah yang dirindukan Noelia. Seiring bergulirnya waktu hingga ia tumbuh dewasa, kedekatan erat yang terjalin selama bertahun-tahun itu perlahan mengubah rasa kagum Noelia menjadi benih asmara, hingga ia nekat menyatakan cinta kepada Wisnu.
Sampul Novel Cinta Terlarang, Murka Sang Wali
9.3
Sepuluh tahun memendam rasa pada sang wali, Bima Wijaya, cintaku berujung pahit saat kuungkapkan di usia delapan belas. Bima murka, merobek lukisan berhargaku, dan membawa tunangannya, Clara, ke rumah. Sosok pelindungku kini menjadi pemberi luka terdalam. Demi mengobati hati yang hancur, aku memilih pergi ke Jakarta. Bersama Ayah, aku siap memulai lembaran hidup baru sebagai mahasiswi di Universitas Indonesia.
Sampul Novel Dokterku, Cintaku
8.3
Sebagai seorang dokter spesialis ginekologi, berinteraksi dengan pasien wanita sudah menjadi rutinitas harian yang biasa bagi sang protagonis pria dalam novel modern Dokterku, Cintaku. Namun, pandangannya berubah sepenuhnya ketika berhadapan dengan tetangganya, Teresa Bunanta. Di matanya, Teresa adalah sosok wanita yang sangat sempurna tanpa celah. Kehadiran Teresa memicu hasrat terpendam, hingga sang dokter diam-diam memendam keinginan profesional sekaligus personal untuk memeriksa tubuh tetangganya itu secara langsung.
Sampul Novel Hancur Karena Janji Palsu Suamiku
9.2
Ananda tulus merawat Prabu yang lumpuh hingga sembuh, tetapi dibalas pengkhianatan lewat perselingkuhan suaminya dengan Safira. Penderitaan kian berat saat Asma, adik Ananda, dilecehkan kakak Safira. Prabu enggan menolong hingga Asma nekat mengakhiri hidup. Kekejaman Safira memuncak saat ia merusak makam Asma demi kucingnya. Meski Prabu akhirnya menyesal dan menghancurkan Safira, semua terlambat. Ananda dengan dingin menolak mentah-mentah permohonan maaf suaminya.
Sampul Novel Ibu untuk Yana
8.8
Sibuk menikmati status duda dan memiliki satu anak yang begitu cantik, enggak ada angin serta badai, Mama tercinta justru menjodohkan dirinya dengan seorang gadis polos berumur delapan belas tahun. Akankah ia terima, atau menolaknya??
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Istriku yang Seorang Taipan
9.5
Tiga tahun pernikahan hanya memberi Stephanie sikap dingin dari Erik. Ketika niat buruk suaminya menghancurkan harapannya, ia bangkit hingga menjadi wanita terkaya di dunia. Erik terkejut melihat transformasi sang mantan istri dan mencoba mengejarnya kembali. Namun, bagi Stephanie, pria kini hanyalah penghambat kesuksesan. Erik Palmer yang dulu angkuh kini rela merendahkan diri di depan umum demi membujuk Stephanie agar mau membangun kembali rumah tangga bersamanya.