
Godaan Istri Orang
Bab 3
Mengejutkannya, Sienna sama sekali tidak berhenti karena kemunculanku!
"Ma ... maaf, Kak. Bos menyuruhku kemari untuk mengundangmu ke rumah judi mahjong. Kulihat pintu nggak dikunci, makanya aku masuk. Maaf sekali ya ...."
Begitu ucapan ini dilontarkan, aku hendak pergi. Namun, Sienna malah memanggilku, "Sebentar ... Zayn. Kamu ... mau pergi begitu saja? Kamu nggak mau duduk sebentar? Kubuatkan teh ya?"
Napas Sienna terdengar terengah-engah. Ini seperti sinyal untukku. Aku tidak berani menoleh. Akan tetapi, Sienna tiba-tiba menghampiri dan memelukku dari belakang, bahkan bersandar di tubuhku.
"Kamu sudah melihat gimana penampilanku saat candu seksku kambuh .... Gimana dong? Masa aku membiarkanmu pergi begitu saja? Gimana kalau reputasiku rusak nanti ...," bisik Sienna dengan menggoda.
Aku lantas terkesiap. Apa yang ingin dilakukan wanita ini? Masa dia mau menyekapku di sini? Aku menyahut, "Nggak akan, Kak. Aku nggak lihat apa-apa kok. Tenang saja, aku nggak bakal kasih tahu siapa pun."
Ini pertama kalinya aku menghadapi situasi seperti ini. Apalagi, wanita cantik yang berhasrat ini memelukku. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Aku hanya bisa bersikap rendah diri.
Namun, Sienna tidak menghiraukan omonganku. Dia tidak berniat melepaskanku. Sebaliknya, dia menarik tanganku dan membawaku ke pinggir ranjang.
"Zayn, sebenarnya aku yang salah waktu itu. Aku nggak seharusnya marah padamu. Aku cuma mencoba melindungi diri. Jangan marah ya ...," ucap Sienna dengan manja sambil memeluk leherku.
Aku sungguh kebingungan menghadapi kode Sienna yang agresif ini. Aku awalnya ingin mengelabui Sienna, tetapi wanita ini ternyata jauh lebih berani dari yang kubayangkan. Dia langsung duduk di pangkuanku!
"Kak, jangan begini. Aku ... aku benaran cuma mau mengundangmu ke rumah judi mahjong. Nggak ada maksud lain!"
Meskipun aku ingin sekali menerkam Sienna, Sienna sudah berkeluarga. Usai berbicara, aku pun hendak mendorongnya, tetapi tubuhku menjadi tidak bertenaga.
"Hehe. Kulihat kamu sangat berani waktu mengintip tadi. Kenapa sekarang malah takut?" Sienna sontak bangkit dan menatapku dengan dingin. Bahkan, tatapannya terlihat meremehkanku dan membenciku.
Saat ini, aku langsung teringat pada hinaan sebelumnya. Wanita yang selalu bersikap angkuh di depanku masih berani menginjak-injak harga diriku setelah aibnya ketahuan. Aku pun murka!
Saat berikutnya, aku bangkit dan mendorong Sienna. Sienna berucap, "Begini baru benar. Ayolah, bantu aku ya? Aku nggak nyaman sekali waktu kambuh begini. Aku mau kamu bantu aku ...."
Heh! Cepat sekali berubahnya. Dasar murahan! Ternyata wanita idamanku ini cuma wanita liar yang sok suci!
Segera, akal sehatku dikalahkan! Kini, aku hanya ingin menghukumnya seberat mungkin! Aku ingin mendapatkan kembali harga diriku sebagai pria!
Anda Mungkin Juga Suka





