APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Godaan Desah Majikan

Godaan Desah Majikan

Mengusung romansa modern yang provokatif, kisah dewasa ini sangat cocok bagi mereka yang pernah dikhianati dalam cinta. Alur emosionalnya menyoroti hubungan gelap antara majikan dan bawahan, di mana godaan terlarang menjadi konflik utama. Cerita ini mengeksplorasi konsekuensi perselingkuhan serta dinamika hasrat yang sulit diredam di tengah komitmen yang seharusnya dijaga erat.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Faldo… kamu beneran?!” tanyaku kaget.

“Kok kaget? Aku kangen, Rin,” jawabnya santai.

Aku berdiri cepat. “Kok bisa tahu aku di rumah nenek?”

“Usaha lah. Tanya temenmu. Aku nggak betah kalau nggak ketemu kamu.”

Aku mendengus. “Dasar aneh. Ini jauh, loh. Nggak takut nyasar?”

“Nyasar dikit nggak apa. Yang penting ketemu kamu.”

Pipiku panas. Dari dalam rumah terdengar suara nenek. Aku panik.

“Kamu gila, Al. Kalau nenek lihat gimana?”

Faldo tertawa. “Santai, cuma ngobrol sebentar.”

Belum sempat kusembunyikan senyum, nenek keluar. “Lho, siapa ini?”

“Permisi, Nek. Saya Faldo, temen kampus Erina.”

Nenek tersenyum. “Oh, Faldo. Masuk, Nak.”

Aku lega. Di ruang tengah, aku membuatkan kopi cream favorit kami, sambil menggoreng singkong.

“Nih, Fal. Kopi kesukaanmu.”

“Wah, kirain kamu lupa,” katanya.

Ia lalu mengeluarkan ransel penuh minuman dan cemilan.

“Kamu mau buka warung?” candaku.

“Kata kamu di sini nggak ada. Kan kamu masih lama liburannya.”

“Bawa segini berat banget, Al.”

“Demi cucunya nenek, apasih yang berat.” Ia mengedip nakal.

Aku tertawa.

“Rin, kok nggak bilang kangen? Udah ada cowok baru ya?” godanya.

Aku melotot. “Oh my God! Erina kangen banget, tau! Dua minggu kamu kemana aja?”

Ia melempar coklat padaku.

“Dasar gila!” aku tertawa.

Nenek kembali membawa singkong goreng.

“Nih, makan dulu,” katanya.

Faldo buru-buru menyerahkan bungkusan kertas. “Sedikit oleh-oleh buat Nenek.”

Nenek tersenyum hangat. “Wah, terima kasih banyak, Nak.”

Aku tersenyum melihat Faldo akrab dengan nenek, rasa waswasku lenyap. Udara dingin membuatnya menggigil.

“Rin, kamu suka mandi nggak sih?” tanyanya sambil memeluk diri.

“Heh! Emang aku keliatan jorok?” aku manyun.

Ia terkekeh. “Bukan, maksudku di sini dinging banget, kuat nggak mandi pagi di sini?”

Aku mendekat nakal. “Modus ya, mau dipeluk? Padahal ada singa di dapur.”

Pipinya memerah, buru-buru menyeruput kopi. Aku tertawa. Suasana hangat, ditemani kopi, singkong goreng, dan nenek yang sesekali nimbrung.

Tak lama, Faldo berbisik, “Rin, temenin aku ke warung beli rokok.”

Sejak keluar rumah, tatapan orang-orang langsung mengikuti. Anak-anak berhenti main, ibu-ibu melongo. Wajar, Faldo tinggi, gagah, gaya kota, kontras sekali denganku yang berdandan seadanya. Rasanya seperti jadi pembantunya.

“Aku kok berasa jalan sama majikan,” bisikku.

Faldo merangkul pundakku. “Aku malah berasa jalan sama bidadari.”

“Sttt, jangan rangkul! Ini kampung, Fal,” aku panik.

“Hehe, kirain kita di hutan pinus berdua doang,” godanya.

Aku mendengus. “Pansos aja.”

“Biarin, yang penting sama kamu,” balasnya sambil menepuk pundakku.

Warung sederhana itu sudah terlihat. Obrolan ibu-ibu di depannya langsung terhenti, mata mereka penuh rasa penasaran, ada yang melirik diam-diam, ada yang menatap terang-terangan.

Faldo membeli rokok dan bisik-bisik makin ramai saat kami kembali pulang ke rumah nenek.

Aku mendengus, “Mau beli rokok apa pamer sih?”

“Pamer lah. Biar nggak ada yang berani godain kamu,” katanya sok jagoan. Aku senyum-senyum sendiri.

“Ih pede. Emangnya aku laku?”

Faldo berhenti, menatapku dramatis. “Kalau kamu nggak laku, pasar cinta bisa bangkrut.”

Aku ngakak. “Pasar cinta apaan sih?”

“Tempat aku belanja hati kamu tiap hari.”

Aku hampir melempar sandal. “Gombal banget!”

“Biarin. Tugasku bikin kamu ketawa. Kalau serius terus, kita kayak sinetron.”

Aku manyun pura-pura, tapi ujung bibir tetap terangkat. Bersama Faldo, kadang marah dan tangis pun berakhir tawa.

Menjelang sore, ia pamit, menatapku seolah enggan pergi.

Atas saran nenek dan tetangga, Faldo pulang ditemani dua tukang ojek. Motor dan gayanya terlalu mencolok, dikhawatirkan rawan begal. Sebenarnya aku ingin ia menginap, tapi aturan nenek jelas tak bisa ditawar. Sebelum berangkat, Faldo menyalamiku.

“Nanti kalau pulang mau dijemput, bilang aja Rin. Jangan kangen berlebihan, ya.”

Aku manyun. “Hati-hati, jangan sok gaya. Itu hutan, bukan catwalk. Lagian gak ada sinyal.”

Ia tertawa, lalu melaju pergi, meninggalkan aroma kopi dan singkong goreng… juga rasa hangat bercampur rindu.

Malam terasa lebih sepi. Angin sawah masuk lewat celah jendela, sementara aku masih terbayang senyumnya saat pamit.

“Eh, Neng,” panggil nenek. “Temenmu itu baik, ya. Sopan, bawain kado segala.”

Aku nyengir. “Iya, cuma agak bawel.”

“Bawel nggak apa, asal hatinya bagus,” jawab nenek terkekeh.

Usai makan, suara salam terdengar. Seorang lelaki paruh baya berdiri di beranda: sarung rapi, baju koko putih, peci hitam, wajah teduh berjanggut tipis.

“Assalamu’alaikum, Mak Yanah,” sapanya.

“Wa’alaikum salam, Pak Haji. Silakan duduk,” sambut nenek ramah.

Aku menyiapkan teh. Saat menyerahkan, tatapannya sempat menyentuhku—membuatku buru-buru kembali ke dapur. Obrolan samar, lumayan lama sampai akhirnya lelaki paaruh baya itu pamit.

“Neng, ke kamar sebentar,” panggil nenek kemudian.

“Tamu tadi Haji Fariduddin. Orang baik, mapan, tanah luas, toko besar… Dia tadi sempat nanya-nanya tentang kamu.”

Aku tercekat. “Tapi… dia kan sudah punya istri?”

“Anak-anaknya sudah pisah. Istrinya sakit-sakitan. Usianya enam puluh, tapi sehat. Dan dia sanggup biayai kuliahmu sampai tamat.”

Dadaku sesak. Bayangan jadi istri kedua lelaki seusia ayahku membuat tubuhku dingin.

“Nek… aku nggak mau. Aku masih mau kuliah.”

Nenek mengusap tanganku. “Nenek ngerti. Tapi di kampung, seusiamu wajar menikah. Dan Haji Farid… bukan orang sembarangan.”

Aku terdiam. Apakah nenek tidak mengerti arti kata ‘teman’ yang dimaksudkan Faldo tadi? dia sepertinya menganggap Faldo memang bukan siapa-siapaku.

Sejak sore itu, rumah nenek nyaris tak pernah sepi. Menjelang magrib, Haji Farid rutin datang, membawa makanan untukku. Awalnya aku enggan, tapi demi nenek, akhirnya ikut menemaninya.

Ternyata ia berbeda dari bayanganku: ramah, sederhana, suka bercanda, tak pernah genit atau menyinggung soal lamaran. Jauh dari tipikal bapak-bapak kampung yang mapan dan sering sok berkuasa. Seperti Pak Hasbi.

Suatu siang nenek mengajakku ke tokonya, alasan beli pupuk. Toko itu ramai. Dari balik meja, Haji Farid menyambut hangat, senyumnya tenang, matanya sempat singgah padaku. Cukup membuat jantung berdegup.

Di sudut, seorang perempuan duduk pucat dan ringkih. “Itu istrinya,” bisik nenek. Usianya baru lima puluhan, tapi tampak renta. Saat tatapanku bertemu dengannya, ia tersenyum lembut, ramah, namun sarat makna. Seolah tahu sesuatu, seolah memberi izin sebelum ada kata terucap.

Aku merinding. Antara simpati dan takut, seperti berdiri di ambang rahasia besar. Mungkin Haji Farid tulus, tapi aku sadar: bahagia bukan hanya soal ketulusan orang lain, melainkan juga pilihan hati. Dan hatiku belum siap. Aku masih ingin mengejar mimpi, bukan terikat janji.

Tak terasa masa liburan hampir selesai. Aku harus kembali karena kuliah sebentar lagi masuk. Kupikir akan naik ojek seperti biasa, tapi Haji Farid justru menawarkan diri mengantarku.

“Sekalian aja, Neng. Saya juga mau ke kota belanja pupuk sama alat pertanian. Pas sekali, kan,” katanya ringan.

Aku tak enak menolak. Nenek tersenyum setuju, seolah semuanya sudah mereka atur. Aku duduk di jok samping, sementara beliau menyetir mobil pick-up. Sepanjang perjalanan, kami hanya sesekali bertukar kata, tentang kampus, sawah, atau cuaca. Aku lebih banyak menatap jalanan, pura-pura sibuk.

Saat mobil berhenti di mulut gang kampungku, aku turun dan mengucapkan terima kasih. Sebelum menutup pintu, Haji Farid menyelipkan sebuah amplop putih ke tanganku.

“Buat jajan Neng Erina dan adik-adik,” katanya singkat, senyumnya seperti seorang ayah.

Tanganku menerima, tapi dadaku bergetar aneh. Di kamar, aku membuka amplop itu: beberapa lembar uang seratus ribuan. Lebih dari cukup untuk jajan aku, Erwan dan Enda sebulan, tapi di tanganku terasa seperti beban yang tak kuminta.

Sebenarnya aku ingin menceritakan semuanya pada Ayah dan Ibu, tapi lidahku kelu. Toh, Haji Farid sendiri belum pernah bicara gamblang soal lamaran. Bisa jadi hanya nenek yang terlalu jauh menafsirkan kebaikannya. Lagian orang tuaku bisa tersinggung, menganggap nenek ikut campur urusan yang bukan haknya?

Terus Faldo gimana?

Aku dan Faldo beda kampus. Dia setahun di atasku. Awalnya aku yang lebih dulu suka, tapi langsung mundur, minder karena selain terlalu ganteng, dia jelas dari keluarga berada, sedangkan aku cuma anak petani dengan ibu penjual kue di pasar.

Saat aku berhenti berharap, dia malah menyatakan perasaan. Tiga bulan kami bersama, sederhana saja: nongkrong di kafe kecil, jalan berdua, tanpa banyak tahu soal keluarga masing-masing. Aku nyaman, karena walau populer dan kaya, Faldo nggak pernah pamer. Kedua orang tuaku pun belum kenal sama sekali.

Selama bersama itu, selain manis, aku merasa lebih banyak bertengkarnya. Faldo terlalu banyak penggemar dan tidak bisa tegas menolak, sementara aku sendiri tak kuat menahan rasa cemburu kalau dia sudah bersikap terlalu manis dan mesra pada cewek lain.

Ah, sudahlah. Biarlah waktu yang akan menjawab takdirku.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belang si Janda Kembang
8.5
Pernikahan Amy dan Tesla yang berjalan lima tahun kini di ambang kehancuran karena belum hadirnya buah hati. Meski Amy telah mencoba berbagai pengobatan medis dan terapi spiritual, tekanan besar justru datang dari Dialin. Sang ibu mertua yang menuntut kehadiran cucu nekat menjodohkan Tesla dengan janda muda bernama Arem. Situasi ini memaksa Amy menghadapi pilihan pelik antara mengizinkan suaminya berpoligami atau mengakhiri rumah tangga mereka lewat perceraian.
Sampul Novel Cinta Itu Hanya Sebuah Kebohongan
8.3
Demi Rangga, aku rela menyerahkan karya desain terbaikku demi kemenangannya. Namun di malam perayaan, pengkhianatan pahit terungkap saat ia menyebutku alat bisnis dan bertunangan dengan Zahira. Bahkan setelah malam intim kami, ia memaksaku meminum pil pencegah kehamilan. Sepuluh tahun cintaku hancur seketika. Aku pun pergi jauh untuk menata hidup baru. Saat aku mulai bahagia, Rangga tiba-tiba muncul kembali, terobsesi mengejarku setelah membuangku.
Sampul Novel Dipaksa Menikahi CEO Kejam
8.4
Sejak kecelakaan fatal merenggut ibunya saat ia berumur delapan tahun, Fallen harus memikul kebencian sang ayah. Sebagai hukuman, ayahnya tega memaksa Fallen menikahi CEO dingin dan kejam, sembari mengutuknya agar hidup menderita sebagai pembunuh. Di tengah pernikahan tanpa cinta dan luka masa lalu, sebuah rahasia besar di balik tragedi masa kecilnya mulai terungkap, membawa kenyataan yang sangat pahit.
Sampul Novel GAIRAH CINTA PARTNER KERJA
9.4
Ketampanan dan kecerdasan tidak lantas membuat masa lalu Ozzie berjalan mulus tanpa luka. Kini, setelah sukses membangun karier, hatinya terpikat oleh rekan kerjanya sendiri. Benih asmara di antara mereka tumbuh subur lewat serangkaian pertemuan intim yang membara di setiap perjalanan dinas. Namun, tembok besar menghadang karena sang wanita telah dijodohkan. Enggan menyerah, Ozzie bertekad menghentikan petualangan cintanya demi merebut dan memperjuangkan sang pujaan hati.
Sampul Novel Istri yang menjadi Gundik
9.1
Niat bahagia mendaftarkan calon bayinya ke asuransi kantor suami berujung petaka bagi seorang wanita. Di sana, ia menemukan dokumen yang mencantumkan Vivi Wisnutama sebagai istri sah suaminya, lengkap dengan dua anak berusia tujuh tahun. Kenyataan pahit terungkap bahwa pria yang ia cintai selama lima tahun ini telah berkeluarga dengan seorang pewaris bisnis hotel. Kini, ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya hanyalah gundik dan anak di kandungannya terancam menjadi anak haram tanpa pengakuan.
Sampul Novel ROMANSA DESEMBER Season 1 : Daniel and Stefany
8.0
Daniel dan Stefany tumbuh bersama sejak kecil dan selalu merayakan Natal di gereja tua desa mereka. Ketika remaja, perasaan cinta mulai muncul di antara keduanya, tetapi mereka memilih diam karena takut merusak persahabatan. Tepat saat Daniel bersiap mengungkapkan isi hatinya, Stefany mendadak pindah ke kota tanpa pesan. Bertahun-tahun berlalu, Daniel tetap setia menanti di gerbang gereja setiap musim dingin tiba. Akankah takdir membawa Stefany kembali kepadanya?