APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Genderang Perang Manusia Elektrokinesis

Genderang Perang Manusia Elektrokinesis

Gian selalu dirundung oleh keluarga dan teman-temannya. Hanya Alicia yang setia menemani, walau itu membuat Gian makin diintimidasi. Nasibnya berubah usai menolong seekor kucing, di mana ia mendapat kekuatan elektrokinesis dari sosok misterius lewat mimpi. Dipandu mentor berwujud tikus putih, Gian pun memulai misi balas dendam. Namun, saat dirinya dicap sebagai monster dan Alicia mulai menjauh, mampukah Gian memenangkan pertempuran ini?
Bab
Bagikan

Bab 1

Seorang pemuda berusia 17 tahun yang masih duduk di kelas 2 SMA, berjalan dengan memegangi pipi dan perutnya. Bukan karena lapar, melainkan karena dia baru dipukuli geng kakak kelasnya dikarenakan cemburu.

Dia, Manfred Argianta Bergmans, pemuda blasteran Indonesia-Jerman, bersekolah di SMA Budi Luhur, sebuah sekolah yang cukup mentereng di kotanya.

Sambil berjalan, Gian, demikian dia biasa dipanggil, mengingat kekesalannya di angkot ketika semua orang memandang dia dengan pandangan menuduh.

Apalagi ibu-ibu berbisik keras sembari mencibir, menuduh dia tukang berkelahi, ahli tawuran, sampah generasi, dan masih banyak fitnahan lainnya.

Maka dari itu, Gian lekas meminta turun dari angkot meski belum tiba di dekat area rumahnya. Telinganya sakit mendengar celotehan ngawur mereka.

Kini, sambil berjalan, Gian mengingat peristiwa tadi. Sejak pagi, kemalangan seperti terus merundungnya. Dimulai dari kawan-kawan di kelasnya yang meminjam PR kimia, lalu ada juga yang menyuruh dia untuk menyalinkan PR matematikanya.

Tidak di rumah, tidak di sekolah, dia selalu saja menjadi budak. Sayangnya, dia terlalu pengecut untuk melawan mereka semua.

Kemudian, di istirahat pertama, kesialan masih datang dengan kepalanya terkena hantaman dari bola sepak yang ditendang keras-keras salah satu idola sekolah bernama Danar Wijayanto.

Danar dan kawan-kawannya kerap merundung dia. Sebagian besar memar dan babak belur dia sehari-hari biasanya berasal dari mereka.

Namun begitu, hal yang membuat hati Gian hangat nyaman adalah adanya seorang gadis, teman satu kelas, namanya Alicia Ruwina, biasa dipanggil Cia.

Alicia gadis cantik nan manis blasteran Indonesia-Pakistan, tak pelak dia jadi salah satu idola di sekolahnya. Selain cantik, Alicia juga baik dan kerap membela Gian bila memergoki dia sedang dirundung.

“Kalian ini! Kenapa bermain bola di area umum! Kalian bisa melukai orang yang lewat!” Demikian Alicia mengomel pada kelompok Danar sebelum dia menarik tangan Gian untuk diajak ke ruang UKS.

Gian senang dengan perlakuan Alicia padanya, ternyata di dunia ini, masih ada sosok berhati malaikat seperti gadis itu.

Hanya saja, gara-gara pembelaan dari Alicia itulah dia makin kerap menerima perundungan dari murid-murid yang cemburu.

Lantas, saat dia menerima kehangatan sikap Alicia yang mengobatinya di ruang UKS, itu dilihat oleh salah satu penggemar fanatik Alicia, Sean Colbert, murid kelas 3, seorang pemuda asli Amerika, anak seseorang yang bekerja di kedutaan Amerika di Indonesia. Dia tampan dan atletis serta berambut pirang dengan mata biru, pantas jika menjadi idola pula di sekolah seperti Danar.

“Alice cantik, mau ke mana? Ayo, aku antar ke kelasmu.” Sean mengadang Alicia dan Gian yang hendak kembali ke kelas usai mengobati kening Gian.

“Namaku Alicia, bukan Alice, dan aku tak perlu bantuanmu untuk ke kelas. Ayo, Gian!” Alicia tanpa ragu menggandeng tangan Gian, meninggalkan Sean yang menahan emosi.

Maka, inilah hasil dari geng Sean. Baru diobati Alicia, namun dberi memar baru oleh Sean dan gerombolannya saat Gian hendak pulang ke rumah.

Dia, pemuda blasteran Jerman yang sungguh tidak mirip seperti bule. Rambut dan matanya hitam selayaknya orang Indonesia. Karena itu, satu sebutan khusus kerap disematkan padanya: Bule Palsu.

Padahal semua saudara dia memiliki rambut pirang atau cokelat dengan warna mata bagaikan madu dan hazel.

Saat berjalan sambil menahan sakit, mendadak saja mata Gian mendapati kucing kecil berbulu putih bersih tergeletak sekarat di pinggir jalan. Pasti baru tertabrak motor. Tubuhnya berdarah di sana dan sini.

Tak tega melihat itu, Gian berlari turun ke jalan meski harus menerima klakson dari beberapa motor, dia tak peduli dan mengambil kucing kecil tersebut sebelum hewan malang itu benar-benar rata dengan aspal.

Tapi, ternyata si kucing masih bernapas! Maka, sambil berlari, Gian menggendong si kucing yang dia sembunyikan di balik jaketnya ke rumah. Jangan sampai dia ketahuan memasukkan kucing ke rumah atau gawat.

Langsung masuk ke kamar, Gian segera mengobati kucing itu dengan segala daya upaya semampunya.

“Gian! Kau sudah pulang?” teriak ibunya, Melinda Astrid, wanita asli Indonesia berusia 45 tahun.

“Ya, Ma!” balas Gian dan bergegas keluar sebelum ibunya yang masuk ke kamarnya.

“Sana, cuci semua pakaian!” Melinda memerintah Gian dan itu absolut, tak boleh dibantah Gian jika tak ingin dipukuli. Yah, di rumah, dia biasa diperbudak ibunya sendiri.

Maka, Gian bergegas mencuci semua pakaian orang serumah agar dia bisa segera merawat kucingnya lagi sambil menunggu waktu makan malam tiba.

Kemudian, menjelang petang, Melinda kembali berteriak, “Gian! Bantu Mama memasak! Jangan malas-malasan saja kau!”

Meski enggan, Gian tetap keluar kamar dan menjawab, “Iya, Ma!”

Pada malam harinya usai makan malam, Gian sendirian membereskan semua perkakas kotor dan meja makan sebelum dia masuk kamar. Selalu begitu. Sedangkan kedua kakak dan adik perempuan dia bisa bersantai tanpa pernah mengerjakan apapun.

Namun, begitu Gian kembali ke kamar, dia tidak menemukan kucingnya.

“Kenapa? Mencari kucing jelek? Sudah kubuang ke sungai!” Demikian Melinda berkata dengan wajah bengisnya. “Awas, ya! Berani kau memasukkan hewan ke rumah, akan kucincang nanti!”

Gian tak bisa menahan tangisnya dan berlari keluar rumah mencari si kucing. Padahal hewan itu masih terluka, kenapa ibunya setega itu?!

Akhirnya, Gian menemukan kucing kecil di bantaran sungai, tergeletak menyedihkan dan kaku, mati. Betapa kecewa dan sedihnya Gian. Dia segera membawa bangkai kucing ke sebuah kebun kosong dan menguburkannya di sana sambil berkata, “Pus, maaf, yah! Aku gagal menyelamatkanmu. Maaf,” bisiknya sambil terisak.

Malam itu, Gian terus menangis di kamarnya, meratapi nasib tragis si kucing sekaligus nasib malangnya sendiri. “Tuhan, kenapa Kau memberi takdir buruk untuk aku dan kucing itu? Hiks! Tuhan, apakah kau tidak menyayangiku?”

Kemudian, dia jatuh tertidur dan bermimpi aneh.

Di mimpinya, dia didatangi seorang kakek dengan jubah putih yang berterima kasih padanya. “Cu, terima kasih atas segala perawatan dan kasih sayangmu padaku.”

Gian tidak paham kenapa kakek jubah putih itu mengatakan demikian, karena dia merasa tidak melakukan apapun terhadap seorang kakek manapun.

Kakek jubah putih terkekeh, “He he he … supaya kau tahu, aku adalah kucing putih yang kau rawat tadi.”

“Hah?!” Gian terkesiap, tentu saja dia tidak menyangka akan itu.

Lantas, hal yang membuat Gian sangat terkejut adalah ketika si kakek menempelkan tapak tangan pada dahinya.

Setelahnya, Gian terbangun dan bersimbah peluh. Seketika, dia merasa haus, maka, dia keluar kamar dan mendapati semua lampu sudah dimatikan, jam juga sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.

Ketika hendak menjangkau lemari es, mendadak tangannya seperti tersetrum. Dia lekas tarik tangan dan beralih ke dispenser saja. Namun, kejadian itu berulang sampai-sampai dia mengira apakah peralatan di rumahnya sedang rusak? Atau korsleting?

Urung minum, dia kembali ke kamarnya.

Namun, alangkah terkejutnya dia ketika sudah duduk di kasur, dari ujung telunjuknya keluar gelombang listrik berwarna biru.

“Hah?!” Gian terkejut dan memukul pipi dan pahanya, mengira sedang mimpi atau berhalusinasi. “Auh!” Terasa sakit, berarti ini kenyataan.

Gian menatap jarinya dan ketika memikirkan mengenai listrik tadi, mendadak dari ujungnya keluar rambatan energi listrik seperti ular kecil.

Kenapa dia bisa mengeluarkan listrik dari jarinya? Apakah dia berubah menjadi mutan atau apa?!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beauty and The Mafia
8.4
Rosetta Alighieri diculik oleh Marco Botticelli, seorang mafia kejam, setelah difitnah oleh kembarannya sendiri, Caritta, mencuri kalung pusaka pria itu. Di tengah sekapan bahaya, perasaan cinta yang tak terduga justru bersemi di antara korban dan sang penculik. Saat Marco menawarkan hubungan serius, Rosetta pun didera dilema besar. Haruskah ia menerima cinta sang kriminal dan terjun ke dunia gelap penuh risiko demi perasaan yang kian tumbuh?
Sampul Novel Buku Harian Seorang Pengacara Muda
8.3
Edward Cicero, mahasiswa hukum yang ambisius, harus menghadapi ujian berat sebelum resmi menjadi pengacara. Kasus perdana yang ia tangani langsung mempertemukannya dengan musuh besar, sebuah perusahaan asuransi raksasa. Kini, Edward berada di persimpangan moral yang mengancam masa depannya. Demi memenangkan gugatan, ia dituntut melakukan tindakan kriminal. Jika menolak, ia harus menerima konsekuensi pahit didepak dari kampusnya.
Sampul Novel DENDAM CINTA
9.8
Fanila tewas dikhianati kekasihnya saat misi maut. Beruntung, ia bereinkarnasi sebagai Ziana, gadis malang yang dikucilkan keluarganya. Di hidup baru ini, ia bertekad membalas dendam pada sang mantan. Namun, situasi menjadi rumit ketika ia tahu bahwa pria yang paling ia benci itu ternyata adalah kakak kandung dari kekasih barunya sekarang. Ziana pun terjebak dilema besar antara menuntaskan misi balas dendamnya atau melindungi cinta barunya yang tulus.
Sampul Novel DENDAM INDRIANA
9.0
Dunia Indriana hancur seketika setelah pernikahan mendadaknya dengan Andi. Tak hanya kehilangan ayah tercinta, ia juga harus menghadapi kenyataan pahit menjadi janda dalam semalam. Terungkapnya perselingkuhan dan pengkhianatan keji seketika memusnahkan kepercayaannya pada cinta. Kini, putri terpandang yang terluka ini bangkit dengan kemarahan membara. Ia bertekad membalas dendam pada semua orang yang telah merusak hidupnya. Sanggupkah ia melewati ujian berat ini?
Sampul Novel Dendam seorang Janda
9.5
Kehidupan Mutia hancur setelah suaminya tewas dalam kecelakaan. Alih-alih mendapat simpati, ia malah difitnah menggoda pria beristri oleh keluarga mendiang suaminya, lalu diusir hingga mengalami insiden tragis yang merusak wajahnya. Lewat operasi rekonstruksi wajah, Mutia terlahir kembali dengan identitas baru. Kini, ia siap menuntut keadilan dan membalaskan dendamnya kepada setiap orang yang telah merusak hidupnya. Simak aksi berani Mutia dalam membalas rasa sakitnya.
Sampul Novel Kenangan Obsidian
9.3
Setelah kabur dari Kekaisaran Ezen, Asha, Kael, dan Lirien mengasingkan diri di Pegunungan Broken. Di tempat persembunyian ini, rahasia Penjaga kuno tersingkap bersamaan dengan perjuangan Asha mengendalikan kekuatan abu serta ingatan kelamnya. Di sisi lain, ancaman nyata mengintai Kael saat fisiknya perlahan mengeras menjadi batu. Di balik ketegangan antarras yang dipenuhi manipulasi dan pengkhianatan, Asha kini dihadapkan pada pilihan sulit: menjadi senjata pemusnah atau penyelamat dunia.