APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Genderang Perang Manusia Elektrokinesis

Genderang Perang Manusia Elektrokinesis

Gian selalu dirundung oleh keluarga dan teman-temannya. Hanya Alicia yang setia menemani, walau itu membuat Gian makin diintimidasi. Nasibnya berubah usai menolong seekor kucing, di mana ia mendapat kekuatan elektrokinesis dari sosok misterius lewat mimpi. Dipandu mentor berwujud tikus putih, Gian pun memulai misi balas dendam. Namun, saat dirinya dicap sebagai monster dan Alicia mulai menjauh, mampukah Gian memenangkan pertempuran ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Gian masih belum percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya, mendadak saja muncul aliran listrik dari ujung jari kanannya. Awalnya dia mengira dia masih di alam mimpi, tapi ternyata tidak.

Karena masih diliputi kebingungan, dia mencoba mengingat-ingat apa yang tadi terjadi.

Sepertinya tadi dia bermimpi aneh mengenai seorang kakek berambut dan berjenggot putih dengan jubah serba putih pula.

Hei! Bukankah tadi si kakek di mimpinya mengaku sebagai kucing kecil yang dia tolong? Ya! Kakek itu berkata demikian! Bahkan Beliau menempelkan tapak tangan ke dahi Gian.

Baru saja dia memikirkan mengenai si kakek aneh yang mengaku sebagai jelmaan kucing malang itu, mendadak saja Gian merasakan seluruh otot dan sendinya terasa sakit, bahkan semua tulangnya juga terasa berdenyut hebat, ngilu sampai ke sumsumnya.

Kenapa sekedar tidur saja bisa berakibat segila ini? Rasanya seperti ditabrak kereta atau bus, meski dia belum pernah mengalami keduanya. Amit-amit!

“Erghh … urrfhh ….” Gian berguling ke kanan dan kiri di atas kasur sambil merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Namun, ternyata itu hanya berlangsung selama sepuluh menit saja.

Setelah rasa sakitnya menghilang, Gian mulai duduk lagi di kasur, napasnya tersengal-sengal seakan dia baru lari maraton.

Mengabaikan peluh yang bercucuran dari kepalanya, Gian menatap sekali lagi tangan kanannya, memeriksa apakah ada sesuatu yang janggal di sana.

Tak ada.

Ketika hendak mengambil ponselnya untuk bermain game saja, mendadak keluar aliran listrik dari ujung telunjuknya, lalu energi itu merasuk ke dalam ponselnya di bagian yang biasa untuk diisi daya.

Hal itu menjadikan dia terkesiap takjub.

Setelah daya di ponselnya penuh dengan cepat akibat listriknya, Gian menarik jarinya yang menempel di sana, memandangi lagi telunjuk itu.

Dari sana, muncul bunyi “zztt zztt” seperti sengatan listrik diiringi pijaran biru mengular kecil-kecil menyerupai akar.

‘Sepertinya, setiap aku memikirkan listrik itu, dia keluar dari jariku,’ batin Gian. Ya, dia sudah memiliki keyakinan mengenai itu.

Kemudian, dia mengganti bajunya yang basah karena keringat agar bisa nyaman ketika rebah untuk tidur.

Sayang sekali, dia gagal memejamkan mata dan justru terus terjaga.

Dikarenakan itu, Gian jadi merenungkan hidupnya. Dia selalu mendapatkan kemalangan di manapun, tidak diterima di manapun. Hanya Alicia saja yang bersedia menjadi temannya.

Alicia. Memikirkan gadis itu menyebabkan perasaannya menghangat dan mengakibatkan senyum muncul di wajahnya tanpa dia sadari. Apakah dia menyukai Alicia?

Ahh, misalpun demikian, mana mungkin Alicia mau membalas rasa sukanya. Dia sadar diri seperti apa wujudnya, jelek dan berjerawat parah.

Gian terus memikirkan kemalangan dia dan sekaligus membayangkan Alicia yang cantik dan baik hingga tak terasa pagi sudah menjelang.

Anehnya, Gian tidak merasa lelah sama sekali. Mengantukpun tidak!

Kemudian, dia bergegas mandi dan pergi ke sekolah tanpa sarapan, seperti biasanya. Melinda malas membuatkan sarapan untuk anak-anaknya dan menyuruh mereka membeli nasi uduk di mulut gang saja.

Namun, Gian lebih suka menyimpan uang nasi uduk dan menabungnya. Makan bisa nanti siang saja di kantin.

Setelah berjalan sebentar menyusuri gang, Gian masih berjalan sampai ke perhentian angkot. Dia naik jurusan ke sekolahnya dan duduk tenang.

Saat di angkot, dia melihat dua lelaki mencurigakan. Dari sekilas pandangan saja, Gian tahu kedua lelaki itu pencopet yang biasa beroperasi di angkot.

Benar saja, salah satu lelaki yang duduk di sebelahnya sedang beraksi pada seorang ibu yang lengah.

Kesal dengan hal semacam itu, Gian secara iseng memikirkan mengenai listriknya dan menempelkan telunjuk dia ke pinggang pencopet.

Sengatan listrik langsung menusuk, mengagetkan si pencopet.

“Aduh! Sialan!” Lelaki itu kaget dan segera menoleh ke Gian diiringi tatapan bengis seolah ingin mencabik-cabik.

Gian membalas dengan sebuah senyum meringis ke lelaki itu.

Ketika Gian turun dari angkot, kedua pencopet juga ikut turun, bahkan mengikuti Gian.

Tiba-tiba, salah satu dari mereka menusukkan pisau belati ke pinggang belakang Gian. Tentu pemuda itu terkejut dan menoleh, tapi yang dia lihat justru pandangan kaget lelaki itu menatap belatinya yang sudah bengkok.

Pencopet satunya bergegas mengayunkan pisau lipat di tangan untuk disarangkan ke tubuh Gian, tapi pemuda itu lekas menangkis dengan tangan terangkat.

Segera, pisau lipat lelaki itu bengkok.

Menatap kaget kedua senjata yang justru bengkok, kedua lelaki itupun memandang ngeri ke Gian dan berlari menjauh.

Tinggallah Gian kebingungan. Ada apa dengan mereka? Atau … ada apa dengannya? Gian menatap kedua tangan, memeriksa pinggang, semuanya baik-baik saja, tidak tergores dan tidak terasa sakit.

Masih bertanya-tanya mengenai itu, dia melanjutkan langkahnya ke sekolah.

Tiba di kelas, seperti biasa, banyak temannya mengerubungi dia hanya untuk dipinjami PR, dan bila beruntung, mereka bisa menyuruh Gian menyalinkankannya untuk mereka.

“Hei! Burik! Pinjam PR bahasa Inggrismu!”

“Bule palsu sudah datang! Sini! Sini! Mana PR kamu?”

“Oi, bule burik, salinkan PR untukku, yah! Nih!” Seorang gadis melemparkan buku tugasnya ke Gian ketika pemuda itu baru saja menaruh pantat di bangkunya.

“Aku sekalian!” Siswa lain juga melemparkan bukunya ke Gian.

“Kalian ini! Kenapa malah menyuruh Gian menuliskan PR kalian? Sudah bagus kalau dia membiarkan kalian mencontek pekerjaannya, ini malah diberi hati minta jantung dan paru-paru!” Alicia sudah muncul di ambang pintu kelas, berkacak pinggang, dan melihat Gian sudah dikerumuni untuk dimanfaatkan, sungguh pemandangan sehari-hari.

Mengabaikan teman-teman kelasnya bergumam dan kesal dengan tindakan Alicia, gadis itu menarik tangan Gian dan mereka keluar kelas.

“Cia, mau ke mana?” Gian bingung, tapi tidak berani menolak. Diapun pasrah mengikuti ke mana Alicia membawanya, padahal ada banyak pasang mata memandang ke mereka.

Mereka tiba di kebun belakang sekolah dan Alicia berkata, “Bantu aku memetik kersen, yah!”

Maka, keduanya mulai sibuk mengambil buah kersen di sana. Gian melihat wajah Alicia yang gembira, terutama ketika gadis itu menyesap buah kersen matang berwarna merah tua.

“Gian, kenapa kamu selalu saja memanjakan mereka?” tanya Alicia sembari tangannya lincah memetik kersen dan ditaruh ke saputangannya.

“Aku ….” Gian bingung harus memberi jawaban apa, dia tentunya tak menyukai dirinya ditindas dan dimanfaatkan, tapi bila melawan, hasilnya adalah memar dan pukulan.

“Kau harus melawan, Gian! Jangan terus menuruti keinginan mereka!”

“Itu … akan aku usahakan.”

Lalu, keduanya duduk di bangku beton dekat pohon kersen.

“Gian, apa kau tak sakit hati dengan perlakuan orang padamu selama ini? Kalau aku dibegitukan, tentu akan marah dan tak terima.”

“Aku tidak ingin memperpanjang masalah, Cia.”

“Oh ya, namamu berbau Eropa, apa kau punya darah keturunan Belanda atau Italia?” Alicia sembari membuang kersen yang sudah selesai dia isap habis airnya.

“Jerman. Aku memiliki darah Jerman, dan juga Indonesia.”

“Siapa yang orang Jerman?”

“Papaku.”

“Dia bekerja di Indonesia?”

Gian menggeleng. “Namanya Jansen Aldrian Bergmans. Kata mama, dia keturunan Jerman dan Belanda. Dia sudah kembali ke negaranya.”

“Oh! Kenapa?” Alicia berhenti mengisap kersen dan fokus menatap Gian.

Gian diam sejenak, patutkah dia membeberkan aib ayahnya?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CANDIKALA
9.2
Hidup Halimah berubah mencekam saat ia tiba-tiba mampu melihat dimensi gaib mengerikan dan para calon tumbal yang terancam mati. Kemampuan misterius ini membawanya pada dilema batin yang gelap: apakah ia harus ikut memburu tumbal demi bertahan hidup? Di tengah teror yang terus mengintai, Halimah harus berjuang keras mengungkap rahasia kutukan kuno tersebut sekaligus menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut.
Sampul Novel Lenyap Bersama Kenangan
9.1
Setelah kematian tragis Ridho yang menyelamatkan nyawanya, rahasia besar terungkap melalui buku harian peninggalannya. Ridho ternyata mencintai wanita lain bernama Yolanda saat hilang ingatan, namun dipaksa menikahinya. Di tengah kemarahan mertua yang menyalahkannya atas kematian Ridho, sang istri memilih mengakhiri hidup. Namun, ia justru terbangun kembali di masa lalu saat Ridho baru pulang dari desa nelayan. Kali ini, ia memutuskan untuk merelakan suaminya bersatu dengan cinta sejatinya.
Sampul Novel LINTANG Telik Sandi 69 - Prahara di Tanah Kematian
8.4
Demi menggali petunjuk penting, agen elite Telik Sandi 69 bernama Lintang rela memakai daya pikatnya untuk menjebak Bernardo yang mesum. Namun, ini barulah awal dari misi kerajaan yang jauh lebih besar. Bersama empat rekannya, Lintang dikirim untuk mengusut teror mencekam di Benua Swarna Dwipa. Penyelidikan menuntun mereka ke Tanah Kematian, sebuah area kejam tanpa hukum. Di sana, mereka harus menghentikan konspirasi gelap yang mengancam eksistensi umat manusia di Jagad Mayapada.
Sampul Novel Omega yang Ditolak: Kesempatan Kedua Bersama Sang Raja
9.2
Tujuh tahun aku menderita setelah ditolak Alpha Kaelan Adhitama yang lebih memilih Livia. Tragisnya, saat tuduhan pencurian palsu menyerangku, Kaelan justru mempermalukan dan mengurungku di sel perak. Pengkhianatan kejam ini menghancurkan ikatan kami sekaligus memadamkan seluruh harapanku. Namun, usai bebas, seorang Alpha musuh datang menawarkan peluang besar untuk membalas dendam. Kini, aku siap meruntuhkan kerajaan Kaelan demi menebus segala rasa sakit di masa lalu.
Sampul Novel Penguasa Dewa Naga
7.9
Akara menjadi bahan cemoohan dan dicap tidak berbakat akibat kegagalannya memadatkan energi aura di fase pembukaan ranah. Meski begitu, ia pantang menyerah dan siap melampaui kaum genius dengan usahanya sendiri. Di balik itu, ia menyimpan identitas rahasia sebagai Penguasa Dewa Naga pengendali waktu yang sangat disegani para Dewa. Perjalanan epik Akara untuk menguasai alam semesta dan memimpin eksistensi tertinggi pun dimulai.
Sampul Novel Terjerat Pesona Vampir Tampan
8.2
Setiap malam, Shada didatangi sesosok vampir tampan bermata merah yang memberi sentuhan sensual dan kasih sayang mendalam di alam mimpi. Meski statusnya sudah bertunangan, pesona makhluk abadi itu terus mengusik kesetiaannya. Dilema batin pun mulai menyiksa Shada akibat gairah terlarang yang begitu nyata tersebut. Kini, ia berada di persimpangan jalan dan harus segera memilih antara komitmen di dunia nyata atau godaan fantasi sang vampir.