APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Liar Pembantu Lugu

Gairah Liar Pembantu Lugu

Pasca-perceraian akibat hasrat yang tak terpenuhi, Valdi menjalani hidup yang terasa kosong. Kehadiran Mayang, gadis lugu anak mendiang pelayannya, menjadi celah bagi muslihat Valdi. Dengan memanfaatkan kepolosan Mayang, pria berpengalaman ini berniat memuaskan gairah terpendamnya. Mayang yang naif kini terjebak dalam manipulasi dan permainan dewasa yang penuh risiko. Akankah ia sanggup menyelamatkan diri, atau justru selamanya terbelenggu dalam jerat kendali Valdi?
Bab
Bagikan

Bab 2

Suasana di rumah sakit terasa suram, dengan keheningan yang hanya sesekali dipecahkan oleh langkah-langkah kaki perawat. Valdi duduk di kursi ruang tunggu, menatap kosong ke depan, sementara di sebelahnya Mayang menangis tersedu-sedu, tubuhnya bergetar dalam kesedihan yang mendalam.

"Ibu... kenapa harus sekarang?" suara Mayang pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangisnya.

Valdi menatapnya dengan penuh simpati, hatinya terasa berat.

"Mayang... om turut berduka," katanya lembut, mencoba menghibur gadis yang kini menjadi yatim piatu.

"Kenapa harus seperti ini, Om Valdi?" Mayang meratap, wajahnya basah oleh air mata.

"Kenapa Ibu harus pergi? Aku... aku sekarang sendirian..." Tangisnya semakin keras, dan Valdi merasakan dorongan kuat untuk menenangkannya.

"Om tahu ini berat, Mayang. Ini nggak adil, tapi kamu nggak sendirian. Ibumu... dia sudah berjuang sekuat tenaga," ujar Valdi sambil menghela napas panjang.

Mayang menggeleng pelan, air mata terus mengalir di pipinya.

"Kenapa harus seperti ini? Mereka bilang... karena COVID, pemakamannya tanpa keluarga... aku nggak bisa ada di sana..."

Valdi merasakan simpati yang mendalam. Dia tahu bahwa situasi ini bukan hanya tentang kehilangan, tapi juga tentang kesepian yang tiba-tiba menghantam gadis muda ini.

"Mayang, om benar-benar minta maaf. Kalau saja ada cara lain..."

Kerabat Ibu Retno, seorang wanita tua yang terlihat lelah, mencoba menenangkan Mayang, tapi air mata juga membasahi pipinya.

"Mayang... kita nggak bisa berbuat banyak. Ibumu dimakamkan sesuai aturan. Itu yang terbaik yang bisa kita lakukan." katanya, suaranya gemetar.

Mayang hanya bisa mengangguk, meski jelas rasa sakit itu terlalu besar untuk ditahan.

Kerabat Ibu Retno, mengalihkan perhatiannya kepada Valdi.

"Pak Valdi," katanya lembut, "Mayang dibesarkan di desa terpencil bersama neneknya. Sejak kecil, Mayang telah bertanggung jawab merawat neneknya yang sudah tua dan sakit."

Valdi menatap penuh perhatian, terus mendengarkan kisah yang mengungkap lebih dari sekadar kehilangan.

"Hingga usianya yang sekarang, Mayang bahkan belum pernah mengenal internet," ujar wanita tua itu dengan nada prihatin, menatap Valdi seolah berharap ia bisa memahami betapa terisolasinya kehidupan Mayang.

"Hidupnya dipenuhi oleh alam dan kebiasaan desa, dan dia tak begitu mengerti pergaulan seperti di kota-kota besar. Dia jarang sekali berinteraksi dengan teman sebaya, karena setiap hari habis untuk merawat neneknya."

Wanita itu menarik napas dalam, suaranya bergetar saat melanjutkan, "Kami sangat prihatin, bagaimana dia akan menghadapi semua ini sendirian." Matanya yang lembut menatap Valdi, memohon pengertian dan mungkin sedikit bantuan untuk gadis yang polos itu.

Valdi terdiam sejenak, berpikir keras. Dia tahu bahwa kehidupan Mayang akan menjadi lebih sulit tanpa Ibu Retno.

"Mayang," katanya akhirnya, "Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di rumah om. Kamu bisa kerja di sana, gantiin posisi Ibumu. Om tahu ini nggak mudah, tapi kamu perlu tempat tinggal dan pekerjaan."

"Mayang, ini kesempatan baik. Kamu tahu, aku tidak bisa menanggungmu, dan nenekmu juga tidak." kata kerabat Bu Retno sambil menepuk bahu Mayang dengan lembut.

"Aku nggak mau merepotkan Om Valdi." ujar Mayang sambil mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

"Kamu nggak merepotkan," jawab Valdi dengan lembut. "Kamu butuh tempat tinggal dan om butuh bantuan. Lagipula, ini cara paling sedikit yang bisa om lakukan buat Ibumu." kata Valdi dengan tegas namun penuh empati.

Secara refleks, Mayang memeluk Valdi erat, air matanya masih mengalir.

"Terima kasih, Om Valdi... terima kasih banyak..." isaknya, suaranya terdengar begitu putus asa dan penuh rasa syukur.

Valdi sedikit tersontak ketika merasakan tubuh Mayang yang menempel padanya, terutama dada Mayang yang kini bersentuhan dengan tubuhnya. Sensasi hangat dan lembut itu membuat pikirannya berkelana sejenak, memunculkan pikiran nakal yang seharusnya tidak dia miliki di saat seperti ini. Dia memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir bayangan yang tiba-tiba muncul dalam benaknya.

Astaga, ini nggak seharusnya terjadi... batinnya. Valdi sadar bahwa Mayang hanyalah seorang gadis muda yang lugu, dan dia harus menjaga diri dari membiarkan pikirannya melenceng. Namun, detak jantungnya tak bisa dipungkiri, berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Sssh... tenang, Mayang," bisiknya, sambil menepuk lembut punggung gadis itu, berusaha menenangkan meskipun pikirannya masih sedikit kacau.

Mayang semakin erat memeluk Valdi, dia berusaha sebaik mungkin untuk fokus pada rasa simpati yang tulus, . Namun, pikiran mesumnya mulai mengganggu kesadarannya. Di tengah kehangatan tubuh Mayang yang memeluknya, naluri kelakian Valdi kian menggelora.

***

Langit senja telah berubah menjadi gelap saat Mayang tiba di rumah Valdi, sebuah rumah besar dengan arsitektur modern yang megah. Sebuah kontras mencolok dari kehidupan sederhana yang biasa dia jalani di desa. Cahaya lampu yang hangat memancar dari jendela-jendela besar, menciptakan suasana yang mengundang namun juga sedikit menakutkan bagi Mayang. Dia pernah datang ke rumah ini ketika berusia 12 tahun, namun kali ini, situasinya berbeda. Bukan kunjungan singkat, melainkan tempat tinggalnya yang baru.

Valdi mengangkat tas Mayang dan membawanya masuk ke dalam rumah.

“Mayang, ayo masuk, anggap saja rumah sendiri” katanya dengan senyum tipis. Dia memimpin Mayang melalui ruang tamu yang luas, dindingnya dihiasi dengan seni modern yang mahal, dan furnitur yang terlihat nyaman namun elegan.

Mayang berjalan di belakang Valdi dengan langkah ragu, matanya melirik ke sekeliling dengan perasaan campur aduk. Rumah ini terasa begitu besar dan asing baginya, meski pernah dia kunjungi, namun kali ini berbeda.

“Terima kasih, Om,” jawabnya pelan, suaranya hampir tenggelam dalam kesunyian rumah itu.

Valdi berhenti di depan sebuah pintu di lantai atas.

“Ini kamar kamu, Mayang. Dekat dengan kamar om, jadi kalau ada apa-apa, kamu tinggal panggil aja, ya.” Dia membuka pintu, memperlihatkan sebuah kamar yang cukup luas dengan jendela besar menghadap taman. Sebuah tempat tidur ukuran queen yang nyaman, lemari besar, dan meja rias menghiasi kamar itu.

Mayang mengangguk, tetapi ada sedikit keraguan di wajahnya. “Om, kalau boleh, aku mau tidur di kamar ibu aja. Di kamar ini terlalu besar dan… kayaknya aku nggak cocok.”

Valdi mengerutkan kening, merasakan keengganan gadis itu. “Kamar ibu kamu kecil banget, Mayang, dan posisinya di ujung rumah. Om nggak tega lihat kamu harus tinggal di situ. Lagipula, di sini lebih nyaman buat kamu.”

Mayang terdiam, menimbang-nimbang. Dia merasa tidak enak hati menerima kamar yang begitu mewah, apalagi kamar ibunya di ujung rumah terkesan lebih aman dan nyaman. Namun, melihat ekspresi Valdi yang penuh perhatian, dia mengalah.

“Baiklah, Om. Aku tidur di sini aja,” katanya akhirnya, suaranya lembut namun masih terdengar sedikit ragu.

Valdi tersenyum, merasa lega. “Kamu bakal nyaman di sini, percayalah.”

Malam itu, setelah makan malam yang hening dan canggung, Mayang kembali ke kamarnya. Suara air di kamar mandi Valdi yang bersebelahan membuatnya merasa sedikit canggung, menyadari betapa dekatnya dia dengan pria yang jauh lebih tua darinya. Dia duduk di tepi tempat tidur, meremas-remas ujung selimut, merasa gelisah.

Sementara itu, Valdi selesai mandi dan berjalan ke kamarnya. Dia merasa ada sesuatu yang aneh malam itu—seperti ada aura ketegangan yang menggantung di udara. Entah itu karena kehadiran Mayang yang kini tinggal di rumahnya, atau karena dia masih belum bisa menghilangkan pikiran-pikiran nakal yang sempat muncul saat Mayang memeluknya di rumah sakit.

Valdi menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu, namun bayangan tubuh Mayang yang hangat dan lembut terus membayangi benaknya. Sambil mengenakan celana tidur, dia keluar dari kamar mandi, dan berhenti sejenak di depan pintu kamarnya, mendengarkan. Dia bisa mendengar langkah-langkah kecil Mayang di kamarnya, tanda bahwa gadis itu juga belum tidur.

Valdi merasa dorongan aneh untuk mendekati pintu kamar Mayang, bahkan mungkin mengetuknya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cincin Kawin Berukir Nama Lain
8.6
Tujuh tahun lamanya aku dipaksa menjadi penulis bayangan untuk Zara, adik angkatku, demi menuruti keinginan suamiku, Permadi. Puncak pengkhianatan terjadi saat Permadi merebut penghargaan milikku demi Zara yang sedang mengandung. Kenyataan pahit terungkap ketika aku menemukan nama Zara terukir di cincin kawinku. Sadar hanya dimanfaatkan, aku memalsukan kematian dalam kecelakaan pesawat untuk membalas dendam. Kini, aku siap menghancurkan mereka lewat bukti plagiarisme Zara.
Sampul Novel Guruku Suamiku
8.4
Demi menyelamatkan warisan keluarga Darmawan, Arjuna harus memenuhi wasiat mendiang ayahnya untuk menikahi Asmara, siswi SMK berumur 17 tahun. Penolakan akan membuatnya kehilangan segalanya, sementara ayah Asmara, Pak Banu, terancam bui akibat kasus kecurangan bisnis masa lalu. Kini, Arjuna harus membujuk gadis muda tersebut agar bersedia menikah demi masa depan mereka berdua. Mampukah pernikahan akibat paksaan ini berjalan dengan lancar?
Sampul Novel Kakak Iparku, Pengagum Rahasiaku
8.1
Niat seorang istri memberi kejutan intim untuk suaminya di asrama proyek konstruksi berubah menjadi situasi menegangkan. Setelah melepas pakaian dan bersembunyi di lemari, bukan suaminya yang datang, melainkan tiga rekan kerjanya. Ketiga pria itu justru terangsang oleh pakaian dalam yang tertinggal dan melampiaskannya pada bibi koki di sana. Menyaksikan adegan panas tersebut, sang istri ikut terangsang hingga tanpa sadar mendesah. Seketika, pandangan ketiga pria itu langsung tertuju ke arah lemarinya.
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Kekasih yang Dicemooh
9.1
Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran finansial, Johanna terpaksa menjadi wanita simpanan Carson. Sempat dimanjakan, ia sangat terluka setelah menyadari dirinya cuma alat dalam rencana licik pria itu. Johanna akhirnya pergi untuk membangun kehidupan baru yang mandiri. Saat mereka kembali dipertemukan, Johanna telah menjelma menjadi sosok tangguh yang didekati banyak pria. Carson yang dirundung penyesalan memohon kesempatan kedua, tetapi Johanna menolaknya dengan dingin karena mengaku telah menikah.
Sampul Novel Kubalas Kesombongan Ipar Dan Mertuaku
9.0
Menikahi pria dari keluarga kaya justru menjadi awal penderitaanku. Mertua dan ipar yang licik memperlakukanku layaknya budak, bahkan terus menghina latar belakangku yang hanya lulusan SMA. Namun, aku menolak untuk terus ditindas. Setelah berhasil menemukan jalan menuju kesuksesan finansial yang luar biasa, kini saatnya aku bangkit. Aku siap membalas setiap perlakuan buruk mereka dan membungkam kesombongan keluarga suamiku dengan keberhasilanku.
Sampul Novel Pembantu dan pewaris muda
8.5
Demi melunasi utang ayahnya, Amelia bekerja keras di kediaman mewah keluarga De la Vega. Nasibnya berubah saat Luciano, sang pewaris yang angkuh, mulai terpikat padanya. Hubungan tersembunyi pun terjalin di balik perbedaan kasta sosial mereka. Namun, sebuah skandal besar kini mengancam harga diri Amelia. Di tengah badai ini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan cintanya pada Luciano, atau pergi demi melindungi sang adik dan calon bayinya.