APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Cinta Senior

Gairah Cinta Senior

Demi masa depan, Diana rela menolak cinta Arga meski keduanya saling memendam rasa sejak lama. Namun, keteguhan hatinya goyah saat mulai kuliah. Di kala Arga terus berjuang mendekatinya dari jauh, Diana justru dipertemukan dengan Bara. Senior galak berlabel bad boy itu mulai memperlihatkan ketertarikan padanya. Kini Diana bimbang, harus bertahan pada komitmen masa lalu atau hanyut dalam gairah baru yang menantang.
Bab
Bagikan

Bab 2

Arga langsung diam ketika ia mendengar jawaban Diana. Lebih tepatnya tercengang seperti melamun.

"Sekarang, bisa gue minta novel itu?" tanya Diana dengan mudah.

"Sejak kapan lo suka gue?" tanya Arga akhirnya.

Diana berdecak dan melipat kedua tangannya di dadanya. "Lo sengaja memperlambat, ya?"

"Jawab aja, Di."

"Sejak kelas 10. Sama kayak lo," jawab Diana tanpa malu.

"Dan lo baru bilang sama gue sekarang?"

"Lo juga kan, Ga? Kita sama. Udahlah, ya ... Lagian nggak akan ada artinya juga. Toh, gue tolak lo," sambar Diana langsung.

Arga langsung memberikan novel itu pada Diana dan Diana menerimanya seraya memeriksa novel itu apakah ada cacat atau tidak.

"Sorry, Ga. Gue duluan," ucap Diana dan berlalu darinya.

Jantung Diana berdetak lebih cepat saat ia keluar perpustakaan. Ia langsung menuju toilet perempuan dan mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.

Perlahan ia memejamkan matanya dan mengingat kejadian barusan. Akhirnya ia jujur juga pada Arga walau hanya karena novel yang sudah di tangannya.

'Sial! Bakal jadi semakin canggung nanti!' rutuknya dalam hati.

Saat ia melihat geng Laura masuk ke dalam toilet, Diana pun beranjak pergi. Sayangnya, geng Laura mencegahnya dengan wajah mereka yang menyerupai wanita-wanita jahat.

"Lo nggak beneran nggak terima cintanya Arga, kan?" tanya Laura dengan suara yang dibuat-buat.

"Penolakan kemarin emangnya nggak cukup buat lo lihat?" tanya Diana kesal.

Laura tersenyum puas sambil memainkan rambutnya yang diputar-putar dengan jemarinya.

"Yah, cukup sih. Gue cuma mau mastiin dari lo sendiri aja."

"Minggir kalau gitu!" bentak Diana seraya menepis tubuh geng Laura yang menutupinya.

Beberapa dari mereka mengaduh namun tidak berani untuk mengejar Diana. Diana memang wanita berani dan disegani di kalangan para perempuan di sekolahnya.

Diana bahkan dua kali berturut-turut dinobatkan menjadi sie atau seksi keamanan dalam organisasi OSIS. Sebenarnya ia tidak mau, tapi karena para senior dan guri melihat karakter-karakter siswa, kebetulan sekali Diana sangat cocok pada bidang itu.

Di kelas 12 sekarang, jabatannya sudah dipindahtangankan pada adik kelasnya. Sehingga semua siswa yang kelas 12 bisa berkonsentrasi pada ujian nasional mereka.

Diana masuk ke dalam kelasnya saat semua sudah masuk. Ia tidak berhasil membaca novel itu lebih awal karena waktunya dimakan oleh Arga saat di perpustakaan.

Arga hanya menatapnya dalam diam membuat Diana sedikit risi dan merasa canggung.

Bunyi bel istirahat membuat Diana senang karena ia akhirnya bisa leluasa membaca novel yang ia dapati. Ia juga menolak ajakan teman-temannya ke kantin dan memilih berada di dalam kelas saja.

Tiba-tiba Arga muncul dengan membawa sekantong plastik berisikan makanan.

"Buat lo. Gue lihat di kantin lo nggak ikut teman-teman lo. Jadi, gue inisiatif beliin lo makanan," ucap Arga.

Belum sempat mengucapkan terima kasih, Arga sudah berlalu darinya. Mungkin karena ia tidak ingin mengganggu Diana atau membuat Diana merasa malu jika sampai teman-temannya tahu mereka terlihat dekat.

Bagaimana pun, Diana diajarkan sopan santun sama orang tuanya. Karena ia enggan mengucapkannya langsung, Diana mengirimkan pesan pada Arga. Kebetulan ia punya nomor Arga karena sesekali anak itu sering meneleponnya malam-malam saat sebelum Arga mengungkapkan perasaannya.

Waktu memang berlalu begitu cepat. Tidak terasa sekolah pun usai dan semuanya kembali pulang ke rumah.

Diana menunggu sopirnya menjemputnya dan teman-temannya tidak bisa menemaninya lantaran mereka semua punya kesibukan masing-masing.

Sambil menunggu jemputan, Diana memilih membaca novel tadi di depan sekolah.

Selama beberapa menit hanyut dalam cerita, Diana sampai tidak tahu bahwa ada seseorang yang duduk di hadapannya memandangnya.

"Kenapa sih, lo bisa secantik ini?" suara yang Diana kenal, membuatnya terkejut.

"Astaga!" ia berseru sambil memandang kanan dan kirinya.

"Nggak ada siapa pun. Santai aja, sih," timpal Arga saat ia tahu bahwa Diana sedang memastikan keadaan.

"Duh! Kenapa di sini, sih? Pakai gombal segala!"

Arga terkekeh geli. Ia melepas helmnya dan menaruhnya di sampingnya.

"Pulang bareng gue aja, yuk?" tawar Arga.

"Nggak. Sopir gue pasti jemput. Dia lagi kena macet aja," tolak Diana. Sebenarnya ia tidak tahu kenapa sopirnya lama sekali datang menjemputnya. Jadi, sebisa mungkin Diana memberi alasan pada Arga agar bisa menolaknya.

"Ya, udah ... Gue temani lo."

"Nggak usah, Ga. Lo bisa pulang duluan aja."

"Dan ngebiarin cewek yang gue suka sendirian? Sorry ... No way!" tolak Arga.

Diana menghembuskan nafasnya. Ia lalu memasukkan novelnya ke dalam tasnya.

Diliriknya Arga yang sibuk dengan ponselnya. Diana pun ikut-ikutan memainkan ponselnya agar suasana tidak terasa canggung.

"Setelah lulus, lo kuliah, Ga?" tanya Diana tiba-tiba.

Arga langsung memalingkan matanya pada Diana. Ia kemudian memasukkan ponselnya ke saku celana sekolahnya.

"Iya. Kuliah. Kayaknya, sih ... Nggak tahu, gue nggak yakin."

"Kok nggak yakin?"

"Bokap maunya gue langsung kerja di kantornya. Lah, gue mana mau! Gue maunya kuliah dulu, ya kalau rezekinya sukses, gue merintis deh jadi pengusaha," jelas Arga. "Kalau nggak ya kuliah sambil kerja," sambungnya.

Diana mengangguk-anggukan kepalanya. "Gue dengar-dengar, bakalan capek tuh, kalau kuliah sambil kerja."

"Kan, dengar-dengar, cantik ... Belum juga nyoba. Dicoba dulu aja, kalau emang capek, ya tetap dilanjut. Lagian kalau sampai berhenti di tengah jalan, kebayang nggak betapa tanggungnya, emannya uang yang udah dipakai atau otak yang udah setengah bekerja?" terang Arga sambil berdecak

Diana terkekeh geli mendengar balasan Arga. Arga memang orang yang sangat realistis. Sampai-sampai ia bahkan sudah memikirkan hal ke depannya.

"Cantik juga kalau ketawa," puji Arga lagi.

"Berhenti puji orang, ah!"

"Emang cantik. Eh, terus lo gimana? Kuliah? Kuliah dong, ya?" tanyanya balik.

Diana mengangguk. "Bener. Gue harus kuliah. Tuntutan nyokap, tapi dikasih kebebasan mau pilih jurusan apa pun yang gue suka."

Arga mengacungkan kedua jempolnya pada Diana sebagai tanda 'bagus'. Ia mendukung apa pun yang diinginkan Diana.

"Ga ... Gue mau tanya deh, sama lo," tiba-tiba nada suara Diana berubah serius.

"Apa?"

"Sebenarnya, apa sih, yang lo suka dari gue? Padahal banyak yang cantik. Kayak Laura itu, menurut gue di atas gue, loh."

Arga diam sejenak. Kemudian ia menghela nafasnya. "Kan gue udah pernah bilang. No reason. Dan, tingkat kecantikan seseorang itu juga berbeda, Di. Lo bisa bilang Diana cantik, tapi menurut gue nggak. Lagian, yang gue lihat juga bukan cuma cantiknya doang kali."

"Kalau nggak ada alasan, itu artinya—"

"Cinta dan sayang. Iya, gue emang cinta dan sayang lo. Sesederhana itu. Nggak mungkin sejak kelas 10 gue terus-terusan suka sama lo. Perasaan itu jadi berubah. Gue udah jatuh cinta sama lo, Di," potong Arga dengan jelas.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Jaminan Tuan Max
7.8
Hera mengira hidupnya tak bisa lebih buruk lagi, sampai sang ibu terjerat utang pada Max, rentenir yang dikenal sangat kejam. Akibatnya, Hera disandera sebagai jaminan pelunasan utang tersebut. Batas waktu yang terus berjalan membuat posisinya kian terdesak. Jika ibunya gagal melunasi kewajiban itu tepat waktu, nasib mengerikan telah menanti Hera. Mampukah ia bertahan hidup dalam cengkeraman kekuasaan penuh Max yang dingin?
Sampul Novel Gairah Liar Setelah Menikah
9.6
Kebahagiaan seorang miliarder membubung setelah berhasil menikahi wanita muslimah impiannya. Namun, baru satu pekan berjalan, sang istri mulai merasa kewalahan menghadapi hasrat suaminya yang begitu membara. Pria itu kerap meminta bermesraan di berbagai tempat, mulai dari ruang tamu hingga area dapur saat istrinya memasak. Sempat menolak karena sibuk, ia akhirnya pasrah pada keinginan suaminya. Ketangguhan sang suami yang luar biasa pun membuatnya lemas tak berdaya.
Sampul Novel Kegilaan di Kolam Ikan
9.2
Niat hati ingin memberikan kejutan panas di hari ulang tahun sang kekasih dengan meminum obat perangsang, rencana perempuan ini justru berantakan ketika pasangannya tak kunjung pulang. Di tengah keputusasaan akibat efek obat yang mulai membakar tubuhnya, ia terpaksa menanggalkan seluruh pakaian dan melompat ke kolam ikan demi mendinginkan diri. Saat tubuhnya dikerumuni ikan dan kesadarannya hampir hilang, seorang pria asing tiba-tiba muncul dan melontarkan sindiran yang mengejutkan.
Sampul Novel Last Twilight
8.5
Senja Aluna selalu bingung dengan sikap dingin kedua orang tuanya. Saat adiknya sakit keras, ia malah menjadi pelampiasan amarah sang bunda. Beruntung, ada Dilan, sahabat setia yang selalu melindunginya di tengah kehampaan kasih sayang keluarga. Namun, hidup Senja kian goyah saat takdir mengancam akan memisahkan Dilan darinya. Di ambang keputusasaan, Senja hanya mendambakan pelukan hangat dan perhatian tulus ibunya. Akankah impian sederhana itu terwujud?
Sampul Novel The Tears I Shed
9.4
Orlando Atmanegara, polisi senior, ditugaskan melindungi Candramaya Daniswara. Maya, mantan istri pengusaha yang dulu berwatak buruk, mengalami amnesia setelah lolos dari upaya pembunuhan. Ingatannya yang hilang mengubahnya menjadi sosok lembut bak malaikat. Perubahan drastis ini membingungkan Orlando, sekaligus memicu penyesalan sang mantan suami, Nayaka Bratadikara, yang jatuh cinta lagi. Di tengah ancaman yang mengintai, Maya kini berjuang menjaga kehormatan dirinya.
Sampul Novel The Unshackled: Pembalasan Seorang Peretas
8.7
Di malam ulang tahunnya, Eliana Walker mencari Lucien Lane, tetapi ia justru menghadapi kenyataan pahit di kantor polisi. Lucien menghina dan merasa terbebani oleh kelumpuhan Eliana selama sepuluh tahun. Sakit hati oleh ucapan kejam dan luka fisik, Eliana bangkit melawan. Sebagai pemimpin kelompok peretas Anonymous, ia mencabut seluruh proteksi perusahaan Lucien dan mengundang peretas dunia untuk meruntuhkan sistem keamanan Lane Corporation.