APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Cinta Senior

Gairah Cinta Senior

Demi masa depan, Diana rela menolak cinta Arga meski keduanya saling memendam rasa sejak lama. Namun, keteguhan hatinya goyah saat mulai kuliah. Di kala Arga terus berjuang mendekatinya dari jauh, Diana justru dipertemukan dengan Bara. Senior galak berlabel bad boy itu mulai memperlihatkan ketertarikan padanya. Kini Diana bimbang, harus bertahan pada komitmen masa lalu atau hanyut dalam gairah baru yang menantang.
Bab
Bagikan

Bab 3

Diana tidak bisa berhenti memikirkan Arga yang semakin hari semakin benar-benar membuktikan pada dirinya bahwa ia memang sudah mencintainya. Diana hanya bisa diam tanpa membalas apa yang Arga lakukan untuknya. Ia hanya tidak ingin memberikan harapan palsu untuk Arga.

Sampai akhirnya ketika mendekati hari kelulusan dan semua kelas 12 diliburkan seraya menunggu datangnya surat pengumuman kelulusan ke rumah mereka, menjadi waktu yang tepat untuk Diana menghindari Arga.

Diana juga berpesan pada pembantunya mau pun Paula, Ibunya, untuk mengatakan bahwa ia tidak ada di rumah jika Arga datang ke rumahnya. Setidaknya Diana akan menemuinya seminggu sekali lalu akan menjadi terlihat sibuk seolah tidak di rumah.

"Yah, nggak ada ya, Tante? Hmm ... kalau begitu, bisa titip ini, Tante?" Arga tampak kecewa ketika ia tahu bahwa Diana sedang tidak ada di rumah.

Paula sebenarnya kasihan melihat Arga yang hampir setiap hari datang ke rumah Diana hanya untuk sekadar berkunjung menemuinya.

"Apa ini, Arga?" tanya Paula.

"Itu novel-novel kesukaan Diana, Tante. Setelah saya perhatikan, Diana suka membaca novel terjemahan ya, Tante?"

Arga tersenyum walau senyum itu terasa hambar ketika dilihat.

"Iya, Arga ... Diana suka banget sama novel-novel terjemahan. Makasih, ya. Nanti biar Tante bilang ke dia."

"Ya, sudah kalau begitu saya pamit pulang ya, Tante."

Arga menyalami Paula untuk memberikan rasa hormatnya dan ia meninggalkan rumah Diana dengan perasaan yang benar-benar kecewa.

Paula langsung menyerahkan sekantong plastik pemberian Arga pada putrinya itu. Diana langsung melihatnya dan tersenyum senang ketika melihat isinya.

"Diana, kamu udah besar. Mama nggak melarang kamu dekat dengan cowok selagi hubungan itu sehat, tapi kalau kamu begini terus terhadap Arga, kasihan dia, Sayang," jelas Paula pada Diana.

Diana tahu Paula tidak akan memarahinya jika ia dekat dengan laki-laki sebayanya. Tapi Diana sendiri sudah punya prinsip bahwa ia hanya akan pacaran ketika menghasilkan uang sendiri.

"Iya, Ma. Aku tahu. Tapi kan, setiap orang punya prinsip tersendiri, Ma."

"Dan memangnya apa prinsipmu?" sambar Paula bertanya. Kedua tangannya terlipat di dadanya menatap Diana.

Diana sebenarnya malu mengatakan prinsip atau pun alasannya itu kepada Paula. Ia tidak seintens itu untuk berbagi cerita. Tapi mau tidak mau, Diana harus mengatakannya.

"Aku mau pacaran saat aku bisa menghasilkan uang sendiri, Ma. Aku nggak mau, ya, pacaran pakai uang orang tua!" jelasnya dengan tekad yang kuat.

Paula menggeleng-gelengkan kepalanya menatap putri semata wayangnya itu. "Terus langkahmu buat menghasilkan uang itu bagaimana, Diana?"

Kali ini Diana tidak menjawab. Ia belum kepikiran sampai ke sana. Yang ia pikirkan, lulus kuliah lalu bekerja dan memiliki uang atas hasil kerjanya.

"Belum kepikiran, kan? Mama cuma mau bilang, jangan menyesal untuk sesuatu yang peluangnya sudah kelihatan. Pikirkan, OK?" Paula menasihatinya dan kemudian pergi ke dapur meninggalkan Diana.

Nasihat Paula benar-benar menghantui Diana sepanjang hari.

Di satu sisi, Diana memang tidak bisa memungkiri bahwa ia menyukai Arga. Di sisi lain, ia tidak ingin berpacaran atau mengarah ke hal yang serius. Masih ada beberapa hal yang Diana sendiri ingin lakukan di masa lajangnya.

Semua membuat pikiran Diana mendadak jadi keruh. Ia pun memutuskan untuk jalan-jalan bersama ketiga temannya, Hani, Amel dan Sinta.

Mereka membuat janji temu langsung di lokasi yang tak lain dan tak bukan adalah mal, pusat perbelanjaan yang tentunya menjadi sorotan bagi masyarakat untuk berbelanja.

Ketika Diana sudah bertemu dengan mereka. Mereka pun akhirnya keliling mal dan memasuki beberapa outlet yang sekiranya menarik.

"Jadi lo di sini, Di?" tiba-tiba suara yang Diana kenal dan sedang ia hindari mendadak muncul tepat di belakangnya.

Ketiga temannya sudah masuk outlet pakaian wanita sementara Diana terhenti karena Arga mencekal pergelangan tangannya.

"Arga ... He he," sapa Diana dengan cengiran gugupnya.

"Lo baru aja atau dari tadi?" tanya Arga serius.

"Errr ... Dari tadi, kok. Kenapa?"

"Ayo, ikut gue." Tiba-tiba cekalan tangannya yang tidak dilepaskannya itu menarik Diana menjauh dari outlet di mana teman-temannya berada.

"Duh, Ga, gue lagi sama teman-teman gue, tahu!" sambar Diana kesal.

"Udah, nanti gue yang hubungi mereka satu per satu."

"Eh, jangan! Bentar, bentar, bentar!" seru Diana hingga Arga menghentikan langkahnya.

Diana mengeluarkan ponselnya dan kemudian ia menelepon Hani. Buat Diana, Hani adalah sosok Ibu dalam pertemanan mereka.

Setelah Diana menjelaskan alasannya bahwa ia mendadak sakit perut dan pulang, walau itu hanya sebuah alasan, Diana mematikan panggilannya.

"Lo masih sembunyiin hubungan kita sama mereka?" tanya Arga setelah ia mendengar bagaimana Diana memberi alasan yang sangat membuatnya kecewa.

"Hubungan kita nggak ada apa-apa, Ga. Nggak lebih dari sekadar teman, OK?!"

Arga memilih tidak membalas ucapan Diana. Ia kembali menarik Diana untuk mengikutinya dan mereka memasuki food court.

"Makan?" tanya Diana tak percaya bahwa Arga menariknya hanya untuk makan.

Arga mengangguk dan mereka berjalan perlahan untuk menatap outlet mana yang akan mereka pilih.

"Pilih, mau yang mana," perintah Arga.

Diana mau tak mau pun ikut memilih makanan yang kelihatannya enak.

"Nasi ayam opor, deh. Minumnya es milo," ujar Diana.

"Itu aja? Nggak nambah?" tanya Arga.

Diana lalu kembali memikirkan yang ia inginkan. Kemudian ia sadar sesuatu, Diana hanya membawa uang pas tanpa kartu ATM.

"Tunggu, uang gue pas, Ga. Nanti gue nggak bisa bayar!" lirih Diana ke arah telinga Arga.

"Gue yang bayar. Dan ini bukan uang bokap atau nyokap. Gini-gini gue juga kerja, kali," sahut Arga.

Diana melongo mendengar ucapan Arga sampai ia harus disenggol Arga agar kembali memilih apa yang ia inginkan lagi.

"Itu dulu aja. Serius!" kata Diana sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

"OK. Jangan sungkan minta yang lo mau."

Hanya anggukan yang Diana berikan pada Arga untuk meresponsnya. Mereka pun memilih meja dan kursi yang dipilih oleh Diana sendiri dengan letak yang berada di paling ujung. Diana belum siap jika suatu saat seseorang yang mereka kenal atau temannya, melihat mereka di mal sedang berduaan.

Diana serius memperhatikan Arga yang kini tengah mengutak atik ponselnya dengan serius selagi menunggu makanan tersaji di depan mereka. Diana pikir, ternyata Arga terlihat tampan jika dilihat sedekat dan seserius ini.

"Sorry," tiba-tiba Diana berkata.

"Hah? Kenapa?" Arga sepertinya sudah terbiasa dengan orang yang mengajaknya bicara, maka ponselnya ia taruh di sakunya.

"Gue meremehkan lo. Maksud gue, gue nggak tahu kalau lo ternyata punya penghasilan di luar waktu sekolah lo," jelas Diana.

"Lagian, gue nggak perlu ngasih tahu atau pamer juga, kan? Hari ini gue terpaksa bilang karena tahu pasti lo nolak ajakan gue karena pikir lo pasti gue pakai uang orang tua, padahal ya nggak."

Diana hanya tersenyum dan merasa bersalah. Kembali ia memikirkan nasihat Paula tentang peluang yang sebenarnya sudah terlihat dan kita hanya tinggal mengeksekusinya.

"Ga, gue mau bicara serius tentang hubungan kita. Itu pun kalau lo berminat membahasnya," ucap Diana.

"Bilang sekarang, Di. Nggak ada kata nggak minat kalau memang lo mau bahas hubungan kita."

Awalnya Diana menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan. Lalu bibirnya mulai terbuka seperti ada adegan slow motion dalam pergerakannya.

"Lo tahu kan, gue nggak mau pacaran sebelum gue menghasilkan uang sendiri?" tanya Diana.

Arga mengangguk dan mendengarkan dengan serius. "Lalu?"

"Hmm ... apa lo setuju kalau kita komitmen saja tanpa pacaran? Artinya nggak ada aturan selama kita komitmen sama hubungan kita untuk ke arah yang lebih serius."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Ingin Menjadi yang Kedua.
8.2
Dunia Nisa runtuh setelah memergoki Damar berselingkuh. Kenyataan pahit pun terungkap: sang suami ternyata telah beristri sebelum mereka menikah. Alasan Damar menolak menyentuhnya karena status Nisa yang masih kuliah terbukti hanya bualan. Di tengah pengkhianatan kejam ini, Damar justru menentang keras perceraian. Nisa kini didera kebimbangan hebat, haruskah ia tetap bertahan dalam biduk rumah tangga yang dibangun di atas kebohongan?
Sampul Novel Cinta Pertama Mr. Eros
8.4
Kehilangan kesucian di usia muda menghancurkan hidup Agnella Wibisono hingga terjerumus ke dunia malam dan obat terlarang. Berkat dukungan orang-orang terdekat, ia berhasil bangkit dan menemukan cinta yang hampir sempurna. Namun, saat masa depannya mulai membaik, orang-orang dari masa lalu kelamnya tiba-tiba kembali hadir. Kini, Agnella harus berjuang menghadapi trauma masa lalunya demi mempertahankan kebahagiaan yang baru saja ia bangun.
Sampul Novel Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong
8.0
Demi menyelamatkan finansial keluarga, Keira dan Aldric menjalani pernikahan kontrak selama dua tahun. Namun, sandiwara itu berakhir saat Aldric meminta cerai demi mantan kekasihnya, tanpa menyadari Keira tengah mengandung. Lima tahun berselang, mereka tak sengaja bertemu kembali di kota kecil. Aldric terkejut melihat bocah laki-laki yang sangat mirip dengannya. Kini, ia harus berjuang menebus dosa masa lalu atau kehilangan mereka selamanya.
Sampul Novel HOLD ME
9.6
Alice, gadis berprestasi usia 18 tahun, harus mengubur mimpinya jadi desainer setelah orang tuanya meninggal. Hidupnya kian hancur saat Martin, sang kakak, tega menjual dirinya kepada miliarder muda berkuasa di Jakarta, Devan Adipati Gumilang. Terjebak sebagai pemuas nafsu pria tampan yang berhati kejam itu, Alice kini diperlakukan layaknya mainan belaka. Sanggupkah ia melepaskan diri dari jeratan Devan yang begitu dominan dan menyelamatkan masa depannya?
Sampul Novel Istri Kesayangan Tuan Presdir Tampan
8.4
Niana Fradella memilih kabur demi menghindari pernikahan paksa yang diatur keluarganya. Siapa sangka, keputusan itu membawanya bertemu lelaki sempurna yang menjadi cinta sejatinya. Namun, di saat kebahagiaan baru saja ia rasakan bersama sang kekasih, takdir kejam justru menghampiri. Kondisi kesehatannya terus memburuk akibat penyakit parah yang kian menggerogoti tubuhnya, memicu keraguan besar apakah ia masih memiliki waktu untuk bertahan hidup.
Sampul Novel My Possessive Husband Book 1
9.7
Aleina Xavinzo lelah menghadapi Richard, mantan kekasihnya yang sangat obsesif. Demi melarikan diri dari kejaran itu, ia tidak sengaja terlibat cinta satu malam dengan pria asing, Adrianus James Verona, akibat insiden mabuk di kelab malam. Siapa sangka, sebulan kemudian mereka dipertemukan kembali dalam sebuah perjodohan oleh orang tua mereka. Kini, Aleina harus menjalani takdir baru bersama Adrianus lewat pernikahan kontrak yang penuh misteri dan benih cinta.