APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Yang Terjamah

Gadis Yang Terjamah

Demi ambisi pendidikan, Marlina kehilangan kehormatan hingga terbuang ke dunia gelap narkoba sebagai pengedar. Saat berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival justru menjebloskannya ke penjara. Di balik jeruji besi, ia memperdalam ilmu agama. Namun setelah bebas, penolakan keras masyarakat kembali menghadangnya. Kini, Marlina dihadapkan pada pilihan sulit: kembali ke jalan haram yang menjanjikan atau tetap teguh pada proses hijrahnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Marlina mempercepat langkahnya ketika mendengar deru sepeda motor semakin mendekat. Sepeda motor kini sejajar berjalan di sampingnya.

“Hai Adik manis, kok cepet banget jalannya?” tanya salah satu dari mereka.

“Ikutan naik motor bareng yuk!” ajak yang lainnya.

Dua kakak kelasnya itu tertawa terbahak-bahak. Marlina acuh sambil mengeratkan tali tas punggungnya di dada. Dengan berlari kecil Marlina berusaha menjauh dari sepeda motor itu.

Marlina kini sekolah di SMA yang letaknya sangat jauh dari kampungnya. Banyak orang di kampungnya yang tidak menyelesaikan sekolah SMA karena letaknya yang sangat jauh. Selain itu, akses jalan umum harus memutar ke arah kecamatan. Rute terdekat hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki dan harus menyebrangi sungai.

Marlina hanya seorang diri ketika berangkat dan pulang sekolah, melewati berkilo-kilo kebun karet dan sungai, ia tak gentar. Namun nyali Marlina sangat ciut kali ini. Dua pemuda itu menatapnya dengan penuh nafsu. Beberapa langkah lagi Marlina menyeberangi sungai.

Celakanya Marlina justru terpeleset sehingga seluruh tubuhnya tercebur ke air. Ketika Marlina berdiri, tampak baju basahnya melekat ke seluruh tubuh.

“Ha ... ha ... ha … pemandangan yang bagus sekali!” ucap salah satu pemuda yang naik motor.

Dua pemuda itu segera turun dari motornya dan mendekati Marlina. Marlina berusaha berlari untuk menghindari kedua pemuda itu, tapi dia malah terpeleset lagi. Marlina menangis sambil merintih, ternyata kakinya berdarah akibat tergores batu di sungai.

Kedua pemuda itu berebut menjamah tubuh Marlina. Marlina hanya bisa menangis sambil memukul-mukul tangan kedua orang itu, tapi tenaga keduanya lebih besar daripada pukulan Marlina.

Tiba-tiba terdengar bunyi petir menyambar diiringi dengan hujan yang sangat deras. Gunawan salah satu dari pemuda itu melihat ke arah langit dan merasa ketakutan. “Jat, ayo pergi! Petir ini peringatan dari yang di Atas.”

“Kamu takut? Pergi aja duluan, tanggung nih!”

Gunawan berlari menjauh lalu menaiki sepeda motornya dan menjauh. Tinggallah Marlina yang sudah koyak bajunya dengan Jatmiko. Dengan ganas Jatmiko menikmati tubuh Marlina yang sudah melemah. Hujan deras menjadi saksi kebejatan kakak kelas Marlina. Darah mengalir dari kedua pahanya terbawa air hujan. Tak seorang pun mendengarkan rintihan Marlina di tengah kebun karet.

Jatmiko mengatur nafasnya lalu terlentang menghadap ke langit, merasakan tetesan air ke tubuhnya. Sebelum Marlina bangun dari posisinya, Jatmiko terlebih dulu mengenakan pakaiannya dan berlalu meninggalkan Marlina seorang diri di tengah kebun karet. Marlina tak kuasa bergerak, tubuhnya terasa sakit semua, terlebih hatinya yang hancur berkeping-keping.

Marlina teringat nasehat kedua orang tuanya yang melarang sekolah di kecamatan karena jalannya jauh dan sepi. Hal inilah yang paling ditakuti kedua orang tuanya.

Ayah dan ibunya hanya memiliki seorang anak yaitu Marlina. Harapan keduanya berujung pada Marlina. Namun kejadian ini membuat Marlina malu, takut dan kecewa untuk pulang ke rumahnya. Marlina takut kalau Ayah dan Ibunya marah atau bahkan sedih mengetahui keadaannya saat ini.

Marlina merasa benar-benar hancur. Sekujur badannya terasa sakit. Dia berharap mati untuk menutup segala peristiwa kelam hari ini. Matanya tertutup bersama gelegar petir yang tak kunjung henti seakan langit marah dan menghukumnya.

Hari semakin gelap ketika Marlina tersadar bahwa hujan telah berhenti mencurahkan kemarahan langit. Marlina tidak dapat menemukan di mana bajunya, dia menangis dan berusaha membenturkan kepalanya ke batu besar. Dari kejauhan tampak sorotan lampu senter.

“Hei, siapa kamu?” ucap orang itu mendekati Marlina.

“Aku gak suci lagi, biarkan aku mati,” isak Marlina.

“Ya Allah, Nduk. Mana bajumu?” tanya orang kedua sambil menyorot ke sekelilingnya. Tak ada baju di sekitar gadis itu, mungkin sudah hanyut terbawa air sungai.

“Ini, pake sarung saya dulu,” tawar bapak tadi sambil melepas sarungnya dan memakaikannya ke Marlina.

Marlina hanya bisa pasrah dililitkan sarung ke badannya, lalu dituntun menjauhi sungai.

“Cari ikannya nanti aja, Pak. Bawa anak ini pulang dulu, kasian. Kayaknya dari tadi dia kehujanan.” Kedua orang itu berjalan pelan sambil menuntun Marlina. Lalu mereka berjalan pelan ke arah kampung.

“Assalamualaikum, Bu. Kami gak jadi nyari ikan,” ucap bapak tadi seraya memasuki rumahnya. Tampak keluar seorang ibu tua dan melihat ke arah kami. Marlina kembali meneteskan air mata dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

“Hah, siapa ini, Pak?” tanya Ibu itu.

“Tadi kami menemukan dia di sungai sebelum nyari ikan, mau bunuh diri, gak pake baju, jadi aku pinjami sarungku,” jawab si bapak.

“Ya Allah kasian, sini Nduk sama Ibu.” Ibu itu menggiring Marlina ke kamar, “Kamu pakai ini ya, Ibu buatkan teh hangat dulu,” ucap Ibu itu lalu berlalu ke dapur.

Setelah mengganti pakaiannya, Marlina duduk di pinggir dipan sambil menangis lagi.

“Minum ini dulu ya, Nduk,” ibu itu menyodorkan segelas teh hangat dan sepiring nasi dan telor goreng. Marlina makan sambil menangis terharu, masih ada orang baik di sini yang melindunginya.

Marlina kembali teringat kedua orang tuanya, bila dia pulang ke rumahnya, apa kedua orang tuanya menyambut hangat seperti ini, atau bahkan membuang dan mengucilkannya.

Tangis Marlina semakin kencang mendapati ibu itu mendekap tubuhnya dengan kasih sayang, seorang ibu yang baru dikenalnya memberikan kasih sayang setelah tubuh dan hatinya hancur.

Setelah agak mereda tangis Marlina, Ibu itu perlahan menyuapi Marlina sedikit demi sedikit. Perut Marlina kini telah kenyang, kantuk pun menyerang. Dia merebahkan tubuhnya di atas dipan dan menutup matanya kelelahan.

Ketika sinar mentari menembus di celah-celah jendela, Marlina merasakan asap dari kayu bakar di dapur. Lalu dia keluar kamar dan mendekati ibu itu, “Bu, terima kasih semuanya.”

“Owalah, dah bangun, Nduk? Kamu mau ke kamar mandi dulu? Itu di luar pintunya.”

Marlina mengangguk pelan, rasa nyeri di kemaluannya membuat Marlina kembali meneteskan air matanya. Aku telah rusak, aku sudah tidak suci lagi, ucap Marlina sambil menangis. Seringai wajah kakak kelasnya membuatnya bergidik.

“Nduk, sudah mandinya?” suara Ibu itu menyadarkan Marlina. Marlina segera menyelesaikan mandinya lalu keluar dari kamar mandi.

Ibu pemilik rumah menepuk dipan kayu di sebelahnya mengajak Marlina duduk dan menikmati sarapan. Marlina menyantap dengan lahap nasi goreng yang masih mengepul itu.

Setelah menyelesaikan sarapannya, Ibu itu membelai kepalanya dengan lembut.

“Namamu siapa?”

“Marlina,” jawabnya pelan.

“Ibu antar kamu pulang ya?”

Marlina menggeleng pelan, lalu menitikkan air mata kembali.

“Bu… Ibu dimana?” teriak dari arah depan.

“Aku di dapur, Pak!” jawab si ibu dengan berteriak juga.

Muncul bapak yang semalam diikuti ayahnya Marlina di belakangnya. Ayahnya segera berlari dan mendekap dan mencium Marlina dengan penuh kasih sayang, tak lama kemudian ibu dan neneknya Marlina mendekat dan ikut memeluk Marlina.

“Maafkan Ayah, Mar. Ayah tidak bisa menjaga kamu!”

Pelukan ibu melemah dan kemudian ambruk di tengah-tengah kami.

“Bu … Ibu kenapa, ayo bangun, jangan pingsan lagi!” Ayah menggoyang-goyangkan tubuh Ibu.

Ibu pemilik rumah memberikan minyak kayu putih dan memborehkannya di kening ibunya Marlina. Ibunya Marlina tak bergeming.

“Ibu kenapa?” isak Marlina bertanya pada semua orang yang ada di situ.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bodyguard I'm In Love
9.7
Sejak pandangan pertama, Jhon Christy langsung terobsesi pada Aleta Louison hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi yang gelap. Dia bahkan rela meninggalkan kehidupan lamanya yang bergelimang harta demi menjadi pengawal pribadi Aleta di Rusia. Bagi Jhon, tujuan utamanya hanyalah berada di dekat gadis itu. Dia bertekad menyembuhkan sisi psikopat dalam diri Aleta dan menuntunnya agar bisa kembali menjalani kehidupan normal seperti wanita lainnya.
Sampul Novel Geger di Bhumi Manggala
8.2
Tangisan Tadah Asih menggema di bawah langit Kilen yang memerah, menjadi awal dari ramalan kelam seorang petapa suci tentang kehancuran Bhumi Manggala. Saat sebuah kerajaan dirundung duka akibat kematian tragis seorang bangsawan agung, para prajurit setianya pun bangkit melakukan aksi bela pati. Di tengah situasi yang kian kacau dan dunia yang mulai runtuh, seorang pemuda berdiri dengan kemarahan memuncak. Ia memutuskan melangkah pergi demi menuntaskan dendam membara di hatinya.
Sampul Novel Ketika Dendam Berbicara
8.2
Demi menyembuhkan migrain bawaan istrinya setelah tiga tahun menikah, seorang suami berhasil menciptakan obat khusus. Namun, saat mengantarkan obat dan bekal ke kantor sang istri, Nadya, ia justru dituduh sebagai sopir penggoda oleh sekretaris istrinya. Di depan umum, sekretaris itu menumpahkan makanan ke kepalanya, merobek pakaiannya, dan menginjak obat berharga tersebut hingga hancur. Tanpa rasa bersalah, sekretaris itu justru dengan bangga melapor kepada Nadya bahwa dia telah berhasil mengusir sopir yang mencoba menggodanya.
Sampul Novel PANGERAN AGUNG
9.6
Kerajaan Mandala dipimpin oleh sosok luar biasa, Pangeran Agung. Penguasa ini sangat disegani berkat keadilan dan kearifannya dalam memimpin rakyat. Saat bahaya mengancam, keberaniannya yang kokoh selalu menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kisah ini menyoroti perjuangan sang raja bijaksana dalam mempertahankan kedamaian negerinya, mengandalkan keteguhan jiwa serta dedikasi tanpa batas untuk menghadapi segala rintangan.
Sampul Novel Pembalasan Dendam yang Munafik
8.4
Di Kota Silo, istri miliarder gemar menyiksa gadis muda. Sang protagonis yang tidak bisa merasakan sakit menjadi korban utama. Namun, sang suami justru mengumumkan dirinya sebagai putri mereka yang hilang demi menutupi kekejaman tersebut. Demi hidup layak, ia menerima status baru ini. Di balik topeng kebaikan itu, luka baru terus ditorehkan hingga mereka menuntut nyawanya sebagai balas budi. Kini, ia siap membalikkan keadaan demi menuntut balas.
Sampul Novel Pendekar Kristal Naga
7.9
Terdampar di pesisir Kepulauan Malaka, Gandar Maitreya yang merupakan keturunan klan Naga kini jadi buruan utama para pemburu bayaran. Musuh-musuhnya haus kekuasaan dan mengincar ingatan Gandar tentang Kristal Naga. Artefak legendaris tersebut memiliki kekuatan untuk menobatkan pemiliknya menjadi raja di tiga dunia: Manusia, Naga, dan Iblis. Demi bertahan hidup dari kepungan maut yang mengintai, Gandar harus berjuang memulihkan ingatan serta mengungkap jati diri aslinya dalam pelarian.