APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Yang Terjamah

Gadis Yang Terjamah

Demi ambisi pendidikan, Marlina kehilangan kehormatan hingga terbuang ke dunia gelap narkoba sebagai pengedar. Saat berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival justru menjebloskannya ke penjara. Di balik jeruji besi, ia memperdalam ilmu agama. Namun setelah bebas, penolakan keras masyarakat kembali menghadangnya. Kini, Marlina dihadapkan pada pilihan sulit: kembali ke jalan haram yang menjanjikan atau tetap teguh pada proses hijrahnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pelukan Ibunya Marlina melemah dan kemudian ambruk di tengah-tengah kami.

“Bu … Ibu kenapa, ayo bangun, jangan pingsan lagi!” ayah menggoyang-goyangkan tubuh ibu.

Ibu pemilik rumah memberikan minyak kayu putih dan mengusap-usap nya di kening Ibu, Ibu tetap bergeming.

“Ibu kenapa?” isak Marlina bertanya pada semua orang yang ada di situ.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” teriak ayahnya Marlina sambil memeluk tubuh istrinya.

Semua orang hanya membisu melihat ibunya Marlina terkulai lemas. Marlina tak kuasa menahan tangis, dia merasa bahwa dialah penyebab kematian sang ibu..

Orang kampung bersama-sama membawa jenazah ibunya Marlina ke rumah Pak Maryono, ayah Marlina. Sepanjang jalan Marlina menjadi bahan pembicaraan orang, baik dari kampungnya maupun warga kampung sebelah.

Siang itu Ibu segera dimakamkan, tangis haru mengiringi pemakaman Bu Maryono. Hampir semua mata pelayat menatap jijik ke arah Marlina. Nenek Sholihati, neneknya Marlina, merasa risih dengan tatapan mereka lalu menarik tangan Marlina ke kamar.

“Gendhuk di sini saja ya, gak usah keluar kamar dulu.” belai Nenek Sholihati di dahi Marlina. Marlina hanya bisa mengangguk pelan sambil menitikkan air mata. Ketika Nenek Sholihati beranjak keluar kamar, Marlina menarik tangan neneknya, “Mar pengen nganter Ibu ke makam, Nek.”

“Nanti saja kalau Ibu sudah dimakamkan, kita ziarah yang lama ya, Sayang. Sekarang kamu di kamar dulu dan jangan keluar, demi kebaikanmu,” ucap Nenek Sholihati sambil melenggang menjauhi kamar.

Suara keramaian menjauh, menandakan para pelayat ikut turut mengantar jenazah ibunya ke makam. Marlina hanya bisa menangisi nasibnya yang telah kehilangan masa depan terlebih kehilangan ibu tercinta.

Setelah pemakaman, Nenek Sholihati kembali ke rumah bersama Pak Maryono. Nenek Sholihati langsung menutup pintu agar tidak ada lagi pelayat atau tamu yang datang. Nenek masuk ke kamar Marlina kemudian memeluk erat cucu tunggalnya. “Kita harus kuat menjalani cobaan ini sayang, jangan biarkan pengorbanan ibumu menjadi sia-sia. Kamu harus bangkit, tunjukkan ke warga sini bahwa kamu tetap kuat dengan melanjutkan sekolah di SMA sana.”

“Tidak ... tidak, Nek. Mar gak mau sekolah lagi. Mar sekolah justru kehilangan Ibu. Mar gak mau kehilangan lagi. Mar telah hancur. Mar mau di rumah aja sama Nenek” isak Marlina.

Nenek Sholihati hanya mengelus pipi cucunya kemudian tersenyum mengangguk tanda setuju.

Malam ini mereka duduk diam bertiga di ruang sempit bercahayakan lampu tempel yang redup. Makanan di meja tak tersentuh, tak ada rasa lapar, hanya ada rasa sedih, kecewa dan marah dalam hati. Sejak pemakaman istrinya tadi, tak ada sepatah kata keluar dari mulut Pak Maryono. Hanya Nenek Sholihati yang tetap sabar melayani Marlina.

Sudah beberapa hari pemakaman Bu Maryono, Pak Maryono tidak pergi ke kebun. Dia masih meratapi kepergian separuh jiwanya.

Pagi ini Nenek Sholihati mengajak Marlina keluar ke depan rumahnya untuk berbelanja sayur pada pedagang sayur keliling.

“Eh, ada Marlina. Mau cari sayur apa?” sapa pedagang sayur ramah.

“Mau cari masalah ada gak, Bang?” tanya Bu Gembrot dengan acuh, kang sayur hanya tersenyum.

“Lah iya, anak perempuan kok sengaja banget cari masalah sekolah jauh-jauh. Diganggu orang baru tau rasa dia,” timpal Bu Gendis tak mau kalah.

“Gitu caranya ngebunuh orang tua pelan-pelan.”

“Liat tuh bapaknya sampe gak berani keluar rumah karena malu menanggung aib anaknya yang sok kepinteran sekolah SMA.”

“Pak Kuncoro bos karet itu aja sekolahnya cuma SD lho, kalo sekolah sampai tinggi bisa jadi bos apa?”

“Memang kalau sudah sekolah yang tinggi, bisa langsung jadi presiden ya?”

“Bu Maryono itu kan dari dulu gak bisa dikagetin, gampang pingsan. Anaknya malah sengaja bikin ibunya cepet mati!”

“Mungkin dia sengaja uji nyali, berangkat sekolah yang jauh biar jadi jagoan ya, akhirnya ilang deh tu keperawanan.”

“Cari yang gratis lho, menu singkat, padat dan enak di air-airan.”

Gelak tawa ibu-ibu yang mengelilingi kang sayur membuat dada Marlina sesak.

“Kalo anakku ngelawan kaya gitu mending dikurung di rumah, diikat sekalian biar gak keluar rumah!”

Nenek Sholihati menjauh sambil menarik tangan cucunya.

Ternyata dari rumah, Pak Maryono mendengar apa yang ibu-ibu bicarakan tentang anak dan istrinya. Dia hanya bisa meneteskan air mata. Gagal sudah niatan untuk menjaga martabat keluarganya.

Nenek Sholihati tak kuasa melihat menantunya yang besar itu kini tampak rapuh setelah kepergian tulang rusuknya. Terlebih Marlina yang sudah berusaha menata hatinya kembali hancur akibat gunjingan tetangga.

Saudara dan tetangga yang dulu akrab kini satu per satu menjauh. Tidak ada empati sama sekali dengan keluarga Pak Maryono. Marlina menutup diri dari lingkungan. Hanya Nenek Sholihati yang memberanikan diri keluar rumah bekerja agar kebutuhan isi perut orang serumah tercukupi.

Pak Maryono lebih banyak diam dan cenderung menjauh ketika diajak bicara oleh Nenek Sholihati. Nenek Sholihati sangat memahami keterpurukan menantu dan cucu kesayangannya.

Suatu pagi Pak Maryono bersiap-siap ke kebun untuk menyadap batang karet milik bos Kuncoro. Nenek Sholihati merasa terharu melihat perubahan menantunya. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk seterusnya, ucap Nenek Sholihati dalam hati. Meski enggan mendekati putrinya, Pak Maryono tetap menyalami tangan keriput mertuanya dengan takzim.

Marlina merasa dosa yang dia lakukan tidak dimaafkan ayahnya. Ayahnya hanya diam bila diajak bicara olehnya, sedikit bicara jika ditanya Nenek Sholihati.

Matahari belum tinggi, Pak Maryono telah kembali ke rumah. Dia menaruh peralatannya, menenggak segelas air putih lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa bicara sepatah kata pun.

Nenek Sholihati dan Marlina hanya saling berpandangan melihat tingkah laku Pak Maryono.

Pasti ada sesuatu di kebun yang menyebabkan Pak Maryono kembali ke rumah dengan cepat.

Tak lama berselang, Sodikin, seorang pegawai bos Kuncoro datang ke rumah mengantarkan beberapa rupiah sebagai upah Pak Maryono yang tak diambil dari sebelum peristiwa kematian sang istri.

“Tadi ayahnya Marlina ke kebun, kenapa tidak diserahkan langsung padanya?” tanya Nenek Sholihati.

“Dia langsung kabur waktu diajak bicara sama pak bos, tersinggungan sih dia,” jawab Sodikin sambil tertawa keras.

“Kamu bilang apa sama pak bos tentang menantuku?” cecar nenek Sholihati.

“Ya aku bilang, kalo Pak Bos mau nambah istri, ambil aja tuh si Marlina, jadi gak mahal, tapi Pak Bos gak mau sama yang seken, mau yang orisinil aja biar kerasa kinyis-kinyis, malah si Maryono langsung kabur, Aku deh yang kebagian nganter uang ini, sekalian cuci mata liat si Marlina, boleh kan Nek?” beber Sodikin.

Nenek Sholihati hanya diam sambil memandang tajam ke arah Sodikin. Merasa tersudut akhirnya Sodikin pamit undur diri.

Marlina hanya diam dari balik dinding mendengar obrolan itu, hatinya teriris jadi bahan ejekan bos tempat ayahnya bekerja.

Sore ini Bu Bos Kuncoro datang ke rumah membawa beberapa kantong plastik besar ke rumah Nenek Sholihati. “Nek, ini bahan makanan untuk Nenek sekeluarga,” ucap Bu Bos seraya menaruh kantong plastik tersebut.

“Terima kasih, Bu. Semoga Ibu dilimpahkan rezeki yang lebih banyak dan lebih berkah.” Nenek Sholihati terharu sambil menitikkan air mata karena kebaikan Bu Bos.

“Saya minta tolong jauhkan cucu nenek dari suami saya, saya tidak rela dimadu apalagi dengan anak yang sudah tidak suci lagi. Saya harap Nenek mengerti maksud dan tujuan saya datang kesini!”

Nenek Sholihati langsung terkejut mendengar ucapan Bu Bos tadi, “Cucuku tidak serendah itu, meski dibeli dengan berjuta-juta, tak akan kuserahkan cucuku itu pada siapa pun!”

“Tidak rendah tapi kok kesucian diumbar kemana-mana.”

“Baiklah, terima kasih atas bingkisannya. Saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, silahkan keluar!”

“Satu pesanku, jaga cucumu agar bau busuknya tidak mengganggu pernapasan orang lain.” Bu Bos melenggang angkuh ke luar rumah.

Bruk

Suara benda besar jatuh di kamar. Nenek Sholihati dan Marlina berlari menuju kamar ayahnya. Mereka melihat Pak Maryono tergeletak di lantai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dua Wajah Suami Romantisku
9.5
Hubungan cinta Vanessa Putri Ardian dan Eksa Susanto, mantan gurunya yang matang, berhasil melangkah ke pernikahan walau sempat terhalang jarak usia. Namun, biduk rumah tangga mereka mulai diguncang prahara. Masalah momongan serta kemunculan Risang Aditya Sidharta, saudara kembar Eksa, menjadi ujian berat bagi kesetiaan mereka. Ketika pria berwajah sama menaruh hati pada wanita yang sama, sanggupkah Eksa bertahan sebagai satu-satunya pendamping hidup bagi Vanessa?
Sampul Novel LEMBAYUNG CINTA
9.2
Dalam kisah romansa modern ini, Rangga menaruh obsesi yang sangat besar kepada Davina. Demi memikat hati wanita impiannya tersebut, ia rela melakukan berbagai upaya untuk menarik perhatiannya. Rangga menyusun setiap langkah secara matang agar Davina luluh dan membalas perasaannya. Perjuangan tanpa lelah terus ia lakukan untuk memancing simpati Davina demi meraih cinta yang diidamkan. Inilah kisah usaha keras seorang pria mengejar wanita pilihannya.
Sampul Novel Nyonya yang Ditinggalkan Menjadi Ratu Mafia
9.7
Sepuluh tahun Selena Menezwa membantu Caius Capone meraih takhta tertinggi. Sialnya, Caius malah mendepaknya demi Charlotte, violinis terhormat yang dianggap lebih layak jadi Ibu Mafia. Tanpa keributan, Selena memilih pergi. Caius tak pernah tahu bahwa Selena adalah pewaris sah dinasti Menezwa yang disegani sekaligus bos Charlotte di orkestra. Kini, seorang bandar senjata legendaris telah bersiap menjadi pendamping baru Selena.
Sampul Novel ORANG KETIGA
9.5
Menjadi perebut Varrell Damington dari kekasihnya bukanlah impian Lea Khalilea. Namun, kepahitan hidup mendesak Lea mengambil keputusan nekat hingga terjebak dalam pusaran takdir yang tak pernah ia duga. Melalui perjalanan ini, ia berharap publik mau memahami motifnya sebelum melayangkan kecaman. Inilah sudut pandang berbeda dari sebuah perselingkuhan, yang mengungkap betapa rumitnya dinamika asmara dan realitas hubungan modern saat ini.
Sampul Novel Pelanggan Tetap Panti Pijat
9.1
Novel modern Pelanggan Tetap Panti Pijat mengisahkan seorang wanita dengan kegemaran rahasia mengamati keintiman pasangan lain. Sayangnya, sang kekasih adalah pria polos yang kurang bergairah dan gagal memenuhi kebutuhan biologisnya. Tak sanggup menahan diri, ia membawa pacarnya ke sebuah panti pijat refleksi kaki yang baru saja dibuka. Di tempat tersebut, ia akhirnya bisa memuaskan hasratnya dengan menyaksikan segala hal secara langsung.
Sampul Novel Wanita Yang Kau Sia-siakan
9.3
Nadine syok ketika sang suami menuntutnya mengganti biaya operasi caesar lantaran gagal melahirkan normal. Nafkahnya yang pas-pasan bahkan dipangkas demi melunasi utang tersebut. Namun, badai finansial ini justru menjadi titik balik yang membuka pintu rezeki sekaligus jati diri Nadine yang sesungguhnya. Berbekal kekuatan baru, ia bertekad bangkit dan membuktikan kapasitas dirinya hingga membuat pria yang telah membuangnya didera penyesalan mendalam.