APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Tanpa Ayah

Gadis Tanpa Ayah

Suci mengalami trauma mendalam setelah mengetahui kenyataan pahit bahwa dirinya lahir dari korban pemerkosaan. Kebenaran kelam ini menghancurkan jiwanya hingga ia kehilangan pegangan hidup. Saat ia berjuang menghadapi krisis batin tersebut, kekasihnya yang merupakan seorang polisi datang untuk melamarnya. Sayangnya, bayang-bayang masa lalu yang kelam itu justru melahirkan keraguan besar di hati Suci untuk menerima pinangan dan melangkah ke jenjang pernikahan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jalanan Ibu Kota padat merayap. Bersileweran anak-anak manusia dibawah kolong langit yang mulai memerah, dengan cahayanya yang masih terang benderang dengan meninggalkan hangatnya mentari di kulit, siap untuk menjemput malam. Dengan gesit Suci melajukan motornya. Walaupun terhalang kemacetan tidak memupus niatnya. Akhirnya sampai juga ditujuan. Suci memarkirkan Honda Beatnya di pinggir warung nasi campur. Lalu menjinjing keranjang ke dalam warung.

"Ee ... Cece sudah datang, ayo masuk sudah bibi siapin semuanya," sapa Bi Ati pemilik warung langganan Suci. Bi Ati mengambil keranjang bawaan Suci lalu menyusun nasi bungkus sampai penuh di kedua keranjang tersebut. Ditambah dua kantung besar yang isinya juga nasi bungkus. Kemarin Suci pesan 200 bungkus, lebih banyak dari biasanya. Kalau di akhir pekan hanya 75 bungkus kadang lebih tergantung dana sumbangan.

" Ini bi uangnya, aku lebihin dua lembar Bi." Suci menyerahkan lembaran merah, dari dalam tas kerjanya disambut Bi Ati dengan senang.

"Masya Allah ... makasih banyak Ce, semoga Cece diberikan kesehatan selalu, dijauhkan dari hal-hal buruk, berkah melimpah buat Cece."

" Amin ... doa yang sama juga buat Bibi. Aku cabut dulu ya Bi."

Bi Ati menatap kepergian Suci yang sudah menghilang di ujung jalan. Ada rasa haru dan takjub.

"Kok ada ya jaman sekarang gadis seperti dia, sempetin waktu untuk peduli sama orang lain, udah cantik, baik hati lagi. Semoga kamu selalu dilindungi nak, jangan putus berbuat kebaikan." Bi Ati berbicara pada dirinya sendiri sambil melanjutkan pekerjaannya. Ia selalu kagum dengan sosok Suci.

Avanza putih dari kejauhan setia membuntuti Suci. Memantau gerak gerik Suci dari jarak yang aman. Di ujung lampu merah, sekitar sembilan anak mulai berhamburan menuju Suci saat dia memarkirkan motornya. Mereka berlarian dengan dagangan asongan mereka tanpa merasa terbebani. Tampak rona kebahagiaan dari wajah-wajah kucel mereka.

"Hore ... Cece datang!" Tanpa sungkan mereka saling berebutan memeluk Suci. Ia balas memeluk mereka tanpa rasa jijik. Tingkah mereka menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang. Perbedaan yang mencolok dari penampilan mereka yang bagaikan langit dan bumi menjadi tanda tanya.

"Loh kok kucel begini." Suci menepuk lembut dan mengusap kepala mereka satu per satu.

"Mana baju yang hari itu Cece belikan Dam, udah Cece bilangkan jangan pake baju seperti gini," ujar Suci pada bocah yang bernama Adam, sambil membetulkan kancing kemeja yang lusuh dan nampak kumal dengan sobekan di sana sini.

"Kata bapak jangan pake baju bagus nanti nggak ada yang kasian, jualan Adam nanti nggak laku." ujar bocah sembilan tahun itu.

"Memangnya Adam mau jualan atau ngemis?" 

"Jualan Ce."

"Nah Adam niatnya untuk jualankan? kalau pake baju seperti gini malah orang nggak tertarik untuk beli jualan Adam. Apalagi yang dijual makanan. Nggak boleh lho mengharapkan pengasihan orang lain, nanti Tuhan ma ...."

"Rah ... " sambut anak-anak itu kompak.

"Tadi sekolahkan?" 

"Sekolah!" jawab mereka kompak.

"Yuk makan dulu ... yang lain kemana?" tanya Suci sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tapi tidak tampak yang lainnya. Suci menatap bocah-bocah di depannya, mereka saling pandang-pandangan lalu menunduk tanpa menjawab.

"Yang lain kemana?" tanya Suci lagi dengan kening mengerut.

"Mereka di tempatnya Kang Badri, dipaksa ngemis lagi Ce," jawab tuti yang langsung disikut sama Adam.

"Huuss ... jangan bilang-bilang nanti kang Badri pukul kamu," bisik Adam pelan namun masih terdengar oleh Suci.

"Tuti nggak takut, kan ada om Polisinya Cece," balas Tuti.

"Jadi Kang Badri masih ngotot untuk paksa yang lain ngemis lagi ya?" Mereka serempak menggangguk. Suci menghela napasnya dalam-dalam, perlahan lepaskan. Sudah berkali-kali Badri berurusan dengan Polisi karena memaksa anak-anak dibawah umur untuk mengemis.

"Yah sudah makan dulu ...." Suci membagikan nasi bungkus lalu mengeluarkan tissu basah dan hand sanitizer yang sudah disiapkannya.

"Cece, aku nambah ya buat  Mak di rumah, Mak sakit tidak bisa masak," tukas Fadil.

"Loh Mak sakit apa Dil," tanya Suci.

"Demam aja Ce, tadi Fadil udah belikan obat dari tabungan Fadil."

Suci melirik arlogi di tangannya. Niat hati untuk menjenguk Mak Fadil tapi takut kemalaman, apalagi nasi bungkusnya masih banyak.

"Nih gantiin tabungan kamu, sekalian beliin Mak obat ya. Bukanya kamu nabung buat beli sepatu, kalau ada apa-apa hubungi Cece aja. kalau masih sempet nanti Cece mampir."

Suci menyodorkan uang lima puluh untuk Fadil. Sebenarnya Suci bisa memberikan lebih tapi Suci dalam proses mengajarkan mereka untuk menabung dan mandiri.

"Yang lain tabungannya amankan, jualannya gimana masih bisa muter nggak?"

"Aman Ce, malah bisa nabung lebih dari hari sebelumnya," ujar Adam.

Suci tersenyum, bahagia rasanya sudah mulai berhasil mengajarkan mereka, untuk sisihkan sebagian buat ditabung. Tidak sia-sia Suci modalin mereka, yang sebelum ketemu dengannya hampir sebagian besar ngemis. Sebenarnya Suci mau melarang mereka jualan biar fokus sekolah saja, tapi tuntutan ekonomi mengharuskan seperti itu. Suci sendiri belum dapat berbuat banyak, ia masih memikirkan solusinya seperti apa.

Sambil melambaikan tangan Suci melajukan motornya, bocah-bocah cilik itu balas melambai dengan senyum yang mengembang.

Avanza hitam masih setia mengekori. Suci mulai menyadarinya dari spion. Lalu menghentikan motornya di pinggir jalan. Ia ingin memastikan apakah benar mobil itu mengikutinya atau hanya perasaannya saja. Gadis cantik itu mengambil ponselnya dan menelpon sambil melirik kearah mobil tersebut, dan benar saja mobil itu sedang parkir di kejauhan. Nada panggilan berbunyi berulang-ulang tapi tidak di angkat. Suci kembali memacukan baet merah itu di antara kuda besi lainnya yang sedang berbaris rapi bergerak perlahan. Ia memutar belok di gang sempit mencoba mengelabui penguntit itu. Setelah merasa aman. Suci kembali masuk jalan besar lalu menuju pangkalan anak jalanan.

Sekitar tiga puluh anak-anak dengan rentang usia enam sampai delapan belas tahun terlihat sedang sibuk di rumah petak, yang disewa Suci untuk tempat mereka berkarya. Tiga orang dari mereka berdiri lalu mengangkat keranjang dan kantong yang dibawa Suci.

"Di bagikan Jo, yang keranjang satunya tolong bawakan ke tempatnya Sari." Sari merupakan ketua di komunitas perempuan anak jalanan berada tiga blok di belakang gang.

"Wah ... ada proyek rupanya." Suci mengedarkan pandangannya begitu masuk, di seantero ruangan yang tidak terlalu besar itu, banyak potongan-potongan bambu yang sebagian besar sudah dijadikan gantungan kunci. Anak-anak yang sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, langsung berdiri menyalami Suci.

"Iya Ce, Rumah Singgah Peduli mengadakan Talk Show di Depok jadi pesan gantungan kunci untuk cenderamata," ujar Rudy ketua kelompok komunitas. Komunitas Kami Bisa, di bentuk oleh anak-anak jalanan dari berbagai latar belakang ada yang pengemis, pengamen, gelandangan dan lainnya.

Mata Suci memincing ketika melihat mobil yang terparkir di ujung jalan.

"Kenapa Ce?" tanya Rudy mengikuti arah pandangan Suci.

"Mobil itu ngikuti Cece dari tadi Rud," Suci menunjuk dengan dagunya. Rudi dan lainnya serempak berdiri, sebagian langsung berjalan ke arah mobil tersebut. 

Seperti dikomando mereka serempak merangsek maju, dengan bambu di tangan mereka.

Suci terpaku, seperti ini kah mereka? Hampir dua tahun bersama tapi baru kali ini mereka menunjukan sifat rimba mereka. Sikap yang ekstrem seperti sudah melekat dengan jiwa. Karakter yang terbentuk karena kerasnya kehidupan jalanan sewaktu-waktu membuat mereka bertindak di luar kehendak mereka.

"Eh ... ngapain? ayo balik!" teriak Suci. Namun mereka tidak menghiraukan. Dengan lincah mereka melangkah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Crossing Love
9.6
Trauma masa kecil membuat dunia Miya Tamama menjadi kelabu tanpa warna. Namun, kehadiran Tamama Kunai, seorang putra konglomerat sekaligus investor sekolah, mulai membawa perubahan besar di hidupnya. Di sisi lain, meski Miya selalu disayangi oleh kakaknya yang berprofesi sebagai dokter, Koko Tamama, ternyata ada sosok pria misterius yang diam-diam terus mengawasinya. Mampukah ketulusan sang pewaris takhta kekayaan menyembuhkan luka masa lalu Miya dan mengubah takdirnya?
Sampul Novel Fantasi Dina, di Tengah Duda Beranak 3
8.1
Dina, seorang sekretaris andal, harus menghadapi ancaman kebangkrutan kantornya akibat pandemi. Di waktu yang sama, sang atasan, Pak Agus, sedang terpuruk dalam duka setelah kepergian sang istri. Saat bantuan bersyarat dari Mr. Hanks datang dan memicu dilema moral, Dina memilih bertahan demi nasib rekan-rekan kerjanya. Berbekal keberanian, ia mengambil alih kemudi untuk menyelamatkan perusahaan dari kehancuran finansial sekaligus memulihkan kondisi emosional di sekitarnya.
Sampul Novel Menjaga Jodoh Orang
8.0
Lima tahun menjalin hubungan tidak menjamin kesetiaan Terry pada Candice. Setelah menunda pernikahan mereka, Terry justru melamar Vivian dengan alasan memenuhi permintaan terakhir wanita yang sedang sakit itu. Terry sangat yakin Candice yang begitu mencintainya tidak akan pernah pergi. Namun, keyakinan itu runtuh di hari pernikahan Terry dan Vivian. Saat mencoba menyembunyikan pernikahannya, Terry justru mendapati kenyataan pahit bahwa Candice juga melangsungkan pernikahannya sendiri hari itu.
Sampul Novel Pesona Menantu Eksklusif
9.5
Kisah romansa dewasa khusus pembaca usia 21 tahun ke atas ini mengupas momen intens di malam pertama sepasang kekasih. Fokus utama cerita tertuju pada pengalaman mendalam sang mempelai wanita yang memiliki gairah seksual sangat tinggi. Suasana malam pengantin yang penuh gejolak emosi serta sensasi fisik tersebut digambarkan secara gamblang melalui jeritan ekspresif yang memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Sampul Novel Rahasia Dibalik Kepergian Istriku
9.7
Kemarahan mendalam melanda seorang suami setelah rahasia besar terbongkar pasca empat tahun lamanya. Ia merasa dikhianati karena dijauhkan dari putra kandungnya sendiri tanpa kejelasan. Meski sang istri berdalih bahwa suaminya sejak awal tidak menginginkan kehadiran anak tersebut, tuduhan itu justru menyulut perseteruan hukum yang sengit. Sang suami kini bertekad membawa kasus ini ke meja hijau demi merebut hak asuh dan memperjuangkan keadilan baginya.
Sampul Novel Warisan Sang Monster
9.6
Bosan dengan kekayaannya, triliuner Alexander Volkov memilih menyamar sebagai tunawisma. Di jalanan, ia bertemu Elara, seorang ibu tunggal miskin yang dibuang keluarganya demi mengobati sang putri yang sakit keras. Kebaikan Elara yang tulus berbagi makanan menyentuh hati Alexander. Saat Elara terancam kehilangan hak asuh anaknya, Alexander membongkar identitas aslinya. Ia siap menolong, asalkan Elara bersedia menjadi kekasihnya dan menyerahkan satu malam bersamanya.