APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Tanpa Ayah

Gadis Tanpa Ayah

Suci mengalami trauma mendalam setelah mengetahui kenyataan pahit bahwa dirinya lahir dari korban pemerkosaan. Kebenaran kelam ini menghancurkan jiwanya hingga ia kehilangan pegangan hidup. Saat ia berjuang menghadapi krisis batin tersebut, kekasihnya yang merupakan seorang polisi datang untuk melamarnya. Sayangnya, bayang-bayang masa lalu yang kelam itu justru melahirkan keraguan besar di hati Suci untuk menerima pinangan dan melangkah ke jenjang pernikahan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Mobil itu langsung tancap gas begitu melihat geng remaja, yang menuju ke arahnya dengan bambu di tangan mereka.

"Coba aja tadi diam bentar lagi di situ, gue habisin!" ujar jafar, remaja bertato di sekujur tubuhnya.

"Mau ngapain kalian bawa-bawa bambu gitu! mau ngebunuh orang, hah!" Suci berdiri di depan pintu dengan matanya melebar. Kulitnya yang putih memerah menahan amarah

"Ngapain kamu bawa bambu gitu!" bentak Suci lagi.

"Saya tidak rela Ce, jika ada yang nyakitin Cece." Jafar tertunduk tidak berani menatap Suci, begitupun yang lainnya.

"Hoho ... jadi kamu merasa hebat membela Cece? memangnya kamu tau orang itu mau nyakitin Cece? Hah! jawab!" Sorot mata Suci nyalang menatap Jafar yang menunduk, matanya yang memerah mulai terasa panas, ada rasa kecewa yang terselip di dadanya.

"Setidaknya jika orang itu punya niat baik dia tidak akan membuntuti Cece, pasti d-" 

"Stop! Jangan kamu benarkan tindakanmu! Apapun itu ... ingat! Apapun itu! Jangan sekali-kali kamu menyelesaikan masalah dengan masalah! Bukan hanya buat Jafar tapi buat kamu, kamu, dan kalian semua yang ada di sini." Suci menunjuk mereka satu per satu. Suasana hening tercipta.

"Belajarlah untuk menghilangkan jiwa premanisme kalian, jangan pupuk mental-mental kriminal dalam diri kalian. Apapun masalahnya dan situasinya cobalah melihat dari sudut pandang yang positif." Suara Suci serak menahan tangis, perasaannya campur aduk. Suci merasa gagal mendidik mereka.

"Belajarlah untuk menghargai diri kalian sendiri, berusahalah untuk selalu bersikap positif, biar cap sampah masyrakat yang sudah melekat pada diri kalian bisa dihilangkan." Gadis itu menghirup napas dalam-dalam dengan kasar dihempaskannya. Rasa sesak masih terasa menghimpit dadanya.

"Cece kecewa sama kalian ...." Akhirnya bendungan yang sejak tadi ditahan, jebol. Bulir-bulir bening itu berebutan keluar. Bahu Suci terguncang menahan tangis. 

Suasana sedih terasa, rahang remaja- remaja itu terlihat mengeras, bocah-bocah cilik tanpa malu menangis tersedu-sedu, menyaksikan orang yang begitu berjasa bagi mereka, orang yang tidak ada hubungan darah tapi berlaku selayaknya seorang ibu. 

Seperti ini kah sakitnya seorang ibu yang kecewa terhadap anaknya, mereka tidak tahu karena mereka tidak pernah mempunyai ibu.

Jika ingin memilih mereka juga tidak ingin ditakdirkan terlahir sebagai anak-anak yang terbuang. Tidak ingin merasakan kerasnya hidup. 

Mereka merindukan seorang ibu yang berlari mengejar mereka dengan sapu ketika mereka salah, merindukan bentakan-bentakan seorang ayah ketika mereka  membuat onar. 

Mereka hanya menyaksikan itu, ditakdir orang lain yang terlelap dibawa selimut hangat, sementara mereka meringkuk berselimut angin malam dibawah rintik hujan.

Salahkah jika mereka tidak tahu bagaimana cara mereka mencintai, bagaimana cara mereka berbicara lembut, karena sejak dilahirkan mereka tidak pernah merasakan itu.

Bagaimana mereka bisa katakan manis jika mereka tidak pernah mengecap apa itu manis, karena yang mereka kecap hanya pahit.

Suci menyambar tas kerja serta kunci motornya yang tadi diletakkan di atas meja, setengah berlari keluar dari ruangan itu.

Mereka menatap ke arah Suci yang dengan tergesa-gesa melajukan motornya.

"Argh!" Rudy meninju dinding di depannya berkali-kali hingga meninggalkan bercak merah, entah pada siapa dia harus marah, pada dirinya kah? pada Jafar? atau pada takdir yang mempermainkannya.

Rudy dengan cepat berlari keluar, diikuti Jafar dan dua lainnya, dengan dua motor mereka berboncengan berniat menyusul Suci. Mereka kuatir karena Suci keluar dalam keadaan marah, juga kuatir terhadap penguntit tadi.

Sedangkan Suci yang melajukan motornya tiba-tiba berhenti, pandangannya mengabur karena air mata, ia kuatir melanjutkan perjalanan.

Setelah melihat Suci di depan. Rudy dan kawan-kawannya berhenti menjaga jarak dari Suci. Mereka belum berani mendekati Suci.

Terlihat Suci melepas helm, menyusut air matanya lalu mendongakkan kepalanya ke langit, sambil berkacak pinggang, menghirup napas dalam-dalam lalu dihempaskan dengan kasar. Seperti orang yang sesak napas Suci mengulanginya lagi. Sambil menyusut air matanya yang belum juga berhenti. Dia hanya ingin melepas sesak di dadanya agar air matanya berhenti.

Rudy mengeratkan cengkraman tangannya pada stang motor untuk meyalurkan rasa sesak di rongga dadanya demi menyaksikan Suci yang masih menangis karena mereka. Tanpa ekspresi air matanya juga mengalir. Dengan ekor matanya dia tahu kalau Jafar di samping sedang menatapnya. 

Sejak mengenal Rudy baru kali ini Jafar melihatnya menangis.

"Ini kah rasanya ditangisi seorang kakak? Rasanya indah sekali" kata Rudy ambigu. Sebuah rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Rudy yang sebatang kara tidak pernah mengenal orangtuanya, merasakan kasih sayang yang tulus dari Suci.

"Aneh ... ditangisi tapi kita merasa bahagia," ujar Jafar dengan tawanya yang sumbang, sambil mengusap kasar air mata yang tiba-tiba mengalir.

" Yaah ... memang aneh karena kita tidak pernah ditangsi oleh siapa pun."

Terdengar suara segukan juga dari belakang, mereka berempat menangis tanpa malu. Dalam hati mereka berjanji untuk lebih baik, harus bisa menghilangkan cap sampah masyarakat yang terlebel di dahi mereka. Entah apa yang ada dipikiran orang-orang yang melihat laki-laki bertato menangis di jalan.

"Jangan menangis Ce, kami akan berubah demi Cece," gumam Jafar lirih.

Ikatan emosional yang kuat antara mereka mampu mengubah karakter yang telah terbentuk oleh kerasnya hidup di jalanan.

Seandainya di luar sana banyak Suci-Suci lainnya yang manangisi Rudy dan teman-temannya mungkin tidak ada lagi Rudy-Rudy lain yang hidup di jalanan.

***

Bunyi ketukan di pintu kamar kostnya membuat Suci terbangun. Jam di dinding menunjukan pukul 8 malam, ternyata Suci tertidur, sejak pulang tadi.

Sosok dengan seragam coklat itu berdiri dengan senyum menawannya. Aris, lelaki 28 tahun yang telah menjalin hubungan dengan Suci selama dua tahun. Memindai penampilan Suci yang tak biasanya. Dia tahu kalau Suci sedang tidak baik-baik saja.

"Maaf Dek, tadi Abang sibuk ... tidak tau kalau Ade telpon." Aris membawa Suci dalam dekapannya sekejap lalu mereka duduk di bangku depan kamar.

"Nggak papa kok Bang, Cece tau Abang pasti lagi sibuk."

"Iya, tadi lagi tangani kasus narkoba. Informan abang ketahuan, terus dipukuli orang tak dikenal."

"Adek baik-baik saja kan?" 

"Tadi Cece nelpon karena ada orang yang buntuti Cece." 

"Hhaa? Adek lihat orangnya?" Aris terkejut. Suci menggelengkan kepalanya. Lalu menceritakan kejadian hari ini di pangkalan.

"Apa suruhan Jhontor?" 

"Nggak tau juga Bang, selama inikan hanya dia yang tidak suka sama Cece, kalau kang Badri ... nggak jelas juga kadang baik, kadang jahat. Tadi memang anak-anak yang lain tidak ada, katanya di tempatnya kang Badri, dipaksa ngemis lagi."

"Sialan tu orang, belum kapok juga tu si Badri!" umpat Aris.

"Ade jangan ngeronda dulu, abang takut nanti adek di apa-apain. Nanti sama abang aja, kalo abang ada waktu." 

"Iya bang, tapi barang-barang yang mau Cece bagikan masih banyak, tuh kamar Cece sudah sempit." Aris berdiri lalu melongok ke dalam kamar sebentar.

"Masih banyak juga yang mau Cece belikan."

"Abang usahakan temani adek nanti."

"Ya udah abang pulang dulu, ati-ati jaga diri baik-baik. Abang pengen mandi lengket semua nih. Tadi langsung kesini karena lihat panggilan Adek. Bagusnya tadi abang mandi dulu biar bisa lama-lama sama adek," sesal Aris.

"Pantas napas Cece sesak, kayak ada acem-acemnya gitu," canda Suci sambil pura-pura menutup hidungnya.

"Nggak mandi di sini aja bang," goda Suci.

"Hah? yang bener dek!" Mata Aris membulat sempurna. Namun kembali meredup, ketika melihat Suci tersenyum menahan tawanya. Perubahan pada wajah Aris menggelitik Suci, wajah menarik itu terlihat lucu. 

"Idihh ... mau-maunya." Suci tertawa renyah.

"Pulang gih!"

"Yah udah abang pulang, mana pelukannya?"

Suci berdiri lalu memeluk tubuh tegap itu. Aris mendekap tubuh Suci dengan hangat. Gadis tegar itu jika bersama Aris menjadi manja, Ia menyandarkan kepalanya pada dada Aris, ada rasa hangat yang menyelubungi hatinya. 

"Abang cinta banget sama kamu, dek" 

"Nikah yuk."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cewek kutu buku itu tunanganku
8.8
Di hari ulang tahunnya, Sevilla harus kehilangan sang ayah. Malapetaka tak berhenti di situ—perusahaan keluarga bangkrut gara-gara pamannya, sang ibu mengalami gangguan jiwa, dan seluruh aset mereka lenyap. Di usia 14 tahun, Sevilla banting tulang di sebuah rumah kontrakan sempit untuk bertahan hidup. Hidupnya berubah saat ia menabrak Verrel, siswa populer yang jenius dan tampan. Awalnya mereka bersaing sebagai musuh, namun benih perasaan mulai tumbuh. Mengetahui nasib Sevilla, keluarga Verrel yang ternyata sahabat almarhum ayahnya mengajak mereka tinggal bersama—dan mengungkap perjanjian perjodohan yang tak pernah Sevilla duga. Cinta mereka terhalang Alona dan Yusha yang menculik Sevilla untuk diperjualbelikan. Selamat, namun Verrel kehilangan jejaknya. Kabar mengejutkan datang: Sevilla di Amsterdam, dan di balik itu semua, terkuak rahasia bahwa mereka bersaudara tiri.
Sampul Novel Dikejar Mantan Suami Arogan
9.1
Fay memohon dengan sangat agar Janus tidak mengakhiri pernikahan mereka. Ia rela bertahan dalam kondisi apa pun tanpa menuntut hal lebih. Namun, permohonan pilu itu justru disambut dengan tatapan dingin dari Janus. Dengan suara serak yang tegas, Janus mengingatkan Fay akan kesepakatan awal mereka. Pernikahan ini harus selesai saat Uke kembali. Walau suaranya sempat bergetar, Janus menegaskan bahwa janji masa lalu tersebut adalah batas akhir dari hubungan mereka kini.
Sampul Novel Istri Kedua Tuan Abraham
8.5
Demi mewujudkan pesan terakhir Mikhaela yang sedang sekarat, Abraham Wijaya terpaksa menikahi asisten rumah tangganya, Jihan. Walau awalnya enggan, Jihan menerima pernikahan kedua ini sebagai bentuk balas budi. Konflik memuncak ketika Jihan mengandung, memicu perubahan sikap Abraham dan rasa cemburu buta Mikhaela yang berujung pada pengusiran Jihan. Kini, Jihan bimbang antara melarikan diri bersama bayinya atau bertahan demi cinta yang kian bersemi.
Sampul Novel Pernikahan Bukan Pilihanku
8.2
Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sakit, Kirana Ayunda Putri terpaksa merelakan cintanya pada Bima Senjaya. Di usia sembilan belas tahun, ia harus menikahi Mahardika Satria Wibowo, seorang pria yang didesak ayahnya untuk segera memiliki penerus baru setelah kematian anak tunggalnya. Namun, pernikahan ini justru menjadi awal penderitaan Kirana. Tanpa pembelaan dari Mahardika, ia harus berjuang sendirian menghadapi kebencian serta kekejaman dari istri pertama suaminya.
Sampul Novel Pesona Istri CE0
8.7
Dibuang oleh orang tuanya, Neysa Ayudia hanya dibesarkan oleh sang nenek. Takdirnya berubah drastis ketika ia dipaksa menikah dengan Alby Delano Prabu, CEO pewaris Prabu Group, guna memenuhi wasiat sahabat neneknya. Walau Alby berupaya keras membatalkan perjodohan tersebut, pernikahan mereka tetap terlaksana. Kini, Neysa harus menerima kenyataan pahit karena dibenci oleh suami serta keluarga besarnya. Sanggupkah Neysa bertahan hidup dan meluluhkan hati seluruh keluarga Prabu?
Sampul Novel Pesona Pria Bertopeng yang Memikat
9.2
Novel modern berbalut misteri, "Pesona Pria Bertopeng yang Memikat", mengisahkan konflik batin seorang wanita hamil yang kehilangan kehangatan dari suaminya. Penolakan sang suami memicu pergolakan hasrat dan fantasi liar yang menyiksa dirinya setiap malam. Di tengah kesepian dan ketegangan rumah tangga yang kian mendingin, situasi berubah mencekam sekaligus mendebarkan ketika sesosok pria asing bertopeng secara misterius berhasil menyusup ke dalam kediamannya.