APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Nakal Itu Milikku

Gadis Nakal Itu Milikku

Grace terduduk tak berdaya, hancur setelah dipermalukan oleh Edward. Keangkuhan yang biasa ia miliki kini sirna sepenuhnya. Di sela tangisan Grace, Edward datang mendekat, mendekapnya dengan erat sembari meminta maaf. Ia berterus terang bahwa amarahnya tersulut akibat cemburu melihat kebersamaan Grace dengan Kevin. Walau sempat kehilangan kendali, Edward akhirnya menyadari kekacauan hatinya. Ia pun mengecup kening Grace, mencoba mengutarakan rasa sesak di dada yang selama ini tak ia mengerti.
Bab
Bagikan

Bab 1

Avery Street, Detroit, 21st January 2019

Grace masih belum mendapatkan bus yang akan membawanya ke tempat kerja, tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel tebal, bibirnya membentuk bulatan, kepulan asap mengepul dari bibir. Musim dingin masih belum berakhir, dan dia sadar, keuangannya mulai menipis, bahan makanan pun berkurang, sedangkan kedua orang tua Grace tidak memiliki pekerjaan tetap.

“Grace!”

Mendengar namanya dipanggil, Grace menoleh.

Seorang gadis berlari-lari kecil menghampirinya, dia itu Natalie, sahabat dari kecil Grace. Sama-sama orang susah yang tinggal di tempat kumuh, tak jauh dari sebuah klub malam di mana para pelacur-pelacur mengais rejeki tiap malamnya

“Aha, kukira kau sudah berangkat lebih dulu.” Grace menyambut tepukan tangan Natalie. Toss.

“Sepertinya ... aku akan berhenti bekerja di toko kue, aku ingin melamar bekerja di sebuah coffee shop, mereka bilang gajinya lebih besar dari toko kue itu. Bagaimana menurutmu, G?” 

‘G’ itu adalah panggilan kesayangan Natalie pada Grace.

Sebetulnya Natalie sedang berbohong, dia bukannya ingin melamar kerja di sebuah coffee shop, melainkan ada seorang lelaki tua yang ingin menjadikannya seorang simpanan dengan syarat Natalie harus mampu melayani syahwatnya.

Laki-laki tua itu bersedia membelikannya sebuah apartemen dan mobil mewah, karena menurut lelaki itu, istrinya sudah tak sanggup melayaninya lagi, sudah renta, sakit-sakitan, bahkan tak mampu lagi melakukan gaya ‘seminary.'

Kalian bisa membayangkan pasangan kakek dan nenek yang sudah uzur melakukan gaya seperti itu, bahkan sutradara film dewasa pun tak sudi melirik, ah ... memang laki-laki, mau sudah tua pun kadang tak tahu diri. Itulah laki-laki, sekali lagi dikatakan, itulah laki-laki!

Grace lalu melirik curiga ke arah Natalie, “Betul? Aku merasa, kau sedang berbohong padaku?” ujar Grace.

“Wah, buat apa aku berbohong,” jawab Natalie sembari meninju kecil lengan Grace. Padahal dia memang berbohong.

“Sudahlah, itu bis kita, ayo,” ajak Grace lalu menarik tangan Natalie.

Sedangkan di tempat lain, di malam yang sama, sekelompok pemuda dari kalangan elite di Detroit, seperti tak memiliki tujuan. Mereka merasa kehidupan mereka selama ini sangat monoton.

Sebuah mobil Rolls Royce berwarna hitam berhenti tepat di depan klub malam, menjadi tontonan kekaguman beberapa orang yang berada di luar klub.

Tak perlu pusing mencari tempat hiburan malam, dengan wanita-wanita yang senang bersedekah melalui pakaian mereka yang apa adanya tanpa diberi bahan tambahan. Ditambah lagi, Detroit bukanlah sebuah kota yang susah untuk mendapatkan hiburan-hiburan seperti itu. Tempat prostitusi, perjudian, dan hiburan haram lainnya tersedia dengan baik di sana.

Semua mata tertuju pada seorang pemuda tampan yang bergerak keluar, dengan sigap membuka pintu di sebelah kanan, memersilakan Edward untuk turun. "Silakan turun, Tuan Muda," ujar pemuda bernama Vanes bergaya ala-ala supir, meski sama sekali tak cocok menjadi supir dengan rambut panjang berwarna coklat tembaga sebahu, tubuh tinggi, kulit putih, dan bibirnya merupakan bagian paling seksi, membuatnya lebih cocok menjadi gundik simpanan tante-tante, ya, dia tampan, seisi mobil itu semuanya tampan.

Edward, Vanes, Mark, dan Kevin. Siapa yang tak mengenal keempat pemuda tampan dan rupawan itu?

Ketampanan mereka bahkan bisa membuat otakmu berfantasi liar semaunya dengan melihat sosok, dan wajah mereka.

Sumpah, keempat pemuda itu benar-benar bisa membuatmu memelas untuk ditiduri tanpa bayaran sekalipun. Mereka seksi, sangat seksi. Apalagi Edward.

Edward, pemuda berusia 28 tahun itu, merupakan anak dari salah satu pemilik perusahaan software terbesar di dunia. Memiliki 50 hotel mewah berbintang lima yang tersebar di 20 negara, lalu 25 restoran besar dan terkenal, memilki 10 mall besar yang selalu ramai pengunjung, dan masih banyak kekayaan yang tak mungkin dijabarkan satu per satu. Tak ada yang tak kenal dengan keluarga Madison. 

Dengan malas, Edward pun turun. "Ya, Terima kasih, tapi jangan berharap aku akan menggajimu hanya karena telah membukakan pintu untukku," ujarnya.

Setelah Edward turun, di belakangnya dua orang lagi menyusul; Mark dan Kevin.

Saat keempat pemuda itu berjalan beriringan, wanita-wanita muda bahkan nenek-nenek yang melintas di jalan sampai menelan ludah. Bagaimana tidak? Empat mahakarya yang nyaris sempurna, tubuh mereka yang tinggi, tegap, berdada bidang, dibalut kemeja dan jas hitam  rancangan desainer terkenal—Armani—membuat mereka tampak seperti pangeran tanpa kuda yang tersasar di tengah kota.

Mark sendiri tak kalah kayanya, dia adalah anak seorang pemilik universitas ternama di Detroit, dan pemilik sebuah brand terkenal yang memproduksi berlian-berlian berkualitas yang di ekspor ke luar negeri.

"Aku ingin membeli kue di sana," ujar Edward seraya menunjuk ke seberang jalan.

"Hah, kau mau membeli kue? Untuk siapa?" tanya Mark. Mark, seorang playboy kelas kakap, dengan tatapannya dia bisa memikat perempuan manapun untuk dibawanya berleha-leha di atas ranjang, tanpa terkecuali.

Edward melirik Mark dan menaikkan satu alisnya, wajahnya terlihat datar. "Buat siapa? Aku yang membeli berarti buat kumakan. Kau pikir, aku membeli kue untuk gadis-gadis malam yang selalu menggelayut manja di tubuhmu?" sindir Edward.

Sayangnya, kuping Mark sudah tebal dengan kalimat-kalimat sarkasme dari Edward, sahabat masa kecilnya itu. Dia tahu betul watak Edward, lelaki tampan, yang selalu dingin pada siapa pun. Sekalipun ada perempuan telanjang di hadapannya, Mark sangat yakin, Edward tak akan menyentuh sedikit pun. Keperawanan pun dijamin aman, tetap tersegel.

Mark bersiul kepada seorang gadis berambut merah yang melintas di sampingnya, "You're so sexy, Babe," godanya dan tanpa sungkan meremas gemas bokong tipis milik gadis itu. Anehnya, gadis itu hanya tersenyum, sedikit pun tak marah, malah melemparkan ciuman di udara. Sinting!

"Kurasa sebentar lagi kau akan terkena penyakit kelamin, dengan kelakuanmu yang seperti itu," ujar Edward. "Gadis tadi sama sekali tak ada menarik-nariknya, bokong tipis, dada mungkin hanya seukuran 34A, wajah standar, apa yang membuatmu melihatnya sebagai seorang yang seksi?"

“Kau memang aneh, gadis tadi cantik, kau tahu Naomi Lewis?”

“Siapa dia, apakah dia salah satu pelacur yang kau temui di jalan, kemudian berpura-pura sakit lalu ikut denganmu ke rumah dan—“

“Sshtt ... kau benar-benar norak,” balas Mark.

“Lalu?”

“Ehem." Kevin berdehem, semua mata tertuju padanya, “Naomi Lewis, artis situs porno.”

Edward melihat Kevin dengan pandangan jijik. Sejak kapan sahabatnya yang terkenal pendiam, yang hanya sibuk menekan-nekan tuts piano, tiba-tiba bisa menyebut salah satu artis porno dengan lancar.

“Kau berlangganan di sana?” tanya Edward datar.

“Tidak, apakah ada yang salah? Dadanya bagus, itu saja, aku tidak—“

“Hey, hey, diam-diam kau nakal juga, Kev.” Mark menyolek pinggang Kevin, dan menjawil hidung mancung Kevin.

Keempatnya tiba di depan toko kue. Mereka berempat masuk ke dalam, di sana ada Grace dan Natalie yang sedang sibuk membersihkan rak-rak display.

Lagi-lagi mata nakal Mark memang tak bisa melihat barang bagus, dia sibuk memerhatikan Grace dari ujung kaki hingga ujung rambut. Kaos polo putih ketat yang melekat di tubuh Grace menunjukkan dengan sangat jelas lekuk tubuh bagian atasnya, padat, berisi.

“Hai, selamat datang, ada yang bisa kubantu?” tanya Grace seraya mendekati keempatnya.

Tatapan Mark masih tertuju pada bagian dada Grace, dan Grace menyadarinya. Seorang pemuda tampan berpenampilan necis, memperhatikan dengan seksama bagian dada tanpa berkedip, pasti pemuda ini nakal.

“Hey. Apa yang kau lihat?” tanya Grace lagi.

“Eh, apa kau punya kue susu?” jawab Mark, ya kue ‘susu’ sambil melirik jenaka ke arah dada.

Edward maju ke arah Grace, kemudian menarik tangan Grace mengajaknya menjauhi Mark.

“Aku ingin membeli kue tiramisu yang ada di showcase, tolong bungkuskan empat buah,” ujar Edward, masih tak menyadari jika tangannya masih menggenggam tangan Grace.

“Hm, bisa lepaskan tanganku lebih dulu?” tunjuk Grace ke arah tangannya yang masih dengan erat dalam genggaman Edward.

Ups, wajah Edward seketika memerah menahan malu, Grace tertawa terbahak-bahak lalu berlalu dari hadapan Edward, dan menyiapkan pesanan miliknya.

**

Sepulang kerja Grace melewati lokasi di mana sebuah klub malam yang cukup besar berdiri tak jauh dari tempat tinggalnya. Setiap dia melewati lokasi itu, seketika dia akan menghentikan langkahnya sejenak. Dia terpesona dengan kecantikan para perempuan-perempuan penghibur yang bekerja di sana. Perempuan-perempuan itu  terlihat cantik di mata Grace. Mereka terkadang melintas di depan Grace, dan wangi parfum mahal selalu mengusik penciumannya.

Entah uang darimana, pikir Grace saat itu. Sepertinya pekerjaan yang mereka lakukan bisa menghasilkan uang banyak, membeli barang-barang mewah dan selalu berganti-ganti mobil tiap malamnya.

“Apakah mereka masih membutuhkan pekerja di sana, aku ingin sekali bekerja di klub itu."

========================================================

Untuk para pembaca setia, kalian bisa membuka bab berbayar jauh lebih murah dari sebelumnya, karena sudah ada pembaruan jumlah koin untuk membuka kunci. Semoga bisa menikmati novel ini sampai akhir :)

Jangan lupa untuk terus mengikuti novel ini sampai akhir karena pada akhir Februari akan ada giveaway bagi satu pembaca yang beruntung yang mengirimi gems terbanyak. Pemenang akan diumumkan di fb penulis. Silakan mengadd dengan nama pena yang sama :)

Avery Street, Detroit, 21st January 2019

Grace masih belum mendapatkan bus yang akan membawanya ke tempat kerja, tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel tebal, bibirnya membentuk bulatan, kepulan asap mengepul dari bibir. Musim dingin masih belum berakhir, dan dia sadar, keuangannya mulai menipis, bahan makanan pun berkurang, sedangkan kedua orang tua Grace tidak memiliki pekerjaan tetap.

“Grace!”

Mendengar namanya dipanggil, Grace menoleh.

Seorang gadis berlari-lari kecil menghampirinya, dia itu Natalie, sahabat dari kecil Grace. Sama-sama orang susah yang tinggal di tempat kumuh, tak jauh dari sebuah klub malam di mana para pelacur-pelacur mengais rejeki tiap malamnya

“Aha, kukira kau sudah berangkat lebih dulu.” Grace menyambut tepukan tangan Natalie. Toss.

“Sepertinya ... aku akan berhenti bekerja di toko kue, aku ingin melamar bekerja di sebuah coffee shop, mereka bilang gajinya lebih besar dari toko kue itu. Bagaimana menurutmu, G?” 

‘G’ itu adalah panggilan kesayangan Natalie pada Grace.

Sebetulnya Natalie sedang berbohong, dia bukannya ingin melamar kerja di sebuah coffee shop, melainkan ada seorang lelaki tua yang ingin menjadikannya seorang simpanan dengan syarat Natalie harus mampu melayani syahwatnya.

Laki-laki tua itu bersedia membelikannya sebuah apartemen dan mobil mewah, karena menurut lelaki itu, istrinya sudah tak sanggup melayaninya lagi, sudah renta, sakit-sakitan, bahkan tak mampu lagi melakukan gaya ‘seminary.'

Kalian bisa membayangkan pasangan kakek dan nenek yang sudah uzur melakukan gaya seperti itu, bahkan sutradara film dewasa pun tak sudi melirik, ah ... memang laki-laki, mau sudah tua pun kadang tak tahu diri. Itulah laki-laki, sekali lagi dikatakan, itulah laki-laki!

Grace lalu melirik curiga ke arah Natalie, “Betul? Aku merasa, kau sedang berbohong padaku?” ujar Grace.

“Wah, buat apa aku berbohong,” jawab Natalie sembari meninju kecil lengan Grace. Padahal dia memang berbohong.

“Sudahlah, itu bis kita, ayo,” ajak Grace lalu menarik tangan Natalie.

Sedangkan di tempat lain, di malam yang sama, sekelompok pemuda dari kalangan elite di Detroit, seperti tak memiliki tujuan. Mereka merasa kehidupan mereka selama ini sangat monoton.

Sebuah mobil Rolls Royce berwarna hitam berhenti tepat di depan klub malam, menjadi tontonan kekaguman beberapa orang yang berada di luar klub.

Tak perlu pusing mencari tempat hiburan malam, dengan wanita-wanita yang senang bersedekah melalui pakaian mereka yang apa adanya tanpa diberi bahan tambahan. Ditambah lagi, Detroit bukanlah sebuah kota yang susah untuk mendapatkan hiburan-hiburan seperti itu. Tempat prostitusi, perjudian, dan hiburan haram lainnya tersedia dengan baik di sana.

Semua mata tertuju pada seorang pemuda tampan yang bergerak keluar, dengan sigap membuka pintu di sebelah kanan, memersilakan Edward untuk turun. "Silakan turun, Tuan Muda," ujar pemuda bernama Vanes bergaya ala-ala supir, meski sama sekali tak cocok menjadi supir dengan rambut panjang berwarna coklat tembaga sebahu, tubuh tinggi, kulit putih, dan bibirnya merupakan bagian paling seksi, membuatnya lebih cocok menjadi gundik simpanan tante-tante, ya, dia tampan, seisi mobil itu semuanya tampan.

Edward, Vanes, Mark, dan Kevin. Siapa yang tak mengenal keempat pemuda tampan dan rupawan itu?

Ketampanan mereka bahkan bisa membuat otakmu berfantasi liar semaunya dengan melihat sosok, dan wajah mereka.

Sumpah, keempat pemuda itu benar-benar bisa membuatmu memelas untuk ditiduri tanpa bayaran sekalipun. Mereka seksi, sangat seksi. Apalagi Edward.

Edward, pemuda berusia 28 tahun itu, merupakan anak dari salah satu pemilik perusahaan software terbesar di dunia. Memiliki 50 hotel mewah berbintang lima yang tersebar di 20 negara, lalu 25 restoran besar dan terkenal, memilki 10 mall besar yang selalu ramai pengunjung, dan masih banyak kekayaan yang tak mungkin dijabarkan satu per satu. Tak ada yang tak kenal dengan keluarga Madison. 

Dengan malas, Edward pun turun. "Ya, Terima kasih, tapi jangan berharap aku akan menggajimu hanya karena telah membukakan pintu untukku," ujarnya.

Setelah Edward turun, di belakangnya dua orang lagi menyusul; Mark dan Kevin.

Saat keempat pemuda itu berjalan beriringan, wanita-wanita muda bahkan nenek-nenek yang melintas di jalan sampai menelan ludah. Bagaimana tidak? Empat mahakarya yang nyaris sempurna, tubuh mereka yang tinggi, tegap, berdada bidang, dibalut kemeja dan jas hitam  rancangan desainer terkenal—Armani—membuat mereka tampak seperti pangeran tanpa kuda yang tersasar di tengah kota.

Mark sendiri tak kalah kayanya, dia adalah anak seorang pemilik universitas ternama di Detroit, dan pemilik sebuah brand terkenal yang memproduksi berlian-berlian berkualitas yang di ekspor ke luar negeri.

"Aku ingin membeli kue di sana," ujar Edward seraya menunjuk ke seberang jalan.

"Hah, kau mau membeli kue? Untuk siapa?" tanya Mark. Mark, seorang playboy kelas kakap, dengan tatapannya dia bisa memikat perempuan manapun untuk dibawanya berleha-leha di atas ranjang, tanpa terkecuali.

Edward melirik Mark dan menaikkan satu alisnya, wajahnya terlihat datar. "Buat siapa? Aku yang membeli berarti buat kumakan. Kau pikir, aku membeli kue untuk gadis-gadis malam yang selalu menggelayut manja di tubuhmu?" sindir Edward.

Sayangnya, kuping Mark sudah tebal dengan kalimat-kalimat sarkasme dari Edward, sahabat masa kecilnya itu. Dia tahu betul watak Edward, lelaki tampan, yang selalu dingin pada siapa pun. Sekalipun ada perempuan telanjang di hadapannya, Mark sangat yakin, Edward tak akan menyentuh sedikit pun. Keperawanan pun dijamin aman, tetap tersegel.

Mark bersiul kepada seorang gadis berambut merah yang melintas di sampingnya, "You're so sexy, Babe," godanya dan tanpa sungkan meremas gemas bokong tipis milik gadis itu. Anehnya, gadis itu hanya tersenyum, sedikit pun tak marah, malah melemparkan ciuman di udara. Sinting!

"Kurasa sebentar lagi kau akan terkena penyakit kelamin, dengan kelakuanmu yang seperti itu," ujar Edward. "Gadis tadi sama sekali tak ada menarik-nariknya, bokong tipis, dada mungkin hanya seukuran 34A, wajah standar, apa yang membuatmu melihatnya sebagai seorang yang seksi?"

“Kau memang aneh, gadis tadi cantik, kau tahu Naomi Lewis?”

“Siapa dia, apakah dia salah satu pelacur yang kau temui di jalan, kemudian berpura-pura sakit lalu ikut denganmu ke rumah dan—“

“Sshtt ... kau benar-benar norak,” balas Mark.

“Lalu?”

“Ehem." Kevin berdehem, semua mata tertuju padanya, “Naomi Lewis, artis situs porno.”

Edward melihat Kevin dengan pandangan jijik. Sejak kapan sahabatnya yang terkenal pendiam, yang hanya sibuk menekan-nekan tuts piano, tiba-tiba bisa menyebut salah satu artis porno dengan lancar.

“Kau berlangganan di sana?” tanya Edward datar.

“Tidak, apakah ada yang salah? Dadanya bagus, itu saja, aku tidak—“

“Hey, hey, diam-diam kau nakal juga, Kev.” Mark menyolek pinggang Kevin, dan menjawil hidung mancung Kevin.

Keempatnya tiba di depan toko kue. Mereka berempat masuk ke dalam, di sana ada Grace dan Natalie yang sedang sibuk membersihkan rak-rak display.

Lagi-lagi mata nakal Mark memang tak bisa melihat barang bagus, dia sibuk memerhatikan Grace dari ujung kaki hingga ujung rambut. Kaos polo putih ketat yang melekat di tubuh Grace menunjukkan dengan sangat jelas lekuk tubuh bagian atasnya, padat, berisi.

“Hai, selamat datang, ada yang bisa kubantu?” tanya Grace seraya mendekati keempatnya.

Tatapan Mark masih tertuju pada bagian dada Grace, dan Grace menyadarinya. Seorang pemuda tampan berpenampilan necis, memperhatikan dengan seksama bagian dada tanpa berkedip, pasti pemuda ini nakal.

“Hey. Apa yang kau lihat?” tanya Grace lagi.

“Eh, apa kau punya kue susu?” jawab Mark, ya kue ‘susu’ sambil melirik jenaka ke arah dada.

Edward maju ke arah Grace, kemudian menarik tangan Grace mengajaknya menjauhi Mark.

“Aku ingin membeli kue tiramisu yang ada di showcase, tolong bungkuskan empat buah,” ujar Edward, masih tak menyadari jika tangannya masih menggenggam tangan Grace.

“Hm, bisa lepaskan tanganku lebih dulu?” tunjuk Grace ke arah tangannya yang masih dengan erat dalam genggaman Edward.

Ups, wajah Edward seketika memerah menahan malu, Grace tertawa terbahak-bahak lalu berlalu dari hadapan Edward, dan menyiapkan pesanan miliknya.

**

Sepulang kerja Grace melewati lokasi di mana sebuah klub malam yang cukup besar berdiri tak jauh dari tempat tinggalnya. Setiap dia melewati lokasi itu, seketika dia akan menghentikan langkahnya sejenak. Dia terpesona dengan kecantikan para perempuan-perempuan penghibur yang bekerja di sana. Perempuan-perempuan itu  terlihat cantik di mata Grace. Mereka terkadang melintas di depan Grace, dan wangi parfum mahal selalu mengusik penciumannya.

Entah uang darimana, pikir Grace saat itu. Sepertinya pekerjaan yang mereka lakukan bisa menghasilkan uang banyak, membeli barang-barang mewah dan selalu berganti-ganti mobil tiap malamnya.

“Apakah mereka masih membutuhkan pekerja di sana, aku ingin sekali bekerja di klub itu."

========================================================

Untuk para pembaca setia, kalian bisa membuka bab berbayar jauh lebih murah dari sebelumnya, karena sudah ada pembaruan jumlah koin untuk membuka kunci. Semoga bisa menikmati novel ini sampai akhir :)

Jangan lupa untuk terus mengikuti novel ini sampai akhir karena pada akhir Februari akan ada giveaway bagi satu pembaca yang beruntung yang mengirimi gems terbanyak. Pemenang akan diumumkan di fb penulis. Silakan mengadd dengan nama pena yang sama :)

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan inginku Selingkuh
9.1
Menjunjung tinggi kesetiaan tak melindungi Ruela dari pengkhianatan Frans. Suaminya itu justru berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Alih-alih meratapi nasib, Ruela memilih bangkit demi menuntut balas. Di tengah rencana pembalasan dendam tersebut, takdir mempertemukannya dengan Felix, pemuda yang melewati malam penuh gairah bersamanya. Mampukah Ruela menghancurkan para pengkhianat di hidupnya? Inilah kisah penuh luka, ambisi, dan pertemuan tak terduga.
Sampul Novel Derita Penantian Cinta
8.6
Almira, sarjana desa yang bekerja di perusahaan swasta, menghadapi tekanan berat dari sang ayah untuk segera menikah. Hal ini dipicu oleh pertunangan adiknya, yang menurut sang ayah akan menjadi aib jika melangkahi kakaknya karena bisa membuat Almira sulit jodoh. Meski dipaksa menjalani berbagai perjodohan, Almira menolak semua pria tersebut karena tidak merasa cocok. Penolakan ini memicu kemarahan ayahnya, yang kini melabelinya sebagai gadis sombong dan pemilih.
Sampul Novel Gadisku UniQue
9.5
Uni merintih kesakitan saat Ares mencoba memasukkan sesuatu secara hati-hati. Meski diminta perlahan, rasa sakit membuat Uni membentak Ares dalam situasi panik. Ares lalu mengajak Uni ke kamar mandi agar lebih mudah. Di luar ruangan, Deris tidak sengaja mendengar percakapan ambigu tersebut hingga merasa sangat terkejut dan tidak percaya. Kesalahpahaman pun akhirnya muncul akibat interaksi penuh ketegangan ini.
Sampul Novel Melodi Rindu di Senyap Malam
9.3
Kisah romansa modern ini menyoroti perjalanan batin seseorang dalam memaknai cinta sejati dan sebuah pengampunan. Lewat keheningan malam yang damai, pembaca diajak menyelami refleksi emosional serta spiritual yang mendalam. Setiap momen sepi menjadi ruang untuk merenungi arti kehidupan yang penuh kerinduan. Buku ini menghadirkan narasi menyentuh hati agar kita bisa menghargai setiap detik kesunyian sebagai sebuah simfoni indah.
Sampul Novel MY HUSBAND'S A HANDSOME CEO
9.7
Menikah dengan CEO tampan nan bergelimang harta adalah impian yang tampak sempurna. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Di balik kemewahan tersebut, ada perjuangan berat untuk mempertahankan ikatan pernikahan. Banyak wanita yang terobsesi dan rela melakukan apa saja demi merebut posisi istri sah. Anda pun dituntut selalu waspada menghadapi godaan serta intrik licik yang mengancam keutuhan rumah tangga bersama pria idaman tersebut.
Sampul Novel Terlahir Kembali, Akan Kubalas Kalian
8.7
Ketika Dylan Stevens memilih merayakan tahun baru di pantai bersama asistennya, sang kekasih tidak lagi menahan kepergiannya. Di kehidupan sebelumnya, tindakan menahan Dylan dengan kehamilan justru berujung pada kematian tragis sang asisten dan pembunuhan kejam terhadap bayinya sendiri oleh Dylan yang menyimpan dendam. Kini, setelah terlahir kembali, ia segera melakukan aborsi begitu Dylan pergi. Dengan kesempatan kedua ini, ia bertekad untuk menghancurkan hidup Dylan dan merebut seluruh miliknya tanpa sisa.