APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel FAULT

FAULT

Arista Lucy, sosok lembut yang berubah menjadi pembunuh bayaran dingin akibat trauma masa lalunya, kini hidup demi membalas dendam. Namun, segalanya mulai terusik sejak kehadiran Evan. Pria penuh misteri itu justru membawa ketenangan tak terduga yang perlahan mencairkan kepedihan di hati Arista. Di tengah dinginnya misi yang ia jalani, kini Arista terjebak dalam pergulatan batin yang hebat antara menuntaskan dendam membara atau menerima kedamaian baru yang ditawarkan oleh Evan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Malam telah larut, dari arah kamar mandi sebuah rumah mewah terlihat Zero, sedang mencuci tangan dan wajahnya yang berlumuran darah di washtafel.

Perlahan kedua tangan serta wajahnya mulai bersih, dan darah-darah tadi mengalir keujung washtafel hingga hilang sama sekali.

Entah kemana darah dari korbannya tadi mengalir selanjutnya.

“Mau sampai kapan? Mau sampai kapan lo kayak gini?!!!” Ucapnya sembari berkaca dan melihat wajahnya disana.

“Arghhhh!!! “ Serunya lagi sambil

memukul cermin hingga retak dan membuat darah mengalir deras dari tangannya.

Tiba – tiba terdengar sirine mobil polisi, gadis berambut panjang ini dengan sigap memakai topeng dan sarung tangannya kembali. Ia melangkah cepat bahkan setengah berlari menuju pintu belakang dan meninggalkan seorang pengusaha kaya yang

sudah tak bernyawa. Serta dua sandera digudang yaitu anak dan istri korban.

Kini Zero sudah jauh meninggalkan rumah tersebut. Dan kini lagi, lagi, dan lagi, Ia lolos dari kejaran polisi.

* * *

Matahari bersinar cukup terik siang ini, tapi itu tak membuat gadis manis berambut panjang dengan kulit putih pucatnya itu duduk di kursi taman sambil menyesap sepuntung rokok. 

Pohon mangga yang cukup besar yang berada di area taman kampus ini, sudah lebih dari cukup menyelamatkannya dari sengatan matahari siang ini.

Tapi, tentu saja itu tak menyelamatkannya dari setiap pasang mata yang kini sedang melihat aneh kearahnya sambil mencibir.

Awalnya Ia santai saja dengan keadaan ini, karena ini bukan kali pertama itu terjadi. Tapi lama kelamaan ia mulai risih dengan semuanya. Perempuan bermata tajam yang terkenal kasar dimata anak-anak kampus ini mulai ambil sikap.

"Eh ... Lo ngomongin gue??" Tanyanya menghampiri salah satu mahasiswa yang juga berada ditaman, yang memang sedari tadi mencibir kearahnya. 

Cowok berkacamata yang sedang bersama dua temannya yang lain ini mulai gugup, karena mengingat dia tak akan segan-segan pada siapapun yang mengganggu ketenangannya. 

Dia juga tak pernah terlihat ramah pada siapapun. Bahkan Ia juga tak pernah berbicara santun pada dosen-dosennya. Dia adalah Arista Lucy. She's real a badgirl.

"Ng-Nggak, gue nggak ngomongin lo kok," jawabnya gugup.

"Jangan bohong lo!!" Bentak Arista sembari menarik kerah baju cowok tersebut.

"Serius Ta, kita nggak ngomongin lo, " ucap cowok berkacamata ini semakin terlihat cemas.

"Ahh ... basi lo !!!" Bentaknya kian keras, dengan tatapan tajam dan penuh amarah. 

Arista tengah bersiap mendaratkan bogem mentah kearah wajah cowok berkacamata yang ia anggap sudah mengganggu ketenangannya itu.

"Arista !!! Berhenti !!!" Teriak Kania sahabat karibnya dari kejauhan dan kini berjalan mendekat kearahnya. Teriakan itu sukses membuat Arista mengurungkan niatnya.

"Inget !! sekali lagi lo ganggu ketenangan gue, gue pasti'in lo bakal nyesel seumur hidup. PAHAM LO !!" Bisik Arista dengan kata-kata kasarnya pada cowok berkacamata tadi.

"Ta ... lo apa – apa 'an sih? Lepasin nggak?" Pinta Kania dan Arista mau tak mau menurut.

"Gue mau ngomong sama lo," ucap Kania sembari menarik lengan Arista. Lalu menyeretnya pergi begitu saja.

***

"Ngapain kita kesini???? " Tanya Arista dengan wajah heran, karena Kania menyeretnya penuh paksaan tadi hanya untuk ke toilet. Tempat ini jelas bukan tempat ternyaman untuk ngobrol.

Kania bukannya menjawab, Ia lebih memilih mencipratkan air ke wajah Arista, dengan air keran yang baru saja Ia ambil.

"Nia ... !" Arista tampak kaget bercampur kesal. 

"Itu tujuan kita kesini?"

"Apa?" Arista masih tak mengerti dengan maksud dan arah pembicaraan sahabatnya itu.

"Ta, lo sadar nggak sih apa yang udah lo lakuin?"

Arista hanya memasang tampang tak peduli sembari mengeringkan wajahnya dengan tissue. Ini pasti masih soal sikap Arista saat di taman tadi. Huft ... Kania kadang terlalu cerewet. 

"Lo tahu, lo bisa aja beneran di drop out dari kampus karena sikap kasar loe."

"Maksud Lo?"

"Tadi gue nggak sengaja ngedengarin pembicaraan dosen-dosen tentang lo. Lo kemungkinan bakal di DO kalau sikap kasar lo masih belum bisa berubah sampai bulan depan," terang Kania dengan raut wajah serius. Sangat serius.

"Gue nggak peduli. Lagian gue berani jamin palingan itu cuma gertak sambel doank," tutur Arista dengan sangat tenang sembari mengambil satu puntung rokok dan mulai ingin membakarnya.

"Ta, Ayolah. Dengerin gue sekali ini aja!!!" Kania mengambil paksa rokok tadi dari Arista, hingga membuat sahabatnya mengkerutkan dahi.

"Mereka nggak bakal bersikap lembut lagi sama lo. Dan ini, sampai kapan lo kayak gini. Lo nggak merhatiin kesehatan lo?" sambung Kania lagi sambil menunjukkan rokok yang tadi dia rebut tepat di depan muka Arista. 

"Come on Ta, lo harus berubah dari sekarang. Nggak usah kasar lagi, dan berhenti ngerokok. Lo bisa kan lembutan dikit. Lo itu cewek, feminin dikit kek." Kania masih saja mengoceh. 

"Oh ... jadi maksud lo, gue harus pake rok, highheels trus pake bando kayak lo ini, iya???" Terka Arista karena Kania memang sosok cewek feminin, berbanding terbalik dengan Arista yang tomboy dan urakan.

"Ya ... bisa dibilang gitu sih. Tapi kalau lo nggak mau feminim dikit, paling nggak lo tu bisa lembut dan ramah dikitlah sama orang"

"Gitu ya??? " Tanya Arista dengan nada mengejek.

 Iya!" Jawab Kania ketus karena sikap tak peduli Arista.

Namun Kania beruntung karena Arista tak pernah bersikap dingin apalagi kasar padanya. Sikapnya yang dingin yang selalu ia tunjukkan pada orang lain, tak pernah terlihat saat dia bersama sahabatnya.

" Udah Ah, gue nggak betah lama – lama di toilet, gue cabut dulu." Arista mulai melangkah keluar. Agak malas melanjutkan topik obrolan yang saban hari hampir sama itu.

"Tunggu dulu"

"Apa lagi sih Nia???"

"Mana rokok lo?"

"Lo mau ngapain minta rokok gue?" tanya Arista dengan muka kecut

"Sini'in nggak rokok lo"

"Iya ... iya ... nih." Arista memberikan satu kotak rokok miliknya pada Kania.

"Yang lainnya mana?" Tanya Kania lagi.

"Udah nggak ada."

"Lo jangan bohong, Ta. I know who you are Arista Lucy."

"Iya ... nih. Ini yang terakhir. Puas lo!" Ale memberikan 2 puntung rokok yang ada di dalam saku kemejanya.

"Bagus. Ya udah yuk kita keluar."

Arista menghela nafas sejenak dengan tujuan agar emosinya cepat memudar. Dia memang jauh lebih sabar menghadapi sikap Kania dibanding menghadapi orang lain yang membuatnya selalu temperamen tinggi. 

Itu karena Arista sudah menganggap Kania sebagai saudaranya sendiri. Setelah kepergian Ibunya dan menghilangnya sang Ayah serta Alfi saudaranya 7 tahun lalu, Arista tak punya siapa – siapa lagi selain Kania sahabat karibnya yang selalu menemani.

Drrttt ... drttt ...

Ponsel Arista yang bersemayam di dalam saku jeans belelnya, bergetar. Arista merogoh saku, lalu mendapati satu panggilan masuk dari nomor pribadi terpampang di layar datar ponsel miliknya.

"Private number? Lagi?" tanya Kania yang ternyata ikutan melirik ponsel Arista. "Perasaan, lo sering banget dapat telepon dari private number, Ta. Lo beneran nggak tahu itu siapa?"

"Iya lah. Nggak penting juga." Sahut Arista santai. Teramat santai untuk seseorang yang gampang emosian dengan hal sepele.

"Tapi ... bukannya, lo orang yang gampang risih ya? Emang lo nggak sebel di teleponin orang iseng kek begitu? Mana pake private number pulak." 

“Biarinlah. Toh nggak pernah gue angkat juga.”

"Saran gue sih ya, mending lo ganti nomor deh." Kania masih saja nyerocos. Yup ... as always.

"Hm ... gue pikirin nantilah," sahut Arista. Bukan berarti dia setuju, dia hanya tak ingin mendengar ocehan Kania yang tak berkesudahan itu.

Bukan apa-apa, sejak Kania tahu, kalau ponsel Arista sering mendapat panggilan telepon dari nomor tak di kenal seperti ini, Kania adalah orang yang paling cerewet dan paling berpikiran aneh-aneh.

Bahkan, dia pernah bilang kalau orang yang terus menelepon dengan private number itu, mungkin saja pengagum rahasia Arista yang sangat obsessed tapi juga pengecut.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Arista mungkin tak mengenal siapa yang meneleponnya, tapi dia cukup tahu apa yang harus dia lakukan saat telepon dengan private number itu masuk ke ponselnya.

Itu artinya, ada pekerjaan untuknya.

* * *

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 49 Hari Bersama Tawanan Sexy
7.9
Model terkenal Tamara Levinka, tunangan dari CEO pembuat senjata Roger Jenandra, tiba-tiba lenyap secara misterius. Walau pencarian berskala besar dikerahkan, ia tak kunjung ditemukan. Setelah 49 hari berlalu, Tamara mendadak kembali dan membawa kabar mengejutkan. Di balik misteri hilangnya Tamara, ada Jeff yang sangat terobsesi padanya. Di sisi lain, Tamara pun siap mengorbankan apa saja demi Jeff. Hubungan asmara mereka bersemi di tengah pusaran konflik yang penuh bahaya.
Sampul Novel JANGAN NGAKU CANTIK
8.9
Kehidupan Flower Violetta, ibu tunggal menawan dari si kembar Alana dan Alena, mendadak rumit. Ia terjebak dalam hubungan gelap bersama dua pria, Andra dan Martin. Cinta segitiga ini memicu konflik besar, bahkan Flower harus menghadapi kemarahan para istri pelanggannya, termasuk Puspitasari. Di tengah kemelut perselingkuhan yang membara ini, Flower kini harus memilih siapa di antara Andra atau Martin yang paling layak menjadi sosok ayah bagi kedua putrinya.
Sampul Novel Keangkuhan dan Kesombongan
9.2
Di Jawa abad ke-19, Anisa yang cerdas berhadapan dengan Raditya, pemuda kota yang penuh keangkuhan. Pertemuan awal mereka dipenuhi prasangka; Raditya meremehkan Anisa, sedangkan Anisa menilai Raditya sangat sombong. Namun, di balik jerat perjodohan keluarga dan jurang status sosial, perasaan cinta perlahan tumbuh. Kini, keduanya harus berjuang meruntuhkan ego besar dan tradisi yang mengekang demi bersatu dalam ketulusan cinta tanpa sekat kasta.
Sampul Novel Psikopat itu Adik Pacarku
9.2
Sebuah keputusan fatal menghancurkan segalanya. Saat dikejar pembunuh, panggilan darurat korban diabaikan oleh kekasihnya yang mengira itu hanya lelucon. Sang pacar justru sibuk merayakan ulang tahun teman masa kecilnya hingga korban tewas dibantai dengan kejam. Penyesalan terlambat datang ketika pria yang bekerja sebagai ahli perbaikan mayat ini menerima tugas merekonstruksi jasad dengan kepala hancur. Begitu mengenali wajah kekasihnya sendiri di balik luka tersebut, ia langsung kehilangan kewarasannya.
Sampul Novel Siapa Takut Pengkhianat Cinta
9.3
Dunia Andini runtuh akibat perselingkuhan Carvian dan Aulia, sepupunya. Di masa sulit ini, ia bangkit berkat dukungan Irvan, sahabat yang tulus menyayanginya. Namun, saat Andini mulai membuka hati untuk Irvan, Carvian menolak melepaskannya dan berniat menduakan mereka. Di sisi lain, Aulia yang dengki bertekad merebut Irvan demi menghancurkan Andini. Akankah cinta Andini dan Irvan mampu bertahan menghadapi gangguan mantan kekasih dan saudara yang manipulatif?
Sampul Novel Yang Terbuang, Yang Tak Terbendung
7.8
Dekade berlalu di panti asuhan, kepulanganku justru berujung eksploitasi demi Kirana, kembaran yang dipuja. Puncaknya, orang tua kandungku bersekongkol agar Bima, kekasihku, melamar Kirana di hadapanku. Tak cukup di situ, aku difitnah mencelakai Kirana hingga dihajar ayah, didepak ke jalanan, dan dilaporkan ke polisi. Mereka mengira aku telah hancur total, namun kebencian membara ini justru menyalakan genderang perang yang mustahil bisa mereka hentikan.