APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Fantasi Dina, di Tengah Duda Beranak 3

Fantasi Dina, di Tengah Duda Beranak 3

Dina, seorang sekretaris andal, harus menghadapi ancaman kebangkrutan kantornya akibat pandemi. Di waktu yang sama, sang atasan, Pak Agus, sedang terpuruk dalam duka setelah kepergian sang istri. Saat bantuan bersyarat dari Mr. Hanks datang dan memicu dilema moral, Dina memilih bertahan demi nasib rekan-rekan kerjanya. Berbekal keberanian, ia mengambil alih kemudi untuk menyelamatkan perusahaan dari kehancuran finansial sekaligus memulihkan kondisi emosional di sekitarnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sehari-hari awalnya dijalani Dina dan rekan-rekannya dengan penuh kegembiraan di perusahaan. Tidak terlihat tanda-tanda kesedihan di wajah para karyawan, karena gaji mereka lancar dan kadang-kadang bonus diberikan sebagai penghargaan atas prestasi dan pertumbuhan perusahaan yang terus meningkat. Namun, suatu ketika, berita yang mengerikan menyelimuti mereka. Sebuah virus yang dikenal sebagai COVID-19 menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia melalui orang-orang yang datang dari Tiongkok. Penularannya sangat cepat, hampir secepat arus angin. Banyak orang menjadi korban dan jumlah kematian yang tinggi tidak bisa dihindarkan.

Pemerintah kemudian mengumumkan status darurat yang membatasi pergerakan manusia dalam jumlah besar. Hal ini tentu berdampak pada kondisi perusahaan tempat Dina bekerja. Arus keluar masuk barang menjadi terhambat, dengan jumlah barang yang masuk dan keluar semakin berkurang setiap harinya. Kepercayaan klien dan mitra di luar negeri pun menurun, karena mereka khawatir dengan kondisi kesehatan masyarakat yang semakin memburuk. Hal ini juga memengaruhi kondisi logistik yang dikirim melalui perusahaan.

Terlebih lagi, Indonesia ditetapkan sebagai salah satu episentrum penyebaran virus COVID-19, yang meningkatkan tingkat ketakutan secara signifikan. Akibatnya, pemasukan perusahaan mulai menipis hingga akhirnya perusahaan terpaksa untuk melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sebagian karyawan karena tidak mampu membayar gaji mereka. Singkatnya, perusahaan mengalami tekanan yang besar dan dikhawatirkan akan mengalami kebangkrutan jika situasi terus berlanjut seperti itu. Semua staf dan karyawan yang masih bekerja mengalami pemotongan gaji, termasuk Dina, yang harus menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menutupi biaya operasional perusahaan yang semakin meningkat.

Dalam situasi yang semakin membingungkan itu, tiba-tiba direktur perusahaan, Pak Agus, mendapat berita yang tragis. Istrinya telah meninggal dunia akibat kanker payudara setelah menderita sakit yang berkepanjangan. Ia menghembuskan nafas terakhir setelah beberapa hari mendapatkan perawatan. Seperti tersambar petir di siang hari, Pak Agus menutup teleponnya dengan perasaan lemah dan tidak berdaya. Ujian yang sangat berat harus dihadapinya, membuat seluruh tubuhnya terasa retak dan tak bisa digerakkan.

Hari-hari berlalu dengan kondisi yang sangat memprihatinkan bagi Pak Agus. Sebagian besar aset perusahaan terpaksa harus dijual, dan jumlah karyawan yang tersisa hanya seperempat dari jumlah normalnya. Dalam keadaan seperti itu, Pak Agus merasa tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Ia mulai terjebak dalam kegelapan dunia malam, dengan alkohol dan rokok sebagai teman di hari-haranya yang penuh tekanan. Hidupnya semakin hancur, seiring dengan kehancuran usahanya yang terpuruk. Dina merasa sedih dan prihatin melihat kondisi Pak Agus yang menyedihkan itu.

Suatu saat, Pak Agus memanggil Dina ke ruang kerjanya untuk menyampaikan kabar sedih tersebut. "Din, Dina. Datang ke ruangan sebentar," panggil Pak Agus dengan suara parau. "Iya pak, saya datang sekarang. Ada apa, pak? Apa yang bisa saya bantu?" tanya Dina dengan cepat. "Begini Din, saya berencana untuk menjual seluruh aset perusahaan ini," jawab Pak Agus. "Kita tidak bisa bertahan dengan kondisi saat ini," tambahnya. "Tapi pak, apakah tidak ada alternatif lain?" tanya Dina. "Saya sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang, Din. Menurut saya, satu-satunya cara agar perusahaan bisa bertahan adalah dengan diakuisisi oleh perusahaan lain yang lebih stabil."

"Seseorang sudah menawarkan bantuan kepada saya," jelas Pak Agus dengan kepala sedikit tertunduk. "Sebenarnya, ada cara lain, Din. Hanya saja, saya merasa tidak tega untuk melakukannya. Ini akan berat bagi kamu," kata Pak Agus sambil menatap serius Dina.

"Apa maksudnya, Pak?" tanya Dina dengan antusias. "Apa pun yang saya bisa lakukan untuk mencegah kehancuran perusahaan ini, saya akan lakukan. Saya merasa berutang budi kepada Anda dan perusahaan ini."

"Saya mengerti, Din. Namun, syaratnya agak berat kali ini. Apakah kamu kenal Mr. Hanks, yang memiliki perusahaan tambang batubara di Kalimantan?" ujar Pak Agus dengan sedikit menekankan.

Mendengar nama itu, Dina terperanjat. Lelaki bule lajang tersebut sudah lama menaruh minat padanya. Meskipun istrinya baru saja bercerai beberapa tahun yang lalu karena kedapatan berselingkuh, namun Dina merasa bahwa Mr. Hanks sangat mendambakan kehadiran seorang wanita yang dapat menemani kesendirian dan memuaskan hasrat birahinya yang tinggi. Dina sudah beberapa kali menolak berbagai ajakan makan malam dan karaoke darinya dengan cara yang halus. Namun, bayangan buruk melintas di pikirannya saat memikirkan kemungkinan berurusan kembali dengan pria bule tersebut.

"Din, Dina. Mengapa kamu terlihat khawatir?" tanya Pak Agus, mengagetkan Dina dari lamunannya.

"Eh, maaf pak. Saya sedang memikirkan penawaran itu. Bagaimana, Pak?" jawab Dina dengan sedikit panik.

"Jadi begini, Din. Mr. Hanks menawarkan bantuan modal yang cukup besar. Hal ini dapat menopang perusahaan ini selama dua atau tiga tahun ke depan tanpa perlu menjual aset atau melakukan pemutusan hubungan kerja lagi."

"Selain itu, dia merupakan salah satu mitra terbaik kita yang selalu setia membantu saat perusahaan mengalami kesulitan," lanjut Pak Agus dengan sedikit nada ketus. "Namun, syarat yang dimintanya cukup berat, Din. Ini akan sulit," tambahnya.

Beberapa saat kemudian, suasana menjadi hening dan tegang di antara mereka. Keduanya terdiam tanpa sepatah kata pun, hanya sesekali terlihat Pak Agus menghembuskan asap rokoknya. Dina juga merasa terdampar dalam pikirannya, mencoba mencari jalan keluar untuk membantu perusahaan. Meskipun bayangan buruk melintas dalam benaknya, namun ia juga memikirkan nasib perusahaan dan rekan-rekan kerjanya yang akan terdampak jika terjadi pemutusan hubungan kerja besar-besaran.

Dalam kebingungannya, tiba-tiba telepon berdering. "Kring kring kring," begitu keheningan itu terputus.

"PT. Bangun Perkasa di sini, dengan siapa saya berbicara?" ucap Pak Agus saat mengangkat telepon itu.

"Oh ya pak, kami dari Telkom ingin memberitahukan bahwa tagihan internet belum dibayar selama 4 bulan, pak," jawab orang di ujung telepon.

"Baik pak, saya akan tanyakan kepada staf saya terlebih dahulu. Nanti saya hubungi lagi, ya," kata Pak Agus sebelum menutup teleponnya.

"Din, kamu mendengar situasinya, kan. Gimana buruknya keadaan kita sekarang," ujar Pak Agus dengan lesu.

"Mungkin lebih baik kamu kembali ke meja kamu dulu, Din. Besok kita bisa membicarakan lagi tentang tawaran dari Mr. Hanks," tambahnya, mempersilahkan Dina.

"Baik pak, aku akan kembali ke ruanganku sekarang," ucap Dina sambil berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut menuju kembali ke ruangannya sendiri. Pukul 17.00, Dina tiba di rumah kontrakannya dengan rasa lelah yang sangat. Meskipun tidak ada dokumen yang harus dikerjakan atau telepon dari klien yang membutuhkan respons cepat, namun ia merasa bahwa hari itu sangatlah sibuk baginya. Dina meletakkan tubuhnya di kursi kamarnya, angin sepoi-sepoi membawanya terlelap dengan nyenyak. Sekitar tengah malam, Dina terkejut. Ternyata ia tertidur di kursi tersebut untuk waktu yang cukup lama sehingga ia tidak sempat makan malam. Ia membuka kulkas, mengambil sereal, dan mencampurkannya dengan susu instan dalam kemasan karton. Ia mengonsumsi beberapa sendok hingga merasa cukup untuk mengganjal perutnya yang terasa lapar. Ia merasa sedikit lega kemudian.

Malam itu, Dina merenungkan percakapannya dengan Pak Agus tadi. Bayangan-bayangan kengerian berputar di dalam pikirannya: kengerian akan pertemuan dengan Mr. Hanks dan kengerian akan kemungkinan perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan. Kedua ketakutan itu memenuhi lamunannya. Dina mengambil handsfree dan memutar playlist musik di HP-nya. Ia mencoba untuk merilekskan pikirannya sejenak sebelum akhirnya kembali tertidur.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asmara Mendendam
9.5
Demi pekerjaan, Nezza nekat tinggal di kos angker dan jatuh hati pada Ari, anak pemilik kos yang bersikap dingin. Walau harus bersaing dengan Adelina dan Putri yang agresif mendekati Ari, kekaguman Nezza tak luntur. Situasi mencekam saat teror mistis melanda, namun Ari curiga ada dalang manusia di baliknya. Ketegangan memuncak ketika Rahma menuduh Jessy sebagai pelaku teror sekaligus pembunuh mahasiswi dua tahun lalu. Akankah misteri kelam ini terpecahkan?
Sampul Novel Gairah Sang Dosen
8.8
Kehidupan pernikahan Ryan, seorang dosen muda kaya, dan Tania mulai diguncang prahara. Kehadiran Maya, rekan kerja Ryan yang tidak bahagia bersama suaminya, Joko, serta intrik Rani, mahasiswi yang memanipulasi kebaikan Ryan, menjadi ujian berat. Masalah kian rumit saat Tania bertemu kembali dengan Robi, mantan kekasihnya yang kini memimpin bisnis pinjol ilegal. Di tengah pusaran pengkhianatan dan konspirasi ini, Ryan dan Tania harus berjuang keras demi menyelamatkan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Ibu Susu Anak Hot Duda
8.4
Sejak pubertas, Lisa kerap mengalami pelecehan akibat kondisi fisiknya yang kelebihan hormon. Demi mengatasi produksi ASI yang melimpah, ia rutin memompa dan menyumbangkannya. Saat mulai lelah dengan rutinitas tersebut, sebuah tawaran datang dari utusan seorang konglomerat yang mencari ibu susu untuk bayi telantar. Lisa menerima pekerjaan itu tanpa menyadari bahwa keputusan ini akan menyeretnya ke dalam pusaran hidup sang ayah bayi, seorang duda yang siap mengancam kesuciannya dengan pesona yang berbahaya.
Sampul Novel Kabar Buruk Kehamilanku
9.7
Kebahagiaan Rike atas kehamilannya hancur setelah muncul kabar mengejutkan yang menyebut dirinya hamil sebelum menikah. Akibat berita itu, sang ibu sangat kecewa dan langsung menuduh Rike telah berzina. Di tengah duka, Rike harus berjuang keras demi mengembalikan kepercayaan ibunya. Namun, apakah tuduhan menyakitkan tersebut memang benar adanya? Ikuti kisah perjuangan Rike dalam mengungkap kebenaran yang sesungguhnya di balik misteri ini.
Sampul Novel Love of My Life
9.6
Demi mencari dalang di balik kerugian bisnis keluarganya, desainer lulusan Parsons bernama Pandan Wangi menyamar menjadi OG di PT Inti Graha Anugrah. Penyelidikannya menemui jalan buntu ketika Denver, musuh masa kecilnya, justru dicurigai sebagai pelaku utama. Di tengah kemelut perusahaan, Pandan malah menghadapi masalah pribadi yang membuatnya hamil. Kini, ia harus berjuang menyelamatkan warisan Aditama Group sambil mencari cinta sejatinya.
Sampul Novel Nafkah dua puluh ribu darisuamiku
8.4
Kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna dengan suami mapan dan bergelimang harta ternyata menyimpan kepedihan mendalam. Di balik fasilitas serbakecukupan yang tersedia, seorang istri justru harus berjuang sendiri demi bertahan hidup tanpa nafkah yang layak. Kemewahan yang kasat mata tidak menjamin kebahagiaannya. Ini adalah kisah tentang keteguhan hati dan perjuangan seorang wanita dalam menemukan kemandirian di tengah dinginnya pernikahan yang semu.