APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ex-Husband Or Mr. Ceo

Ex-Husband Or Mr. Ceo

Demi masa depan putranya, Leira bertekad menata ulang hidupnya setelah bercerai. Ia pun pulang ke Chicago untuk merintis kembali kariernya di dunia penerbitan. Namun, takdir justru mempertemukannya kembali dengan sang mantan suami di tempat kerja yang sama. Rumitnya situasi kian bertambah saat Leira terlibat kesalahpahaman dengan sang CEO. Di tengah pusaran konflik ini, mampukah ia tetap tegar, atau justru membuka hati untuk cinta baru?
Bab
Bagikan

Bab 2

Beberapa jam berlalu.

Leira berjalan keluar dari Media CT. Kakinya segera berlari saat waktunya untuk segera menghabiskan waktu bersama putranya, Leira sudah berjanji pada Kevin. Jadi tidak ada hal yang bisa membuat Leira tetap berada di kantor, apalagi Kevin adalah segalanya, sekeras apapun Leira bekerja, dia tidak pernah bisa menolak permintaan putranya.

Leira menaiki bus setelah menunggu selama lima menit, dia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada sang Ibu, menanyakan apakah Kevin sudah makan atau sekarang apa yang sedang putranya lakukan.

Leira mendapatkan email jika dirinya akan ikut tim Tuan Han dengan beberapa orang, mereka semua akan berangkat ke kantor Grup Media CT., untuk memberikan laporan setiap bulan, melakukan presentasi dalam banyak hal entah itu laporan laba dan rugi dalam penjualan setiap hari atau perminggu yang dijadikan satu dalam hitungan bulan.

Ini pertama kalinya Leira kesana, dia tidak pernah terpilih telah dua tahun bekerja di Media CT. Ini merupakan peluang untuknya bisa masuk ke dalam Grup Media CT. apalagi disana segalanya lebih terfasilitasi, dan salah satu tentu saja gaji yang lebih besar.

Bukan karena gaji Leira untuk sekarang tidak cukup, hanya saja jika ada kesempatan itu. Dirinya akan lebih bisa menunjang masa depannya Kevin lebih matang lagi, menabung untuk kedepannya.

Leira segera turun setelah sampai di tujuannya, dia menelepon ibunya selama perjalanan menuju ke rumah sang Ibu. Leira tersenyum bahagia, rasa lelah bekerja hilang begitu saja, melihat sosok kecil sedang melambaikan tangan ke arahnya, menyambut kedatangannya.

Leira berlari, memeluk tubuh putranya dan memberikan kecupan sayang di area wajah Kevin.

"Mom! Kevin baru selesai makan!" tangan mungil itu mendorong halus wajah sang Ibu, bukan tidak menyukai tapi dirinya baru saja selesai makan dan mungkin belum sempat membersihkannya sisa makanannya.

"Mom sangat merindukanmu."

"Kevin mengatakan, akhir-akhir ini kau lebih sering tertidur di ruang tamu, bukankah aku sudah mengatakan jangan bekerja terlalu keras?"

kini yang ikut memarahi adalah sang Ibu, wanita paruh baya itu memang memiliki karakter yang keras, namun dialah yang membantu Leira melewati masa sulitnya. Mendukung dalam setiap keputusannya, walau terkadang dia sukai berbicara hal lain.

"jadi putera Mom, sudah pandai melapor? Siapa yang mengajarimu?" Leira melepaskan pelukannya, berjongkok untuk sejajar dengan tinggi putranya, dan sesekali mencubit pipi gemasnya.

"Leira, apakah pria itu sudah berhenti mengirimkan uang padamu?" tanya sang Ibu, membuat Leira sebenarnya sangat malas membahas pria itu, mati-matian Leira mengabaikan pria itu walau setiap hari dirinya pasti akan melihatnya.

"Ibu, aku tidak mau menerima apapun darinya, Kevin putraku dan aku ingin sepenuhnya Kevin hidup karenaku." Leira menerima paper bag yang berisi seragam Kevin, menggenggam tangan putranya dan berpamitan dengan sang Ibu.

"Ibu, aku menyayangimu, jaga diri baik-baik, sampai jumpa." ucap Leira, dia melambaikan tangannya sebelum pergi.

"Kevin juga, sampai bertemu lagi Ibu." ucap Kevin sambil melambaikan tangan mungilnya, putranya ini sangat lucu, dia tidak pernah mau memanggil sang nenek dengan sebutan itu, baginya neneknya adalah Ibu.

"Kevin, Mom sudah mengajarkan untuk berhenti memanggil Ibu? Panggil nenek, okey?" ucap Leira ketika dia menuntun dirinya dan Kevin untuk berjalan menuju halte di depan jalan.

"Mom saja memanggil Ibu, masa Kevin tidak boleh!"

Leira hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Kevin terlihat gembira saat Leira mengajaknya sebuah taman yang tidak jauh dari apartemen mereka, putranya tidak pernah sekalipun membuat Leira merasa hancur, bahkan Kevin adalah kekuatan untuknya terus mensyukuri hidup.

Bahwa tuhan masih adil, memberikan dirinya satu hal berharga.

"Hari ini, Kevin menggambar apa?" tanya Leira, keduanya sedang duduk dibangku taman dengan cup ice cream coklat. Melihat banyak orang tua yang mengajak anaknya bermain disana.

Kevin meletakkan Cup Ice cream di sisi bangku yang kosong, membuka resleting tasnya dan mengeluarkan buku gambar miliknya, membuka satu persatu halaman dan berhenti pada sebuah gambar selama di sekolah tadi.

"Kevin menggambar di tempat dimana Kevin dan Mom bisa melihat matahari terbenam." ucap Kevin, itu benar. Ada Leira dan Kevin seperti di pantai sambil menunggu matahari terbenam.

Leira tersenyum, terkadang dirinya bertanya-tanya, apakah Kevin tidak rindu bertemu dengan ayahnya, sebagian besar dalam buku itu hanya ada mereka berdua, seakan tidak ada tempat untuk orang lain, Leira mengelus lembut rambut sang putra.

"Mom suka, Kevin ingin melihat pantai?"

Kevin melipat buku miliknya, menatap kearah sang Ibu penuh harapan, dengan senang dan polosnya Kevin mengangguk, mengatakan dengan semangat.

"tentu saja, Kevin ingin kesana bersama Mom."

"Mom, akan mengajak Kevin, saat liburan musim semi."

Kevin terkejut, dia terlihat sangat senang sampai tidak bisa menyembunyikan gigi putihnya dan sisi Ice cream di area mulutnya. "Mom harus janji!"

Leira mencubit pipi putranya, mengacak-acak surai coklat itu. "Tentu saja, apapun untuk Kevin-ku"

_______

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, setelah menidurkan Kevin, Leira harus kembali pada pekerjaannya, semua ini harus selesai minggu depan sebelum waktu pencetakkan, belum lagi Leira tidak ada waktu untuk membaca presentasi besok, dia berharap besok hanya duduk di antara temannya yang ikut pergi ke Grup Media CT.

Suara ponselnya terus berdering, tertulis jelas nama yang ingin sekali dirinya hindari, Leira tidak pernah bisa berpikir baik jika pria itu terus mengganggu dirinya, padahal saat Leira memohon untuk sebuah kepastian, pria itu malah pergi begitu saja.

Sekarang? Setelah tahu jika Leira hamil anaknya, saat itu juga dunia Leira kembali di ganggu, dia tidak mau apapun dari pria itu, bahkan tidak pernah berharap jika pria itu kembali, walau mungkin dirinya sudah berubah. Tetap saja hatinya sudah tertutup rapat untuk siapapun.

Leira membuang nafas panjang, mencoba untuk fokus dan kembali pada kegiatan awalnya, dia tidak boleh goyah dan tidak boleh lemah, dia sudah sampai di titik ini dan Kevin adalah titik terakhir, jadi Leira hanya perlu mengatakan pada dirinya.

Kau bisa dan abaikan segalanya.

Butuh enam tahun untuk bangkit dan bisa pada keberhasilan ini adalah hal panjang untuk Leira, walau bayang pria itu masih ada karena Kevin begitu mirip dengannya, bahkan tidak ada cela untuk mirip dengan dirinya, Kevin seperti versi lain dari pria itu.

Tapi tetap mencoba untuk mengabaikan bayangan kisah cinta yang begitu menyakitkan, dirinya tidak pernah bisa merasakan apa itu indahnya sebuah pernikahan, rasanya seperti setiap hari harus menelan pil pahit.

Tidak! Kevin adalah dirinya! dia tidak mirip pria itu!

Leira memukul kepalanya, menyadarkan dirinya dari pemikiran itu, dan tangannya mulai merevisi setumpuk lembaran naskah.

Kegiatan itu terus berlanjut sampai jam sudah menunjukan pukul satu malam, Leira masih sibuk mencoret bagian yang kurang dan menulisnya di bagian atas, dua jam digunakan untuk merevisi satu novel.

Suara dering bell membuat dirinya menghentikan kegiatannya. Membuat Leira harus membuka pintu pada tamu yang berkunjung di malam hari ini, bukan ini sudah termasuk dini hari.

"Ya, ada yang bi---," Kalimat itu terhenti, mengambang di udara saat Leira menatap tidak percaya pada pria di hadapannya, membuat dirinya ingin sekali menutup kembali pintu itu.

"Leira--"

Leira menolak tegas saat pria itu melangkah ingin masuk, dia tidak akan membiarkan pria itu masuk ke dalam kehidupannya, apalagi menyentuh Kevin.

"jika anda tidak mau diusir olehku, aku akan memanggil petugas keamanan untuk melakukannya." ucap Leira, sebisa mungkin menunjukkan wajah tegas, padahal hatinya begitu lemah melihatnya, pria yang sudah lama tidak dirinya lihat sedekat ini, dan secara langsung.

"Leira--aku--"

"Pergi! Kau tidak izinkan untuk menyampaikan apapun!" Leira meninggikan suaranya, menahan air matanya. Kenapa? Suara itu begitu menggoncangkan hatinya dan juga pikirannya.

"aku akan pergi, Leira. Tapi di waktu lain, kamu tidak akan bisa menghindar lagi." ucap pria itu, dia tidak ingin membuat keributan apapun, dirinya nekat kesana karena Leira terus mengabaikannya.

Leira menutup pintu untuk tanpa mengatakan apapun, mencoba untuk tidak memperdulikan apa yang pria itu katakan dan mencoba untuk lebih kuat lagi.

"Mom? Apa terjadi sesuatu?" Kevin, pria kecil itu berdiri di ujung pintu kamarnya, sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.

Leira menghapus air matanya, berusaha menutupi apa yang terjadi dan melangkah mendekati putranya. "Kevin kenapa bangun sayang? Kevin ingin minum?"

Kevin mengangguk, tangannya mengusap lehernya memberitahu jika memang dirinya haus.

"baiklah, Mom akan mengambilnya."

Leira kembali setelah mengambil segelas air, memberikan pada putranya dan mengajaknya kembali ke kamarnya.

"Kevin ingin tidur dengan Mom."

Leira tersenyum dan mengangguk. "ayo kita kembali tidur."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Mau Penebusan yang Terlambat
9.6
Setelah kembali ke keluarga konglomeratnya, sang putri kandung mendedikasikan lima tahun hidupnya untuk mengejar Julian Jetarsa, pria yang pernah membelanya. Meski berhasil menjadi tunangannya, ia justru terus direndahkan karena dianggap tidak memiliki tata krama kelas atas. Puncaknya, saat kakek yang membesarkannya sekarat, Julian menolak membantu demi memberinya pelajaran agar bersikap lebih baik. Kematian tragis sang kakek dalam kondisi tak berdaya akhirnya memadamkan seluruh rasa cintanya.
Sampul Novel Anak Yang Ku Bawa Dalam Rahimku
8.6
Baru seminggu bekerja di kediaman Arsanta, nasib tragis menimpa Alesha Devandra. Reiner yang mabuk akibat dikhianati kekasihnya melampiaskan amarah padanya. Trauma mendalam membuat Alesha melarikan diri ke desa, namun ia justru mendapati dirinya tengah mengandung. Kini, ia terjebak dalam pilihan sulit: menuntut pertanggungjawaban dari Reiner yang mungkin telah lupa kejadian itu, atau membesarkan sang anak sendirian di tengah gunjingan orang-orang sekitar.
Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar
9.4
Isabella Ardhani terusir setelah malam tragis bersama bos mafia, Rafael Damar, membuatnya mengandung lima bayi kembar jenius. Demi membesarkan anak-anaknya, ia melarikan diri ke luar negeri. Tahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai sosok wanita yang sangat berkuasa. Takdir pun mempertemukannya lagi dengan Rafael. Namun, kali ini kelima anak kembarnya yang cerdas telah mempersiapkan sebuah rencana balas dendam besar untuk ayah kandung mereka sendiri.
Sampul Novel CEO Iblis Azhar
9.3
Citra didera pergolakan batin yang hebat. Di satu sisi, ia membenci kekejaman Azhar, namun di sisi lain, ketakutan kehilangan pria itu merayap saat rasa cinta mulai bersemi. Azhar sendiri awalnya hanya berniat memperbudak Citra demi memuaskan hasratnya. Namun lambat laun, naluri untuk melindungi wanita itu justru menguasai dirinya. Hubungan yang sarat akan luka ini pun berkembang menjadi ikatan rumit, membuktikan hadirnya rasa yang tepat di waktu yang salah.
Sampul Novel Kau Milikku
9.4
Pertemuan pertama dengan Will Greyson langsung membuat Hanna muak karena sikap lancang miliarder angkuh tersebut. Kekesalan Hanna memuncak saat Will mendadak melamarnya hanya untuk dijadikan alat terapi pribadinya. Walau mendapatkan penolakan keras, pria sombong itu tidak tinggal diam. Hanna yang telanjur geram pun bertekad memberi pelajaran, sementara Will justru semakin tertantang untuk menaklukkan hati gadis yang berani menentangnya.
Sampul Novel My Doctor genius Wife
8.6
Setelah dijebak ke RSJ oleh keluarganya pasca kehilangan bayinya, Bella dipaksa menikah dengan Axelthon, bangsawan sakit-sakitan, demi menggantikan adiknya. Namun, tak ada yang tahu bahwa Bella adalah tabib jenius legendaris yang disegani dunia. Berbekal keahlian medis luar biasa, ia membalas dendam masa lalunya. Saat intrik kekuasaan memanas, Bella membuktikan nilainya yang melebihi sebuah negara, membuat Axelthon menolak keras untuk bercerai darinya.