APKDock Logo
Sampul Novel Persona

Persona

8.5 / 10.0
Safira Riana, seorang gadis polos, jatuh hati pada Gilang Angkasa yang terlihat begitu sempurna dengan pesona dan sikapnya yang memikat. Namun, setelah menjadi kekasihnya, Safira mendapati bahwa Gilang menyembunyikan tabiat buruk serta sisi gelap di balik topeng indahnya. Hubungan asmara mereka pun kini dihadapkan pada godaan berat dan konflik batin yang rumit. Akankah cinta mereka hancur oleh rahasia itu, atau mampukah Safira mengubah kepribadian kekasihnya?

Persona Bab 1

SMA Tunas Bangsa adalah salah satu SMA swasta terbaik di Jakarta. Sistem pembelajaran yang sangat baik, murid-murid yang terkenal cerdas dan selalu memenangkan berbagai lomba akademi maupun non akademi di setiap tahunnya, para guru yang tangguh dan profesional, serta gedungnya yang megah dan fasilitas yang lengkap. Setiap tahun ada ribuan siswa SMP yang mendaftar di sana. Namun, tak sedikit siswa yang ditolak karena keterbatasan lokal dan tak memenuhi standar yang telah ditetapkan SMA Tunas Bangsa.

Hari ini adalah hari terakhir Masa Orientasi Siswa bagi peserta didik baru di SMA Tunas Bangsa. Hari pengenalan ekstrakurikuler SMA Tunas Bangsa. Para senior yang memiliki tanggung jawab atas ekstrakurikuler-nya sibuk memperkenalkan ekstrakurikuler pada para peserta didik baru.

Di SMA Tunas Bangsa ada ekstrakurikuler Pramuka, Drumband, Paskibra, Sispala, Voli, Basket, Futsal, Sepak Bola dan Rohani Islami. 

Sudah ada beberapa ekskul yang dipromosikan. Dan sekarang giliran promosi ekskul Pramuka.

Ribut suara bercakap-cakap terdengar menggema di ruangan itu tatkala para senior ekstrakurikuler Pramuka memasuki ruangan tersebut. Para peserta didik baru duduk di kursi besi yang berbaris rapi.

"Perkenalkan nama abang Tristan Bimantara, ketua pramuka SMA Tunas Bangsa," ucap lelaki bertubuh tinggi dan kurus itu, selaku ketua ekskul, memperkenalkan dirinya di depan para peserta didik baru yang sontak mengalihkan perhatian padanya.

"Tentu kalian udah nggak asing lagi, ya, dengan nama pramuka?" Restu, selaku wakil Tristan ikut bertanya. Beberapa dari mereka terlihat mengangguk, tanda mereka sudah tidak asing lagi dengan ekstrakurikuler populer yang satu ini. Beberapa ada yang hanya diam. Beberapa pula ada yang terlihat mengobrol dengan temannya.

"Siapa yang suka ekskul pramuka? Siapa yang masa SMP nya suka ikut pramuka?" lanjut Tristan dengan pertanyaan. Sebagian besar peserta didik baru mengangkat tangannya. Tristan dan Restu bergantian menjelaskan sedikit perihal ekstrakurikuler pramuka yang sebenarnya sudah diketahui oleh mereka. Tristan juga mengenalkan para anggotanya yang lain yang berdiri di sampingnya.

"Ini Bang Restu, wakil abang," ucap Tristan memperkenalkan wakilnya. "Yang di sana ada Kak Syifa, halo, Kak Syifa," tegur Tristan sambil melambaikan tangannya ke arah siswi itu. Siswi yang dipanggil 'Kak Syifa' itu tersenyum sambil melambaikan tangannya ke adik kelasnya. "Ada juga Kak Nana, halo Kak," sapa Tristan lagi pada siswi yang berdiri di dekat pintu. Siswi itu tersenyum ramah. 

"Kalau kalian gabung pramuka kalian bisa mengenal kakak-kakak dan abang-abang lebih dekat," jelas Tristan. "Yang mau daftar pramuka siapa? Waahh rame banget, ya," ucap Tristan tatkala melihat banyak siswa yang mengangkat tangan. Tristan membagikan beberapa selebaran pada dua temannya untuk dibagikan ke adik kelas yang berminat. Lalu lelaki bertubuh tinggi itu berbalik badan menghadap papan tulis yang mana di sana telah terpampang beberapa nomor telepon yang baru saja ditulis oleh wakilnya.

"Kalian boleh isi formulirnya atau hubungi nomor abang atau teman-teman abang untuk informasi lebih lanjut," sambungnya. Ketua ekskul itu terus mengoceh menjelaskan perihal ekskul tersebut.

Sementara di luar ruangan, di tengah koridor yang ramai, seorang gadis tampak resah, celingukkan memperhatikan area sekitarnya, sesekali dia melongokkan kepala ke ruang MOS. Di tangannya terdapat setumpuk selebaran formulir pendaftaran ektrakurikuler Olahraga Basket.

"Riri kemana, sih? Katanya pergi bentar tapi nggak balik-balik. Pake nitipin ini ke gue lagi," gumamnya. "Kayaknya ekskul Pramuka udah mau selesai, tuh." Gadis pemilik nametag Safira Riana itu berbalik badan dan kembali berjalan di koridor yang ramai, hendak mencari keberadaan temannya di kantin. Namun, dari arah yang berlawanan, seseorang menabrak bahunya membuatnya sontak memegangi bahunya yang terasa nyilu.

"M-maaf, Kak, nggak sengaja," ucap siswi yang menabraknya itu. Safira memandang ke arah siswi itu yang kini tertunduk.

Safira tersenyum, "nggak apa-apa, santai aja." Matanya tertuju pada nametag siswi itu yang bertuliskan Ristyana Putri.

Siswi berseragam putih biru itu mengangkat kepalanya, menatap Safira. "Kalau gitu aku duluan, ya, Kak," pamitnya sambil tersenyum kaku. Safira mengangguk sambil tersenyum juga. Siswi itu pun berlalu dari hadapannya. Safira menatap punggung siswi itu hingga dia menghilang di balik keramaian.

Satu kata yang terlintas di benak Safira saat melihat wajah siswi bernama Ristyana Putri itu. Cantik. Siswi itu bahkan sangat cantik. Safira yakin siapa pun yang melihatnya akan berpikiran sama dengannya.

Safira termangu merenungkan gadis itu hingga akhirnya dia tersadar karena bahunya terasa di tepuk dari belakang. Safira terkejut dan menoleh. Riri menatapnya heran.

Safira menimpuk Riri dengan selebaran di tangannya. "Dari mana, aja, sih, lo?"

Gadis bernama Riri itu terkekeh. "Kenapa? Lama, ya, nunggunya?"

"Bukan apa-apa. Di dalam ekskul pramuka kayaknya udah mau selesai. Gue panik lah nyariin lo. Masak gue gitu yang gantiin lo promosi?"

Riri langsung mengambil alih kertas-kertas itu dari tangan Safira. "Makasih, ya?"

Safira mengangguk.

Lalu gadis yang merupakan senior basket itu mendatangi teman-temannya selaku anggota ekstrakurikuler basket untuk berunding.

Sementara Safira duduk di kursi panjang depan koridor. Sesekali dia melempar pandang ke siswa yang berlalu-lalang di koridor itu. Safira menghela napas saat dilihatnya Evan yang berjalan ke mari dan di kerubungi cewek-cewek yang merupakan adik kelasnya.

"Bang foto dulu, dong," salah satu siswi itu mengeluarkan ponsel. "Boleh, ya?"

Evan hanya mengangguk pasrah. Siswi itu meminta temannya untuk memotokannya dengan Evan. Beberapa teman siswi itu juga ada yang minta foto bersama Evan.

Safira tersenyum geli saat melihat Evan terlihat risi di dekati para cewek, tapi diturutinya juga kemauan cewek-cewek itu untuk selfie bersama.

"Makasih, ya, Bang," ucap cewek-cewek itu tampak kesenangan.

"Oke," jawab Evan.

Satu-satunya lelaki yang dekat dengan Safira itu berjalan mendatangi Safira di bangku panjang.

Ketika Evan mendekat, Safira tertawa. "Enak, ya, di kejar cewek-cewek setiap hari? Menang banyak," celetuk Safira sambil terkikik.

Sementara Evan malah bergidik geli. Lelaki itu duduk di samping Safira. "Seandainya di kasi kesempatan buat tukaran sama cowok yang biasa aja, yang nggak di kejar-kejar cewek, mau gue, beneran. Pusing tauk." Evan memijit pelipisnya.

Safira hanya tertawa.

"Nungguin apaan?" Evan mengalihkan topik pembicaraan.

"Tuh, Riri." Safira menatap Riri dari kejauhan yang terlihat sibuk dengan teman satu ekskulnya.

Evan kemudian mengangguk-angguk. Evan kembali mengajak Safira bicara, Safira menanggapi semuanya. Sampai akhirnya, giliran ekskul basket untuk promosi ke ruang MOS.

***

Beberapa hari setelah Masa Orientasi Siswa terlewati. Kegiatan belajar mengajar di SMA Tunas Bangsa kembali di mulai.

Bel tanda masuk baru saja berbunyi beberapa menit lalu. Ribut tawa dan suara bercakap-cakap terdengar dari setiap kelas yang belum dihadiri guru. Tak terkecuali kelas XII IPS 2.

Seorang guru masuk ke kelas XII IPS 2, membuat seisi kelas itu yang tadinya ribut seketika senyap. Hanya sesekali terdengar bisikan. Beliau ternyata tidak sendiri. Dia bersama seorang siswa asing yang berjalan di belakangnya. Menciptakan tanya di benak para siswa XII IPS 2. 

Siapakah dia? Demikian tatapan para siswa yang memandangnya seolah bertanya. Beberapa dari mereka saling pandang sebelum akhirnya Bu Nurma menjawab pertanyaan itu.

"Selamat pagi anak-anak. Sekolah kita kedatangan murid baru. Dia pindahan dari SMA Negeri 2 Bandung," jelas Bu Nurma, guru Sosiologi yang akan mengajar hari ini sekaligus wali kelas mereka. Para siswa di kelas itu ber 'oh' ria sambil matanya tak lepas dari menatap siswa baru itu. Bu Nurma menoleh. "Gilang, perkenalkan lagi dirimu pada teman-temanmu dan hal-hal lain yang perlu temanmu ketahui." Bu Nurma mempersilakan.

Gilang mengangguk, lalu menatap ke depan, memandangi para siswa di kelas itu secara keseluruhan. "Perkenalkan nama saya Gilang Angkasa. Kalian bisa panggil saya Gilang. Saya pindahan dari Bandung. Usia saya 17 tahun. Hobi saya traveling. Oh, iya, saya masih single," jelas Gilang dengan intonasi yang cepat dan fasih.

Kalimat terakhir yang Gilang ucapkan membuat beberapa siswi di kelasnya tertawa, entah karena apa. Tapi Gilang tampak tak peduli. Dia justru membalasnya dengan tersenyum tipis.

Gilang rasa hanya itu yang perlu dia sampaikan. Dia menoleh ke Bu Nurma. "Sudah, Bu," katanya.

"Silakan duduk di bangku kamu, cari tempat yang kosong. Di sini masih ada bangku kosong ... " Bu Nurma mengedarkan pandangan, mencari kursi kosong yang ternyata ada di pojok belakang. "Di sana." Bu Nurma menunjuk pojok tersebut.

Gilang pun mengangguk. Kaki panjangnya melangkah cepat menuju bangkunya bersamaan dengan para siswa yang terus memandangi. Dia duduk, melepaskan tas ranselnya, lalu mengeluarkan buku tulis kosong. Dia mulai mengikuti pelajaran Sosiologi yang akan di mulai.

Beberapa siswa yang duduk tak jauh darinya memandang ke arahnya. Gilang membalas pandangan itu dengan tersenyum ramah. Gilang tidak masalah jika dia harus duduk sendiri. Toh, ini memang kesenangannya. Menyendiri.

"Baik anak-anak, mohon perhatiannya, buka halaman 5 di buku paket kalian," perintah Bu Nurma. "Gilang, kamu yang belum punya buku paket boleh numpang sama temanmu. Gio, Farhan, bagi buku kalian dengan Gilang, ya," tegur Bu Nurma pada dua siswa yang duduk di depan Gilang. 

"Iya, Bu," sahut lelaki bernama Gio. Dia pun menoleh ke belakang. Gilang justru menggeleng, mengisyaratkan bahwa dia tak perlu dibagi buku. Gio dan Farhan saling pandang. Lalu menoleh lagi ke arah Gilang.

"Kenalkan nama gue Gio, dia Farhan," ucap Gio pada Gilang sambil mengulurkan tangannya.

Gilang menjabat tangan Gio, "gue Gilang. Bukunya kalian pakai aja, gue nggak pake buku nggak masalah, jangan bilang ke Bu Nurma," jelasnya pada dua teman barunya itu.

Farhan hanya mengangguk, "okey kalau gitu."

Keduanya lalu berbalik badan, mendengarkan penjelasan Bu Nurma dengan saksama.

Ya, Gilang tidak butuh buku. Dia cukup mendengarkan apa yang Bu Nurma jelaskan. Kecuali Bu Nurma memberi tugas. Tapi sampai sejauh ini sepertinya Bu Nurma tidak memberi tugas.

Tanpa Gilang sadari, ada seorang siswi yang sejak tadi memperhatikannya. Siswi itu tersenyum dalam diam.

***

Lanjut Membaca

Daftar Isi Persona

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini mengikuti perjalanan emosional David dan Arina dalam menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan hati masing-masing. Hubungan mereka pun tumbuh dengan indah seiring waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam sebuah ikatan cinta yang tulus serta sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel Desain Cinta Kedua
9.4
Tiga tahun membina rumah tangga, Jessica hanya mendapatkan kepedihan dari Aaron. Usai perceraian mereka, ia memilih mandiri dan sukses membangun karier sebagai desainer terkemuka serta pengusaha tanpa sokongan kekayaan keluarganya. Namun, di tengah keberhasilan dan kemandirian yang kini ia nikmati, Aaron mendadak muncul kembali. Sang mantan suami didera penyesalan mendalam dan memohon dimaafkan. Akankah Jessica luluh atau memilih menutup rapat pintu hatinya?
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung pelik. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke dalam lingkaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi kata kasar dan adegan dewasa, gadis lugu ini terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. Saksikan perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Demi berguru pada desainer legendaris Adam Smith, Amber Lim, sosialita bereputasi buruk yang ingin bertobat, nekat menembus musim dingin utara yang mematikan. Sialnya, ia dirampok dan terdampar di hutan beku. Kini, satu-satunya harapan hidup Amber bergantung pada Tuan Dingin, seorang duda misterius pembenci wanita yang dicap kanibal oleh warga. Akankah Amber berhasil meluluhkan hati pria itu, atau justru menjadi korban kebenciannya?
Sampul Novel Menyusui Bayi Mafia
9.7
Pelajar muda bernama Lea dikejutkan oleh tawaran tidak masuk akal dari bos mafia, El Zibrano Elemanus. El bersedia memberikan kekayaan melimpah asalkan Lea mau menyusui putranya. Tentu saja Lea menolak keras demi masa depannya. Sayangnya, El tidak menerima kata tidak dan siap memakai caranya sendiri untuk memaksa Lea. Kini, ia terjebak dalam situasi intim yang mengancam harga diri serta masa depannya akibat obsesi sang mafia.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan