APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dosenku Suami Posesif

Dosenku Suami Posesif

Kehidupan Belinda Zevaya sebagai mahasiswi akhir mendadak kacau saat laptop untuk menyusun skripsinya rusak, sementara ia sedang mengalami krisis keuangan. Situasinya kian rumit karena ia harus berhadapan dengan Arez Bernando, dosen pembimbingnya yang terkenal sangat kejam dan ditakuti. Namun secara mengejutkan, Arez menawarkan jalan keluar tak biasa. Ia meminta Belinda bekerja di rumah pribadinya agar laptop itu diperbaiki dan kelulusannya bisa segera dibantu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah sarapan. Zeva berniat untuk segera pergi ke Rumah Makan Seafood tempatnya bekerja. Setengah jam lagi dia harus masuk, dia tidak bisa terlambat karena manager Rumah Makan itu sangat galak pada Zeva.

"Kenapa buru-buru? Kamu ada kegiatan lain?" Tanya Aliza

"Saya harus bekerja, saya tidak bisa terlambat"

"Di sekolah?"

"Bukan, di Rumah Makan Seafood"

"Dimana lokasinya?"

"Samping Universitas Madani" jawab Zeva

Aliza nampak terdiam. "Biar saya antarkan, kebetulan saya mau ke Universitas juga"

Mata Zeva membelalak. "Oh ya? Seriusan?"

"Iya, masa saya bohong. Ayo, nanti kamu terlambat"

"Terima kasih banyak, Aliza" ucap Zeva. Dia bersyukur sekali karena bertemu dengan orang baik seperti Aliza. Ia kepikiran dengan driver tadi pagi, dia bersedekah dan sekarang ia mendapatkan hasil dari sedekahnya, dengan tidak perlu mengeluarkan uang yang lumayan besar untuk ke tempat kerja selanjutnya.

Di perjalanan menuju ke Rumah Makan Seafood, ponsel Zeva bergetar. Ponsel jadul yang hanya bisa digunakan untuk mengirim pesan dan menelfon itu bergetar. Zeva mengeluarkannya dari tas, untuk mengecek siapa yang menghubunginya.

Mata Zeva membelalak. "Hah? Ti- tidak mungkin, ini tidak salah?" Lirihnya tidak percaya dengan apa yang ia lihat, dan ia kembali menatap layar ponselnya, membuat Aliza menatapnya.

"Ada apa Zeva?" Tanya Aliza

Zeva menggelengkan kepalanya. Mata Zeva semakin melebar saat melihat nama di layar ponselnya. 'Dosen Pembimbing Utama is Calling'

Ya, benar sekali! Dosen Pembimbing Utama Zeva yang terkenal killer dan dingin itu menelfonnya. Arez Bernando Buana, pembimbing Utama Zeva menghubunginya secara tiba-tiba. Zeva sama sekali tidak percaya jika dosennya tu akan menghubunginya, rasanya ia seperti sedang bermimpi di siang bolong.

"Apa saya mimpi? Aneh sekali kalau beliau sampai menelfon ku!" gumam Zeva mencubit pipinya sendiri, dan berakhir ia meringis karena sakit.

"Kenapa tidak di angkat Zeva? Angkat saja, mungkin penting" ucap Aliza

Zeva mengangguk, saat ia akan menekan tombol hijau di ponselnnya, panggilannya terputus. Zeva menghela napas, ingin menelpon balik namun dia tidak memiliki pulsa. "Ada apa ya sebenarnya?" Ia terus bertanya-tanya dengan rasa gelisah, dan ponselnya kembali bergetar membuat napasnya seakan berhenti.

"Ha- Halo, Pak. Selamat Pagi" salam Zeva dengan suara lirih dan terdengar gugup, ia berusaha berbicara setenang mungkin. Ia berhati-hati karena yang ia temani berbicara ini bukan lah dosen biasa.

"Belinda Zevaya, benar?" Tanya Arez dengan suara penuh penekanan, terdengar dingin dan ketus dari seberang sana. Tanpa membalas salam Zeva, pria itu langsung to the point menyebutkan nama lengkap Zeva, tanpa ada satu kata pun yang salah.

"I- Iya, Pak. Benar, saya Belinda Zevaya" jawab Zeva semakin gugup.

Wajar bukan? Memangnya siapa yang tidak gugup dan panik, jika tiba-tiba saja dihubungi oleh seorang dosen yang paling tampan, killer dan dingin seuniversitas?

Sepertinya Zeva tidak perlu menguraikan lebih panjang lagi bagaimana karakter dari dosennya itu. Pria itu terkenal sangat dingin, cuek dan ketus juga sangat mengerikan bagi Zeva. Bahkan dosennya yang bernama Arez ini terkenal dengan mulutnya yang pedas saat menyindir siapa pun.

Terdengar helaan napas berat di seberang sana. "MASALAH KAMU SEBENARNYA APA ZEVA?" Teriakan Arez membuat Zeva menjauhkan ponselnya.

"ZEVA, SAYA SUDAH MENUNGGU BEBERAPA MINGGU SKRIPSI KAMU. KENAPA TIDAK DATANG MEMERIKSA SKRIPSI MU HAH? APA KAMU TIDAK INGIN LULUS DARI KAMPUS? APA PERLU SAYA PERINGATKAN SEKALI LAGI BELINDA ZEVAYA, BAHWA SEMESTER DEPAN ADALAH SEMESTER TERAKHIR KAMU BERADA DI KAMPUS INI SEBELUM KAMU BENAR-BENAR DI DROP OUT DARI KAMPUS" ucap Arez dengan nada tinggi tanpa jeda sama sekali.

Zeva menelan salivanya kasar. Aliza bahkan bisa mendengar suara pria itu yang memarahi Zeva. Arez seakan tidak memberikan kesempatan untuk Zeva hanya untuk bernapas sebentar.

Zeva memejamkan matanya beberapa detik, dan mengambil napas dalam sebelum akhirnya ia memberikan respon dari ucapan Arez.

"Sebelumnya maafkan saya karena membuat Bapak sampai menunggu. Sebenarnya begini Pak... Sa- Saya bukannya tidak ada niatan untuk lulus dengan cepat. Saya juga tahu jika semester depan sudah menjadi semester terakhir bagi saya, tapi saya..." ucapan Zeva terhenti karena Arez langsung memotongnya.

"Sudah Zeva, saya tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan alasan atas kemalasan mu itu yang terlalu bertele-tele. Begini saja Zeva, jika memang kamu ingin segera lulus, saya bersedia membantu mu. Saya tunggu kamu di ruangan saya sekarang juga!" seru Arez dengan tegas.

Mata Zeva membelalak. Ia bahkan belum menjelaskan semuanya, namun Arez sudah berpikiran jika dirinya hanya membuat alasan saja. Belum juga Zeva merespon, Arez langsung memutuskan sambungan teleponnya.

Tut.. Tutt..

"Ya Allah, menyebalkan sekali" umpat Zeva mengusap wajahnya kasar.

Zeva kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia di buat semakin bingung sekarang, dia harus bekerja di Rumah Makan Seafood, dia tidak punya waktu lagi. Tetapi, di sisi lain, dia juga tidak bisa mengabaikan perintah dari Arez begitu saja, apalagi pria itu sudah mengatakan akan membantunya.

Zeva menghela napas berat, ia menggaruk alisya yang tidak gatal. Bingung dengan keadaan yang ia hadapi saat ini. Namun, di satu sisi dia juga merasa senang karena masih ada Arez yang mau peduli dan perhatian padanya di saat dirinya sudah hampir menyerah dengan kuliahnya.

"Kenapa Zeva? Apa ada masalah?" Tanya Aliza

Zeva menganggukkan kepalanya. "Aku harus ke kampus, dosen pembimbing ku sudah menghubungi ku dan meminta ku untuk ke ruangannya sekarang juga"

"Kamu kuliah?" Tanya Aliza yang lumayan kaget.

"Iya" jawab Zeva lirih.

"Hebat, kamu bisa kuliah sambil bekerja. Dimana kampus mu? Biar aku antarkan"

"Di Universitas Madani"

Aliza tersentak, "Kamu kuliah disana?" Tanyanya sedikit kaget, bukan apanya, Universitas Madani adalah Universitas Swasta, dan biaya kuliah di sana tidak lah murah.

"Saya dapat beasiswa, jadi saya bisa berkuliah disana. Namun beasiswa saya di cabut, karena saya sudah terlambat menyelesaikan kuliah saya dari waktu yang ditetapkan pihak kampus" jelas Zeva

"Itu yang buat kamu sampai bekerja?"

"Ya, bisa di bilang begitu"

"Aku bangga dengan kamu. Semoga kamu bisa cepat selesai, dan bisa bekerja di kantoran"

"Aamiin. Makasih"

Setibanya di halaman parkiran kampus. Zeva berpamitan pada Aliza. Terakhir kali ia menginjakkan kakinya di kampus, saat ia konsultsi masalah skripsinya dengan Arez, dan itu sudah tiga minggu yang lalu.

Zeva bergegas menuju ke ruangan Arez, dan Zeva berdiri di depan ruangan pria itu tepat setengah jam setelah pria itu menghubunginya untuk datang.

Zeva menarik napas dalam, sembari tangan satunya menggenggam sweater pink yang ia gunakan tadi.

Tok. Tok. Tok

Zeva mengetuk pintu lebih dulu, sebelum ia membuka pintu.

"Selamat siang Pak Arez" ucap Zeva dengan mata yang langsung tertuju pada meja pria itu yang dipenuhi dengan banyaknya berkas dan barang lainnya. Di atas meja juga terdapat papan nama yang bertuliskan Arez Bernando Buana, MBA.

"Zeva.."

"Iya, Bu. Pak Areznya dimana ya, Bu?" Tanya Zeva pada asisten Arez

"Beliau ada jadwal mengajar sejak setengah jam yang lalu, kamu mau bimbingan?"

"Iya, Bu"

"Ya sudah, tunggu saja diluar. Tadi Pak Arez sudah berpesan jika kamu datang suruh menunggu dulu diluar"

Zeva menganggukkan kepalanya. Ia duduk dengan gelisah di koridor. Ia lupa jika ia harus memberikan kabar pada manager di Rumah Makan Seafoodnya, sehingga ia langsung mengirimkan pesan pada managernya itu, dengan mengatakan ia harus izin sehari, dan atas izinnya itu ia harus menerima konsekuensi jika gajinya akan di potong tanpa adanya toleransi lagi. Ia pun bergegas ke toilet lebih dulu, untuk mencuci muka.

"Nando ada?" Tanya seorang wanita yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu.

"Tidak ada, Nyonya Aliza. Beliau lagi mengajar"

"Baiklah, saya akan tunggu" Aliza mendudukkan dirinya, di depan meja kerja Arez dan mengeluarkan alat makeupnya.

Regita___ Asisten dosen Arez hanya bisa mengangguk, dia tidak bisa juga meminta Aliza untuk keluar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Istri pilihan
8.8
Demi menyelamatkan hari pernikahan, Leana terpaksa menggantikan Sasmita, kakaknya yang mendadak kabur. Ia pun terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta bersama Elvano Mahendra, pria dingin yang terus menyalahkannya. Sadar tak pernah diinginkan, kesabaran Leana akhirnya habis saat sang kakak kembali. Namun, ketika Leana menuntut perceraian, Elvano justru menolak melepaskannya meski sang kekasih lama telah pulang. Mengapa pria itu bersikeras mempertahankan pernikahan mereka?
Sampul Novel DENDAM SI PELAYAN SEKSI
9.4
Mimpi buruk terus menghantui kehidupan pernikahan Daren dan Carolina. Di tengah situasi itu, hadirlah Eliana, seorang pelayan baru yang memikat sekaligus membangkitkan memori asing dalam diri Daren. Di balik pesonanya, Eliana menyimpan niat terselubung untuk menghancurkan hidup sang majikan demi membalas dendam. Namun, saat rahasia masa lalu mulai tersingkap, ia justru terjebak dalam perasaan cinta pada targetnya. Akankah dendam Eliana luntur, atau misinya tetap berlanjut?
Sampul Novel Gairah Terlarang Sang CEO!
9.0
Jordan Freemantle dilingkupi kemarahan besar akibat ulah Lawrence Brickman yang membawa lari uang proyek penting mereka. Begitu Chantal Brickman, anak perempuan Lawrence yang menawan, tiba di kediaman ayahnya di Malibu, Jordan segera menjadikannya sasaran balas dendam. Pengusaha angkuh ini menuntut Chantal melayani segala nafsunya demi membayar kerugian sang ayah. Tanpa jalan keluar, Chantal terpaksa tunduk di bawah kendali Jordan demi melunasi utang tersebut.
Sampul Novel Istri Manis Tuan Jicko
9.8
Demi memenuhi keinginan sang ibu yang mendambakan cucu tanpa ikatan pernikahan, Jicko menolak dijodohkan. Ia memilih jalan pintas dengan menawarkan perjanjian khusus kepada Ameera untuk mengandung anaknya. Jicko percaya kesepakatan ini menguntungkan kedua pihak tanpa melibatkan perasaan. Namun, rencana yang ia kira sederhana itu justru menjadi sangat rumit saat kenyataan hubungan mereka ternyata jauh lebih kompleks dari perkiraan awal.
Sampul Novel Ketika Istri Sudah Mati Rasa
7.9
Kehancuran hidup Alexa bermula dari pengkhianatan sang suami dan sahabatnya. Setelah berhasil bangkit dari keterpurukan, ia bertekad membalas rasa sakit itu secara elegan. Namun, Sintya yang telah merebut Ryan belum puas dan terus berupaya merusak hidup Alexa, bahkan mengincar Anggia. Di tengah badai konflik ini, Razka hadir dan setia melindungi Alexa dari ancaman. Akankah Alexa sanggup membuka hatinya lagi setelah terluka begitu dalam?
Sampul Novel Lenyap Usai Kata Pisah
8.2
Sofia Wijaya memilih mundur saat Olivia Kartika kembali ke sisi suaminya, Revan Mahendra. Melalui trik dokumen universitas, Sofia berhasil membuat sang pewaris mafia menandatangani perceraian tanpa disadari. Sofia pergi menjauh dalam keadaan hamil, membawa rahasia besar yang akan mengubah segalanya. Kini, Revan yang menyesal mengerahkan seluruh kekuasaan dunia bawah tanah untuk memburunya. Namun, Sofia telah bertransformasi menjadi sosok tangguh yang siap membuat mantan suaminya berlutut memohon cinta.