APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dosa Yang Indah - Zina

Dosa Yang Indah - Zina

Zina terlahir dari masa lalu kelam sang ibu yang penuh noda. Sebagai anak hasil hubungan terlarang, hidupnya dilingkupi penderitaan tanpa akhir. Sang ibu yang menyimpan trauma mendalam akibat kekejaman seorang pria, bertekad membalas dendam dengan cara apa pun. Dalam romansa modern ini, Zina menjadi lambang dosa yang indah sekaligus alat utama ibunya untuk menuntaskan amarah terhadap sosok yang telah menghancurkan hidup mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Zina, gadis cantik dan baik hati itu tumbuh menjadi gadis yang lemah lembut dan murah senyum. 

Sejak lahir ia sudah di asuh oleh Mak Ratih yang merupakan Neneknya. Tapi Zina lebih suka memanggilnya dengan panggilan, 'Mak'. 

Menjalani hidupnya bersama dengan Mak Ratih di desa kecil yang sepi tak serta merta membuatnya menjadi sedih dan merindukan akan sosok Ibunya.

Sejak kecil Zina tak pernah melihat wajah sang Ibu, tapi Zina tahu akan satu hal. Yaitu, Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya. Hal itu membuat Zina sangat menghormati sang Ibu, baginya Ibunya adalah wanita terbaik. Dia Ibu terbaik! 

Dari kecil hingga remaja Zina hidup dengan nyaman tanpa harus khawatir akan kekurang uang. Neneknya yang kini masih terus melanjutkan usaha milik almarhum Ayundia. Ia terus melanjutkan usaha itu walaupun ia tahu jika semua itu Ayundia hasilkan dari perbuatan tak pantas. Tapi demi menujang kehidupan yang layak bagi Zina, Mak Ratih pun terpaksa melanjutkan apa yang sudah di mulai oleh Ayundia. 

Kini usianya Zina sudah menginjak 15 tahun. Kini ia sudah remaja. Ia tumbuh menjadi remaja yang cantik, dan juga baik hati. Dia tak pernah sombong kepada teman-temannya, tapi sebaliknya; tak ada satu pun anak seusia dirinya yang mau bicara dengannya. Hal itu terus terjadi dari dulu sampai saat ini. 

Zina tak pernah tahu kenapa mereka tak mau bicara dengannya, bahkan warga desa juga sepertinya tak suka dengan dirinya. 

Kenapa? 

Zina terus bertanya kepada Mak Ratih, tapi Mak Ratih tak pernah memberitahu apa pun, walaupun sesungguhnya ia tahu kenapa orang-orang desa melakukan itu padanya. 

Jelas saja mereka melakukan semua itu. Melihat sosok Zina mengingatkan mereka pada Ayundia. Mengingat dosa apa yang telah Ayundia lakukan membuat warga desa takut, khususnya para wanita yang tak ingin sejarah terulang kembali. 

Akhirnya para wanita di desa pun melarang anak-anak mereka untuk berbicara dengan Zina, apalagi berteman. Mereka tak akan mengizinkan hal itu. Mereka takut jika nanti Zina akan seperti Ibunya, karena wajah mereka saja mirip. 

Berbelas-belas tahun Zina hidup dalam tanda tanya. Kenapa orang-orang di desa tampaknya sangat membenci dirinya? Kenapa? 

Tetapi tak ada satu pun orang di desa yang bisa menjawab rasa penasarannya itu. Sampai suatu hari, di hari di mana hasil panen sangat melimpah. Mak Ratih memutuskan untuk mengadakan syukuran untuk merayakan hal itu. Tak lupa juga Mak Ratih mengundang warga desa untuk menghadari acara tersebut. 

Walau sesungguhnya malas, tapi mereka tetap pergi untuk menghormati Mak Ratih karena jika bukan karenanya mereka mungkin tak akan bisa makan hari ke harinya. 

Acara syukuran tersebut berlangsung dengan lancar. 

Zina merasa sangat senang melihat banyak orang ada di rumahnya, tapi sayangnya tak satu pun dari mereka yang merasa senang akan kehadirannya. Hal itu membuatnya merasa sedih. Lalu dengan langkah berat ia meninggalkan acara tersebut dan keluar rumah seorang diri.

Ia berjalan-jalan di sekitar rumahnya, tapi tanpa di sangka-sangka di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang pria paruh baya yang tampaknya tengah mabuk. 

Menyadari akan hal itu membuat Zina takut. Lalu dengan perlahan ia berusaha menjauh, tapi pria itu dengan cepat menangkapnya. 

“Mau kemana Zina cantik?”

Pria paruh baya itu mencengkam erat tangan Zina. 

Rasanya sakit, membuat Zina menangis. 

“Sakit,” rintihnya berlinang air mata. “Lepaskan!” Zina memberontak. 

Ia berusaha keras melepaskan genggaman tangan pria itu, tapi tak bisa. Tenaganya tak bisa di bandingkan dengannya. 

“Kamu sangat cantik. Wajahnya sama cantiknya dengan Ibumu ….” 

Pria paruh baya yang tengah mabuk itu terus meracau tak jelas.

“Melihatmu benar-benar mengingatkan aku pada Ibumu. Dulu Ibumu juga memiliki wajah cantik sepertimu, tapi kamu sedikit lebih cantik dari pada dia ….”

Entah apa yang pria itu katakan? Zina tak peduli dan tak mendengarkan. Ia hanya terus berusaha melepaskan diri. Saat ini ia benar-benar takut. Hampir semua warga desa ada di rumahnya, dan tak ada orang lain di dekatnya saat ini. Ini benar-benar menakutkan. 

“Aku jadi merindukan Ibumu. Dulu dia sangat pintar memijatku,” ungkapnya. 

Zina sontak berhenti berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu. Ucapan pria itu membuatnya bingung. 

“Maksud Paman?” tanya Zina. 

“Oh iya ya, aku baru ingat. Kamu kan tidak tahu apa yang Ibumu itu lakukan ….” Pria itu tertawa bagaikan orang gila. 

“Memangnya apa yang Ibuku lakukan?” tanya Zina lagi. 

“Jadi, sebenarnya … Ibumu itu … dia itu sebenarnya bukan wanita baik-baik,” ungkapnya. 

Duarrr!

Bagaikan petir menyambar dirinya. Perkataan pria paruh baya itu membuatnya marah. Berani-beraninya dia mengatakan jika Ibunya bukan wanita baik-baik. 

“Apa maksud Paman? Kenapa bilang Ibuku bukan wanita baik-baik? Jangan asal bicara ya!” seru Zina terdengar sangat marah. 

“Hahahaha ….” Pria itu tertawa terbahak-bahak. “Zina … Zina, kamu itu tidak tahu wanita seperti apa sebenarnya Ibumu itu. Dia bukan wanita baik-baik!”

Air mata Zina jatuh. Dia benar-benar merasa sakit hati mendengar hinaan pria itu terhadap Ibunya. 

“Berhenti mengatakan jika Ibuku bukan wanita baik-baik! Dia itu wanita terbaik! Dia Ibu terbaik!” tegasnya. 

“Kamu hanya tahu dia meninggal karena melahirkanmu. Tapi apa kamu tahu apa pekerjaan sebelum itu? Kamu mau tau? Akan aku beri tahu.” Pria itu tersenyum licik. “Ibumu itu wanita penggoda,” bisiknya pelan. “... bisa dibilang juga dia itu pelacur. Karena dia tidur dengan hampir semua lelaki di desa ini hanya untuk uang. Makanya sekarang keluargamu itu kaya!”

Apa yang baru saja di dengarnya? Itu semua adalah kebenaran yang membuatnya mendapatkan semua jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini menghantui dirinya. 

Apa ini benar? Apa ini nyata? 

Zina terus bertanya-tanya, tak percaya dan tak ingin percaya dengan apa yang di katakan pria mabuk itu tentang Ibunya. 

Selama ini wanita yang ia anggap sebagai wanita terbaik, tapi ternyata ia adalah wanita terburuk.

“Satu lagi. Apa kamu tahu kenapa kepala desa memberikan nama Zina padamu? Dia memberikan nama itu untuk melambangkan perbuatan hina Ibumu. Zina itu adalah buah dari dosa. Dosa yang indah,” ucapnya seraya menyetuh lembut pipi Zina.

Merasa jijik dengan sentuhan itu membuat Zina dengan cepat sekali lagi memberontak untuk melepaskan diri, tapi genggaman pria itu justru semakin kuat. 

“Kamu apa? Lari? Tak akan bisa! Kamu harus tetap disini untuk menemaniku. Cantik ….”

Sekali lagi pria tua tak tahu malu itu ingin menyetuh Zina, tapi untungnya sebuah batu mengenai tangannya dan membuatnya seketika melepaskan Zina. 

Hal itu membuat Zina mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri. 

Belum sempat ia melarikan diri pria itu kembali menangkapnya sambil berteriak memanggil orang yang telah melukai tangannya. 

Dari balik pohon besar seorang pemuda dengan tatapan dingin menujukan diri. Di tangan pemuda itu terlihat beberapa batu lain yang siap ia lemparkan kepada pria itu. 

“Dalam hitungan ketiga, lari kearahku. Kamu paham?” Tatapan pemuda itu tertuju pada Zina. 

“Heh?” Zina tak mengerti dengan apa yang ia katakan. 

“Satu ….” Pemuda itu bersiap melemparkan batu lainnya. “Dua ….” Sudah siap melempar. “Tiga ….” Batu itu langsung melayang cepat kearah pria mabuk itu. “Sekarang, lari!” titahnya dengan suara lantang. 

Zina yang mengikuti apa yang dikatakan pemuda itu dengan cepat berlari kearahnya, lalu saat Zina telah datang padanya pemuda itu menggenggam erat tangan Zina dan berlari bersamanya. 

“Hey, jangan lari kalian!”

Pria paruh baya yang tengah mabuk itu dengan susah payah mengejar Zina dan pemuda itu sampai akhirnya ia kehilangan keduanya.

Tidak mengetahui jika mereka tidak lagi di kejar, pemuda itu terus berlari sambil terus menarik Zina yang saat itu terus berpikir soal apa yang dikatakan pria tadi yang mengatakan jika dirinya adalah buah dari dosa.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BOYFRIEND?
8.1
Bagi Raina, persahabatan lawan jenis tak pernah lepas dari cinta, namun ia pantang mengencani teman sendiri agar hubungan awet. Sayang, pengkhianatan tunangannya merusak segalanya, hingga ia terpaksa menikahi sahabat sendiri demi menyembuhkan luka. Kini Raina terjebak dilema antara akal sehat dan perasaan. Sanggupkah ia mencintai sang suami, atau justru kembali pada mantan kekasih yang masih dirindukannya?
Sampul Novel GHAFFAR PENAKLUK AKHWAT
8.2
Demi menuntut ilmu, Ghaffar memilih merantau ke Jakarta. Namun, fokus belajarnya goyah setelah ia mulai menjalin interaksi dengan deretan wanita di ibu kota. Kehidupan pemuda ini pun berubah drastis saat ia terseret ke dalam lika-liku asmara yang tidak terduga. Kisah cinta modern penuh dinamika sosial dan godaan di kerasnya Jakarta ini menyajikan konten dewasa yang memerlukan kebijakan dari para pembacanya.
Sampul Novel HASRAT MEMBARA CEO PERKASA
8.5
Dalam sekuel Cintaku Bersemi di Masa Remaja, Joseph Mikuel selaku CEO JM Corp tidak sengaja bersua kembali dengan Mary Violet, kekasih masa lalunya. Dulu, Mary pergi begitu saja tanpa alasan, namun kini ia mendadak mendaftar sebagai sekretaris pribadi di kantor Joseph. Lewat pengaruhnya, Joseph sengaja meloloskan Mary demi menyelesaikan urusan hati yang belum tuntas. Mary pun terkejut dengan pertemuan ini, memicu tanya apakah asmara lama mereka dapat terjalin kembali.
Sampul Novel JUST MATE
8.6
Renata meregang nyawa secara tragis setelah dikhianati oleh dua orang terdekat yang sangat ia cintai. Di detik-detik terakhir hidupnya, ia teringat pada Dewa Fenrir yang dahulu sering diceritakan ibunya, lalu memanjatkan doa pamungkas untuk menuntut balas. Namun, keajaiban aneh justru menghampiri sebelum napasnya habis. Sebuah suara dahsyat memanggilnya 'Luna' bersamaan dengan dekapan tangan dingin di wajahnya. Misteri apa yang menanti takdir Renata di batas kematian ini?
Sampul Novel Pemuas Nafsu Tuan Muda 21+
8.6
Demi memperbaiki taraf hidup neneknya, Nada, siswi SMA, rela mengambil pekerjaan tidak biasa untuk menyusui Daffa yang sedang lumpuh. Interaksi ini terus berjalan sampai fisik Daffa pulih total. Begitu tugasnya selesai dan Nada hendak melangkah pergi, Daffa justru menolak melepaskannya. Rupanya, pemuda itu telah terobsesi dan kecanduan pada sosok Nada. Akankah Nada berhasil meloloskan diri, atau justru terperangkap selamanya dalam jerat Daffa?
Sampul Novel Pilihan Terakhir
7.9
Demi mengejar takhta karier dan kekuasaan, Bella mengabaikan tugasnya sebagai istri. Padahal, Aris selalu memberikan kebebasan penuh sejak awal pernikahan mereka. Sikap dingin Bella lambat laun memicu kejenuhan mendalam di hati Aris. Di titik terendah rasa lelahnya, Aris mulai mempertanyakan masa depan pernikahan mereka. Apakah salah jika ia berpaling pada Ana untuk menggantikan Bella? Sebuah dilema rumah tangga yang sarat akan luka emosional.