APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dokter Sakti Penguasa Dunia

Dokter Sakti Penguasa Dunia

Ewan Aditya bukanlah tabib biasa yang bisa diremehkan. Di dunia modern yang penuh intrik dan perebutan kekuasaan, dia berdiri sebagai sosok tangguh yang menentukan takdir. Baik penguasa tertinggi maupun miliarder terkaya tidak memiliki arti di hadapannya. Melalui keahlian medis yang luar biasa dan kekuatan aksi yang mematikan, Ewan siap menyelamatkan nyawa yang pantas ditolong atau merenggutnya dari mereka yang berani bersikap sombong kepadanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Saat masih dalam kondisi pingsan, di benak Ewan tiba-tiba terdengar suara tua yang dalam.

"Aku adalah leluhur Keluarga Aditya. Selama hidupku, aku menguasai dunia dan tak terkalahkan. Ketika wafat, aku meninggalkan seutas kesadaran ilahi di dalam gelang giok ini sebagai pusaka warisan Keluarga Aditya."

"Nggak kusangka, zaman sudah berganti. Keturunan Keluarga Aditya bisa-bisanya terpuruk sampai begitu rendah. Rasanya menyedihkan sekaligus memalukan! Karena takdir mempertemukan kita hari ini, maka aku akan mewariskan seluruh ilmu hidupku padamu."

"Ingat baik-baik. Setelah menerima warisan ini, kamu harus menjunjung kebenaran dan keadilan. Jangan sekali-kali menggunakannya untuk kejahatan atau menempuh jalan sesat. Kalau melanggar, kamu akan mati dalam keadaan nggak punya tempat untuk dikuburkan!"

Sesaat kemudian, Ewan melihat gelang giok putih yang dulu dia berikan pada Mona tiba-tiba berubah menjadi seekor naga emas berkaki lima, lalu menerobos masuk ke dadanya.

"Aaargh!" Ewan terkejut dan langsung terbangun. Begitu membuka mata, dia masih berada di kontrakan Mona. Sementara itu, Mona dan Dylan entah sudah pergi ke mana.

"Dasar pasangan berengsek!" umpat Ewan, lalu bangkit berdiri dari lantai.

Tepat pada saat itu, Ewan terkejut menyadari bahwa rasa sakit di tubuhnya sudah menghilang sepenuhnya. Bahkan, tidak ada bekas luka sedikit pun.

Ewan masih ingat dengan jelas bahwa Dylan sempat menginjak jari-jarinya hingga patah dan membuatnya kesakitan sampai pingsan. Namun sekarang, jari-jarinya telah pulih sempurna. Bahkan, kulitnya terlihat lebih baik dari sebelumnya.

Apa yang terjadi? Tiba-tiba, Ewan teringat akan mimpi barusan. Jangan-jangan, semua yang ada di mimpi itu sungguh nyata?

Ewan mencoba menutup mata dan fokus. Saat berikutnya, raut wajahnya langsung berubah kaget. Sebab dalam pikirannya, tiba-tiba muncul berbagai macam pengetahuan aneh dan asing. Mulai dari teknik medis, seni bela diri, teknik kultivasi, ilmu rahasia strategi, hingga ilmu fengsui dan ilmu metafisika ....

Bahkan, ada sebuah buku berjudul "Kitab Jimat Akademi Sidoar". Buku itu memuat berbagai cara penggunaan jimat Akademi Sidoar, seperti Jimat Pembawa Sial, Jimat Langkah Dewa, Jimat Pengusir Setan, Jimat Pembuka Mata Batin, dan banyak lagi .... Totalnya ada 108 jenis!

"Astaga! Sebenarnya apa semua ini?" Ewan agak kebingungan sendiri.

Dret, dret ....

Tiba-tiba, suara dering ponsel yang nyaring membuyarkan pikiran Ewan. Begitu Ewan mengeluarkan ponselnya, dia melihat layar menampilkan nama "Neva". Dia segera menekan tombol jawab dan bertanya dengan hormat, "Bu Neva, ada yang bisa kubantu?"

Suara wanita yang dingin tetapi merdu terdengar dari ujung telepon. "Cepat kembali sekarang. Kutunggu di kantorku."

Ewan bertanya, "Bu Neva, ada apa ya Ibu mencariku?"

"Setelah melakukan hal itu, kamu masih berani bertanya padaku?" balas Neva.

Tut, tut!

Telepon langsung ditutup. Ewan langsung merasa cemas dalam hatinya. Dari nada suara Neva, dia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

"Melakukan hal itu? Apa maksudnya? Aku melakukan apa?" gumam Ewan. Tanpa sempat berpikir panjang, dia segera bergegas ke rumah sakit.

....

Seperti namanya, Neva memiliki kulit seputih salju, tubuh tinggi semampai, dan paras yang begitu cantik dengan aura bangsawan alami.

Namun wajah Neva selalu terlihat dingin dan serius, seolah-olah menolak semua orang untuk mendekat. Itu sebabnya, para rekan kerja di rumah sakit diam-diam menjulukinya sebagai "Dewi Es".

Sebagai wanita cantik, tentu saja Neva tidak kekurangan pengagum. Banyak pria yang mencoba mendekatinya, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil.

Sepertinya, wanita pada dasarnya memang memiliki sifat angkuh dalam diri mereka. Hanya saja, Neva jauh lebih angkuh daripada wanita pada umumnya.

Tentu saja, Neva pantas menjadi angkuh. Meski usianya masih muda, teknik medis wanita itu luar biasa. Di usia 23 tahun, dia telah memperoleh gelar doktor dari Akademi Kedokteran Royala di Iranda.

Di usia 24 tahun, nama Neva sudah dikenal luas di Papandaya. Di usia 25 tahun, dia bahkan diangkat sebagai Kepala Departemen Bedah termuda dalam sejarah Rumah Sakit Papandaya.

Bisa dibilang bahwa di dunia medis Papandaya, nama Neva dikenal oleh semua orang. Tidak ada orang yang tidak tahu tentang Neva.

Hal yang membuat Ewan heran adalah sejak dia mulai bekerja di rumah sakit, dia sering mendengar dari rekan kerjanya bahwa banyak rumah sakit top dari ibu kota dan Soharia yang telah berulang kali menawarkan bayaran tinggi untuk merekrut Neva, hanya saja mereka semua ditolak oleh wanita itu.

Adapun alasannya, Neva tidak pernah menjelaskan apa-apa. Orang lain pun tidak tahu. Intinya, semuanya menjadi misteri.

Saat ini, Ewan sudah tiba di rumah sakit. Begitu memasuki lobi, dia melihat beberapa perawat di meja resepsionis menunjuk-nunjuk ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan jijik yang tidak disembunyikan.

Perasaan tidak enak dalam hati Ewan entah kenapa menjadi makin kuat. Dari ekspresi para perawat, jelas ada sesuatu yang buruk terjadi dan sepertinya bahkan berkaitan dengannya.

Akan tetapi, Ewan yakin tidak melakukan kesalahan apa pun. Dia tidak sempat berpikir terlalu lama. Pria itu langsung menuju kantor Kepala Departemen Bedah, lalu mengangkat tangan dan mengetuk pintu.

Tok, tok ....

"Masuk!" Sebuah suara dingin terdengar dari dalam.

Ewan menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu dan berjalan masuk. Dia melihat Neva sedang membaca rekam medis.

"Bu Neva, ada apa Ibu mencariku?" tanya Ewan pelan. Neva sama sekali tidak mendongak. Pandangannya tetap tertuju pada rekam medis di tangannya.

Jantung Ewan berdegup kencang seketika. Rasa gelisahnya menjadi makin kuat. Dia sudah bekerja di bawah Neva untuk beberapa waktu dan secara garis besar sudah cukup memahami sifat wanita itu. Jika dia tidak membalas, itu berarti dia sedang marah.

'Apa aku benar-benar berbuat salah? Kalau nggak, mana mungkin Bu Neva marah?' Ewan bertanya dalam hati pada dirinya sendiri. Namun setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya dia tidak melakukan kesalahan apa pun.

Berhubung Neva tidak membalas, Ewan pun tidak berani membuka mulut lagi. Dia hanya berdiri tegak di depan meja sambil diam-diam mencuri pandang ke arah wanita itu.

Hari ini, Neva mengenakan setelan kerja berwarna perak yang membuat lekuk tubuhnya terlihat sangat indah. Setiap helaan napas membuat dadanya yang besar naik turun, seolah-olah kapan saja bisa menembus kemeja dan melompat keluar.

Rambut panjang hitam Neva disanggul rapi sehingga memperlihatkan wajah cantiknya yang berbentuk oval. Kesan yang diberikan wanita itu begitu tegas dan dingin.

Setelah membiarkan Ewan berdiri selama lima menit, Neva akhirnya mendongak lalu membanting rekam medis itu di hadapannya. Dia bertanya dengan suara dingin, "Ini rekam medis yang kamu buat?"

Ewan mengambil rekam medis itu dan membaca sekilas, lalu membalas sambil mengangguk, "Benar, Bu Neva. Ini rekam medis yang aku buat pagi tadi."

Neva membentak, "Kalau begitu, kenapa isi rekam medismu sama persis dengan punya Dylan? Jawab dengan jujur, kenapa kamu menjiplak rekam medisnya?"

Ewan buru-buru menjelaskan, "Sama persis? Itu nggak mungkin! Rekam medis ini kubuat sendiri pagi tadi di kantor. Aku nggak menjiplak siapa pun!"

"Kamu bilang itu buatanmu sendiri. Tapi, apa kamu bisa membuktikannya?" tanya Neva.

Ewan memberi tahu, "Bisa. Pagi tadi, Mona datang mengantar kola ke departemen. Saat itu, dia melihatku lagi membuatnya."

"Tapi, Mona sudah bersaksi untuk Dylan. Dia membenarkan bahwa rekam medis itu memang dibuat olehnya. Kamu masih mau membela diri?" Raut wajah Neva terlihat makin dingin ketika bertanya demikian.

Wajah Ewan dipenuhi ekspresi terkejut. Tak lama kemudian, dia menyadari bahwa ini pasti ulah pasangan berengsek itu. Mereka ingin menjebaknya.

Ewan menjelaskan, "Bu Neva, aku berani bersumpah bahwa rekam medis ini murni buatanku sendiri. Semalam, aku bahkan bergadang sampai larut malam demi menyusunnya. Aku mencari referensi ke sana kemari. Soal Mona kasih kesaksian palsu untuk Dylan, itu karena mereka ...."

Neva memotong ucapannya, "Kamu nggak perlu jelaskan lagi. Kasus ini sudah diketahui oleh Departemen Urusan Medis. Mulai hari ini, kamu dipindahkan ke pos perawat untuk jadi perawat. Tanpa izinku, kamu nggak boleh menangani pasien mana pun."

Ewan masih berusaha menjelaskan, "Bu Neva, aku ...."

"Keluar!" usir Neva sambil menunjuk ke arah pintu, tanpa sedikit pun rasa iba.

Ewan mengepalkan tinjunya erat-erat. Sambil menahan amarah dan rasa terhina, dia melangkah keluar dari kantor Kepala Departemen Bedah dengan perasaan yang berkecamuk. Dia berucap dengan kesal, "Dylan, Mona, kalian tunggu saja. Aku nggak akan melepaskan kalian begitu saja!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Hilang, Dia Mencariku Kemana-mana
9.1
Menjadi kekasih rahasia sekaligus restorator seni bos mafia Denis Sanggu adalah cara mahasiswi miskin sepertiku bertahan hidup. Namun, hubungan lima tahun ini retak saat Denis bertunangan dengan Bella Rosana. Aku tidak hanya dipaksa mengalah saat Bella melukaiku, tetapi Denis bahkan memaksaku menggantikan Bella bermain Rolet Rusia yang mematikan. Setelah mempertaruhkan nyawa demi membalas budi masa lalu, aku pun lenyap, meninggalkan sang mafia yang kini kehilangan akal sehatnya mencariku.
Sampul Novel Arabella
8.3
Akibat luka masa lalu, Bella memilih menutup diri dan bertekad tidak akan pernah jatuh cinta lagi selama masa SMA-nya. Namun, keyakinan kokoh gadis ini mulai goyah sejak kehadiran seorang pemuda tangguh yang nekat mendekatinya. Walau Bella berulang kali menolak dengan tegas, perjuangan cowok tersebut sama sekali tidak surut. Akankah kegigihan dan ketulusan luar biasa dari sang pemuda berhasil meluluhkan kembali hati Bella yang membeku?
Sampul Novel Bersama Kita Bangkit Dari Abu
8.0
Saat hamil tua, sebuah truk sengaja menabrak mobilku. Di ambang maut, Kian, suamiku, justru mengabaikan teleponku demi menemani Florence yang mengeluh sakit kepala. Tragedi ini merenggut nyawa bayiku dan menghancurkan karier kakakku sebagai pianis. Pengkhianatan kejam tersebut kini menyalakan api dendam yang membara. Kian mengira kami telah habis, namun kami akan segera bangkit dari abu kehancuran ini untuk membalas semua rasa sakit kami.
Sampul Novel Jovanca Sang Penggoda
7.9
Jovanca, yatim piatu berparas menawan, lelah berjuang sendirian melawan kerasnya kemiskinan dengan kerja serabutan. Demi mencari hiburan, ia mulai memanfaatkan kecantikannya untuk memikat para pria. Sialnya, permainan ini berbalik menjadi petaka saat ia diburu banyak pria beristri. Di tengah kemelut tersebut, Jovanca justru jatuh hati pada sosok lelaki lain. Akankah ia berhasil keluar dari jerat intrik asmara ini demi meraih kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Kompilasi Cerpen Dewasa
9.1
Antologi fiksi romantis modern ini merangkum deretan kisah cinta dewasa yang penuh gairah dan emosi mendalam. Melalui sudut pandang berbagai karakter lintas profesi, pembaca diajak menelusuri hubungan intim yang sarat konflik tajam antara protagonis dan antagonis. Selain menyajikan ketegangan yang memikat, setiap cerita pendek di dalamnya juga dirancang untuk memberikan wawasan berharga mengenai dinamika asmara sekaligus menyampaikan pesan moral yang mendalam bagi pembaca.
Sampul Novel Moments And Memories
9.6
Evelina, siswi pintar dan menawan yang menutup rapat hatinya, dipertemukan kembali dengan Nox Cyril. Meski Nox adalah pemuda kaya yang trauma masa kecilnya belum sembuh, Evelina justru hilang ingatan tentangnya. Hubungan mereka kian rumit dengan kehadiran Lucas si model top, Frans sang ahli IT, serta Owen pewaris medis. Dapatkah ingatan masa lalu Evelina kembali? Akankah perasaan terpendam mereka terungkap di balik rahasia lama?