APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dokter Sakti Penguasa Dunia

Dokter Sakti Penguasa Dunia

Ewan Aditya bukanlah tabib biasa yang bisa diremehkan. Di dunia modern yang penuh intrik dan perebutan kekuasaan, dia berdiri sebagai sosok tangguh yang menentukan takdir. Baik penguasa tertinggi maupun miliarder terkaya tidak memiliki arti di hadapannya. Melalui keahlian medis yang luar biasa dan kekuatan aksi yang mematikan, Ewan siap menyelamatkan nyawa yang pantas ditolong atau merenggutnya dari mereka yang berani bersikap sombong kepadanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Begitu keluar dari kantor Neva, hati Ewan terasa sangat tertekan. Dia bahkan hampir menangis. Bukan hanya Mona telah direbut oleh Dylan, keduanya bahkan bersekongkol untuk memfitnahnya.

Yang lebih menyakitkan lagi, Neva bisa-bisanya percaya pada mereka berdua dan menurunkannya menjadi perawat.

Apa itu perawat? Terus terang saja, itu sama dengan pembantu. Pekerjaannya setiap hari adalah mencuci muka dan kaki pasien, menyuapi makan, membersihkan tubuh, mencuci pakaian, dan mengurus buang air besar maupun kecil pasien ....

Padahal Ewan adalah lulusan unggulan dari akademi kedokteran. Kalau sekarang harus mengerjakan hal-hal seperti itu, bukankah lima tahun kuliah kedokterannya menjadi sia-sia?

Ewan sadar bahwa akar masalah semua ini adalah karena dia tidak mempunyai kekuasaan maupun pengaruh. Makanya, dia sampai mengalami nasib seperti ini.

Ewan mengepalkan tinjunya erat-erat dan berucap dalam hati, 'Kalau aku anak orang kaya, Mona nggak akan mengkhianatiku. Dylan juga nggak akan berani memukulku. Neva bahkan nggak akan menurunkanku jadi perawat.'

'Intinya karena aku miskin dan nggak punya kekuatan, makanya aku diperlakukan seperti ini. Dalam hidup ini, aku harus bangkit dan jadi orang hebat. Aku akan membuat semua orang yang pernah meremehkanku tunduk di bawah kakiku!' sumpah Ewan dalam hatinya.

Ting!

Pintu lift terbuka. Ewan melangkah masuk dan seketika mencium aroma parfum yang familier. Saat mengangkat kepala, dia melihat Dylan dan Mona sudah berdiri di dalam lift.

Luka di hidung Dylan masih terlihat jelas. Itu adalah bekas pukulan dari Ewan di kontrakan Mona sebelumnya. Seperti pepatah, musuh memang ditakdirkan sering bertemu.

Secara naluriah, Ewan ingin keluar lagi. Dia enggan berada dalam satu lift dengan pasangan berengsek itu.

Hanya saja belum sempat bergerak, Dylan malah menyeringai seolah melihat pertunjukan lucu. "Eh, bukannya ini Ewan? Kebetulan banget ya!"

Mona memelototi Ewan dengan jijik. Dia bertanya, "Kenapa di mana-mana harus ketemu kamu sih? Sial banget!"

Ewan memilih diam dan mengabaikan mereka. Bagi dia, tak ada gunanya bicara dengan pasangan berengsek ini. Tanpa dia sadari, justru sikap diam itulah yang membuat Dylan merasa sangat kesal.

Dylan berbicara dengan nada tajam, "Ewan, aku nggak akan melepaskanmu begitu saja. Hari ini, kamu masih beruntung karena ada Neva si jalang itu yang membelamu. Kalau nggak, kamu pasti sudah diusir dari rumah sakit. Kamu bahkan nggak ada kesempatan buat jadi perawat!"

Ewan bertanya, "Apa hubungannya ini sama Bu Neva?"

"Hmph! Kalau bukan karena Neva yang membelamu di depan Departemen Urusan Medis dan bilang bakal bertanggung jawab kalau kamu bikin masalah lagi, kamu pikir Departemen Urusan Medis masih akan membiarkanmu tetap di sini?" ujar Dylan.

Dylan menatap ke arah Ewan dengan curiga, lalu melanjutkan, "Aku nggak ngerti, kamu sama Neva itu punya hubungan apa sih? Kenapa dia bisa begitu membelamu? Jangan-jangan, kalian punya hubungan khusus?"

"Kamu nggak perlu tahu!" jawab Ewan dengan ketus.

"Kamu ...." Dylan mengangkat tangan dan hendak memukul Ewan.

"Jangan gegabah!" Mona buru-buru menahan tangan Dylan, lalu membisik, "Di dalam lift, ada CCTV. Kalau terekam, kamu bisa kena masalah."

Dylan akhirnya menurunkan tangan. Dia mendengus dingin sebelum berucap, "Ewan, selama kamu masih di rumah sakit ini, aku pasti nggak akan membiarkanmu hidup tenang."

Ewan tidak memedulikan Dylan. Dalam pikirannya, dia sedang memikirkan hal lain. 'Ternyata aku salah sangka sama Bu Neva. Kalau bukan karena dia yang membelaku, aku mungkin sudah dipecat dari rumah sakit.' Seketika, hatinya terasa sedikit hangat.

Melihat Ewan tidak merespons apa-apa, Dylan pun melirik ke arah Mona lalu bertanya, "Dulu, kenapa kamu bisa suka sama pecundang seperti dia?"

"Namanya juga dibutakan cinta," jawab Mona sinis.

"Benar juga. Kalau nggak dibutakan cinta, mana mungkin kamu akan memilih pecundang seperti dia. Oh ya. Mona, hotel esek-esek yang terakhir itu enak ya. Nanti, kita ke sana lagi yuk?" tanya Dylan.

Mona membalas, "Dasar nakal. Siang-siang gini, kamu sudah berpikir yang aneh-aneh."

Dylan malah bertanya, "Memangnya kamu nggak suka? Seingatku, waktu itu kamu jerit-jerit hampir setengah jam ...."

Ucapan mereka makin lama makin tidak tahu malu. Amarah Ewan pun mulai naik. Pasangan berengsek ini memang sengaja berbicara seperti itu di depannya untuk memancing emosinya.

Ewan nyaris menghajar mereka karena tidak tahan. Namun pada akhirnya, dia tetap menahan diri. Dia tahu begitu dia main tangan, CCTV lift akan merekam semuanya.

Nantinya, Dylan pasti akan membawa rekaman CCTV untuk melapor ke Departemen Urusan Medis. Pada saat itu, bahkan Neva pun tidak akan bisa menyelamatkannya lagi. Pada akhirnya, Ewan pasti akan dipecat dari rumah sakit dan hidupnya akan hancur total.

Ewan pun diam-diam membatin, 'Orang bijak bisa menunggu sepuluh tahun untuk balas dendam. Jadi, apa salahnya aku menahan diri sebentar?'

Begitu lift sampai di lantai satu, langsung terlihat lobi rumah sakit. Saat itu, lobi sangat ramai. Orang-orang mengantre untuk pendaftaran, pengambilan obat, dan pembayaran.

Dylan melirik Ewan dengan dingin. Dalam hati, dia berucap, 'Kita lihat saja sampai kapan kamu bisa tahan.'

Ewan juga merasakan tatapan dingin Dylan. Dia merasa ada yang tidak beres sehingga mempercepat langkah dan bersiap untuk segera pergi.

Namun, Dylan tiba-tiba mengadangnya dan memasang ekspresi ramah yang palsu. Dia berujar, "Ewan, jangan buru-buru pergi dong!"

"Kamu mau apa?" tanya Ewan dengan waspada.

"Aku mau apa? Sebentar lagi, kamu akan tahu," ujar Dylan sambil tersenyum licik. Kemudian, dia berkata dengan suara lantang, "Semuanya, sini lihat! Aku mau kenalkan seseorang pada kalian!"

Dalam sekejap, banyak orang tertarik oleh suara Dylan dan menoleh ke arahnya.

Dylan menunjuk Ewan dengan jarinya sambil memberi tahu semua orang, "Dia namanya Ewan, dokter magang di rumah sakit ini. Tapi, dia punya niat jahat. Dia menjiplak rekam medisku. Setelah ketahuan olehku, dia malah menyerangku."

"Kalian lihat luka di hidungku, 'kan? Itu karena dipukul sama dia. Sekarang, dia sudah dipindahkan menjadi perawat. Kalian semua harus ingat wajahnya ya. Kalau cari perawat, jangan sampai pilih dia. Kalau sampai kalian dipukul, jangan salahkan aku karena nggak mengingatkan lho," tambah Dylan.

Berhubung tidak tahu kejadian sebenarnya, para pasien dan keluarga yang mendengar ucapan Dylan pun ikut mencaci di lobi.

"Kenapa rumah sakit top seperti Rumah Sakit Papandaya bisa terima orang seperti itu?"

"Dia ini bahaya buat pasien!"

"Menurutku, orang seperti ini seharusnya dikeluarkan dari rumah sakit!"

Orang-orang mulai menghujat. Ewan tahu persis bahwa dalam situasi seperti ini, apa pun yang dia katakan atau lakukan pasti tidak akan dipercaya. Dia pun hanya menatap Dylan dengan dingin dan hendak pergi.

Namun, Dylan kembali mengadangnya dan melanjutkan, "Kenapa? Mau kabur karena merasa bersalah? Semuanya, aku bakal kasih tahu sebuah rahasia besar!"

Begitu mendengar kata "rahasia", Ewan langsung sadar apa yang hendak dikatakan Dylan. Dia sontak memaki, "Dylan, kamu jangan keterlaluan!"

Dylan malah tersenyum jahat, lalu berkata dengan suara keras, "Semuanya, biar kuberi tahu, Ewan ini sebenarnya anak haram yang punya ibu, tapi nggak punya ayah!"

Seiring dengan ucapan Dylan, keramaian langsung heboh.

"Nggak disangka, ternyata Ewan itu anak haram!"

"Pantas saja berani menjiplak rekam medis Dokter Dylan dan bahkan memukulnya. Ternyata dia memang nggak dididik dengan baik!"

"Anak haram seperti dia memang pantas diusir dari rumah sakit!"

Orang-orang lanjut berkomentar buruk. Kini, mereka memandang Ewan dengan tatapan penuh ejekan dan hinaan.

Wajah Ewan memerah karena marah dan malu. Dia menatap Dylan lekat-lekat, seolah ingin membakarnya dengan tatapan tersebut.

Dylan tidak menghentikan penghinaannya terhadap Ewan. Dia malah maju dan menampar pipi Ewan dengan keras, lalu berkata dengan sombong, "Aku memang mau menindasmu. Memangnya kenapa?"

Ewan sontak dipenuhi amarah. Kedua tangannya terkepal erat. Dylan si berengsek itu menginjak-injak harga dirinya di depan banyak orang. Tindakannya ini sudah keterlaluan. Namun Ewan juga tahu bahwa begitu melawan secara fisik, dia pasti akan dipecat dari rumah sakit.

Rumah Sakit Papandaya adalah rumah sakit terbaik di Kota Papandaya. Kalau dipecat dari sini, reputasi Ewan akan hancur. Rumah sakit mana yang masih berani menerimanya?

'Semua ini gara-gara aku nggak punya kekuasaan dan pengaruh. Kalau nggak, mana mungkin Dylan berani begitu sombong? Kalau saja aku ....' Tiba-tiba, sebuah pikiran terlintas di benak Ewan. Mungkin, dia bisa mencobanya?

Begitu ide itu muncul, Ewan langsung membentak lantang, "Dylan, kamu memutarbalikkan fakta seperti itu, apa nggak takut kena azab?"

Dylan membalas sinis, "Azab apanya? Aku bahkan nggak takut sama dewa!"

Brak!

Belum selesai berbicara, tiba-tiba kepala Dylan terbentur keras dan mengucurkan darah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Hilang, Dia Mencariku Kemana-mana
9.1
Menjadi kekasih rahasia sekaligus restorator seni bos mafia Denis Sanggu adalah cara mahasiswi miskin sepertiku bertahan hidup. Namun, hubungan lima tahun ini retak saat Denis bertunangan dengan Bella Rosana. Aku tidak hanya dipaksa mengalah saat Bella melukaiku, tetapi Denis bahkan memaksaku menggantikan Bella bermain Rolet Rusia yang mematikan. Setelah mempertaruhkan nyawa demi membalas budi masa lalu, aku pun lenyap, meninggalkan sang mafia yang kini kehilangan akal sehatnya mencariku.
Sampul Novel Arabella
8.3
Akibat luka masa lalu, Bella memilih menutup diri dan bertekad tidak akan pernah jatuh cinta lagi selama masa SMA-nya. Namun, keyakinan kokoh gadis ini mulai goyah sejak kehadiran seorang pemuda tangguh yang nekat mendekatinya. Walau Bella berulang kali menolak dengan tegas, perjuangan cowok tersebut sama sekali tidak surut. Akankah kegigihan dan ketulusan luar biasa dari sang pemuda berhasil meluluhkan kembali hati Bella yang membeku?
Sampul Novel Bersama Kita Bangkit Dari Abu
8.0
Saat hamil tua, sebuah truk sengaja menabrak mobilku. Di ambang maut, Kian, suamiku, justru mengabaikan teleponku demi menemani Florence yang mengeluh sakit kepala. Tragedi ini merenggut nyawa bayiku dan menghancurkan karier kakakku sebagai pianis. Pengkhianatan kejam tersebut kini menyalakan api dendam yang membara. Kian mengira kami telah habis, namun kami akan segera bangkit dari abu kehancuran ini untuk membalas semua rasa sakit kami.
Sampul Novel Jovanca Sang Penggoda
7.9
Jovanca, yatim piatu berparas menawan, lelah berjuang sendirian melawan kerasnya kemiskinan dengan kerja serabutan. Demi mencari hiburan, ia mulai memanfaatkan kecantikannya untuk memikat para pria. Sialnya, permainan ini berbalik menjadi petaka saat ia diburu banyak pria beristri. Di tengah kemelut tersebut, Jovanca justru jatuh hati pada sosok lelaki lain. Akankah ia berhasil keluar dari jerat intrik asmara ini demi meraih kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Kompilasi Cerpen Dewasa
9.1
Antologi fiksi romantis modern ini merangkum deretan kisah cinta dewasa yang penuh gairah dan emosi mendalam. Melalui sudut pandang berbagai karakter lintas profesi, pembaca diajak menelusuri hubungan intim yang sarat konflik tajam antara protagonis dan antagonis. Selain menyajikan ketegangan yang memikat, setiap cerita pendek di dalamnya juga dirancang untuk memberikan wawasan berharga mengenai dinamika asmara sekaligus menyampaikan pesan moral yang mendalam bagi pembaca.
Sampul Novel Moments And Memories
9.6
Evelina, siswi pintar dan menawan yang menutup rapat hatinya, dipertemukan kembali dengan Nox Cyril. Meski Nox adalah pemuda kaya yang trauma masa kecilnya belum sembuh, Evelina justru hilang ingatan tentangnya. Hubungan mereka kian rumit dengan kehadiran Lucas si model top, Frans sang ahli IT, serta Owen pewaris medis. Dapatkah ingatan masa lalu Evelina kembali? Akankah perasaan terpendam mereka terungkap di balik rahasia lama?