APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DOKTER FORENSIK

DOKTER FORENSIK

Akibat penyakitnya, Randa, seorang dokter forensik, kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan hingga merasa bisa bicara dengan mayat. Di tengah kondisi ini, ia bimbang memilih antara Evlyn dan Avita. Setelah menjatuhkan pilihan pada Evlyn, Randa tersadar bahwa wanita itu rupanya sudah meninggal tujuh bulan lalu. Kini, saat Avita berjuang menyadarkannya, Randa dihadapkan pada pilihan sulit: tetap terbuai dalam halusinasi atau bangkit menghadapi realitas yang menyakitkan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Jenazah, seorang wanita dibawa menggunakan keranda. Di bagian kepala, terlihat sobekan luka menganga akibat tertusuk benda tajam. Seorang dokter muda menggunakan pakaian serba putih dan memakai masker, sedang tangannya yang terpasang handscon sibuk menyiapkan jarum dan benang untuk menjahit luka si mayat. Dokter itu, bekerja sendiri. Dia, meminta kepada perawat untuk tidak membantunya.

"Kenapa, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku?"

Seorang dokter forensik yang menangani mayat itu, tidak mengindahkan ucapan sang mayat.

"Kenapa, kamu menyobek bajuku? Apakah, kamu ingin memperkosaku?"

Pertanyaan itu, mengganggu perasaan dokter muda itu. Dia, berusaha tidak berkata apapun tetapi mayat yang tidak berdaya itu terus saja saja mengoceh. Mau tak mau, dia pun menanggapi apa yang dikatakan si mayat.

"Berapa, umurmu?" Dokter itu, mengejutkan si mayat yang sejak tadi selalu mengoceh.

" Umurku, 24 tahun."

"Siapa, namamu?" Dokter itu kembali bertanya.

"Selviana Ratna." Mayat masih terheran, kenapa dokter itu bisa berbicara dengannya.

"Apa yang menyebabkan kepalamu begini?"

"Entahlah, aku sedang mengendarai mobil dan sepertinya, aku tidak sadar menabrak sesuatu." Mayat kembali menjawab

Sebuah jarum, berbentuk kail menusuk kulit si mayat. Dokter itu, menarik menggunakan benang transparan.

"Woh sakit! Sakit sekali!" Mayat mengeluh kesakitan, tetapi ekspresinya hanya di mulut saja tanpa ada reaksi tubuh seperti mengernyitkan kulit ataupun bergerak.

"Kamu, sudah meninggal dunia 4 jam yang lalu."

Si mayat, menjadi terheran. "Tapi kenapa, aku bisa berbicara denganmu?"

"Waktu umurku 14 tahun, aku divonis psikosis oleh dokter karena aku tidak bisa membedakan antara nyata dan tidak nyata. Aku, sudah biasa berkomunikasi dengan orang mati. Sejak kecil, sebagian orang menganggapku gila."

"Tapi, kamu tidak gila kan?"

Tersenyum, dokter forensik itu. Sedang tangannya sejak tadi dengan lihainya menjahit luka yang menganga sampai sebagian luka tertutup.

"Aku, tidak gila. Kalau pun aku gila, sudah pasti aku tidak akan bekerja di tempat ini."

Dari arah depan, terdengar langkah kaki bersama dengan bunyi suara kereta yang ditarik.

"Selamat siang, Dokter Randa," tegur seorang perawat cantik, bersama dua orang kawannya. Mereka datang, membawa mayat seorang laki-laki korban pembunuhan.

"Siang, Evlyn," sahut dokter forensik itu.

"Dok, apa perlu kami dampingi untuk menjahit luka jenazah?" Pertanyaan seperti itu, sangat sering sekali ditanyakan oleh para perawat. Namun, dokter itu lebih sering menolaknya. Apabila, kondisi jenazah yang dibawa hanya mengalami luka-luka sobek kecil. Kecuali luka besar akibat tabrakan atau pembunuhan, barulah Randa minta didampingi.

" Aku, masih bisa mengerjakannya sendiri. Tinggalkan saja jenazah itu! 15 menit lagi, kembalilah kesini bawa semua riwayat kematian jenazah yang laki-laki."

"Baik, Dok."

Tiga orang perawat itu pun, pergi meninggalkan Randa seorang diri mengurus jenazah.

"Aku rasa, perawat tadi menyukaimu."

Randa, kembali tersenyum. " Darimana, kamu mengetahuinya?"

Dia berbicara pada temannya, saat mengantarku ke ruangan ini.

"Semua wanita muda, pasti menyukai lelaki yang sama-sama muda!" sahut Randa, sembari menyuntikkan sebuah suntikan di kepala mayat.

"Aku, masih bisa berbicara denganmu, artinya aku masih hidup kan?" Mayat itu, kembali meyakinkan dirinya.

Tersenyum dokter itu, sembari mengambil kertas surat riwayat kematian dan menunjukkan pada si-wanita bahwa dia sudah meninggal.

"Tapi aku merasa, aku belum mati!" Wanita itu, terus saja menyangkal kematiannya.

"15 menit lagi, perawat akan masuk ke ruangan ini. Jika kamu merasa belum mati, berbicaralah dengannya. Bila dia mendengar ocehanmu, berarti kamu masih hidup. Tapi apabila sebaliknya, dia tidak mendengarmu artinya kamu benar-benar sudah mati. Dan kuharap, kamu tidak menanyakan sesuatu yang dapat mengganggu konsentrasiku," ucap si dokter muda, sembari menoleh ke mayat lelaki yang terus berteriak karena kesakitan.

"Buktinya, lelaki di sana juga mati, tapi aku tidak mendengar suara apa-apa darinya." Mayat wanita itu, masih bersikukuh menganggap dirinya tidak mati.

"Andai, kamu dapat mendengar sepertiku. Sebenarnya, mayat lelaki itu sangat berisik sekali. Kamu, tidak bisa mendengar ocehannya karena kamu sudah meninggal."

15 menit kemudian, dokter itu melihat jarum jam di tangan kanannya. Tidak beberapa lama, datang dua orang perawat masuk ke dalam ruangan.

"Sudah, kamu bawakan riwayat kematiannya?"

"Sudah, Dok."

Dokter itu, memegang riwayat kematian lelaki korban pembunuhan dan mempelajari semua sebab kematiannya.

"Evlyn, kau telanjangi mayat wanita itu. Buka semua pakaiannya, setelah itu bawa ke ruang mayat agar dimandikan oleh Heddy. Pastikan, saat memandikan mayat harus didampingi 2 perawat agar tidak ada lagi kasus pemerkosaan pada mayat. Penyebab kematiannya, sudah kutulis pada kertas di meja. Nanti, kamu salin ke riwayat kematiannya."

"Baik, Dok," ucap Evlyn, perawat cantik yang naksir Dokter Randa.

"Oktav, bantu aku mengurus jenazah laki-laki ini."

Sebuah gunting tajam, menyobek pakaian jenazah lelaki itu. Luka sobek, akibat tebasan pisau membelah bahu kiri.

Randa, mengukur kedalaman luka sobekan akibat tebasan golok.

"Kamu tau, apa penyebab kematian lelaki ini?" tanya Randa, pada Oktav.

"Perkelahian, perebutan warisan. Menurut polisi, korban menyerang terlebih dulu secara membabi buta. Lalu, pelaku berusaha membela diri hingga terjadi duel dan akhirnya korban kalah."

"Tidak! Tidak benar cerita itu! Anak itu yang lebih dahulu menyerangku. Aku, hanya mempertahankan diri!" Jenazah itu, terus berteriak membela diri mengatakan dirinya tidak bersalah. Randa yang mendengar penuturannya, hanya diam saja karena baginya tidak semua mayat harus dia ajak bicara.

"Ukur panjang tubuhnya, lalu kamu catat disini."

"Baik, Dok."

"Setelah itu ukur panjang lukanya, penyebab kematiannya.

Mayat lelaki yang sedang mereka urus itu, terus saja mengeluh. Bila melihat badannya yang besar, tentu tidak pantas jika dia merengek dan menangis seperti anak kecil. Untungnya, hanya Randa saja yang mendengar keluh kesah mayat itu.

"Dokter, kenapa mayat mengeluarkan air mata?" Oktav terkejut, mengira mayat itu masih hidup.

"Itu, normal. Jenazah mengeluarkan air mata itu, akibat dari relaksasi otot menjadi tenang sehingga jaringan-jaringan otot menjadi kendor."

"Owh begitu ya, Dok? Wah, kalau di kampung saya ada mayat begini, mereka pasti heboh karena dianggap aneh."

"Semua yang terjadi itu, semuanya bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan. Itulah pentingnya, edukasi kepada masyarakat agar sesuatu yang aneh tidak menjadi gosip yang bisa menjadi aib bagi keluarga yang tinggalkan."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bali, Awal Baru Ibu Melindungi
8.2
Hidup Anggita runtuh seketika saat Farhan, sang ayah, tega mencoretnya dari daftar ahli waris demi Dahlia. Akibat tuduhan keji asisten tersebut, ia didepak dari rumah dan dicap mandul. Di tengah kehancuran, Anggita justru mendapati dirinya sedang hamil anak Sagara. Demi menyelamatkan sang bayi dari kekejaman keluarganya, ia menyamar lalu kabur ke Bali. Di pulau itu, ia bertekad menata hidup baru dan selamanya menutup lembaran masa lalu.
Sampul Novel MAHLIGAI: Istana yang Kujaga
8.0
Kebahagiaan Dara Kahiyang bersama Adam dan anak kembar mereka kini terancam hancur. Ibu dan kakak kandungnya kembali hadir, membawa dendam membara untuk merusak keharmonisan tersebut. Sebagai mantan putri yang dahulu dibuang dan diabaikan, Dara menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang sangat kelam. Kini, ia harus berjuang habis-habisan demi melindungi keluarga kecilnya dari ancaman kerabat sendiri. Mampukah Dara bertahan menghadapi teror yang datang bertubi-tubi?
Sampul Novel Perhitungan Pahit Seorang Istri
9.1
Banyu membohongiku soal kondisi genetik demi menghindari anak, tetapi ia malah menghamili Arini yang dipilih jadi ibu pengganti. Di belakangku, suamiku merancang pernikahan rahasia di Labuan Bajo dan memuja selingkuhannya. Mengetahui pengkhianatan ini, aku tidak akan tinggal diam. Sambil tetap berpura-pura menjadi istri yang setia, aku mulai menghubungi penyedia jasa khusus untuk melenyapkan mereka secara permanen.
Sampul Novel Perjalanan Waktu: Cintaku dari Keluarga Kerajaan
8.4
Harper Chu, ahli forensik masa kini, terpaksa melarikan diri ke era Dinasti Cerah demi menghindari konspirasi kriminal berbahaya. Menyamar sebagai putri pejabat tanpa sekutu, ia harus bertahan hidup di masa lalu. Namun, keahlian uniknya justru memicu kecurigaan seorang pangeran kerajaan. Di tengah intrik istana yang mengancam nyawanya, sanggupkah Harper menyembunyikan identitas aslinya sembari menuntaskan misi balas dendam?
Sampul Novel SUAMIKU BULE BRONDONG
9.3
David, seorang ateis, jatuh hati pada sosok Hania yang bercadar dan anggun. Upayanya untuk memenangkan hati Hania justru membongkar berbagai rahasia kelam dari masa lalu perempuan tersebut. Walau takdir akhirnya mempersatukan mereka dalam pernikahan, ujian berat segera datang melanda. Di tengah situasi rumit yang seakan tanpa jalan keluar, akankah cinta mereka bertahan, atau mereka justru memilih menyerah pada garis takdir yang kejam?
Sampul Novel Terjebak Dalam Mantra Istriku
8.8
Demi membalas dendam pada keluarga Evans, Lena yang lahir dari perselingkuhan terpaksa berpura-pura menjadi putri mereka untuk menikahi Dylan karena diancam. Lena sengaja memikat Dylan hingga pria itu mencintainya dengan sangat obsesif, lalu memakai perasaan tersebut untuk merusak nama baik Evans. Namun, di tengah aksi balas dendamnya, Dylan mulai menaruh curiga pada identitas asli istrinya yang menyembunyikan rahasia gelap di balik daya pikatnya.