APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dituduh sebagai Menantu Durhaka

Dituduh sebagai Menantu Durhaka

Saat ayah mertuanya terjatuh dan mengalami stroke hingga bersimbah darah, sang menantu justru membersihkan lantai dengan tenang tanpa memanggil bantuan. Di kehidupan sebelumnya, ia mencoba menyelamatkan mertuanya, tetapi sang suami mengabaikan teleponnya demi cinta pertamanya. Akibatnya, sang ayah meninggal, dan suaminya yang murka membunuhnya dengan kejam. Kini, setelah bereinkarnasi kembali ke hari fatal tersebut, ia memutuskan untuk membiarkan waktu berlalu tanpa melakukan apa pun.
Bab
Bagikan

Bab 1

Ayah mertuaku jatuh terpeleset dan terkena serangan stroke. Darah menggenang di lantai dari kepalanya.

Aku mengambil kain pel dengan tenang dan membersihkan darah di lantai.

Menit-menit ini adalah waktu penting untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi aku, menantu perempuannya, membiarkan waktu tersebut berlalu begitu saja.

Di kehidupan sebelumnya, aku adalah orang pertama yang mengetahui jatuhnya ayah mertuaku. Aku cepat-cepat memanggil ambulans untuk membawanya ke rumah sakit.

Tindakan operasi perlu tanda tangan persetujuan dari anggota keluarga terdekat. Tapi saat aku menelepon suamiku, dia mengira aku cemburu karena dia sedang bersama cinta pertamanya. Dia menolak datang ke rumah sakit dan menuduhku mengarang alasan agar membuatnya pulang.

Akhirnya, ayah mertuaku meninggal karena tidak mendapat perawatan tepat waktu. Karena tidak bisa menemui ayahnya untuk yang terakhir kali, suamiku menyalahkanku dan akhirnya membunuhku dengan pisau dapur.

"Ini semua salahmu! Ayahku sudah sangat tua, tapi kamu nggak merawatnya dengan baik! Kamu gagal berbakti padanya saat dia masih hidup, jadi matilah dan lanjutkan tugasmu sebagai menantu di alam kubur!"

Aku membuka mata dan menemukan bahwa aku kembali ke hari ketika ayah mertuaku jatuh.

....

Segera setelah membuka mata lagi, aku melihat ayah mertuaku terbaring di lantai.

Aku punya fobia darah sejak kecil dan spontan ingin menelepon suamiku.

Saat membuka kunci ponselku, aku teringat saat suamiku menusukku dengan pisau dapur sebelum aku mati.

Rasa sakit itu seperti masih melekat. Dengan jari-jari yang gemetar, aku menghentikan niat untuk menelepon suamiku dan beralih untuk menelepon Bayu, sepupu suamiku.

Telepon itu diangkat tanpa menunggu lama.

"Sayang, cepat pulang. Ayah jatuh berdarah-darah. Aku harus apa? Aku takut darah, cepat pulang!"

Aku pura-pura panik dan salah sambung. Suaraku terisak-isak cemas.

"Jangan panik. Aku ke sana sekarang."

Rumah sepupuku sangat dekat dari sini. Tidak sampai sepuluh menit jalan kaki.

Seperti yang kuharapkan, pintu depan di ketuk dalam waktu kurang dari lima menit.

Aku membuka pintu dengan tergesa-gesa dan pura-pura terkejut melihat orang yang datang.

"Kak Bayu? Bukannya aku telepon Brian?"

Dia tidak menjelaskan, tapi segera menggendong ayah mertuaku dan berlari ke bawah, menyuruhku mengikutinya.

Saat kami sampai di rumah sakit, pakaian Bayu sudah berlumuran darah.

"Siapa keluarga terdekat pasien? Kondisi pasien sangat mendesak dan perlu tanda tangan persetujuan dari keluarga terdekat!"

Seorang perawat bergegas keluar dari ruang IGD, memegang surat persetujuan tindakan medis.

"Saya. Saya menantu perempuannya."

"Nggak bisa, harus keluarga terdekat."

Dia kemudian menoleh kepada Bayu.

"Saya keponakannya."

Perawat itu pun mengerutkan kening.

"Ada anggota keluarga yang lain?"

"Suster, tolong lanjutkan dulu operasinya. Saya telepon suami saya dulu."

Perawat itu membawa kembali suratnya ke ruang IGD.

Aku mengeluarkan ponsel dan menelepon suamiku di depan Bayu.

Panggilan pertama, ditolak.

Panggilan kedua, ditolak.

Panggilan ketiga akhirnya tersambung. Aku mengaktifkan speaker sehingga suara tak sabar Brian memenuhi lorong.

"Telepon terus! Apa maumu?!"

"Sayang, Ayah tadi jatuh dan pendarahan hebat. Tapi dokter butuh tanda tangan dari keluarga terdekat sebelum melakukan tindakan. Cepat pergi ke Rumah Sakit Harapan!"

Acuh tak acuh seperti biasanya, masih sama seperti terakhir kali.

Memikirkan saat dia menikamku dengan pisau dapur, tatapanku seketika mendingin. Tapi aku tetap harus pura-pura.

Begitu mendengar penjelasanku, Brian membentak marah.

"Ayah jatuh ya bawa ke rumah sakit. Kenapa telepon aku? Aku bukan dokter! Kamu pasti cemburu dan sengaja membuat-buat alasan karena kamu tahu aku sedang di rumah Laudya, ya 'kan? Sudah kubilang, percuma! Kamu nggak bisa hidup tanpa aku?"

Setelah mengatakan itu, suara wanita yang lembut dengan nada terisak terdengar dari sana.

"Brian, aku takut ...."

Tanpa menungguku menjawab, dia menutup telepon.

Orang-orang di sekelilingku memandang ke arahku penuh simpati.

Sambil mengepalkan tinjuku begitu keras sampai ujung jariku memutih, aku tersenyum pahit.

Bayu sangat marah dan berjalan mondar-mandir di depan bangsal.

Dan segera ambil keputusan.

"Telepon lagi! Aku nggak percaya dia lebih mementingkan perempuan dibanding ayahnya sendiri!"

Hal yang sama juga terjadi di kehidupanku sebelumnya. Hanya saja, aku waktu itu menelepon diam-diam sambil bersembunyi di tangga.

Kali ini, semua orang yang ada di sini menjadi saksiku.

Mendengar perkataan Bayu, aku menelepon lagi di depan semua orang.

Tapi teleponnya langsung ditolak hanya setelah berdering dua kali.

Saat aku menelepon lagi, aku menyadari ternyata nomorku telah diblokir.

Aku memasang wajah cemas. Air mata mengalir dalam keputusasaan.

Pada kenyataannya, aku menghela napas lega.

Menjatuhkan diri di kursi tunggu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bali, Awal Baru Ibu Melindungi
8.2
Hidup Anggita runtuh seketika saat Farhan, sang ayah, tega mencoretnya dari daftar ahli waris demi Dahlia. Akibat tuduhan keji asisten tersebut, ia didepak dari rumah dan dicap mandul. Di tengah kehancuran, Anggita justru mendapati dirinya sedang hamil anak Sagara. Demi menyelamatkan sang bayi dari kekejaman keluarganya, ia menyamar lalu kabur ke Bali. Di pulau itu, ia bertekad menata hidup baru dan selamanya menutup lembaran masa lalu.
Sampul Novel Bunga itu Mekar Setelah Aku Tiada
8.6
Kematian menjemputku saat serangan asma hebat menyerang, tepat ketika Reza memilih mendampingi perempuan lain yang dicintainya untuk memeriksakan kandungan. Tragisnya, obat penyelamat hidupku justru berada di tangan Reza. Setelah kepergianku, kepanikan luar biasa melanda Reza yang mencariku ke mana-mana, terutama setelah ia mengetahui rahasia tentang kehamilanku. Kini, hanya tersisa penyesalan sunyi dan sosok misterius yang setia menjaga makamku yang sepi.
Sampul Novel KUNCI LATHI
8.7
Azalia terbangun tanpa memori sedikit pun tentang masa lalunya. Satu-satunya petunjuk yang tersisa hanyalah kepingan mimpi buruk yang terasa begitu nyata dan mengerikan. Kehilangan identitas secara misterius memaksa gadis ini hidup dalam ketakutan yang mencekam. Kini, di tengah kegelapan yang terus mengepung, ia harus berjuang keras mencari jawaban. Mampukah ia mengungkap kebenaran di balik jati dirinya yang hilang dan lolos dari jeratan teror yang tiada henti?
Sampul Novel Kuyang Kalimantan
9.1
Legenda kuno penghisap darah menyebarkan teror mistis di tanah Kalimantan. Makhluk gaib ini mengincar ibu hamil dan perempuan yang sedang melahirkan. Menghadapi ancaman mengerikan tersebut, hukum adat menjadi benteng pertahanan terakhir yang mutlak. Seluruh masyarakat, termasuk warga suku asli, dilarang keras melanggar pantangan suci turun-temurun. Kelalaian kecil dalam mematuhi aturan adat ini dipastikan akan mendatangkan malapetaka yang sangat fatal bagi mereka.
Sampul Novel Setelah Mati Pun Aku Masih Nomor Dua
8.8
Tiga tahun berlalu sejak kematian Candy Wongso, suaminya datang mencari demi donor sel hematopoietik kekasih masa kecilnya yang kembali menderita leukemia. Namun, ia hanya menemukan rumah yang kosong. Meski tetangga menjelaskan Candy telah wafat setelah dipaksa mendonorkan sumsum tulang saat sakit, sang suami menolak percaya. Mengira ini taktik bohong, ia mengancam menghentikan biaya medis anak haram Candy jika sang istri tak muncul dalam tiga hari, abai bahwa sang anak pun telah lama mati kelaparan.
Sampul Novel Terjun Bebas Di Antara Api dan Cinta
8.0
Saat balon udara bocor di ketinggian seribu meter, seorang pilot justru menyelamatkan mantan kekasihnya, Erika, menggunakan parasut ganda. Ia mengabaikan tangisan calon istrinya yang sedang hamil dan menuduhnya berbohong karena cemburu. Setelah melepas paksa pegangan sang tunangan, pilot itu melompat pergi. Ia tidak tahu bahwa Erika telah melubangi parasut yang tersisa, membiarkan wanita hamil itu terjun bebas dalam bahaya maut.