
Ditinggalkan 66 Kali, Kini Aku Pergi
Bab 3
Andrew menarikku keluar dari ruang pimpinan, wajahnya penuh keluhan dan berkata, “Ivy, kamu mengambek lagi denganku? Sampai kapan kamu bisa sedikit lebih dewasa? Membatalkan pernikahan dua hari lalu juga bukan keinginanku. Selena datang sebagai tamu untuk memberi selamat pada kita, tapi dia malah alergi sampai sesak napas dan pingsan. Masa aku nggak boleh peduli sama dia?”
Aku tetap tenang dan menjawab, “Aku nggak marah, memang seharusnya kamu menjaganya.”
Andrew terdiam, menatapku sambil bergumam, “Kenapa tiba-tiba jadi pengertian begini? Kalau nggak marah, kenapa harus mengundurkan diri?”
“Karena aku sudah menemukan pekerjaan baru yang benar-benar aku suka.”
Aku belajar kedokteran bertahun-tahun demi bisa menolong orang yang kesulitan, jadi aku sangat bahagia bisa bergabung menjadi dokter lintas batas.
Namun, tiba-tiba wajah Andrew memuram, dia menambahkan, “Kamu nggak boleh mengundurkan diri sekarang. Selena baru saja alergi di hari pernikahan kita sampai membatalkan pernikahan. Kalau kamu ajukan pengunduran diri, dia pasti merasa kamu keberatan sama dia. Apalagi dia itu yatim piatu, perasaannya lebih sensitif….”
Harapanku yang semula menggebu, langsung dijatuhkan begitu saja. Hanya demi Selena tidak salah paham, dia tega memintaku melepaskan pekerjaan impianku.
Mungkin raut kecewaku terlalu jelas, sehingga nada suara Andrew jadi lebih lembut, “Bertahan sebentar saja, nanti setelah kita menikah, kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau. Aku pasti akan mendukungmu.”
Sampai sekarang, dia masih berpikir aku akan tetap menikah dengannya.
Namun, aku sudah terlalu lelah, tak ada lagi tenaga untuk terus bertahan.
Aku diam saja dan Andrew menganggap aku menyetujuinya. Selama ini, setiap kali dia meminta sesuatu, aku memang jarang menolak.
“Sudahlah, jangan cemberut. Kita berkencan malam ini, ya?” tanya Andrew sambil meraih tanganku. Kami memang punya kesepakatan, seberat apapun pertengkaran, setiap kali berkencang harus tetap gembira.
“Iya,” jawabku,
Aku hanya ingin memberi akhir yang manis untuk hubungan ini.
Namun, tiba-tiba Selena muncul lagi dan menyela, “Andrew, tolong aku! Pasien di ranjang nomor 8 itu menatapku dengan genit terus. Bisa nggak kamu yang bantu periksa dia?”
Aku menatap dingin ke arah Selena. Dia seorang perawat, kalau ada masalah seperti ini, seharusnya dia melapor pada kepala perawat. Jelas-jelas dia hanya ingin menarik simpati Andrew.
Dulu, mungkin aku akan langsung membongkar sandiwaranya, tapi sekarang, aku sudah tak peduli lagi.
Andrew menatapku dengan ragu, seakan menunggu izinku. Padahal dulu, dia tak pernah menanyakan pendapatku.
Aku sangat pengertian dan berkata, “Selena itu yatim piatu, dia memang lebih mudah diganggu orang. Sebagai seniornya, kamu memang sudah sepantasnya banyak membantunya.”
Andrew menoleh beberapa kali padaku sebelum pergi, seperti tak percaya dengan sikapku yang berbeda.
Selena malah meraih tanganku sambil tersenyum manis, “Ivy, kamu benar-benar orang baik, bahkan rela meminjamkan tunanganmu padaku.”
Aku tidak menanggapinya.
Namun, dia terus menempel padaku dan berkata, “Eh, kok kalungmu mirip dengan punyaku? Sepertinya sepasang deh!”
Aku menoleh melihat kalung yang dia pakai, seketika dadaku terasa seperti disambar petir.
Bentuk kalungnya adalah kunci dan punyaku berbentuk gembok.
Dulu, saat aku nekat mengikuti Andrew ke kota asing ini, dia memesan khusus sepasang kalung pasangan ini.
Dia memintaku berjanji bahwa hanya dirinya yang bisa membuka pintu hatiku.
Andrew bilang akan memakai kalung itu seumur hidup, sama seperti cinta padaku yang akan bertahan seumur hidup
Namun sekarang, kalung itu malah ada di leher perempuan lain. Sungguh menyakitkan.
Aku melepas kalungku dan menyerahkannya pada Selena, “Kalau begitu, ini untukmu saja, biar jadi sepasang.”
Selesai bekerja, Andrew menjemputku untuk kencan.
Sekilas saja, dia sudah sadar aku tak memakai kalung itu. Dia langsung menggenggam tanganku dengan cemas, “Di mana kalungmu? Bukannya kita janji nggak akan pernah melepasnya seumur hidup?”
Aku menatap lehernya. Dia bahkan tak memakainya, tapi masih berani menuntutku memakainya?
Dia terlihat gugup dan menjelaskan, “Maaf, kalungku hilang.”
Aku tersenyum dan menjawab, “Kebetulan sekali, punyaku juga hilang.”
Dia seperti menghela napas lega dan berkata, “Kalau begitu, nanti aku belikan yang baru untukmu.”
Anda Mungkin Juga Suka





