
Ditinggalkan 66 Kali, Kini Aku Pergi
Bab 4
Janji kencan yang Andrew maksud adalah mengajakku naik bianglala.
Aku memang sangat menyukai bianglala. Berkali-kali aku membayangkan duduk di sampingnya, melihat kota tempat kami tinggal dari ketinggian, lalu berciuman tepat saat bianglala mencapai puncak tertinggi.
Namun, Andrew fobia ketinggian. Aku pernah menyebutkannya sekali, lalu tak pernah memaksanya lagi.
Tak kusangka, saat aku sudah berniat pergi, dia malah mewujudkan keinginanku yang pernah terkubur.
“Terima kasih, Andrew,” ujarku dengan tulus.
Namun detik berikutnya, Selena datang sambil membawa popcorn dan berkata, “Eh, kebetulan sekali! Kalian lagi kencan? Enak sekali bisa berdua, nggak seperti aku, hanya bisa bermain sendirian.”
Nada suaranya berubah jadi sedih, lalu menatap Andrew dengan tatapan memelas.
Andrew tampak tak tega, “Kalau begitu, ikut main saja bersama kami.”
Senyumanku langsung menjadi kaku. Selena malah melirikku dengan tatapan menantang, lalu berkata, “Maaf, aku mengganggu kencan kalian.”
Andrew menoleh melihatku, seolah merasa ada yang salah, “Ivy, kalau kamu nggak mau, bisa bilang langsung padaku.”
Sungguh aneh, dalam dua hari ini Andrew tiba-tiba terbiasa meminta pendapatku. Tapi, aku sudah mati rasa.
Aku pun tersenyum sabar, lalu menjawab, “Nggak apa-apa, aku nggak keberatan. Justru malah lebih ramai.”
Mana mungkin aku menolak, nanti malah dituduh menyakiti anak yatim piatu.
Di dalam bianglala.
Andrew dan Selena berbincang begitu seru. Mereka cerita soal pasien di departemen mereka, menggosipi artis terbaru, bahkan sampai cara memasak sup jamur yang enak.
Aku pun tak bisa menahan diri dan bibirku menajam tipis.
Dibandingkan denganku, mereka berdua memang lebih mirip sepasang kekasih.
“Ngomongin sup jamur, Andrew, sup jamur yang kamu masak di rumahku waktu itu adalah sup terenak dalam hidupku. Aku iri sekali dengan Selena yang bisa minum sup seenak itu seumur hidupnya~”
Mendengar itu, wajah Andrew langsung menegang. Dia buru-buru menoleh melihatku, seperti ingin menjelaskan. Seolah takut aku salah paham, tapi aku sama sekali tak melihat ke arah mereka.
Aku sedang menatap keluar jendela bianglala, menelusuri kota yang sudah tujuh tahun menjadi tempat tinggalku.
Tiba-tiba, Selena berdiri di sampingku dan berkata, “Indah sekali pemandangannya, ‘kan? Aku paling suka naik bianglala. Waktu anjingku meninggal, aku sedih sekali sampai sempat kepikiran untuk bunuh diri. Demi menghiburku, Andrew mengajak aku naik bianglala.”
Aku sudah berusaha untuk tidak mendengar, tidak melihat dan tidak memikirkannya. Tapi, Selena terus saja mengusikku. Hatiku juga punya perasaan, tentu saja merasakan sakit yang luar biasa hebat.
Aku kira Andrew memaksakan dirinya untuk naik bianglala untuk menghiburku. Tak kusangka, ternyata dia sudah lebih dulu melakukannya untuk perempuan lain sebelumnya.
Selena malah menertawakan Andrew saat bercerita, “Kamu nggak tahu saja, waktu itu kakinya gemetar parah, badannya sampai bersandar ke aku. Aku belum pernah melihat dia sekonyol itu.”
Aku menundukkan pandangan. Kebetulan sekali, aku juga belum pernah melihatnya seperti itu.
Aku diam saja sejak tadi, membuat Andrew sedikit panik, “Kenapa? Perutmu sakit lagi? Atau takut?”
Aku menggeleng, “Aku lagi menikmati pemandangan.”
Andrew pun percaya jawaban asal itu. Dia kembali asik berbincang dengan Selena.
Begitu turun dari bianglala, Selena yang tadinya baik-baik saja, tiba-tiba jatuh bersandar ke tubuh Andrew, “Andrew, aku agak pusing.”
Andrew reflek menoleh ke arahku, lalu berusaha menjelaskan, “Sebenarnya Selena fobia ketinggian. Waktu aku naik bianglala dengannya dulu, itu karena kami sama-sama ingin melawan rasa takut….”
“Nggak perlu jelaskan, kamu antar dia pulang dulu saja.”
“Kalau begitu, tunggu aku di sini. Setelah mengantar dia pulang, aku bakal balik ke sini untuk mencarimu.”
Aku menatap Andrew yang pergi dengan mobil, lalu tanpa ragu berbalik pergi.
Aku sudah terlalu sering menunggunya. Kali ini, aku tidak akan menunggunya lagi.
Aku memesan taksi dan pergi ke bandara. Di perjalanan, Andrew terus-menerus mengirimiku pesan.
[Ivy, bagaimana kalau kali ini kita menikah di bawah bianglala? Kamu pernah bilang kita akan berciuman di puncak tertinggi, lalu bertukar cincin di hadapan yang maha kuasa.]
Banyak pesan suaranya yang masuk, seolah ingin menggoyahkan tembok yang sudah kubangun dalam hatiku.
[Kamu sudah menyiapkan 66 kali pernikahan untukku. Kali ini, biarkan aku yang menyiapkan semuanya, ya? Aku ingin menjadikanmu pengantin paling bahagia di dunia.]
Aku tetap tidak membalas. Kekecewaanku sudah terlalu banyak, kepercayaanku padanya pun sudah habis.
Sebelum pesawat lepas landas, aku menerima pesan terakhir darinya.
[Fobia ketinggian Selena cukup parah, aku harus temani dia lebih lama. Kamu bisa pulang sendiri naik taksi?]
Dan terulang lagi.
Dia tidak akan pernah memilihku.
Untung saja, aku sudah terlalu sering terluka olehnya, sehingga aku cukup tenang dan mati rasa kali ini.
Pada akhirnya, aku membalas satu pesan terakhir, [Iya, jaga Selena baik-baik. Kalau perlu, bawa saja ke rumah, biar kamu bisa lebih mudah menjaganya.]
[Kita putus. Batalkan saja pernikahan ke-67 itu.]
Akhirnya, akulah yang membatalkan pernikahan untuk kali ini.
Mulai sekarang, kami pun tidak perlu bertemu lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





