
Ditinggalkan 66 Kali, Kini Aku Pergi
Bab 2
Orang tuaku sangat mendukung keputusanku.
Setelah kami membicarakannya, aku pun mengantar mereka ke bandara.
Saat pulang lagi ke rumah, Andrew masih belum kembali.
Perutku sakit sekali. Aku membuka kotak obat, tapi ternyata obat pereda nyeri sudah habis.
Aku pun memejamkan mata dengan lelah. Biasanya aku selalu menyiapkan obat sendiri, tapi sejak bersama Andrew, dia yang selalu membeli berbagai macam obat untukku, menyiapkannya di rumah, bahkan membujukku dengan lembut sambil membawa segelas air hangat. Setelah aku minum obat dan mulai mengantuk, dia bakal dengar sabar mengusap perutku….
Kini, rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan. Aku ingin menelepon Andrew, tanganku sudah meraih ponsel, tapi akhirnya ragu.
Aku teringat semua kejadian dia meninggalkanku berkali-kali demi Selina.
Akhirnya, aku hanya tersenyum miris dan pergi sendiri ke rumah sakit.
Di rumah sakit, aku mendaftar di bagian gawat darurat. Rekan kerjaku yang sedang berjaga, Lucy langsung mengernyit dan bertanya, “Bukannya kamu menikah hari ini? Kenapa datang ke UGD tengah malam? Kok Andrew nggak menemanimu?”
Aku hanya tersenyum dan menjawab, “Dia lagi sibuk.”
Lucy pun marah, “Sesibuk apapun tetap saja harus menemani istri! Kamu sudah sakit perut begini, masa dia nggak peduli sama sekali?!”
Saat aku mengambil obat, tanpa sengaja aku melewati ruang rawat Selena. Aku melihat Andrew sedang menjaganya di sana. Dibandingkan dengan pemandangan itu, aku yang sendirian ini tampak begitu kesepian.
Selana tampak seperti sedang mimpi buruk, dia meraih tangan Andrew erat-erat dan bergumam, “Jangan tinggalkan aku, kumohon jangan tinggalkan aku.”
Andrew mengusap kepalanya dengan lembut dan menenangkan, “Tenang, aku ada di sini.”
Mataku berkaca-kaca, rasa pedih memenuhi hatiku, tapi akhirnya aku memilih berbalik dan pergi.
Sepulangnya ke rumah, aku beristirahat seharian penuh dan mulai mengemasi semua barang-barangku.
Meski tujuh tahun tinggal di rumah ini, aku hanya perlu membawa satu koper kecil saat pergi.
Mungkin karena aku terlalu diam, dua hari penuh tanpa menghubungi Andrew sama sekali, barulah dia merasa ada yang aneh dan meneleponku.
Nada suaranya terdengar hati-hati, “Ivy, kenapa kamu nggak masuk kerja hari ini?”
“Asam lambungku kambuh.”
“Kalau begitu jaga dirimu baik-baik. Selena habis alergi jadi nggak bisa makan apa-apa, aku mau masak makanan untuk dia dulu. Setelah itu bakal pulang menemanimu.”
Sebelum dia menutup telepon, samar-samar aku mendengar suara Selena.
“Andrew, aku mau minum sup jamur. Ada bahannya di kulkas, kamu bisa masak untukku?”
Aku tahu, Selena sudah keluar dari rumah sakit. Andrew sedang merawatnya di rumahnya sekarang.
Karena Selena yatim piatu dan tidak ada yang menjaganya, tapi bagaimana dengan diriku? Emangnya ada yang menjagaku?
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Perutku sudah tidak sakit lagi, tapi hatiku malah sakit luar biasa.
Keesokan harinya.
Aku menyerahkan surat pengunduran diri pada pimpinan rumah sakit.
Beliau menatapku dengan penuh penyesalan, “Kok harus mengundurkan diri? Sudah dibahas dengan Andrew? Kamu bahkan sudah berhenti jadi dokter bedah demi Andrew, sekarang masih mau berhenti bekerja hanya untuk menjadi ibu rumah tangga?”
Aku dan Andrew masuk ke rumah sakit di waktu yang sama, kemampuan kami pun seimbang. Tapi, dokter bedah memang terlalu sibuk. Setelah memutuskan untuk menikah dengan Andrew, demi lebih mudah mengurus keluarga, aku pun mengajukan pindah ke posisi administrasi yang lebih santai.
Namun sekarang, aku tak ingin menikah dengan Andrew lagi.
Aku tersenyum dan menggeleng, menjawab, “Aku yang mengundurkan diri, tak perlu dibicarakan dengan Andrew.”
Tiba-tiba, pintu kantor terbuka. Andrew berdiri di sana dan menatapku lekat-lekat, seolah takut aku akan menghilang di detik berikutnya, “Ivy, kenapa kamu mengundurkan diri? Kenapa nggak bicarakan dulu denganku?”
Anda Mungkin Juga Suka





