
Ditinggal Pacar karena Dikira Miskin
Bab 3
Fiona berteriak kepanasan. Aku perlahan-lahan mengangkat bibirku dan tersenyum polos.
"Maaf, aku nggak sengaja."
"Mungkin karena mulutmu terlalu jahat, jadi Tuhan mengutusku untuk memberimu pembalasan."
Aku berbalik dan berjalan pergi, tanpa melirik Fiona sama sekali.
Aku naik taksi ke rumah sakit. Kakiku terasa semakin sakit, mengingatkanku bahwa aku harus mendapatkan perawatan sesegera mungkin.
Di ruang gawat darurat, Ayah menelepon saat lukaku sedang dirawat.
Melihat wajah orang tuaku di layar ponsel melalui panggilan video, aku tidak bisa menahan air mata.
Hari ini sangat penuh dengan kejutan dan semuanya terjadi begitu cepat. Aku sampai tidak sempat untuk mencerna semua emosi yang kurasakan. Begitu melihat wajah orang tuaku, rasa sesak di dadaku akhirnya pecah.
Ayah dan ibuku langsung panik saat melihatku air mataku dan buru-buru bertanya apa yang terjadi.
Aku menceritakan kejadian hari ini sambil menangis.
Ayahku marah dan menggebrak meja. "Nggak masuk akal! Buat apa anakku mencuri gelang yang harganya cuma 200 juta?"
Dia ingin membeli tiket pesawat ke sini sekarang juga untuk membantuku, tapi aku menghentikannya.
Aku sudah dewasa sekarang, tidak perlu menggantungkan segalanya pada orang tuaku lagi.
Selain itu, aku ingin menangani urusan Adrian sendiri.
Aku pulang ke kontrakan naik taksi, mengemasi semua barang, dan mengirimkannya ke apartemen yang pernah dibelikan orang tuaku di pusat kota.
Demi menjaga harga diri Adrian, aku belum pernah tinggal di apartemen ini sebelumnya. Aku ingin menyimpannya sampai kami menikah. Tapi ternyata, semua akan berakhir seperti ini.
Di apartemen baru ini masih belum ada perlengkapan mandi. Aku turun ke bawah untuk belanja dan kebetulan bertemu Jillian dan Adrian di lift.
Mata Adrian jelas terkejut saat melihatku.
"Lucy, kamu gila, ya! Beraninya kamu mengikutiku kami ke sini. Kamu psikopat?"
"Kamu sudah lihat sendiri sekarang, jadi aku terus terang saja sekalian Aku sudah lama nggak tahan denganmu. Kita putus. Keluar dari rumahku!"
Melihat aku masih berdiri diam, Adrian mengerutkan kening. "Kamu nggak dengar? Pergi dari sini! Ngaca dulu, lihat pakaianmu itu seperti apa. Ini bukan tempat untuk orang-orang sepertimu!"
"Pergi! Atau aku minta Jillian untuk panggil satpam!"
Memandang wajah garang Adrian, aku tidak merasakan kesedihan sama sekali.
Aku hanya merasa bahwa tiga tahun yang aku habiskan bersamanya adalah waktu yang terbuang sia-sia. Apa yang kusukai dari bajingan seperti ini?
Jillian sejak awal menyilangkan tangan di depan dada dan memberiku tatapan menghina.
"Lucy, aku memang nggak mempermasalahkan gelang yang kamu curi. Tapi jangan pikir kamu bisa menguntit kami. Yang kamu lakukan ini melanggar hukum. Kamu bisa dipenjara tujuh hari, tahu nggak?"
"Kamu memang muda dan agak cantik, tapi kamu nggak ada gunanya bagi laki-laki. Kamu terlalu menyebalkan!"
"Adrian masih sangat muda dan menjanjikan."
Dia dengan lembut menggandeng lengan Adrian. "Kalau dia terus bersama denganmu, dia akan sengsara seumur hidup."
Aku sangat ingin bertepuk tangan untuk mereka berdua. "Kalian memang mengagumkan. Selingkuh kok dibuat-buat jadi seperti tindakan mulia. Entah apa yang terjadi, kamu tetap selingkuhan. Jangan sok suci!"
"Kamu ...."
Jillian tampak geram dan Adrian tidak tahan lagi. "Lucy, kenapa kamu nggak cepat pergi? Aku panggil satpam sekarang!"
Lima menit kemudian, seorang satpam berdiri di luar pintu lift dan membungkuk kepadaku. "Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?"
Anda Mungkin Juga Suka





![Sampul Novel MY CEO [Hate & Love]](https://v.melolo.com/b1265344voduse1318177724/9bd52f255001834806832444767/qObBZl5YPRcA.webp!15491.webp)