APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ditinggal Nikah Dengan Adikku

Ditinggal Nikah Dengan Adikku

Lysandra hancur saat Vincent, sang mantan, memilih melamar adiknya, Amelia. Statusnya sebagai anak angkat membuat Lysandra kian tersisih. Di situasi sulit ini, Arthur Sterling datang menawarkan pernikahan kontrak demi bisnis dan wasiat sang kakek. Namun, rahasia asal-usul Lysandra yang disembunyikan ayahnya kini terancam terungkap. Akankah Arthur tetap bertahan mendampinginya setelah tahu bahwa sang istri bukanlah putri kandung keluarga Harrison?
Bab
Bagikan

Bab 3

Suara gemericik air dari kamar mandi memecah keheningan yang menyesakkan di kamar suite. Arthur, setelah "menyelesaikan tugasnya," melangkah masuk ke sana, meninggalkan Lysandra terbaring hancur di ranjang. Lysandra bisa mendengar suara shower menyala, seolah Arthur sedang membersihkan jejak-jejak perbuatannya, membersihkan dirinya dari sentuhan yang baru saja merenggut segalanya dari Lysandra. Setiap tetes air yang jatuh terdengar seperti derai air mata yang tak sanggup ia keluarkan lagi.

Lysandra masih terbaring telanjang, selimut yang sempat tersingkap kini ia tarik erat menutupi tubuhnya yang gemetar. Ia mencoba menghirup napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Rasa sakit fisik bercampur dengan kehampaan emosional yang menguasai dirinya. Ia merasa kotor, direnggut, dan begitu rapuh. Aroma Arthur masih melekat di seprai, di kulitnya, seolah menjadi pengingat pahit akan malam yang baru saja ia lalui. Ia menatap langit-langit, berharap waktu bisa kembali, berharap ia tidak pernah terbangun dari mimpi buruk ini. Namun, kenyataan pahit adalah ia sudah menikah, dan pernikahan ini adalah neraka yang baru saja ia masuki.

Di dalam kamar mandi, uap panas memenuhi ruangan, mengaburkan cermin dan melarutkan ketegangan. Arthur berdiri di bawah aliran air hangat, membiarkan tetesan-tetesan itu membasuh kulitnya. Namun, alih-alih merasa lega atau bersih, ia merasakan sesuatu yang lain. Sensasi gairah yang aneh, residual dari tindakan yang baru saja ia lakukan, kembali merayapi dirinya. Keringat dan kelelahan bercampur dengan dorongan yang baru.

Ia menunduk, melihat penisnya yang kini kembali menegang. Kejutan kecil menyelimutinya. "Sial," gumamnya pelan, sebuah desahan frustasi. "Kenapa ini bisa terjadi lagi?"

Arthur memejamkan mata, bayangan wajah Lysandra terlintas di benaknya. Wajah pucatnya, mata yang dipenuhi air mata, bibirnya yang bergetar. Lalu, bayangan tubuhnya yang ramping, dadanya yang membusung, paha mulusnya yang terbuka di bawahnya. Gairah itu semakin membuncah. Ia merasakan sensasi sentuhan kulit Lysandra, erangan kecilnya, dan bagaimana tubuhnya merespons di bawahnya.

"Sialan, Lysandra," desahnya lagi, suaranya serak. "Kenapa tubuhmu senikmat itu?"

Ia menggerakkan tangannya, meremas penisnya yang sudah keras, mencoba melepaskan ketegangan yang kembali muncul. Sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. "Ah... sial..."

Arthur memejamkan mata, membiarkan imajinasinya bekerja. Ia membayangkan lagi sentuhan kulit Lysandra, aroma tubuhnya yang samar. Ia terus meremas, mempercepat gerakannya, desahan-desahan kecil keluar dari bibirnya. Ia melakukannya berulang kali, mencoba mengusir sisa gairah yang melekat kuat. Ia menggerakkan pinggulnya ke depan, seolah Lysandra masih berada di bawahnya. Ia mendesah, menahan napas, lalu melepaskan erangan panjang saat mencapai klimaksnya lagi.

Setelah beberapa saat, Arthur membuka matanya. Rasa panas di tubuhnya perlahan mereda, tergantikan oleh sensasi lelah. Ia mematikan shower, meraih handuk dan mengelap tubuhnya dengan kasar. Ia melilitkan handuk di pinggangnya, lalu melangkah keluar dari kamar mandi.

Kamar kembali hening, hanya ada suara napas Lysandra yang teratur. Arthur menatap ranjang. Lysandra masih terbaring di sana, meringkuk di bawah selimut putih, memunggungi dirinya. Hanya gundukan kecil yang terlihat, seolah Lysandra ingin menghilang.

Arthur tak berkata apa-apa. Wajahnya kembali datar, tanpa emosi. Ia berjalan ke lemari besar di sudut kamar, membukanya. Ia mengambil celana piyama dan kemeja santai, lalu tanpa ragu, ia melepaskan handuknya di depan Lysandra, memperlihatkan tubuh telanjangnya yang atletis.

Lysandra, yang sebenarnya tidak tidur, merasakan tubuhnya menegang. Ia tahu Arthur sedang berdiri telanjang di belakangnya. Rasa malu kembali menyeruak. Meskipun ia sudah melihatnya beberapa saat yang lalu, rasa tidak nyaman itu tetap ada. Lysandra memejamkan mata erat-erat, berharap Arthur tidak menyadari bahwa ia terjaga.

Arthur memakai pakaiannya dengan tenang, tanpa terburu-buru. Setelah selesai memakai celana piyama, ia menariknya ke atas, menutupi area pribadinya. Baru kemudian ia melirik ke arah Lysandra yang masih membelakanginya.

"Kamu belum tidur?" tanya Arthur, suaranya datar, tanpa intonasi.

Lysandra membuka matanya sedikit, namun tetap tidak berbalik. Ia merasakan amarah kecil muncul. Pria ini begitu tidak peduli. Ia berani-beraninya melepas pakaian di depannya begitu saja. "Kenapa tidak berpakaian di kamar mandi saja, Tuan Sterling?" sindir Lysandra, suaranya serak karena lelah dan emosi. "Tidak perlu repot-repot telanjang di sini."

Arthur mengancingkan kemejanya perlahan, mengangkat satu alisnya. "Kita sudah menikah, Lysandra," jawabnya cuek, sama sekali tidak terpengaruh oleh sindiran Lysandra. "Lagipula, kau sudah melihat milik saya, bukan?" Ia menunjuk ke arah selangkangannya yang kini tertutup kain. "Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan."

Lysandra menghela napas panjang. "Terserah," gumamnya, lalu membalikkan tubuhnya sepenuhnya, memunggungi Arthur. Ia menarik selimut lebih tinggi, menutupi sampai ke lehernya, seolah ingin menciptakan benteng tak terlihat antara dirinya dan Arthur.

Arthur tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia selesai memakai kemejanya, lalu berjalan ke sisi ranjang yang berlawanan dari Lysandra. Ia melihat selimut Lysandra yang basah oleh tumpahan anggur dan darah. Ia mengerutkan kening sedikit, namun tidak berkomentar.

"Kamu tidak mandi?" tanya Arthur, suaranya terdengar dari belakang punggung Lysandra.

Lysandra memejamkan matanya erat-erat. Ia ingin sekali mandi, membersihkan dirinya dari semua yang baru saja terjadi. Namun, ia merasa terlalu lelah, terlalu hancur. Ia hanya ingin melarikan diri ke alam mimpi, meskipun ia tahu mimpi buruk itu akan mengikutinya. "Nanti saja," jawab Lysandra pelan, suaranya terdengar lelah. "Aku mengantuk. Aku ingin tidur." Ia memejamkan matanya, berharap Arthur akan mengerti dan meninggalkannya sendiri.

Arthur terdiam sejenak. Ia melihat Lysandra yang memunggungi dirinya, bahunya sedikit bergetar. Ia bisa merasakan kelelahan yang memancar dari tubuh Lysandra. Tanpa banyak bicara, Arthur berjalan ke arah sofa panjang yang ada di seberang kamar. Ia mengambil bantal dan selimut yang sudah disiapkan di sana, lalu membaringkan tubuhnya di sofa.

Lysandra, yang masih terjaga dan mendengar setiap gerakan Arthur, merasakan sesuatu yang aneh. Sedikit kelegaan, karena Arthur tidak akan tidur di ranjang bersamanya. Namun, ada juga perasaan lain, sebuah ironi yang menusuk.

"Percuma saja kita melakukan hubungan intim kalau suaminya saja tidur di sofa," sindir Lysandra, suaranya lebih pahit dari yang ia inginkan. Ia tahu ia seharusnya tidak bicara, tetapi emosinya sudah di ujung tanduk. Perlakuan Arthur yang dingin, perasaannya yang direnggut, membuatnya ingin melukai kembali.

Arthur berhenti sejenak, bantal sudah ada di bawah kepalanya. Ia tidak berbalik, suaranya tetap datar, tanpa emosi, "Tidur saja, Lysandra. Jangan bicara."

Kata-kata itu mengakhiri percakapan mereka, atau lebih tepatnya, mengakhiri upaya Lysandra untuk berbicara. Arthur memejamkan matanya, seolah ia sudah benar-benar selesai dengan hari ini, dengan pernikahan ini, dengan Lysandra.

Lysandra menatap kegelapan di depannya, air mata kembali menggenang di matanya. Ia sudah tahu pernikahan ini adalah neraka, tapi ia tidak menyangka neraka itu akan begitu dingin dan sepi. Ia terbaring di ranjang besar itu, seorang diri, padahal suaminya hanya berjarak beberapa meter darinya. Kesenjangan di antara mereka terasa begitu luas, lebih luas daripada ruangan mewah ini. Ia merasa begitu sendirian, begitu hampa.

Malam itu, Lysandra tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata, ia merasakan lagi sentuhan Arthur, rasa sakit, dan kehampaan. Ia meringkuk di bawah selimut, berusaha mencari kehangatan yang tak bisa ia temukan. Ia menyadari bahwa pernikahan ini bukan hanya tentang kehilangan dirinya, tetapi juga tentang bagaimana ia harus bertahan dalam sebuah kesepakatan tanpa cinta, tanpa kasih sayang, dan bahkan tanpa sedikit pun rasa hormat. Ia adalah Nyonya Sterling sekarang, namun ia merasa lebih seperti tawanan. Fajar yang menjelang tidak membawa harapan, melainkan bayangan dingin dari hari-hari yang akan datang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hasrat Terpendam di Gerbong Tidur Kereta
8.3
Dalam novel modern Hasrat Terpendam di Gerbong Tidur Kereta, perjalanan malam di gerbong tidur menjadi penuh ketegangan sensual. Terpikat oleh aroma maskulin para pekerja konstruksi di sekitarnya, seorang wanita tak mampu menahan gejolak gairahnya yang membara hingga nekat memuaskan diri di balik selimut. Namun, tindakan rahasia itu justru berujung fatal saat seorang paman memergokinya. Dengan napas tertahan, pria itu menyingkap selimutnya dan menawarkan kepuasan nyata yang tak terduga.
Sampul Novel Hati Alpha yang Terlambat
7.9
Demi Timothy Oliver, Vanessa Price rela mendonorkan sumsum tulangnya. Namun, pengorbanan itu justru dibalas dengan kekejaman Timothy yang ingin membalas dendam demi ibu tirinya, Bryanna. Selama empat tahun Vanessa hidup dalam siksaan, hingga ia dinyatakan tewas di reruntuhan tambang. Penyesalan Timothy baru datang saat menemukan jasad Vanessa bersama bukti kehamilan. Kini, Vanessa bangkit kembali untuk menuntut balas atas kehancuran hidup dan kariernya.
Sampul Novel Istri ku tengil
8.8
Alexa adalah gadis menawan yang kerap berbuat onar demi mencari perhatian orang tuanya yang gila kerja. Di balik gelimang hartanya, ia sebenarnya sangat kesepian. Akibat kenakalannya yang sering memicu emosi, ia akhirnya dipaksa masuk ke dalam jerat perjodohan. Kini, Alexa harus menghadapi babak baru bersama suami misteriusnya. Akankah pernikahan ini mampu mengubah sikap iblisnya menjadi sosok yang manis, atau justru ia akan menciptakan kekacauan yang lebih besar dalam rumah tangganya?
Sampul Novel Nodamu Bukan Masalah Bagiku
8.0
Nabila, yang dipaksa suaminya menjadi wanita malam demi uang, berhasil diselamatkan oleh seorang CEO kaya bernama Riko. Tak hanya menolong, Riko juga membantu Nabila mengurus proses perceraiannya. Kebersamaan itu menumbuhkan rasa cinta di antara mereka. Namun, hubungan ini ditentang keras oleh ibu Riko yang mempermasalahkan masa lalu Nabila. Kini, mereka harus berjuang bersama demi meraih restu dan membuktikan bahwa cinta mereka sanggup mengalahkan prasangka serta ego keluarga.
Sampul Novel Secret Affair With Hot Captain
9.4
Gilang, pelaut penakluk hati wanita, mendadak bimbang saat kapalnya bersandar di kota tempat tinggal Kyra Pandhita. Kyra adalah teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya yang realistis dan takut berkomitmen. Pertemuan itu menghidupkan kembali rasa lama, namun terhalang tembok besar karena Gilang telah memiliki kekasih bernama Joysella. Di tengah desakan Joysella untuk segera menikah, Gilang kini terjebak dilema antara komitmen kesetiaan atau mengejar cinta sejati.
Sampul Novel Wanita Gendut, Dicerai Suami Dinikahi CEO Tampan
9.5
Pernikahan lima tahun Sofia Storia hancur setelah Alvian berselingkuh dengan Clara, seorang pemandu karaoke. Alvian menceraikannya hanya karena penampilan Sofia kini berubah gemuk. Di masa sulitnya, Sofia bertemu Reyfaldi, CEO kaya yang tertutup. Pria itu menawari pernikahan dengan kesepakatan khusus. Dibantu Reyfaldi, Sofia bertekad mengubah penampilannya demi membalas dendam kepada mantan suami dan selingkuhannya. Berhasilkah Sofia membalaskan sakit hatinya?