APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Diselingkuhi Saat Mengandung

Diselingkuhi Saat Mengandung

Pernikahan Salma dan Rayden berada di ambang kehancuran. Walau sudah dikaruniai seorang putri dan kini Salma sedang mengandung enam bulan, kesetiaan suaminya goyah. Rayden berubah menjadi dingin sejak Clarissa, staf baru di kantornya, mulai mendekat. Di tengah perjuangan fisik masa kehamilan yang berat, Salma harus menelan pil pahit. Kepercayaan yang ia rawat sekian lama runtuh seketika saat perselingkuhan suaminya dengan Clarissa akhirnya terbongkar.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu, udara dingin menyusup lewat celah-celah jendela kamar. Tapi bukan itu yang membuat Salma menggigil. Di dalam dirinya, ada kehampaan yang tak bisa lagi dihangatkan oleh apapun, bahkan oleh pelukan anaknya sendiri. Meski ia tersenyum saat menyuapi Amara sarapan, hatinya nyaris mati rasa.

Rayden masih ada di rumah. Duduk di sofa ruang tamu, menatap televisi yang menyala tanpa benar-benar menontonnya. Sejak malam itu, mereka seperti dua orang asing yang terjebak dalam satu atap. Tak ada bentakan. Tak ada drama. Hanya diam. Hening yang mengerikan. Dan justru karena itulah, luka terasa semakin dalam.

"Amara hari ini ada kegiatan mewarnai di sekolah," ujar Salma sambil memakaikan sepatu kecil pada putrinya.

Rayden hanya mengangguk, matanya tetap tertuju ke layar. Ia belum berani bicara lebih dari tiga kalimat kepada Salma sejak malam pengakuan itu. Bukan karena tak punya kata-kata, tapi karena semua yang ingin ia katakan hanya akan terdengar palsu sekarang.

Ketika Salma dan Amara akhirnya keluar rumah, Clarissa mengetik pesan:

"Pagi, sayang. I miss you."

Rayden menatap pesan itu cukup lama sebelum akhirnya mematikan layar ponsel. Ia bahkan tak punya keberanian untuk menjawab.

Sementara itu, Salma mengendarai mobilnya dalam diam. Amara di kursi belakang, menyanyi pelan lagu anak-anak. Tapi Salma tak benar-benar mendengarkan. Di pikirannya, ia mengulang semua yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Ia ingat bagaimana dulu ia rela meninggalkan pekerjaannya demi membesarkan Amara. Ia ingat malam-malam ketika Rayden pulang larut karena lembur, dan ia menunggunya dengan setia. Ia percaya. Sepenuhnya. Dan sekarang, kepercayaan itu telah dipatahkan tanpa peringatan.

Setelah mengantar Amara, Salma tidak langsung pulang. Ia berhenti di sebuah taman kecil yang sepi. Duduk di bangku kayu, ia menatap langit mendung dengan mata yang sudah kering.

Ada suara pelan di dalam hatinya yang mulai berbisik, "Kenapa kamu masih di sini, Salma? Untuk apa bertahan?"

Namun di saat yang sama, ada suara lain-lembut, tapi keras kepala-yang menjawab, "Karena aku belum selesai. Aku belum kalah."

Salma menghela napas panjang. Mungkin dulu ia adalah perempuan yang lembut, penuh pengertian, dan selalu memaafkan. Tapi kini, sesuatu dalam dirinya berubah. Ia tidak ingin hanya menjadi korban. Ia ingin berdiri. Menatap balik mereka yang telah menyakitinya. Dan membalas.

Sore itu, ketika Rayden pulang, Salma sudah menunggu di ruang tamu. Ia mengenakan kemeja putih dan rok hitam panjang, wajahnya rapi dengan make-up tipis. Terlihat seperti wanita karier yang siap kembali menjemput kehidupannya yang dulu tertunda.

Rayden mengerutkan dahi. "Kamu mau ke mana?"

Salma berdiri. "Aku sudah mendaftar kerja lagi. Interview-nya minggu depan."

Rayden terdiam. Salma menatapnya tajam. "Aku akan bangkit, Rayden. Aku enggak akan bergantung lagi pada kamu. Aku akan punya penghasilan sendiri. Aku akan punya hidupku sendiri."

"Salma, kamu lagi hamil. Kamu harus istirahat..."

Salma tertawa pelan. "Lucu ya, kamu khawatir sekarang? Waktu kamu sibuk tidur dengan wanita lain, kamu enggak khawatir soal kandungan ini."

Rayden menunduk. Kali ini, tak bisa berkata apa-apa.

Salma melangkah ke depan, berdiri hanya beberapa langkah dari suaminya. "Kalau kamu masih mau tinggal di sini, silakan. Tapi kamu harus tahu... aku tidak akan menunggu kamu lagi. Aku bukan perempuan yang sama. Dan kalau kamu pikir aku akan memohon agar kamu tetap di sini, kamu salah besar."

Rayden mengangkat kepala, menatap Salma dengan mata yang tampak asing. Seolah ia baru sadar bahwa istrinya kini bukan lagi sosok yang lemah dan pasrah. Ia telah berubah menjadi sesuatu yang lebih kuat... dan lebih dingin.

"Kamu berubah," gumam Rayden.

"Aku terpaksa," jawab Salma, "karena kamu memaksaku."

Di sisi lain kota, Clarissa duduk di sebuah kafe mahal, memandangi jam tangannya dengan gelisah. Sudah lebih dari dua jam, dan Rayden belum juga muncul.

Ia menyalakan ponsel. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada kabar.

Wajahnya menegang. Ia mulai mengetik pesan panjang, tapi kemudian menghapusnya.

Clarissa tidak terbiasa diabaikan. Ia terbiasa mendapatkan apa yang ia mau, terutama pria seperti Rayden-beristri, lelah, dan mudah dimanipulasi oleh sedikit perhatian dan tubuh yang ditawarkan tanpa syarat.

Tapi sekarang, Rayden mulai menjauh. Dan Clarissa benci tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Kalau kamu pikir kamu bisa kabur dari aku begitu saja, kamu salah besar, Rayden," gumamnya sambil menggenggam gelas kopinya dengan tangan dingin.

Malam itu, Salma berdiri di depan cermin. Menatap dirinya sendiri. Di balik perut buncit dan mata yang letih, ia melihat seseorang yang mulai kembali menemukan dirinya. Seorang ibu. Seorang wanita. Seorang pejuang.

Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia membisikkan kata-kata kepada bayinya dengan suara penuh keyakinan:

"Tenang, Nak... Mama akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja. Dengan atau tanpa ayahmu."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel My Lovely Angel
8.1
Demi menyudahi tekanan sang ibu yang terus memaksanya kencan buta dan mengejeknya perawan tua, Renata akhirnya bersedia menikahi Dafa. Di sisi lain, sang CEO kaya raya berstatus duda anak dua itu setuju menikah hanya karena menuruti kemauan anak-anaknya yang mendambakan sosok ibu. Namun, Dafa masih belum bisa melupakan mendiang istrinya, Arin. Sanggupkah rumah tangga tanpa rasa cinta ini bertahan di saat hati Dafa masih tertutup rapat untuk masa lalunya?
Sampul Novel Penyesalan Mantan Suamiku
9.8
Dua tahun menikah, kebahagiaan Sophia atas kehamilannya hancur karena Nathan meminta cerai. Saat nyawanya terancam dalam sebuah insiden pembunuhan, Nathan mengabaikan panggilan daruratnya hingga Sophia putus asa dan memilih pergi ke luar negeri untuk menata hidup baru. Namun, saat Sophia hendak menikah lagi, Nathan mendadak muncul kembali. Dengan penuh penyesalan, ia menuntut penjelasan mengenai anak yang telah dilahirkan oleh Sophia.
Sampul Novel Penyesalan Setelah Diriku Tiada
7.9
Divonis mengidap lupus eritematosus sistemik stadium akhir dengan sisa hidup tiga hari, seorang wanita justru menghadapi kekejaman dari orang terdekatnya. Setelah ratusan panggilannya diabaikan, sang suami yang bekerja sebagai pengacara menuduhnya memalsukan penyakit demi bersaing dengan Penny. Kakak kandungnya yang berprofesi dokter pun turut mencemooh diagnosis tersebut. Kecewa dan kesakitan, ia memutuskan untuk mendatangi kantor pelayanan akhir hayat demi mendaftarkan proses kremasinya sendiri tanpa melibatkan keluarga yang telah membuangnya.
Sampul Novel Pernikahan Tanpa Anak
9.3
Lima tahun menikah, Anggraini dan Teguh sepakat untuk tidak memiliki anak. Namun, komitmen childfree tersebut runtuh seketika saat Anggraini mendapati suaminya telah berselingkuh. Teguh rupanya diam-diam memiliki istri siri dan anak di luar sepengetahuannya. Dikhianati dengan begitu kejam, amarah Anggraini pun meledak. Ia bersumpah akan menuntut balas dengan memastikan Teguh kehilangan hak serta kesempatannya untuk menjadi seorang ayah selamanya.
Sampul Novel Salah Target
8.6
Demi membalas dendam pada Dicky Prasetyo, Andrey memimpin sindikatnya untuk menculik Flamboyan Prasetyo demi tebusan. Sialnya, mereka salah sasaran; Flamboyan hanyalah anak asisten rumah tangga Dicky, sementara target asli, Kirana yang difabel, sedang pergi. Ketika Dicky mendadak lenyap misterius, Bramastyo Hartawan harus berjuang sendirian. Ia mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan kekasih sekaligus calon mertuanya dari ancaman kematian yang kian nyata.
Sampul Novel Setelah 17 Tahun Pernikahan
8.6
Amira harus menerima kenyataan pahit setelah sebulan lumpuh akibat stroke ringan. Melalui rekaman obrolan Bu Nur dan Bu Sarah, ia mengetahui rencana pengkhianatan ibu mertuanya. Bu Nur yang pesimis akan kesembuhan Amira berniat menjodohkan Habib dengan Laila. Sang mertua bahkan mengklaim bahwa Habib telah menyetujui rencana poligami tersebut dengan dalih kelelahan mengurus dirinya sendiri setelah 17 tahun bersama.