APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dipinang Dosen Tampan

Dipinang Dosen Tampan

Demi mencegah Laura membangkang seperti kakak-kakaknya, Jason menjodohkan putri bungsunya itu dengan Jonathan, seorang dosen tampan di kampus Laura. Meski terpaksa menuruti kehendak sang ayah untuk menikah, hati Laura tidak serta-merta luluh pada suaminya. Kini, di tengah ikatan pernikahan yang dipaksakan oleh takdir tersebut, Jonathan harus berjuang keras demi memenangkan cinta dan ketulusan hati Laura.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Mau ngapain kamu? Jangan mentang-mentang udah jadi suamiku, seenak jidatmu mau ini dan itu!" sengal Laura seraya menutupi bagian dadanya padahal tubuhnya masih tertutup rapi oleh baju yang ia kenakan. 

Jonathan tak merespon apa pun. Hanya membuka kaus yang masih dia pakai seraya menatap Laura yang sudah ketakutan. 

"Jangan mendekat!" teriak Laura kemudian. 

Jonathan menghela napas pelan. "Laura. Bisa nggak, jangan teriak-teriak. Kamu pikir, aku mau perkosa kamu? Kamu ini istri aku. Di mana ceritanya, istri sendiri diperkosa? Gilak!" 

Laura mengerucutkan bibirnya seraya menatap Jonathan yang hanya mengenakan kaus oblong saja. Lalu, mengambi tas milik Laura. 

"Nih! Selesaikan tugas kamu kalau tidak mau aku kasih nilai E!" 

Laura membolakan matanya kemudian mengambil buku yang dipegang Jonathan dengan kasar. "Kirain apaan!" ucapnya kemudian. 

Jonathan tersenyum miring. "Selesaikan tugasmu. Setelah itu, baru ...." Jonathan tidak meneruskan ucapannya. Ia langsung keluar dari kamar tersebut setelah mengambil laptop miliknya. 

"Errgghhh! Dosen gilak! Suami gilak! Cowok gilak! Baru dua jam jadi istrinya udah bikin naik darah." Laura menggerutu kesal seraya menyelesaikan tugasnya. 

"Gue nikah biar bahagia. Malah disiksa kayak gini. Dalam sejarah pernikahan manusia yang ada di muka bumi ini, baru gue yang malam pertamanya suruh ngerjain tugas. Jonathan maha killer, jangan harap gue mau digrepe-grepe." Laura menyunggingkan bibirnya seraya menyelesaikan tugasnya. 

Waktu sudah menunjuk angka dua belas malam. Laura masih duduk di meja kerjanya dengan pulpen masih dia pegang, bukunya masih terbuka. 

Jonathan yang melihatnya lantas menghela napasnya dengan pelan. Lalu mengambil buku tersebut dan melihat hasilnya. Pria itu mengulas senyum tipis seraya memeriksa tugas milik istrinya itu. 

"Good. Seorang Laura memang jarang memberikan nilai buruk," gumamnya kemudian menyimpan buku tersebut ke dalam tas milik istrinya. 

Sementara perempuan itu ia gendong dan membawanya ke atas tempat tidur. Sudah sangat pulas dan juga letih, Laura tidak bangun sedikit pun. 

"Selamat tidur, istri bawel," bisiknya kemudian mencubit hidung Laura karena gemas. Menyunggingkan senyumnya dan memilih untuk tidur di samping perempuan itu. 

Masa bodoh kalau nanti Laura bangun kemudian berteriak karena melihat Jonathan tidur di sampingnya. Toh! Jonathan sudah jadi suaminya. 

**

Waktu sudah menunjuk angka tujuh pagi. Di hari Senin, harusnya sebagai pengantin baru, mereka cuti atau berbulan madu. Tapi, pengantin baru ini memilih untuk tidak berlibur atau lain sebagainya. Karena Laura sendiri yang tidak meminta hal tersebut. 

"Huwaaaa! Nyenyak banget," ucapnya seraya merentangkan tangannya. "Aaaaaaa! Jonathan! Ngapain kamu tidur di sini?" 

Dan benar yang diprediksi oleh Jonathan. Perempuan itu akan berteriak setelah melihatnya tidur di sampingnya. 

"Sekali lagi kamu berteriak, jangan harap aku akan melepaskanmu!" ucapnya seraya beranjak dari tidurnya. Lalu, masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. 

"Dasar!" ucapnya pelan. 

Hampir satu jam lamanya mereka melakukan aktivitas masing-masing. Sarapan, mandi dan lain sebagainya. 

"Mau ke mana kamu?" tanya Jonathan setelah melihat Laura mengambil kunci mobilnya. 

"You pikir, aku mau nebeng di mobil you? No! Aku bawa mobil sendiri, kamu juga! Jangan sampai ada yang tahu kalau kita udah nikah."

Jonathan mengendikan bahunya. Tak peduli, ia pun masuk ke dalam mobilnya. Laura menghela napas kasar seraya menggerutu kepada suaminya itu. 

Setibanya di kampus. Ia kemudian menatap Virza yang tengah duduk tepat di bangku panjang depan kelasnya. 

"Hei!" sapa Virza kepada perempuan itu. 

Laura mengulas senyum tipis. "Hei. Lagi ngapain di sini?" tanyanya kemudian. 

"Nungguin kamu. Aku udah tahu semuanya. Yang mau aku tanyakan, kenapa kamu nggak kasih tahu?" 

Laura menghela napas pelan. "Maaf, Virza. Semuanya terjadi gitu aja. Aku nggak bisa menolaknya karena Papa udah maksa banget."

Virza manggut-manggut dengan pelan. "Ya sudah. Kita belum ada kata putus soalnya, Lau. Makanya aku mau minta kejelasan dari kamu."

Laura terdiam. Bahkan, ia tidak tega memutuskan hubungan tersebut dengan pria yang dia cintai itu. Matanya menatap Virza dengan penuh. 

"Aku ... aku masih cinta, sama kamu." 

Virza tersenyum lirih. "Jangan, Laura. Kamu sudah punya suami. Kita jadi teman aja, yaa." 

Laura menundukkan kepalanya. "Tapi, Virza. Jangan benci aku, yaa."

"Nggak kok. Kamu tenang aja. Ya sudah kalau gitu. Hubungan kita udah jelas, hanya jadi teman dan kisah kita cukup sampai di sini aja. Aku nggak akan ganggu kamu lagi dan ... congrats. Semoga bahagia, yaa." 

Laura tersenyum lirih. Virza kemudian menepuk lengan perempuan itu dan melangkahkan kakinya meninggalkan Laura yang tengah menahan tangisnya. 

"Jangan nangis! Cengeng! Masuk!" Jonathan datang dengan memasang wajah datarnya. 

Ia kemudian terisak pelan seraya mengusap air matanya. Masuk ke dalam kelas tanpa menoleh kepada Jonathan yang sudah merusak suasana di pagi hari. 

"Kenapa lo?" tanya Misya kepada Laura. 

Perempuan itu menggeleng. "Habis putus, sama Virza."

"Yaa kalau elo masih berhubungan dengan Virza, yang ada bokap elo marah. Elo udah nikah, mana bisa masih pacaran sama dia. Gila, lo!" Misya menghela napasnya dengan pelan. 

"Kumpulkan tugas dua hari yang lalu, yang saya berikan!" titah Jonathan tanpa basa-basi. 

"Nitip, Mis. Males banget gue lihat muka beruang kutub itu," ucapnya kemudian memberikan tugasnya. 

"Jangan terlalu benci, Lau. Nanti cinta, berabe." Misya menggoda sahabatnya itu. 

"Nggak usah ngeledek lo! Gue hajar bolak –balik." 

"Haha. Elo tuh ya, kalau lagi marah, bukannya serem, malah lucu." Misya mengambil buku milik Laura dan berjalan menuju meja. 

"Buka halaman 38. Perhatikan contoh hal-hal yang harus dilakukan untuk membuat kurikulum dalam mengembangkan project saat melakukan pertemuan dengan klien atau karyawan sendiri. Ini hanya contoh kecil saja. Biasanya, kalau sudah terjun ke dunia pekerjaan, masih banyak yang harus kalian lakukan. 

"Bisa kalian lihat setelah magang nanti. Jangan lupakan materi-materi di bagian ini. Kalian bisa mempraktikannya saat itu, dan kalian akan tahu, bagaimana rancangan, strategi dan lain sebagainya. Ada yang ingin ditanyakan? Boleh dibaca dulu. Saya tunggu sepuluh menit lagi." 

Semuanya langsung menunduk dan membaca materi. Hanya Laura yang masih menangkup dagunya seraya menatap kosong ke arah jendela kelas. 

Jonathan menghela napasnya dengan pelan seraya menatap Laura yang terlihat tidak memperhatikan dirinya saat menjelaskan materi tadi. 

"Laura! Ada yang ingin kamu tanyakan?" Jonathan memanggil istrinya yang kini sedang menjadi muridnya. 

"Nggak ada! Udah jelas," ucapnya pelan seraya melirik suaminya itu. 

"Sudah paham rupanya. Kalau begitu, sebut-"

Dering ponsel Laura berdering hingga membuat Jonathan naik pitam kepada istrinya sendiri. 

"Saat jam masuk, jangan pernah menghidupkan HP, Laura. Sudah saya jelaskan berkali-kali. Kenapa masih bebal?" teriaknya sudah kehilangan kesabaran. 

"Papa, yang nelepon." Laura memberikan ponselnya kepada Jonathan. "Nih! Angkat sendiri!" ucapnya memberikan ponsel tersebut kepada Jonathan. 

Tak bisa marah, sementara Laura sudah menggeser tombol hijau sehingga suara apa pun pasti terdengar oleh Jason. 

Jonathan lantas keluar kelas, menerima panggilan tersebut. 

"Halo, Pa. Ini aku, Jonathan. Laura udah masuk jam kuliah. Jadi, nggak boleh nerima panggilan. Kayaknya dia lupa matiin HP-nya." Jonathan berucap dengan lembut. 

"Ooh. Maaf, Jonathan. Papa pikir, kalian nggak masuk kampus. Nanti malam, ada dinner keluarga jam tujuh di The Golden Resto. Jangan lupa datang, yaa. Tolong sampaikan ke Laura, yaa." 

"Baik, Pa. Nanti aku sampaikan." Jonathan kemudian menutup panggilan tersebut dan masuk kembali ke dalam kelas. Memberikan ponsel tersebut kepada pemilik ponsel itu. 

Jonathan kembali memberikan materi. Misya melirik Laura yang sudah sadar dari lamunannya. 

"Lau?" panggil Misya kemudian. 

"Heung?" ucapnya pelan. 

"Elo tahu nggak, kalau Pak Jonathan punya pacar?" 

Laura menggeleng. "Nggak tahu. Kenapa emang?"

"Yaa elo tanya lah. Udah putus atau belum. Gimana sih!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ahli Warisnya yang Tersembunyi, Pelariannya
9.6
Malam pameran seni perdanaku hancur saat suamiku justru muncul di berita demi melindungi wanita lain. Pesan singkatnya yang dingin menegaskan bahwa aku bukan prioritasnya. Selama ini, dia meremehkan bakatku, padahal karyaku adalah fondasi kekayaannya. Lelah diabaikan, aku menyusun strategi cerai yang cerdik. Aku akan menyamarkan dokumen perceraian sebagai berkas hak cipta biasa, memanfaatkan kesombongannya agar dia segera menandatanganinya tanpa curiga.
Sampul Novel Gurauan yang Berakhir Tragis
8.4
Harga diri seorang istri hancur saat suaminya tanpa belas kasihan membongkar tragedi perundungan masa sekolahnya sebagai bahan gurauan di meja makan. Muak dengan sikap meremehkan sang suami yang menganggap luka masa lalunya hanya lelucon biasa, ia akhirnya membulatkan tekad untuk menggugat cerai. Ketika sang suami tetap tidak peduli, wanita ini memutuskan untuk membalas rasa sakitnya. Ia bersiap membuka aib masa lalu teman masa kecil suaminya yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.
Sampul Novel Jeritan yang Tak Terdengar
8.4
Sebuah petaka menimpa Yolanda di hari ulang tahunnya sendiri. Sang ayah yang murka menuduhnya telah mendorong sepupunya yang belajar balet hingga mengalami cedera kaki. Tanpa ampun, sang ayah memukuli kaki Yolanda dengan tongkat hingga ia tak berdaya dan tidak sanggup berteriak. Demi memberi pelajaran, tubuh Yolanda yang sekarat dilempar ke dalam ruang bawah tanah yang gelap. Namun, saat pintu itu akhirnya dibuka kembali, sang ayah hanya mendapati jasad putrinya telah hancur dan membusuk.
Sampul Novel KETIKA ISTRI GENDUT JADI LC
8.4
Dulu dihina dan dianggap menjijikkan oleh suaminya karena berbadan tambun, Maemunah kini bertransformasi menjadi Maya. Ia bekerja sebagai pemandu lagu karaoke demi membiayai pengobatan sang anak sekaligus memulihkan harga dirinya yang hancur. Namun, dunia malam yang gemerlap ini penuh jebakan. Di balik cahaya lampu, bayang-bayang masa lalu siap membongkar kembali luka lama yang belum sembuh.
Sampul Novel Menikah dengan Cinta Pertama
8.0
Saat menghadiri reuni bersama James, pertanyaan tentang pernikahan mengungkap keretakan hubungan delapan tahun kami. Di hadapan teman-teman, James mengaku belum memikirkannya, sementara aku dengan tegas menyebutkan tanggal sebelas sebagai hari pernikahanku. Sikapku membuat James marah karena selama ini dia selalu menunda komitmen demi menyembunyikan perselingkuhannya dengan wanita yang lebih muda. Namun, kemarahannya sia-sia karena pria yang akan kunikahi nanti bukanlah dirinya.
Sampul Novel Merelakan Suamiku Untuk Adik Tiriku
9.5
Mayra telah mencintai Gavin selama lima belas tahun, namun di malam sebelum pernikahan mereka, sang tunangan justru menggelar upacara adat dengan adik tirinya, June. Dianggap hanya sebagai selir meski memiliki akta nikah sah, Mayra memilih mundur tanpa keributan. Ia memutuskan menggugurkan kandungannya dan bergabung dengan tim penelitian Antartika yang terisolasi. Meninggalkan surat cerai sebagai hadiah perpisahan, Mayra pergi, membuat Gavin yang dahulu meremehkannya seketika beruban dalam semalam.