APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder

Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder

Demi membiayai pengobatan sang adik, Aluna rela membanting tulang di Hotel Aurelia. Malang, nasib buruk menimpanya ketika ia dituduh menyebarkan video rahasia milik Davin Elvard Renata, seorang miliarder yang menginap di Presidential Suite. Walau sebenarnya dijebak oleh rekan kerjanya sendiri, Davin yang telanjur murka tidak mau tahu. Aluna pun dipaksa menjadi tawanan pribadinya. Kini, ia terjebak dalam pusaran konspirasi besar dan ancaman Davin yang mengerikan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aluna tak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Matanya menatap langit-langit kamar kecil kosan dengan pandangan kosong, jantungnya masih berdegup cepat mengingat kejadian tadi malam. Dingin AC Hotel Aurelia seolah masih membekas di kulitnya, bersamaan dengan dinginnya tatapan Davin Elvard Renata yang seperti mampu menembus isi kepalanya.

Paginya, suara notifikasi ponsel membangunkannya dari lamunan. Puluhan pesan masuk, dari manajer hotel, rekan kerja, bahkan dari nomor-nomor tak dikenal.

"Kau sudah gila, Lun?"

"Video itu nyebar. Manajemen ngamuk."

"Pusat ngasih deadline sampai jam 12 siang. Kalau kamu nggak klarifikasi, kamu dipecat."

Tangannya gemetar membuka satu per satu pesan. Tapi yang lebih membuat napasnya tercekat adalah satu pesan baru di bagian atas:

DAVIN E. RENATA

> Aku beri waktu dua jam untuk bersihkan namamu. Kalau tidak bisa, datang ke alamat yang kukirim di bawah. Sendiri. Jangan bawa siapa pun.

Aluna menahan napas.

Alamat yang diberikan bukan kantor polisi. Bukan pula kantor perusahaan. Tapi... sebuah vila mewah di dataran tinggi luar kota. Ia mengetahuinya karena itu tempat yang sering dipesan tamu-tamu VIP. Tapi sekarang, bukan tamu yang menginap. Melainkan dirinya yang diminta untuk datang, seperti terdakwa menuju pengadilan pribadi milik seorang penguasa bayangan.

Aluna menelan ludah. Ia mencoba menenangkan diri, menelepon manajer hotel, dan menjelaskan bahwa ia tak pernah menyentuh sistem keamanan. Tapi penjelasannya ditolak mentah-mentah.

"Rekaman CCTV yang bocor semalam terekam dari akunmu, Aluna. Aku bisa diberhentikan juga kalau tidak ada yang bertanggung jawab."

"Aku tidak pernah log in, Pak! Aku tidak pernah sentuh terminal komputer malam itu!"

"Kalau begitu siapa? Kamu kerja malam. Kamu di sana!"

Klik.

Telepon dimatikan sepihak. Dunia seperti ambruk pelan-pelan di depan mata Aluna.

Ia berjalan ke kamar mandi, mencuci wajahnya, lalu menatap bayangannya di cermin.

Kau tidak salah. Tapi siapa yang akan percaya? pikirnya.

---

Jam 10.30 siang, Aluna berdiri di depan vila megah itu. Gerbang hitam setinggi tiga meter terbuka perlahan begitu plat motor ojek online yang membawanya dikenali kamera. Ia masuk ke dalam dengan langkah ragu, hanya ditemani detak jantung yang semakin cepat.

Vila itu sepi. Terlalu sunyi untuk ukuran tempat tinggal seseorang seperti Davin Elvard Renata. Tapi begitu ia membuka pintu utama, suara langkah kaki terdengar. Dua pria berbadan besar berpakaian hitam mendekatinya tanpa bicara.

"Aluna Rayendra?"

Ia mengangguk.

"Ikuti kami."

Mereka membawanya menyusuri lorong vila yang panjang, lantainya mengkilap, dindingnya penuh lukisan abstrak, sampai akhirnya mereka berhenti di depan pintu kaca buram.

Salah satu pria mengetuk dua kali.

Pintu terbuka.

Dan di sanalah dia. Davin duduk di sebuah kursi kulit di depan meja panjang, mengenakan kemeja hitam sederhana tanpa dasi, tangannya menyentuh secangkir kopi yang mengepulkan asap tipis. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tapi justru itu yang membuat Aluna lebih takut.

"Duduk." suaranya datar.

Aluna mematuhi.

Davin menatapnya dalam diam selama beberapa detik, lalu membuka tablet di hadapannya. Ia memutar ulang video yang bocor semalam. Tampak seorang pria dengan wajah ditutupi masker, keluar dari suite 2003. Di tangannya ada bercak merah seperti darah.

"Kau tahu siapa ini?"

Aluna menggeleng.

"Tapi ini dari akunmu. Semua orang menyalahkanmu. Bahkan rekan kerjamu pun tidak ada yang membela."

"Saya tidak tahu... saya tidak pernah-"

"Kau pikir aku peduli apakah kau tahu atau tidak?" potong Davin.

Suasana hening beberapa detik. Lalu pria itu berdiri, berjalan mendekati jendela besar yang memperlihatkan hutan pinus di kejauhan.

"Video ini seharusnya tidak pernah ada. Kalau muncul ke publik, kau tidak hanya menjatuhkan reputasi hotel tempatmu bekerja. Tapi kau juga membuka kemungkinan seseorang di dalam mencoba membunuhku."

Aluna membeku.

"Saya... saya tidak tahu apa pun soal rencana membunuh..."

"Tentu saja tidak." Davin menoleh. "Karena kau hanya pion kecil. Tapi pion kecil bisa jadi kunci, tergantung di tangan siapa ia diletakkan."

Langkah Davin mendekat. Ia berdiri di depan Aluna, menatapnya lurus-lurus.

"Kau sudah ditandai. Oleh orang-orang yang ingin menyentuh aku, dan oleh orang-orangku yang menganggapmu musuh."

"Jadi sekarang apa?" bisik Aluna. "Saya harus ke penjara? Atau mati?"

Davin menyeringai kecil.

"Tidak. Aku tidak bodoh." Ia berbalik, berjalan kembali ke meja. "Kau tidak akan masuk penjara. Tapi kau juga tidak akan kembali ke hidupmu yang lama."

"Maksudnya?"

Davin menatapnya serius.

"Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini. Bersama kami. Dalam pengawasan. Sampai kasus ini selesai."

Aluna langsung berdiri.

"Itu penculikan!"

"Tidak. Itu perlindungan. Percaya atau tidak, hidupmu dalam bahaya."

"Saya bisa lapor ke polisi-"

"Silakan." Davin mengangkat bahu. "Tapi setelah itu, siap-siap temukan fotomu tersebar di media, dituduh sebagai kaki tangan pembocor rahasia jaringan bisnis internasional."

Aluna membeku. Rahang bawahnya mengeras.

**"Ini gila..." bisiknya.

"Kau tidak perlu percaya padaku sekarang. Tapi kau akan mengerti nanti."

---

Sore harinya, Aluna dipindahkan ke kamar tamu di lantai dua vila. Kamar itu luas, bersih, dindingnya warna krem dengan jendela menghadap ke taman belakang. Tidak ada jeruji. Tapi juga tidak ada ponsel, laptop, atau akses keluar.

Ia berjalan pelan ke jendela, membuka tirai, lalu menatap keluar. Sekelompok pria berpakaian hitam berdiri di berbagai sudut taman, seolah menjaga sebuah benteng rahasia.

Aluna merasa seperti tawanan perang. Tapi lebih dari itu, ia merasa seperti boneka kecil dalam permainan yang tidak ia pahami.

Ketika malam tiba, suara ketukan terdengar di pintu.

Seorang perempuan masuk-usia sekitar 30-an, mengenakan pakaian pelayan namun dengan raut wajah cerdas. Ia membawa nampan berisi makan malam dan sebuah map kecil.

**"Namaku Kania. Saya ditugaskan menjadi penghubung Anda selama di sini," katanya dengan sopan. "Ini makan malam Anda. Dan ini," ia menyerahkan map, "adalah kontrak perlindungan."

Aluna mengerutkan dahi. Ia membuka map itu. Isinya adalah surat pernyataan bahwa dirinya tinggal di vila atas kemauan sendiri demi keselamatan pribadi. Di akhir halaman, ada tanda tangan Davin. Kolom kosong di bawahnya-milik Aluna.

**"Saya tidak mau tanda tangan," desis Aluna.

Kania tersenyum kecil.

"Saya juga tidak akan memaksa. Tapi besok pagi, jika Anda masih belum tanda tangan, maka seluruh pengacara Pak Davin akan bekerja penuh waktu untuk memastikan Anda yang dijadikan terdakwa utama dalam kebocoran video itu."

Aluna menutup map itu perlahan. Dunia seperti menyempit.

Ia tidak punya pilihan. Tidak punya kuasa. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar merasa tidak punya siapa-siapa.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Setelah Perceraian: Kasih Sayangnya yang Terlambat
9.8
Tiga tahun Giselle bertahan dalam pernikahan dingin, hanya menerima kebencian dari Lucian. Begitu menyerah dan memilih cerai, ia bangkit sebagai CEO rival yang disegani. Satu demi satu identitas rahasianya terkuak, mulai dari peretas andal hingga desainer elite. Lucian yang dulu memandang sebelah mata kini berbalik mengejarnya dengan obsesi besar. Namun, meski sang mantan suami memohon kesempatan kedua, bagi Giselle semuanya sudah terlambat.
Sampul Novel Dua Sisi
8.1
Kegagalan asmara yang bertubi-tubi, mulai dari menyukai gurunya sendiri hingga terpikat kekasih orang, membuat CEO ADITAMA Group, Revan Aditama Perkasa, mati rasa terhadap cinta dan pernikahan. Di tengah apatismenya, sang ayah justru menuntutnya menikahi seorang wanita dari Suku Anak Dalam. Revan menentang keras rencana itu. Baginya, menikahi perempuan yang dianggap primitif tersebut sangat tidak masuk akal dan bertolak belakang dengan kehidupan modernnya yang serbaintelektual.
Sampul Novel Gadis Penakluk Hati Tuan Muda Tampan
8.5
Demi takhta, Arkana menikahi Yasmin lewat perjanjian formal. Meski kesal dengan sikap kekanak-kanakan istrinya, Arkana diam-diam tetap menjalin cinta dengan kekasih lamanya. Setelah delapan bulan, ia memilih bercerai demi sang pacar. Namun, Arkana tidak menyadari bahwa hubungan fisik mereka telah mengubah segalanya. Yasmin ternyata menyembunyikan kehamilannya. Terkejut mengetahui hal itu, Arkana pun menuntut rujuk demi darah dagingnya yang kini dikandung Yasmin.
Sampul Novel Hari Pernikahanku Menjadi Kematian Ibuku
9.5
Hari pernikahan berubah kelam saat sang ibu wafat akibat syok melihat Ezra mengganti mempelai wanita dengan mitra bisnisnya, Naila. Di tengah duka, Ezra tetap memaksa prosesi berjalan dan menyuruhnya memasangkan cincin ke jari Naila. Menolak patuh, ia pergi membawa jasad ibunya. Ketika Ezra dan Naila merayakan pernikahan mereka di media sosial dengan sindiran, ia hanya membalas dingin. Namun, saat pulang membawa abu ibunya, ia mendapati keduanya tengah bermesraan di sofa rumah barunya.
Sampul Novel Istri Mudaku Meresahkan!
8.6
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang diambang kehancuran, Yasmin, gadis berusia 20 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan duda kaya bernama Galih. Situasi memanas ketika Galih memberikan pilihan sulit antara Anggara atau anak sambungnya, Vira. Keraguan Yasmin yang sangat menyayangi Vira memicu kemarahan Galih. Akhirnya, Galih menjatuhkan talak dan melarang Yasmin menemui Vira selamanya, menghancurkan seluruh harapan pernikahan mereka.
Sampul Novel KANG CENDOL TERNYATA MILIARDER
8.4
Banyak orang meremehkan Irpan yang sehari-hari hanya terlihat sebagai penjual cendol biasa. Padahal, di balik kesederhanaan itu, ia adalah seorang miliarder yang menyembunyikan identitas aslinya. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Putri dalam sebuah kejadian tak terduga, memicu benih cinta di antara mereka. Akankah Putri menyadari kekayaan melimpah yang dimiliki Irpan? Mampukah Irpan terus menjaga rahasia besarnya di tengah kisah cinta mereka yang penuh kejutan?