APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder

Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder

Demi membiayai pengobatan sang adik, Aluna rela membanting tulang di Hotel Aurelia. Malang, nasib buruk menimpanya ketika ia dituduh menyebarkan video rahasia milik Davin Elvard Renata, seorang miliarder yang menginap di Presidential Suite. Walau sebenarnya dijebak oleh rekan kerjanya sendiri, Davin yang telanjur murka tidak mau tahu. Aluna pun dipaksa menjadi tawanan pribadinya. Kini, ia terjebak dalam pusaran konspirasi besar dan ancaman Davin yang mengerikan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Di sisi kiri bangunan, ada lapangan helipad kosong, dan taman yang tampak seperti baru saja disiram. Dua penjaga berseragam hitam berdiri di depan pintu utama, wajah mereka tanpa ekspresi, memindai kendaraan dengan tatapan waspada.

Mobil berhenti tepat di depan tangga marmer yang mengarah ke beranda luas. Bram turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Aluna.

"Kita sudah sampai. Jangan coba-coba lari. Di sini semua dinding punya telinga, dan pelurunya tak butuh peringatan," ucap Bram pelan.

Aluna menelan ludah, melangkah keluar dengan kaki lemas. Dia tidak menyangka hidupnya akan berubah drastis hanya dalam semalam. Belum sempat ia mengatur napas, pintu besar di depannya terbuka pelan-seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun, tinggi besar, mengenakan setelan gelap dengan earpiece di telinganya, mempersilakan mereka masuk.

"Lantai dua. Ruang kerja," kata pria itu singkat.

Mereka berjalan melewati lorong dengan pencahayaan temaram dan lukisan-lukisan tua di dinding. Aluna mencuri pandang ke sana-sini. Aroma kayu tua dan parfum maskulin samar memenuhi udara. Setiap langkah yang ia ambil seakan menggaungkan satu pesan: ini bukan tempat untuk orang biasa sepertinya.

Saat mereka tiba di tangga melingkar yang mengarah ke atas, Aluna merasa napasnya mulai tercekat. Apa yang akan dia hadapi di atas sana? Pria seperti apa Davin Elvard Renata itu?

Sesampainya di lantai dua, Bram berhenti di depan sebuah pintu kayu gelap berukiran detail rumit.

"Masuk sendiri. Dia tidak suka didampingi orang luar saat bicara," ucap Bram, lalu meninggalkannya.

Aluna menatap pintu itu, menggenggam ujung seragamnya yang kini terasa terlalu tipis untuk menahan dinginnya ketakutan. Tapi ia tahu, tak ada jalan kembali. Ia mengetuk pelan.

"Masuk."

Suaranya datar. Dalam. Nyaris tak terdengar tapi bergema.

Aluna mendorong pintu perlahan. Ruangan itu luas, dindingnya dipenuhi rak buku dan jendela besar yang menampilkan pemandangan lembah di kejauhan. Di belakang meja kerja kayu besar yang gelap, duduklah pria itu.

Davin Elvard Renata.

Ia mengenakan kemeja hitam tanpa dasi, lengan tergulung sampai siku. Rambutnya hitam pekat, disisir rapi ke belakang, dan mata tajamnya menatap Aluna tanpa berkedip. Luka kecil masih tampak di pelipis kirinya-bekas dari malam yang menjadi awal kekacauan ini.

"Silakan duduk," katanya pelan.

Aluna berjalan pelan ke kursi di seberang meja, duduk dengan punggung tegak meski tubuhnya gemetar.

Beberapa detik hening berlalu. Davin tak mengatakan apa-apa, hanya menatap. Pandangannya bukan sekadar marah, melainkan memindai, menilai, dan mengintimidasi dalam satu waktu.

"Kau tahu kenapa kau ada di sini?"

"Aku tidak membocorkan rekaman itu," jawab Aluna cepat. "Aku bahkan tidak tahu rekaman itu masih aktif. Aku tidak pernah menyentuh komputer malam itu-"

"Ada dua saksi yang melihatmu sendirian di pos resepsionis pukul 00.45," potong Davin. Suaranya tenang, tapi dingin.

"Itu karena semua orang sudah pulang. Tapi aku pergi ke pantry. Aku tidak pernah duduk di depan komputer malam itu!"

"Kau yakin?"

Aluna mengangguk cepat. "Tolong percaya padaku... Tuan Renata. Aku bukan pelakunya. Aku dijebak."

Davin menyandarkan punggung ke kursinya. "Aku tidak percaya pada kebetulan. Seseorang ingin malam itu bocor, dan satu-satunya pintu yang terbuka adalah akunmu."

"Tapi kenapa aku?" Aluna menatapnya penuh ketakutan. "Aku hanya pegawai kecil. Aku bahkan tidak tahu siapa Anda sebenarnya sebelum malam itu."

Davin menyipitkan mata.

"Kau tidak tahu siapa aku?"

"Tidak," jawab Aluna jujur. "Aku baru tahu nama lengkap Anda dari pemberitaan pagi ini."

Keheningan menggantung. Davin bangkit dari kursinya, berjalan pelan mengitari meja. Aluna menegang saat ia berhenti tepat di belakangnya.

"Siapa pun yang menyentuh urusanku tanpa izin... biasanya tidak bisa bicara lagi untuk membela diri," gumamnya dingin. "Tapi kau berbeda. Kau masih hidup. Kau masih di sini. Kenapa, menurutmu?"

Aluna menggigit bibirnya. "Karena Anda... masih butuh penjelasan?"

Tawa kecil terdengar dari balik punggungnya. "Salah. Karena aku ingin tahu... siapa yang berani menyentuh ranah yang paling aku lindungi. Dan untuk tahu itu... aku butuhmu."

Aluna menoleh, bingung. "Maksud Anda?"

Davin berjalan kembali ke mejanya, mengambil sebuah folder dan melemparkannya ke meja.

"Ini laporan penyusupan digital minggu lalu. Lima orang punya motif membocorkan keberadaanku. Tapi hanya satu akses login yang berhasil tembus ke sistem internal hotel. Aksesmu."

Aluna mengambil folder itu dengan tangan gemetar. Ia membaca cepat-nama-nama asing, kode sistem, hingga bukti log. Semuanya mengarah padanya. Tapi justru karena itu, semuanya terasa terlalu mudah.

"Ini... ini terlalu rapi. Seolah-olah dirancang untuk menjatuhkan satu orang."

Davin menatapnya lekat-lekat. "Itu juga yang aku pikirkan."

"Apa... maksud Anda, Anda percaya aku bukan pelakunya?"

"Aku tidak percaya siapa pun sampai terbukti," jawabnya tajam. "Tapi aku juga tidak suka jadi pion dalam permainan orang lain. Kau akan kuberi satu kesempatan."

Aluna menegakkan tubuhnya. "Kesempatan apa?"

"Kau akan tetap bekerja untukku. Tapi bukan sebagai resepsionis. Mulai hari ini, kau pindah ke posisi khusus. Kau akan membantuku menyelidiki siapa yang menjebakmu. Siapa yang menyerangku."

Aluna membeku. "Apa...? Aku... aku bukan penyelidik. Aku tidak punya keahlian apa pun..."

"Justru karena itu. Mereka tidak akan mencurigaimu. Semua orang sudah mengira kau akan dipecat atau dipenjara. Mereka tak akan waspada."

"Apa yang terjadi kalau aku menolak?"

Davin mencondongkan tubuhnya. "Kalau kau menolak, kasus ini akan diteruskan ke polisi. Dengan semua bukti yang ada... kau tahu bagaimana hasilnya."

Aluna meremas sisi rok seragamnya. Jantungnya berdegup makin kencang. Ini seperti dijebak dua kali. Tapi di sisi lain, ini juga satu-satunya jalan untuk membersihkan namanya.

"Baik," bisiknya lirih. "Aku akan lakukan."

Davin menyunggingkan senyum tipis-bukan senyum hangat, tapi senyum penuh perhitungan. "Pintar. Kita mulai malam ini."

---

Aluna diberi kamar di lantai bawah, di sayap bangunan yang tampak jarang digunakan. Kamar itu luas dan mewah-terlalu mewah untuk seorang pegawai hotel. Tapi ia tahu, ini bukan hadiah. Ini pengawasan.

Saat ia membuka lemari, ia menemukan beberapa setel pakaian kerja baru, serta lencana kecil berwarna perak dengan inisial DR. Sebuah ponsel baru diletakkan di atas meja, bersama selembar catatan kecil bertuliskan: "Mulai pukul 19.00. Jangan terlambat. – DR."

Ia terduduk di tepi ranjang, menatap jendela kecil yang mengarah ke taman belakang. Pikiran-pikiran berkecamuk dalam kepalanya.

Siapa yang ingin menjebaknya?

Kenapa?

Dan... siapa sebenarnya Davin Elvard Renata?

Pria itu terlalu tenang untuk seseorang yang hampir dibunuh. Terlalu rapi untuk menjadi korban. Dan terlalu penuh rahasia untuk dipercaya sepenuhnya.

Tapi untuk sekarang, satu hal yang pasti: hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Dan jika ia ingin selamat... ia harus memainkan permainan ini sampai akhir.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Setelah Perceraian: Kasih Sayangnya yang Terlambat
9.8
Tiga tahun Giselle bertahan dalam pernikahan dingin, hanya menerima kebencian dari Lucian. Begitu menyerah dan memilih cerai, ia bangkit sebagai CEO rival yang disegani. Satu demi satu identitas rahasianya terkuak, mulai dari peretas andal hingga desainer elite. Lucian yang dulu memandang sebelah mata kini berbalik mengejarnya dengan obsesi besar. Namun, meski sang mantan suami memohon kesempatan kedua, bagi Giselle semuanya sudah terlambat.
Sampul Novel Dua Sisi
8.1
Kegagalan asmara yang bertubi-tubi, mulai dari menyukai gurunya sendiri hingga terpikat kekasih orang, membuat CEO ADITAMA Group, Revan Aditama Perkasa, mati rasa terhadap cinta dan pernikahan. Di tengah apatismenya, sang ayah justru menuntutnya menikahi seorang wanita dari Suku Anak Dalam. Revan menentang keras rencana itu. Baginya, menikahi perempuan yang dianggap primitif tersebut sangat tidak masuk akal dan bertolak belakang dengan kehidupan modernnya yang serbaintelektual.
Sampul Novel Gadis Penakluk Hati Tuan Muda Tampan
8.5
Demi takhta, Arkana menikahi Yasmin lewat perjanjian formal. Meski kesal dengan sikap kekanak-kanakan istrinya, Arkana diam-diam tetap menjalin cinta dengan kekasih lamanya. Setelah delapan bulan, ia memilih bercerai demi sang pacar. Namun, Arkana tidak menyadari bahwa hubungan fisik mereka telah mengubah segalanya. Yasmin ternyata menyembunyikan kehamilannya. Terkejut mengetahui hal itu, Arkana pun menuntut rujuk demi darah dagingnya yang kini dikandung Yasmin.
Sampul Novel Hari Pernikahanku Menjadi Kematian Ibuku
9.5
Hari pernikahan berubah kelam saat sang ibu wafat akibat syok melihat Ezra mengganti mempelai wanita dengan mitra bisnisnya, Naila. Di tengah duka, Ezra tetap memaksa prosesi berjalan dan menyuruhnya memasangkan cincin ke jari Naila. Menolak patuh, ia pergi membawa jasad ibunya. Ketika Ezra dan Naila merayakan pernikahan mereka di media sosial dengan sindiran, ia hanya membalas dingin. Namun, saat pulang membawa abu ibunya, ia mendapati keduanya tengah bermesraan di sofa rumah barunya.
Sampul Novel Istri Mudaku Meresahkan!
8.6
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang diambang kehancuran, Yasmin, gadis berusia 20 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan duda kaya bernama Galih. Situasi memanas ketika Galih memberikan pilihan sulit antara Anggara atau anak sambungnya, Vira. Keraguan Yasmin yang sangat menyayangi Vira memicu kemarahan Galih. Akhirnya, Galih menjatuhkan talak dan melarang Yasmin menemui Vira selamanya, menghancurkan seluruh harapan pernikahan mereka.
Sampul Novel KANG CENDOL TERNYATA MILIARDER
8.4
Banyak orang meremehkan Irpan yang sehari-hari hanya terlihat sebagai penjual cendol biasa. Padahal, di balik kesederhanaan itu, ia adalah seorang miliarder yang menyembunyikan identitas aslinya. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Putri dalam sebuah kejadian tak terduga, memicu benih cinta di antara mereka. Akankah Putri menyadari kekayaan melimpah yang dimiliki Irpan? Mampukah Irpan terus menjaga rahasia besarnya di tengah kisah cinta mereka yang penuh kejutan?