APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dilamar Tuan Duda

Dilamar Tuan Duda

Kehidupan Sea, seorang siswi SMA, mendadak berubah sejak kehadiran Rain. Pria duda tersebut baru saja kehilangan istrinya, Hanna, yang tewas akibat dibunuh secara tragis. Tanpa alasan yang jelas, Rain tiba-tiba mendesak Sea yang baru dikenalnya itu untuk segera menikah dengannya. Ada misteri besar di balik kematian Hanna yang memicu keputusan ganjil ini. Mengapa Rain begitu terburu-buru? Rahasia gelap apa yang sebenarnya disembunyikan oleh sang duda dari Sea?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Maya, apa jadwal saya selanjutnya?" tanya Rain.

"Jam sebelas siang meeting dengan pemilik lahan Raharja dan notaris di Star Break Coffee. Mungkin Anda makan siang di sana kalau meeting-nya berlangsung lama."

"Tolong siapkan berkas-berkas yang akan dibawa.”

"Baik, semuanya sudah disiapkan. Pak Hendra sepuluh menit lagi sampai." Sambil menengok jam tangannya dengan strap yang terbuat dari kulit, memberikan kesan elegan dan stylish, terutama saat dipakai oleh Maya yang cenderung berkulit putih.

"Oke, Maya, kamu tunggu di mobil. Saya mau ke toilet dulu."

"Baik, Pak."

***

Star Break Coffee, kafe dengan suasana modern dan selalu dipenuhi pengunjung. Rain, Maya, dan kliennya melakukan pertemuan siang itu untuk penandatanganan kerja sama.

"Baik kalau begitu. Semua surat-suratnya sudah ditandatangani dan dananya sedang di urus oleh asisten saya, ya, Pak Raharja."

"Iya, terima kasih, Pak Rain. Lain waktu mampir ke rumah saya, Pak."

"Pasti, Pak, sampai bertemu lagi."

Pak Raharja bangun dari tempat duduknya dan berlalu pergi.

"Maya, jam makan siang sudah lewat. Sebaiknya kamu makan dulu sebelum kembali ke kantor."

"Iya, Rain, kamu juga makan, kan?" tanya Maya. Rain dan Maya akan memanggil santai jika tidak sedang di kantor dan tidak ada urusan pekerjaan.

"Saya cuma mau makan snack," ujar bosnya itu sembari memainkan ponselnya yang berwarna hitam.

"Toast or french fries?" tanya sekretaris yang duduk di seberangnya.

"Toast and macchiato, please."

"Ok, wait."

Setelah makan camilan, mereka kembali ke kantor untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan. Rain ingin segera pulang. Entah kenapa hari itu ia sangat rindu dan ingin segera bertemu keluarga kecilnya.

***

"Yee, Papaa pulaang. Mama mana, Pa?" tanya Cyra, putri pertamanya dengan wanita bernama Hanna.

"Mama? Papa gak bareng Mama, Sayang."

"Biii ...? Bi Ina ...?"

"Iya, Pak. Sudah pulang, toh, Pak? Maaf saya baru selesai di dapur. Ibu mana, Pak?" tanya asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun dipercayanya.

"Loh, kok, nanya saya, Bi. Saya, kan, baru pulang kerja." Raut wajah Rain mendadak gelisah.

Ia coba menerka-nerka ke mana kiranya Hanna pergi tanpa memberi kabar pesan ataupun telepon. Karena ke mana pun istrinya pergi pasti selalu meninggalkan pesan. Rain mengira bahwa wanita tercintanya itu baik-baik saja di rumah seperti biasanya.

"Tadi, Ibu pamit mau ketemuan sama Bapak, seperti biasa mau antar makan siang untuk Pak Rain,” sahut Bi Ina.

"Gak ada, Bi! Saya gak ketemu Hanna hari ini. Lagi juga saya udah kasih tahu ke Hanna untuk enggak menyiapkan dan mengantar makan siang ke kantor karena saya mau meeting di luar.

"Lah, terus Ibu ke mana, Pak, sampai sekarang belum pulang?" tanya Bi Ina yang bergantian kebingungan.

Rain terlihat berpikir sambil memutar-mutar iris mata, sedangkan jemarinya berpaut di antara dahi.

"Cyra Sayang, udah makan?" Rain mengalihkan perhatiannya sebentar.

"Udah, Pa. Cyra ngantuk. Cyra mau bobo sama Mama." Cyra merajuk sambil memeluk kaki kanan Rain yang jenjang.

"Cyra, Cyra bobo dulu sama Bi Ina, ya? Papa mau cari Mama dulu ke rumah Oma."

"Iya, Pa." Cyra berjalan ke kamar dituntun Bi Ina sambil mengerucutkan bibirnya dan berjalan dengan malas.

Malam itu hujan turun sangat lebat diiringi dentuman petir yang menggelegar. Rain mondar-mandir di ruang kerjanya sambil sesekali memandangi jam di dinding. Ia tak melepas ponselnya barang sebentar saja.

Sudah jam delapan malam Hanna belum juga pulang. Sementara, hujan di luar sudah reda hanya tinggal rintik-rintik dan dentuman kecil petir dari langit.

Tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor Hanna.

[Pa, Mama pergi ke rumah Ibu dulu. Papa gak usah menyusul ke sini. Besok juga Mama pulang.]

Ketenangan mulai merasuki jiwa seorang Rain ketika mendapatkan sebuah pesan dari seseorang yang dinantikannya.

[Oke, Sayang, besok pulang, ya? Cyra kangen kamu. Love Hanna].

Balas Rain di akhir kalimat pesannya. Akhirnya, ia bisa tertidur lelap, pikirnya.

Sementara itu, Rain berjalan pelan mengintip ke kamar berwarna pink di samping kamarnya. Ia melihat Cyra sudah tertidur. Adapun Bi Ina masih duduk di sampingnya sambil bersenandung lagu Nina Bobo, menunggu sampai Cyra benar-benar terlelap dalam mimpinya.

***

Esok paginya setelah sarapan bersama Cyra dan sebelum pergi ke kantor. Rain sempatkan membuka ponsel dan mencari kontak Elly, mertuanya, untuk menanyakan kabar Hanna.

"Halo, Bu, bisa Rain bicara dengan Hanna? Rain telepon ke hp-nya enggak aktif, Bu."

"Hanna? Hanna enggak ada di sini Rain?" jawab Elly. Ia bingung ketika pagi-pagi sekali menantunya sudah menelepon untuk mencari Hanna yang tidak ada di sana.

"Yang benar, Bu? Dari kemarin Hanna enggak ada di rumah ... Hanna bilang kemarin ada di rumah Ibu dan mau pulang hari ini."

"Benar, Rain. Hanna belum telepon Ibu lagi sejak dua hari yang lalu."

Ya, ampun. Ada apa ini? batin Rain dengan perasaan cemas, gelisah, dan tak karuan.

"Ya, udah. Rain cari Hanna dulu, Bu."

"Kabari Ibu secepatnya, ya, Rain? Ibu juga akan bantu tanyakan ke saudara-saudara dekat dan teman-teman Hanna.”

"Ya, Bu," jawab Rain seraya memutus sambungan teleponnya.

"Pak, Maya sama Hendra udah menunggu di depan," sela Bi Ina.

"Ya, Bi," Ia menjawab dengan perasaan cemas dan akar pikirannya bercabang ke mana-mana.

"Bi, tolong jaga Cyra baik-baik, ya? Hubungi saya secepatnya kalau ada kabar apa pun tentang Hanna," pinta Rain dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

"Baik, Pak. Hati-hati di jalan."

Rain melangkah masuk ke mobilnya sambil memegangi ponsel yang sejak pagi hari belum dilepasnya. Ia coba menghubungi semua keluarga, saudara, dan teman-teman Hanna, tetapi masih belum menemukan hasil sedikit pun.

"Ada apa, Pak?" tanya Maya.

"Hanna hilang," sahutnya dengan irama datar dan ekspresi sedih.

"Astaga, sejak kapan?

"Kemarin siang kata Bi Ina."

"Udah hubungi keluarganya Bu Hanna, Pak?" tanya Hendra kemudian.

"Udah, tapi enggak ada satu pun yang tahu."

"Duuuh, Hana kamu ke mana? Please pulanglah, semoga kamu baik-baik aja di mana pun," gumam Rain dengan suara parau dan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Semoga Ibu Hanna cepat pulang, ya, Pak," ujar Hendra sambil fokus menyetir mobil.

Rain pun tak menjawab lagi karena sibuk memandangi ponselnya.

Sampai di kantor, Rain berjalan dengan sangat cepat untuk masuk ke ruangannya tanpa menoleh ke sekitar dan tak menyapa karyawan lain seperti biasanya.

Ia menjatuhkan diri di kursi kebangsaannya, bersandar sembari menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam. Ia berpikir ke mana lagi Hanna akan pergi kiranya.

Belum ada lima menit Rain merebahkan dirinya di kursi. "Pak, coba liat di TV ada berita," sahut Maya sembari meraih remote dan menyalakan tombol power-nya. Ia memindahkan saluran TV ke berita terkini.

"Telah ditemukan seorang wanita di lokasi proyek Willy Group. Wanita itu berusia sekitar 28 tahun dan dipastikan jenazah adalah Hanna, menantu dari Willy Group, jenazah diperkirakan—"

Dengan spontan Rain berlari ke lokasi di berita yang tidak lain lokasi proyek hotel yang sedang digarapnya. Mobil sedan berwarna putih dengan lambang empat cincin saling bertautan itu dipacu dengan kecepatan 80-100 kilometer perjam.

Rain membunyikan klakson bagi siapa pun yang menghalangi jalannya. Lampu merah pun diterobosnya. Matanya mulai memerah dan membendung air mata. Dada yang terasa sesak membuat napasnya tersengal. Ia menangis terisak sambil memacu kencang mobilnya.

Sesampainya di lokasi, ia bergegas keluar dari mobil dan berlari menghampiri jenazah yang tadi diberitakan di TV untuk memastikan kebenarannya.

"Hannaa!" teriaknya. Ia langsung berlari ke kerumunan, menghampiri tubuh istrinya, dan sontak menyusupkan tangan kirinya di bawah punggung Hanna. Ia menahan tubuh istrinya yang sudah dipastikan tak bernyawa itu. Tangan kanannya mengelus wajah Hanna yang sudah membiru kedinginan dan dipenuhi darah. Ia meratapi wajah wanita yang sangat dicintainya.

"Hanna ... Hanna, Sayang ... bangun!" Suaranya merintih.

Banyak orang yang ingin menyaksikan kematian tragis dari Hanna. Mereka pun merasa iba ketika melihat Rain mengerang dan menangis terisak.

"Hannaaaa ... jangan tinggalin aku ... Hanna, please!" teriaknya sambil memeluk tubuh Hanna yang sudah dingin.

"Hannaaaa ...!" Ia menangis sesenggukkan sambil memeluk, kemudian menciumi wajah istrinya yang pucat pasi. "Kamu pasti kedinginan. Kamu sejak kemarin di sini, kan? Hemmh ...? Semalaman hujan dan Hanna sendirian di sini. Maafkan aku, Hanna, maafkan ...."

"Siapa pun orang bodoh yang berani menyakiti Hanna akan berurusan langsung denganku.” Suara teriakannya makin kencang di antara banyak orang yang berkumpul.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Goyangan Pohon Beringin
8.2
Hubungan erat Adrian dan Wandi kini renggang sejak kemunculan Hesta. Gadis penuh misteri itu begitu memikat Adrian, tetapi Wandi justru melihat sosok mengerikan dalam dirinya. Wandi berjuang keras memperingatkan sahabatnya bahwa Hesta bukanlah manusia. Sejak mereka mengunjungi beringin tua yang angker, teror mistis mulai membayangi. Di tengah ancaman bahaya, sanggupkah Adrian menyadari kenyataan? Apakah asmara beda alam ini akan terwujud, atau malah berujung pada kehancuran?
Sampul Novel Luka Batin Istriku
9.0
Seorang suami terkejut saat mendapati Tari menyuguhkan minuman mencurigakan kepada bayi mereka, Adel. Ketakutan menyergap Tari hingga ia hanya bisa menangis membisu tanpa sanggup membela diri. Kemarahan sang suami kian memuncak begitu tahu stok susu anak mereka telah habis. Ia pun nekat membanting botol susu yang tersisa setengah demi memaksa sang istri bicara jujur. Di balik tangisan histeris yang pecah, sebuah rahasia yang menyayat hati akhirnya mulai terkuak.
Sampul Novel Selimut Malam CEO
9.1
Kehidupan Raina Paradisa hancur di usia tujuh belas tahun. Demi melunasi utang pamannya senilai satu miliar rupiah, ia terpaksa mengubur mimpinya dan menjadi pemuas bagi Alex Modero. Alex adalah seorang pebisnis sukses berumur tiga puluh lima tahun yang sangat sombong, gemar berganti kekasih, dan membenci pernikahan. Kini, pria kaya tersebut mengklaim Raina sebagai miliknya, menjebak gadis muda itu dalam belenggu hubungan gelap yang tidak bisa ia hindari.
Sampul Novel Suami Muda Nona Konglomerat
9.1
Setelah dikhianati di masa sulitnya, Dewa yang dilingkupi dendam memilih sepakat menjalani pernikahan kontrak dengan Tika, wanita kaya raya. Di tengah niat pembalasan tersebut, perasaan cinta perlahan tumbuh di antara mereka. Keadaan menjadi pelik saat identitas asli Dewa terungkap, memicu salah paham besar pada diri Tika. Mampukah Dewa meyakinkan Tika akan ketulusan hatinya dan mengubah pernikahan kontrak ini jadi cinta sejati, atau justru berujung tragis?
Sampul Novel Terjerembap dalam Pelarian
9.6
Pernikahan berulang kali antara aku dan Rangga selalu kandas setiap kali Sarah, seorang selebritas yang ayahnya tewas demi menyelamatkan Rangga, kembali ke negara ini. Demi menjaga reputasi Sarah, Rangga selalu menceraikanku, lalu mengajakku rujuk saat wanita itu pergi. Setelah bertahun-tahun bertahan dalam kehinaan dan kesedihan, dari menangis di luar rumah hingga menguntitnya, aku akhirnya belajar untuk merelakan. Namun, saat Rangga menungguku di Kantor Catatan Sipil untuk menikah lagi, aku memutuskan untuk tidak pernah muncul kembali.
Sampul Novel The Present Of Love
8.6
Sebagai anak mucikari, hidup Seila dipenuhi hinaan. Namun, takdir mempertemukannya dengan Aksara yang menyelamatkannya dari aksi pemerkosaan. Setelah malam intim yang membawa kebahagiaan sesaat, Aksara justru pergi ke luar negeri dan meninggalkan Seila dalam kepedihan serta kerinduan mendalam. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang terus mengejar, mampukah Seila bangkit mengatasi keterpurukan dan menemukan kedamaian hidupnya kembali?