APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dikhianati Sejak Hari Pertama

Dikhianati Sejak Hari Pertama

Demi sang ayah yang sedang sakit, Katrina terpaksa menyetujui pernikahan kilat dengan Gavin Ardian. Namun, di hari pertamanya sebagai istri, ia langsung menghadapi kenyataan pahit bahwa Gavin masih menjalin kasih dengan mantan pacarnya. Di tengah pengkhianatan ini, sang ayah mertua justru menugaskan Katrina untuk memenangkan hati putranya. Kini, Katrina terjebak dalam pilihan sulit: berjuang merebut cinta Gavin atau menyerah pada rumitnya biduk rumah tangga mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Katrina duduk di kursi ruang tamu yang mewah, matanya menatap kosong pada lantai marmer yang berkilau. Rumah ini-rumah yang baru saja ia masuki sebagai seorang istri Gavin-tak terasa seperti rumah sama sekali. Semuanya tampak sempurna, teratur, dan mewah, namun tidak ada sedikit pun kehangatan yang mengalir di antara dinding-dinding ini. Keheningan itu terasa begitu tebal, bahkan ketika Gavin melangkah pergi tanpa memberi petunjuk apapun tentang apa yang seharusnya ia lakukan selanjutnya.

Setelah beberapa menit berlalu, Katrina akhirnya menggerakkan tubuhnya. Ia mencoba untuk memeriksa setiap ruangan, berharap menemukan sesuatu yang bisa memberinya rasa aman, atau setidaknya memberinya sedikit gambaran tentang bagaimana kehidupannya akan berubah setelah hari ini. Namun, yang ia temui hanyalah ruang kosong dengan perabotan yang tampaknya dimiliki oleh seseorang yang tak pernah ingin dihuni. Tempat ini lebih mirip dengan rumah yang kosong, sebuah panggung besar tempat kehidupan terasa seperti sandiwara yang hanya dijalankan oleh rutinitas semata.

Saat ia berjalan menuju kamar tidur yang telah disiapkan untuknya, langkahnya terhenti di ambang pintu. Begitu ia membuka pintu dengan perlahan, suasana di dalam kamar itu semakin terasa berat. Ruangan yang luas dan dihiasi dengan warna netral hanya semakin menambah kesan dingin. Tidak ada foto keluarga, tidak ada barang pribadi-hanya ranjang besar yang tampak terlalu megah untuk digunakan. Tempat tidur yang sekarang akan menjadi miliknya, namun terasa begitu asing. Tidak ada kehangatan, tidak ada harapan, hanya ruang yang kosong dengan banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala Katrina.

Dia menarik napas panjang, menatap diri di cermin besar yang ada di dinding. Kenapa perasaan ini begitu pelik? Selama bertahun-tahun, dia selalu merasa bahwa keluarganya adalah segalanya. Namun, sekarang, bahkan pernikahan yang dilakukan demi menjaga nama baik keluarga itu terasa seperti penjara yang harus dijalani tanpa daya. Ayahnya yang sakit, yang begitu lemah di rumah sakit, membuatnya merasa terperangkap dalam kewajiban. Apakah pernikahan ini akan memberikan ketenangan bagi ayahnya, atau justru semakin menambah beban di hatinya?

Katrina berbalik, lalu duduk di ujung ranjang. Pemikirannya kembali berlarian, mencoba menyusun semuanya. Gavin, pria yang kini menjadi suaminya, adalah seorang pengusaha muda sukses. Dari luar, ia tampak seperti sosok yang penuh percaya diri, dengan karisma yang mampu membuat siapa saja terkesima. Namun, dari pertemuan pertama mereka, Katrina tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ada rahasia yang disembunyikan oleh pria ini, dan dia bisa merasakannya dengan kuat. Tidak ada rasa kedekatan, hanya kepentingan yang seolah-olah menyelimuti setiap gerakan Gavin. Semua itu membuat Katrina semakin ragu dan bertanya-tanya apakah ia benar-benar bisa hidup bahagia dalam pernikahan yang dipaksakan ini.

Di saat seperti ini, pikirannya tak bisa lepas dari bayangan lain-seorang wanita yang lebih sering disebut oleh Gavin dalam percakapan yang terdengar begitu tidak sengaja. Seorang wanita yang, sepertinya, memiliki tempat di hati Gavin. Katrina tidak tahu siapa dia, tetapi jelas ada hubungan yang lebih dari sekadar teman biasa. Hal ini menambah kegelisahan dalam dada Katrina. Apakah dia hanya akan menjadi pelengkap dalam hidup Gavin? Atau apakah ada sesuatu yang lebih yang akan ia temui di balik wajah tenang dan misterius Gavin?

Katrina menatap jendela besar di kamar tidur mereka, melihat langit yang mulai gelap. Ia merasa seperti hantu yang mengintai di balik bayangan rumah mewah ini. Begitu banyak ruang kosong dalam dirinya yang belum terisi-dan Gavin, suaminya, tampaknya adalah bagian dari teka-teki yang belum sepenuhnya bisa ia pecahkan. Kenapa ayahnya begitu yakin bahwa pernikahan ini akan baik-baik saja? Apakah ini hanya untuk menghindari rasa malu, ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang tidak ia ketahui?

Beberapa jam kemudian, ketika malam mulai merayap, Gavin akhirnya kembali ke rumah setelah beberapa waktu yang terasa seperti keabadian bagi Katrina. Ia masuk dengan langkah mantap, mengenakan jas hitam yang tampak begitu elegan. Meskipun ia terlihat tampan dengan penampilannya yang terawat, ada sesuatu yang jauh di dalam diri Katrina yang merasa terasingkan, seperti sebuah dinding tak terlihat antara mereka.

"Sudah makan malam?" tanya Gavin dengan nada yang sangat formal, seolah-olah mereka berdua hanyalah dua orang asing yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama.

Katrina menatapnya dengan sekilas, merasa sedikit cemas. "Belum," jawabnya pelan, berusaha untuk berbicara normal meski hatinya bergejolak.

Gavin mengangguk, lalu berjalan menuju dapur. "Aku akan memesan makanan. Kalau kamu ingin makan, tinggal pilih saja."

Katrina hanya mengangguk. Ia ingin berbicara lebih banyak, ingin memahami apa yang sedang terjadi antara mereka, namun rasanya seperti kata-kata itu tidak akan cukup untuk meruntuhkan jarak yang ada di antara mereka. Perasaan asing ini, seperti sebuah penghalang, seolah tidak memberi ruang bagi mereka untuk saling mengenal.

Mereka makan malam dalam keheningan yang berat, hanya suara garpu dan sendok yang terdengar di antara mereka. Katrina berusaha untuk tidak berpikir terlalu banyak, mencoba untuk menerima kenyataan bahwa ini adalah hidupnya sekarang. Namun, semakin dia mencoba untuk menenangkan pikirannya, semakin ia merasa terperangkap dalam labirin kebingungannya sendiri.

Setelah makan malam, Gavin kembali ke ruang tamu, sementara Katrina duduk di kursi yang sama di mana ia duduk sebelumnya, matanya tertuju pada langit malam yang gelap. Ketegangan antara mereka semakin terasa, meskipun tidak ada yang secara eksplisit mengatakan sesuatu yang mengarah pada konflik. Semuanya diselimuti dengan udara dingin, penuh ketidakpastian. Namun, Katrina tahu bahwa suatu saat, dia harus mengetahui lebih banyak tentang Gavin. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, dan dia merasa bahwa itulah kunci untuk memahami pernikahan ini.

Gavin kembali ke ruang tamu, matanya menatap Katrina dengan sorot yang tak bisa dia artikan. "Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanyanya, namun suaranya terdengar lebih seperti sebuah pernyataan daripada pertanyaan.

Katrina mengalihkan pandangannya, kemudian menggeleng pelan. "Tidak ada," jawabnya, meskipun hatinya penuh dengan berbagai pertanyaan.

Tapi Gavin tidak menganggapnya begitu saja. Dengan langkah mantap, ia duduk di sebelahnya, jaraknya hanya beberapa inci. "Kau tahu, aku tidak pernah meminta pernikahan ini. Sama seperti kamu."

Katrina menatapnya dengan bingung. "Kau juga tidak ingin menikah denganku?" suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia inginkan.

Gavin tersenyum samar, namun ada kerutan di dahi yang menunjukkan ketegangan yang tersembunyi. "Itu bukan soal keinginan, Katrina. Itu soal apa yang harus dilakukan. Terkadang kita tidak punya pilihan."

Katrina diam, berusaha memahami kata-kata itu. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, namun ia merasa bahwa setiap pertanyaan hanya akan menambah jarak di antara mereka. Apa yang sebenarnya terjadi antara mereka? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Gavin?

Sebelum ia bisa melanjutkan pikiran itu lebih jauh, Gavin berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar tidur mereka. "Kau bisa tidur di sini malam ini. Kalau perlu apa-apa, aku di sebelah." Suaranya tidak terdengar kasar, tetapi ada ketegangan yang tetap menggantung.

Katrina mengangguk, namun tidak bisa menahan perasaan hampa yang kembali menyelimuti dirinya. Ia terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, dengan seorang pria yang tampaknya lebih tertutup dan penuh rahasia dari yang bisa ia bayangkan. Tapi satu hal yang jelas-pernikahan ini jauh dari yang ia bayangkan. Dan entah bagaimana, ia harus bertahan dan menemukan cara untuk menghadapinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sepasang Operator Data
8.1
Sebagai operator data di sebuah sekolah swasta, Rizal yang berstatus duda sangat mendambakan kehadiran istri tulus yang mau menerima dirinya dan kedua anaknya. Kini, ia sedang serius menjalin kasih dengan seorang perempuan yang berusia empat tahun lebih tua darinya. Sayangnya, jalinan asmara mereka harus menghadapi berbagai rintangan besar yang menguji hubungan tersebut. Mampukah Rizal menjaga komitmennya dan memperjuangkan cinta sejati ini hingga akhir?
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia dinikahi Seno Bagaskara, seorang konglomerat yang membawanya ke rumah besar keluarganya. Namun, tinggal bersama saudara ipar lain memicu konflik rumit. Di balik kemegahan rumah itu, Anisa tidak menyadari bahwa adik kandung Seno serta suami dari iparnya memendam gairah terlarang pada dirinya. Kini, ia terperangkap dalam bahaya nafsu terselubung di kediaman tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi ancaman ini?
Sampul Novel Gairah Liar Pria Introvert
9.0
Kisah modern ini menggabungkan romansa memikat dengan ketegangan misteri yang diselimuti unsur mistis. Diwarnai bumbu komedi segar, alurnya membawa pembaca ke dalam petualangan penuh emosi saat setiap rahasia mulai tersingkap. Sesuai judulnya, narasi intens ini menyoroti sisi lain seorang pria introvert yang menyimpan gairah luar biasa di balik sosoknya. Nikmati perpaduan unik ketegangan dan tawa yang tersaji secara mendalam.
Sampul Novel Menikah dengan Pria Lain Setelah Tunanganku Menunda Pernikahan
9.7
Tiga hari menjelang pernikahan, Eliana dikhianati tunangannya yang beralih menikahi teman masa kecilnya demi alasan penyakit Alzheimer. Sang mantan meminta Eliana menanti hingga wanita itu hilang ingatan. Tanpa menangis, Eliana langsung menghubungi keluarganya untuk menerima perjodohan lama dengan pewaris takhta keluarga Barton yang sangat dingin. Eliana pun memastikan pria kaya raya tersebut akan benar-benar hadir bersamanya di altar pernikahan.
Sampul Novel Seandainya Waktu Bisa Kembali
8.2
Demi menyelamatkan cinta pertamanya, Lolly, yang menderita gagal ginjal, seorang hakim tega mengambil keputusan sepihak untuk merebut ginjal istrinya sendiri. Sang istri mencoba menjelaskan bahwa dirinya juga mengidap penyakit yang sama dan akan mati jika kehilangan organ tersebut. Namun, sang suami justru menuduhnya cemburu dan tidak berhati nurani. Dipaksa menjalani operasi transplantasi, kondisi sang istri terus memburuk hingga akhirnya ia meninggal sendirian di sudut rumah sakit yang sepi.
Sampul Novel Untouchable Man
8.2
Di umur 32 tahun, Rezal Mahesa sangat mapan namun memilih hidup melajang tanpa drama cinta. Ia hanya berserah diri pada takdir Tuhan soal jodoh. Kehidupan tenangnya berubah sejak kehadiran Naya, mahasiswi magang yang bertingkah konyol sekaligus unik di kantornya. Di balik sifat itu, kedewasaan Naya perlahan meluluhkan hati Rezal yang dingin. Akankah takdir membawa mereka berdua menuju jenjang pernikahan?